Ziarah Ahok, Mbah Priok, dan Ingatan Tragedi

1553
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama berdialog dengan pengurus makam Mbah Priok saat kunjungan, di Jakarta, Selasa (14/2). Kunjungan itu dilakukan untuk mengecek status lahan kawasan makam Mbah Priok terkait rencana pembangunan wisata religi di tempat tersebut. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar.

Fenomena politik Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) merupakan anomali di tengah kultur politik negeri ini. Ahok sering dicaci maki, dirajam fitnah hingga teriakan kafir serta cap “penista agama”. Meski demikian, Ahok juga dicintai banyak orang, dibanggakan pendukungnya, dan transformasi kebijakan di Jakarta membuatnya mendapatkan apresiasi.

Ketika terlihat berseberangan dengan pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Syihab, Ahok juga menjalin persahabatan dengan Habib Abdullah Sting, cucu Habib Hasan bin Muhammad al-Haddad (Mbah Priok).

Pada sore 14 Februari 2017 lalu, Ahok berziarah ke makam Mbah Priok di kawasan Koja, Jakarta Utara. Ziarah Ahok ini menarik jika dilihat dari bagaimana kedekatannya dengan para ulama, yang selama ini mengapresiasi keberanian dan kegigihan Ahok. Semasa hidupnya, KH Abdurrahman Wahid menjadi sahabat Ahok, terutama sejak dirinya membawa perubahan pada peta politik di Bangka-Belitung.

Dari ilustrasi ini, Ahok bukanlah sosok yang membenci Islam, tapi pidatonya di Kepulauan Seribu dipolitisasi sehingga seolah-seolah menjadi “penista agama”. Sesuatu yang absurd, jika kita meneliti dengan seksama pidato Ahok di hadapan warga Kepulauan Seribu, 30 September 2016 lalu.

Ziarah Ahok menjadi titik awal inspirasi untuk menata makam Mbah Priok. Basuki Tjahaja Purnama kemudian menetapkan makam Mbah Priok sebagai kawasan cagar budaya. Surat Keputusan (SK) penetapan cagar budaya ini diresmikan oleh Ahok pada 3 Maret 2017. SK penetapan Makam Mbah Priok sebagai Cagar Budaya dengan Nomor 438 tahun 2017 tentang Penetapan Kawasan Maqam Habib Hasan (Mbah Priok) sebagai lokasi yang dilindungi dan diperlakukan sebagai situs cagar budaya.

Kawasan seluar 3 hektare ini ditetapkan sebagai cagar budaya melalui proses cepat dengan jurus taktis Ahok ketika kembali menjalankan tugas sebagai Gubernur DKI Jakarta, selepas masa cuti kampanye Pilkada Jakarta putaran pertama.

Ahok mengungkapkan, pihaknya mendukung Makam Mbah Priok sebagai cagar budaya dan menjadi referensi ziarah kaum Muslim. “Kami akan sertifikatkan. Nanti tahun 2019 baru kami ubah peruntukan dari industri menjadi tempat wisata, bertahap,” demikian ungkap Ahok, sebagaimana dilansir Kompas (16 Februari 2017).

Rencananya, Ahok ingin menetapkan kawasan Makam Mbah Priok sebagai destinasi wisata religi, sekaligus pusat kuliner di kawasan Jakarta Utara. “Yang penting niatnya benar. Kalau benar kenapa takut, nggak ada politik ini. Saya datang biar makam bisa dijaga,” ungkap Ahok.

Meski sempat dikritik sejarawan karena meringkas prosedur penetapan cagar budaya, Ahok berusaha menetapkan subtansi pada kebijakan ini, yakni kemaslahatan publik dalam hal ini kaum Muslim yang ingin memuliakan Habib Hasan bin Muhammad al-Haddad.

Mbah Priok merupakan tokoh legendaris dalam penyebaran Islam di Batavia. Ia bernama Habib Hasan bin Muhammad al-Haddad. Beliau lahir di Palembang, pada 1870 M/1271 H. Saat ini, Habib Sting al-Haddad, yang merupakan cucu Mbah Priok, sebagai ahli waris yang mengurus makam ini. Makam Mbah Priok ramai diziarahi oleh warga Muslim dari berbagai daerah, untuk mencari berkah dan berkirim doa.

