Tragedi Vaksin Palsu dan Tangisan Jonas Salk

124
demok-vaksin
Massa dari Aliansi Orang Tua Korban Vaksin Palsu didampingi KontraS dan YLBHI melakukan aksi damai di depan RS Harapan Bunda, Jakarta, Sabtu (23/7). ANTARA FOTO/Rosa Panggabean

Sosok berkacamata dengan bagian ubun-ubun membotak duduk dalam sebuah acara interview televisi lawas. Sebagai pembawa acara, Edward R. Murrow kemudian bertanya, “Siapakah yang memiliki hak patennya?” Pertanyaan itu ditujukan pada salah satu temuan terakbar abad ke-20: vaksin.

Pria berkacamata itu kemudian menjawab pertanyaan tersebut sembari tertawa kecil, “Tidak ada. Dapatkah kita mematenkan matahari?” Pria itu dikenal sebagai Jonas E. Salk, tokoh di balik meluasnya penggunaan vaksin polio, yang saat itu mengancam dunia.

Bahkan mantan Presiden Amerika Serikat Franklin D. Roosevelt turut merasakan akibat dari penyakit polio itu.

Sekalipun bukan penemu vaksin pertama, ada hal yang menarik dari statemen tersebut. Niat besar seorang Salk untuk tidak mematenkan temuannya ini. Jane Smith, penulis memoar tentang Salk dan vaksinnya, Patenting the Sun: Polio and the Salk Vaccine, kemudian menambahkan bahwa jikalau vaksin ini dipatenkan, mungkin saja dapat dikalkulasikan saat itu. Salk dapat meraup keuntungan sebesar tujuh miliar dollar–apalagi jika dihitung dengan penggunaannya sampai hari ini.

Salk telah meninggalkan kita pada 23 Juni 1995. Hampir kurang lebih 63 tahun lalu, begawan virologi ini mengumandangkan bahwa vaksinnya bersifat open source yang dapat menyelamatkan hampir berjuta anak-anak di dunia. Seandainya Salk dapat melihat apa yang terjadi hari ini di Indonesia. Ya, belakangan ini sedang ngetren bagaimana vaksin palsu beredar.

Vaksin palsu bukan barang baru di panggung dunia kesehatan. Kehadirannya memperkaya kontroversi akan vaksin, sebelumnya ada fatwa silang pendapat beberapa ulama. Dokter senior di Pakistan, Shakil Afridi, mendekam di bui selama 33 tahun setelah membantu CIA memberikan vaksin palsu saat penyergapan Osama Bin Laden pada tahun 2013.

Hal tersebut dia lakukan untuk pengumpulan DNA terhadap biang teror tersebut. Inilah salah satu yang mungkin menyebabkan beredarnya cara pandang konspirasi: vaksin dianggap proyek Yahudi, merusak struktur DNA, juga pemasukan racun bagi generasi pelanjut umat Muslim, serta kalau dikaitkan dengan amino binatang babi di dalamnya.

Kini, mereka muncul dengan wajah kapitalisme, yang bermukim dalam hasrat diri manusia. Mental korporat yang menyerang diri manusia. Menggunakan peluang dari yang disebut Karl Marx: “nilai-lebih” dan “nilai-pakai”, keinginan meraup keuntungan besar dalam kelangkaan. Menjadikan segala jalan untuk memperoleh profit. Menjadikan kesehatan sebagai arena. Keji!

Sekalipun botol vaksin kosong diisi oleh cairan infus atau garamycin (jenis antibiotik), tetap saja penipuan adalah penipuan. Terlebih ini adalah pelanggaran terhadap bioetika yang tercakup dalam Kode Etik Kedokteran atau Kode Etik Rumah Sakit. Saya yakin semua pembaca budiman juga tidak suka ditipu.

Sekalipun tidak berkorelasi langsung dengan vaksin Salk, salah satu dari vaksin yang nge-hits sekarang adalah salah satu pengembangan dari vaksin polio Salk, Pediacel. Menggabungkan berbagai macam vaksin, yang di dalamnya tediri atas lima jenis vaksin (diphteri, tetanus, pertussis, polio, dan haemophillus influenza).

Terlepas dari tindakan ini bersifat kasuistik dan individu, permasalahan ini perlu dilihat secara holistik. Utamanya adalah regulasi. Semua pihak sebenarnya bertanggung jawab dalam hal ini. Tak dapat dipungkiri, ini bisa terjadi lagi di masa mendatang.

Apa pun itu, pelanggaran terhadap kesehatan perlu dan harus ditindak tegas. Kejadian ini perlu menjadi pembelajaran terhadap model pengawasan obat-obatan. Kriminalitas terhadap kesehatan adalah pelanggaran terhadap hak asasi manusia, sama halnya dengan perilaku genosida oleh Idi Amin atau Ratko Mladic.

Kesehatan adalah milik semua. Kejadian vaksin palsu lebih dari itu adalah patologi sosial dan ekonomi yang membutuhkan vaksin tersendiri.

Lebih dari itu, tragedi vaksin palsu ini juga ditakutkan bisa menjadi momentum untuk hadirnya kembali gelombang gerakan antivaksin. Seperti halnya gerakan antivaksin yang diketahui bermula di tahun 2007 lalu.

Teknologi dan hasil rasa dan karsa manusia tetaplah sebuah alat, yang nyatanya membutuhkan pertanggungjawaban pemakainya. Sama seperti Salk yang menaruh visi besar akan temuannya.

Saya membayangkan betapa sedihnya Salk di alam sana; bisa jadi dia menangis. Bisa jadi dia menjerit dan melihat matahari mulai meredup dan dipalsukan dengan sesuatu yang menyimpan sifat paling purba dalam diri manusia: kemarukan dan keserakahan manusia.

Komentar anda