in

“Tombol Panik” Ridwan Kamil dan Desas Desus Keamanan Kota


Wali Kota Bandung Ridwan Kamil dan Panic Button, Aplikasi Tanggap Darurat Pemkot Bandung dan Polda Jabar. [Foto: bandungjuara.com]
Perubahan landmark sebuah kota sebagai bagian dari perubahan civic design dan civic reform dapat ditelusuri melalui pembacaan atas pengalaman penggunaan dan pemaknaan kota itu sendiri oleh warganya sebagai sebuah identitas dan narasi memori kolektif kewargaan. Ketika terjadi perubahan ruang kota yang menjadi magnet publik, maka tidak heran yang tersedot oleh magnet tersebut bukan hanya sisi positif tetapi juga sisi negatif kota–bergantung di mana magnet tersebut hendak diposisikan kepada dan oleh warganya.

 

Sebagai sebuah kota jasa dan wisata, Bandung dianugerahi beragam macam layanan infrastruktur dan jasa yang diklaim minimal oleh pemerintah kotanya telah dikemas secara cerdas dan kreatif. Dengan begitu, kota ini seolah menjadi kota dengan kerumunan massa di sana-sini dengan hiruk pikuk aktivasi ruang-ruang kota yang riuh dan beragam. Maka, soal keamanan menjadi faktor krusial untuk menjaga atmosfer kota yang atraktif seperti ini.

Maka, lumrah belaka Ridwan Kamil selaku  Wali Kota Bandung mengerahkan segala upaya untuk mewujudkan Bandung sebagai representasi kota yang cerdas dan kreatif dan warga yang diinginkannya, termasuk di sektor keamanan (publik) kota-nya. Selain membuat command center yang rencananya akan bekerjasama dengan militer untuk melakukan “pengintaian” terhadap warga sipil di ruang publik dengan dalih menjaga keamanan.

Apakah hal tersebut juga telah membuat warga kota menjadi aman? Tapi, selain hal tersebut, ada  cara lain yang lebih “kekinian” bagi warga millenial, yaitu mobile aplication untuk keamanan dengan nama Aplikasi “Tombol Panik” (Panic Buttom) yang diluncurkan 10 Juli 2015 lalu, yang bisa diunduh di Google Play Store dengan nama X-Igent Panic Buttom.

Dengan mendaftarkan nomor telepon genggam lalu tekan layar 3 kali, bantuan polisi datang. Begitulah skenario SOS yang cerdas dan kreatif itu ditampilkan dalam bentuk aplikasi.

Peluncuran apikasi ini memang baik, namun bagaimana warga dapat mengaksesnya? Mungkin Ridwan Kamil berfikir bahwa warga kota Bandung adalah warga yang cerdas semua hingga menggunakan smartphone pula.

Selain itu, bagaimana aplikasi ini terintegrasi dengan kepolisian, apakah server kepolisian yang mendapatkan sinyal panik ini ada hingga ke level sektor yang terkecil? Kalaupun iya, apakah polisi akan bergerak secepat dan seresponsif itu untuk menangkal kejadian tertentu, seperti pemalakan atau tindakan kriminalitas lainnya yang biasa terjadi di jalanan atau ruang publik kota.

Lagi pula, berdasarkan data BPS Kota Bandung tahun 2015, jumlah penduduk 2.481.469 jiwa. Maka, merujuk terkait pengguna telepon cerdas di Bandung yang menurut data statistik Kementerian Komunikasi dan Informasi Repubik Indonesia tahun 2013, sebanyak 579.000 jiwa, ke-4 terbesar setelah Jakarta, Surabaya, dan Bekasi. Jadi, hanya sekitar 23,4% saja warga kota Bandung yang menggunakan telepon cerdas dan itu pun tidak semuanya mengunduh aplikasi Tombol Panik ini.

Berdasarkan laporan yang tercantum dalam Google Play Store, aplikasi ini sudah diunduh oleh sekitar 10 ribu pengguna smartphone, berarti hanya sekitar 1,7% saja warga yang mengunduhnya dan itu pun belum tentu semua warga Bandung. Jadi, persentasenya lebih rendah lagi. Lalu, bagaimana bisa Tombol Panik ini mewakili “keamanan” warga kota Bandung atau bahkan wisatawan yang hadir di kota ini.

Baca Juga :   Ridwan Kamil Harus Selesaikan Masa Jabatannya

Celakanya, klaim Ridwan Kamil seolah menegaskan bahwa aplikasi Tombol Panik ini akan mengurangi ataupun mencegah terjadinya kekerasan di ruang publik kota Bandung. Apakah sebegitu efektif Tombol Panik ini bekerja?

Lalu, bagaimana konsistensi Tombol Panik ini bekerja hingga saat ini yang tentu dengan pengembangan yang seharusnya terus menerus layaknya sebuah start-up, bukan sekadar diluncurkan. Jika hanya demikian, tidak sulit bagi mahasiswa IT untuk membuat sebuah aplikasi serupa jika hanya sekadar diluncurkan dan eksis di media tanpa langkah kongkret yang berkesinambungan.