Ingatan Tragedi Priok
Proses penetapan makam Mbah Priok sebagai kawasan cagar budaya melewati proses panjang. Pada 14 April 2010, sempat terjadi pertumpahan darah ketika Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah komando Fauzi Bowo berusaha merebut tanah sengketa tersebut. Pembongkaran ini bermula ketika PT Pelabuhan Indonesia II merasa memiliki hak terhadap lahan di kawasan makam Mbah Priok.

Sebelumnya, pada April 2010, perusahaan ini meminta Pemprov Jakarta membongkar makam Mbah Priok. Pemrov DKI kemudian mengirim Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) ke kawasan Koja. Warga tidak terima ulah Satpol PP kemudian terjadi bentrok massal. Pada 13-14 April 2010, terjadi peristiwa berdarah yang menyebabkan puluhan orang terluka dan satu warga meninggal (Ismantoro Dwi Yuwono, 2010: 11-13).

Jauh sebelumnya Tanjung Priok merupakan kawasan membara. Pada 12 September 1984, terjadi pembantaian di kawasan ini, yang melibatkan barisan militer dengan kaum Muslim. Peristiwa ini menjadi tragedi kelam pada masa Orde Baru, yang menjadi titik pandang bagaimana Soeharto memandang Islam. Peristiwa Tanjung Priok dipicu oleh ketegangan antara kelompok Muslim dengan aparat pemerintah.

Pada 8 September 1984, dua petugas Koramil (Babinsa) memasuki musala as-Sa’adah tanpa membuka sepatu. Peristiwa ini terjadi di Gang IV Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Kedua oknum Koramil ini menyiram papan pengumuman pengajian dengan air got. Peristiwa ini berlanjut menjadi adu mulut, sengketa antar kelompok, hingga kemudian meluas menjadi demonstrasi yang diakhiri dengan pembantaian. Lewat Benny Moerdani dan Tri Soetrisno, pemerintah Orde Baru membereskan aksi massa ini sebagai peristiwa berdarah (Sembodo, 2009; Arsip Tempo Volume 36, 2008).

Ahok dan Kecintaan Habib
Langkah Ahok menetapkan makam Mbah Priok sebagai cagar budaya menjadi pembuktian kesungguhannya terhadap pengelolaan kawasan spiritual kaum Muslim, serta kecintaannya kepada ulama/habaib. Jika sebelumnya dituduh sebagai “penista agama”, kebijakan Ahok ini menjadi jawaban betapa Ahok menghormati para ulama, menghormati nilai-nilai agama.

Persahabatan Ahok dan dukungannya kepada Habib Abdullah Sting membuktikan bahwa isu-isu rasial Tionghoa-Hadrami sesungguhnya tidak berlaku. Ziarah Ahok seketika menjadi jawaban bahwa Ahok menghormati para kiai, menghormati habaib.

Strategi Ahok membuktikan bahwa dirinya konsisten merawat harmoni, meski sering dituduh sebagai biang keladi. Sementara itu, pasangan calon Anies-Uno telah resmi merapat ke lingkaran FPI sebagai representasi gerakan Islam radikal dan kubu Tommy Soeharto yang menjadi simbol keluarga Cendana dan jaringan Orde Baru.

Jika dirunut sejarah ringkansya, Anies Baswedan sering mengungkapkan keberpihakan terhadap Islam moderat dan perlawanannya terhadap kelompok garis keras dan tirani politik. Merapatnya Anies ke ke markas FPI di Petamburan (1 Janiari 2017), dan Haul Soeharto di Masjid at-Tien (11 Maret 2017) membuktikan ke mana pasangan Anies-Uno berpihak.

Lalu, siapa yang mengkhianati perkataan sendiri? Siapa yang berbelok langkah demi ambisi politik? Saya yakin publik sudah bisa menilai sendiri.

Komentar anda