Namun, terkait hal ini berbeda, karena tombol panik ini legitimasinya dikeluarkan oleh pemerintah kota, maka bagaimana keberlanjutan sistemnya dan langkah kongkret di lapangan. Apalagi jika pembuatan aplikasi ini menggunakan anggaran publik, tentu diperlukan pertanggungjawaban anggaran dan ketertiban birokrasi sebagai kota yang cerdas.

Belum lagi jika hendak mempertanyakan sinergitas pemerintah kota dengan kepolisian untuk merealisasikan efek Tombol Panik lebih kongkret ini di ranah publik lebih luas, bukan hanya kelas tertentu pemilik smartphone, bukankah keamanan milik semua warga tanpa pandang bulu.

Namun, jauh panggang dari api, tak lama setelah aplikasi Tombol panik ini meluncur, terjadi tindakan kriminal di Jalan Cihampelas, yang merupakan landmark wisata kota Bandung. Kebetulan kejadian ini menimpa seorang figur publik yang sedang berkunjung ke kota ini sehingga terekspos oleh (sosial) media dan menjadi viral. Entah kejadian lainnya yang menimpa warga kota biasa yang luput.

Lalu, di manakah Tombol Panik ini bekerja? Apakag sang figur publik tahu dan mengunduh aplikasi ini? Bagaimana dengan warga lainnya?


Baca: Gebrakan Ridwan Menata Pedagang Kaki Lima

Kita masih ingat pada 20 September 2015 lalu, Sherina dan ibunya mengalami kekerasan jalanan berupa pemalakan di Jalan Cihampelas sekitar jam 8 malam. Saat itu situasi di sana belum terlalu malam dan kawasan ini masih ramai oleh hiruk pikuk wisata belanja.

Hanya karena seorang Sherina yang mengunggah cuitan twitter ini dengan sekitar 9,8 juta followers, karuan saja beragam komentar netizen berseliweran dengan bebas. Mulai dari rasa prihatin dengan apa yang terjadi, prihatin dengan kondisi keamanan kota Bandung sekarang ini, hingga pembelaan warga Kota terhadap kota dan walikotanya.

Misalnya, “ … dengan folllowers sebanyak itu, ingin mencemarkan kota Bandung, ya?” Atau dengan perihal yang sama seolah ingin mencemarkan dan menjatuhkan nama Ridwan Kamil di mata netizen.

Karenanya, melihat kondisi ini, dengan sigap Ridwan Kamil yang juga memiliki sekitar 2,33 juta followers dan 6.6 juta followers untuk media sosial Instagram segera meresponnya. Bukan semata untuk merespons kejadian tersebut tetapi juga untuk menyelamatkan prestise dan branding kota, termasuk personality-nya di depan followers-nya dan juga followers Sherina.

Baca Juga :   Gandeng Swasta, Ridwan Kamil Paksakan Kehendak

Lalu, bagaimana jika hal tersebut terjadi kepada warga biasa yang tidak punya follower berjuta-juta atau bahkan tak punya media sosial sama sekali?.

Warga Bandung tentu juga ingat kejadian yang menimpa mahasiswa Institut Teknologi Bandung (20/10/2016) bernama Rizal Azis Muhamad, yang mengalami luka bacok di dadanya. Kejadiannya di Dago sekitar jam 00.30 WIB. Lalu, pada 6 November 2016, lagi lagi seorang mahasiswa ITB (Risqi Zidan Muharri) menjadi korban begal di seputaran Jalan Dago sekitar pukul 05.30 WIB. Selain terluka, motornya pun raib dibawa pelaku.

Hal ini sangat disayangkan karena pembegalan terjadi di pagi hari dan betapa beraninya para pelaku begal ini beraksi. Jika melihat korbannya mahasiswa, sangat kecil kemungkinan keduanya tidak punya smartphone. Lalu, apakah mereka telah mengunduh dan menggunakan aplikasi Tombol Panik itu ketika pembegalan terjadi?.

Kejadian terbaru (20/06/2017), beberapa hari menjelang Idul Fitri 2017. Masih di Jalan Dago, upaya pembegalan menimpa Muhammad Alfarish Sukmara dan istrinya pada pukul 05.30 WIB. Lagi-lagi di pagi hari ketika cahaya matahari sudah terang dan publik telah beraktivitas. Kejadiannya di Jalan Dago yang memiliki pos polisi dan yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari Kapolsek Coblong.

Pembegalan ini gagal terjadi, namun korban mengalami luka serius dan meninggal dunia dua hari kemudian di Rumah Sakit Borromeous yang letaknya tidak jauh dari lokasi kejadian. Lalu, apakah suami-istri ini tidak menggunakan smartphone dan telah mengunduh aplikasi Tombol Panik tersebut? Jika hal itu terjadi dan perangkat ini terintegrasi dengan kerja-kerja aparat, kejadian di atas tentu tidak akan terjadi.

Tidak hanya pembegalan di jalan, penodongan di dalam transportasi publik kota Bandung juga terjadi. Hal ini menimpa 5 orang siswa SMP di dalam angkot jurusan Kebon Kelapa Dago (17/11/2016), sekitar pukul 15.00 WIB dan ada yang terluka. Bisa dibayangkan kejadian ini menimpa anak-anak warga kota di sebuah angkutan umum dan terjadi di siang hari.

Keamanan kota macam apa yang disajikan kota Bandung, pemerintah, dan aparatusnya hingga kejadian terang benderang seperti ini terjadi di depan mata kita semua.

Jika dikaitkan dengan Tombol Panik itu, apakah kelima korban tersebut tidak menggunakan smartphone dan juga telah mengunduh aplikasi tersebut? Bukankah mereka akan dengan mudah menekan tombol tersebut, jika itu yang selama ini menjadi klaim pemerintah kota tentang keamanan dan upaya menurunkan hingga mengurangi tindakan kriminal dijalanan.

Kekerasan di jalanan tidak hanya dilakukan warga sipil terhadap warga sipil lainnya, tetapi juga dilakukan oleh militer yang notabene representasi negara. Tentu kita tidak akan lupa dengan bagaimana Komunitas Perpustakaan Jalanan dibubarkan dengan kekerasan oleh pihak militer di Taman Cikapayang, Jalan Dago (20/08/2016), tanpa alasan jelas yang kemudian viral dan mendapatkan tanggapan keras dari publik yang mengutuk kejadian ini.

Baca Juga :   Kang Emil, di Jakarta Masih Banyak Kerikil

Padahal tempat mereka menggelar buku-buku tepat berada di salah satu area keramaian publik utama kota Bandung dengan perangkat CCTV lengkap. Jika memang perangkat ini tehubung dengan command center milik pemerintah kota yang megah itu dan terkoneksi dengan pihak kepolisian, kejadian tersebut akan dengan mudah terekam sebagai bukti telah terjadi kekerasan oleh militer.

Selain itu, andaikan teman-teman Komunitas Perpustakaan Jalanan ini mengunduh Tombol Panik yang dikeluarkan pemerintah kota, apakah pihak kepolisian akan melakukan pencegahan atas kekerasan jalanan oleh militer ini? Namun, jangan harap ketika kejadian ini berlangsung ada yang sempat mengeluarkan smartphone, karena dengan berdiam saja tetap kena gebuk.

Kejadian-kejadian tersebut terjadi di ruang publik yang selama pemerintahan Ridwan Kamil menjadi garda depan dalam menunjukkan Bandung sebagai landmark turisme, bahkan menjadi identitas dan representasi kota yang cerdas dan kreatif.

Apa yang terjadi di Jalan Dago, Jalan Cihampelas, dan jalan-jalan kota lainnya sebagai sebuah ruang terhadap warganya menjadi memori molektif bersama bahwa pernah ada kejadian seperti di atas yang tidak serta-merta mudah dilupakan terlebih oleh para korban.

Di sisi lain, sejumlah peristiwa itu terjadi ketika pemerintahan kotanya tengah gencar melakukan branding kota, termasuk branding personalnya, sebagai kota juara yang smart dan kreatif, nyatanya tidak sepenuhnya demikian.

Baca: Pak Ridwan Kamil, Jangan Melacur di Pilgub Jawa Barat!

Jadi, jelas dari beragam kejadian di atas bahwa keamanan kota tidak hanya bisa diunduh via aplikasi. Dan kalaupun ada perangkat teknologi untuk mendukung keamanan sebuah kota, seperti aplikasi Tombol Panik tersebut, tidak serta merta secara signifikan menurunkan tingkat kriminalitas atau kekerasan jalanan kota di Bandung. Juga tidak otomatis menjadi langkah strategis yang terintegrasi dengan aparatus terkait fungsinya melindungi dan mengayomi warga.

Singkatnya, kejadian-kejadian tadi mungkin yang terekam dan terekspos oleh media (sosial). Sangat mungkin masih banyak kejadian yang tidak tercatat dan terberitakan sebagai pengingat bahwa warga Bandung tidak sepenuhnya smart sehingga semua aman-aman saja.

Kreativitas dalam merencanakan sesuatu memang penting. Namun, menengok efektivitas, aksestabilitas hingga perangai sosio-kultural masyarakatnya itu jauh lebih penting, karena lebih kongkret dan menjadi bagian dalam keseharian publik, bukan hanya terpatri dalam media sosial semata.

Baca juga:

Ridwan Kamil dan Ide Bandung Teknopolis

Kota yang Bingung, Bima Arya dan Ridwan Kamil

Gimmick Ridwan Kamil, Inovasi, dan Anak Muda


Written by Frans Prasetyo

Frans Prasetyo

Urbanist dan Peneliti Mandiri. Tinggal di Bandung.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR