Senin, Januari 18, 2021

Keberadaan Indonesia di WTO Tidak Memberi Manfaat

Presiden Jokowi Tinjau Pembangunan Tol Pekanbaru – Dumai

Pekanbaru, 23/7 - Presiden Joko Widodo meninjau pembangunan jalan tol ruas Pekanbaru-Dumai, yang berada di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. "Jadi tol Pekanbaru-Dumai ini sudah dikerjakan,...

Ketika Ibu Iriana Jokowi Berhijab di AS

Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Jokowi ketika berkunjung ke AS. Ibu Negara Iriana tampak modis dengan hijab warna oranye. BIRO PERS KEPRESIDENAN Actions...

Pemilik Kapal Pencuri Ikan Tak Boleh Ikuti Lelang

Koalisi Rakyat untuk Perikanan (Kiara) mengusulkan pelelangan kapal pencuri ikan harus diperketat. Langkah itu dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya pembelian kapal oleh pemilik kapal melalui...

Duka Nawa Cita Jokowi-JK

Seperti pendahulunya, Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla mematok target ambisius: swasembada beras, jagung, dan kedelai dalam tiga tahun. Swasembada gula dan...
Avatar
Tito Dirhantoro
Reporter GeoTIMES.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (keempat kiri) didampingi Menteri Luar Negeri Perdagangan dan Pariwisata Peru, Magall Silva (kiri), Dewan Umum Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Shahid Bashir (kedua kiri), Menteri Perdagangan Indonesia, Gita Wirjawan (ketiga kiri), Direktur Jenderal WTO Roberto Azevedo (keempat kanan), Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa (ketiga kanan), Menteri Perdagangan dan Investasi Inggris, Lord Stephen Green (kedua kanan) dan Menteri Perdagangan dan Industri Rwanda, Francois Kanimba (kanan) ketika melakukan foto bersama usai pembukaan Konferensi Tingkat Menteri (KTM) ke-9 WTO di Bali Nusa Dua Convention Centre (BNDCC), Badung, Bali, Selasa (3/12). Pertemuan ke-9 menteri negara-negara peserta WTO secara resmi dibuka dan akan berlangsung hingga 6 Desember 2013. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/mes/13.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (keempat kiri) didampingi Menteri Luar Negeri Perdagangan dan Pariwisata Peru Magall Silva (kiri), Dewan Umum Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) Shahid Bashir (kedua kiri), Menteri Perdagangan Gita Wirjawan (ketiga kiri), Direktur Jenderal WTO Roberto Azevedo (keempat kanan), Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa (ketiga kanan), Menteri Perdagangan dan Investasi Inggris Lord Stephen Green (kedua kanan), dan Menteri Perdagangan dan Industri Rwanda Francois Kanimba (kanan) pada Konferensi Tingkat Menteri ke-9 WTO di Bali Nusa Dua Convention Centre (BNDCC), Badung, Bali, Selasa (3/12/2013). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/mes/13.

Henry Saragih, Ketua Umum Serikat Petani Indonesia, mengatakan partisipasi Indonesia dalam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) tidak memberi manfaat, terutama pada petani.  Sebab, selama 20 tahun Indonesia bergabung, WTO tidak kunjung memberikan kesejahteraan kepada petani Indonesia.

“Yang terjadi adanya WTO justru malah menyuburkan liberalisasi perdagangan. Keberpihakan dan pola perdagangan yang diusung WTO hanya menguntungkan korporasi besar di sektor pertanian, bukan pada petani kecil,” kata Henry ketika ditemui Jakarta, Senin (14/12).

Dia mempertanyakan, salah satu tujuan dibentuknya WTO adalah untuk meningkatkan kesejahteraan negara-negara anggota, tidak terkecuali kalangan petani. Namun, faktanya yang terjadi justru sebaliknya. Petani lokal semakin miskin. Berdasarkan data yang dimilikinya, angka kemiskinan di kalangan petani meningkat menjadi 17,94 juta jiwa.

Henry menjelaskan, penurunan tingkat kesejahteraan petani ditunjukkan pada nilai tukar petani (NTP). Namun, selama dua dekade terakhir NTP tidak mengalami perubahan, yakni hanya di angka 102. Akibatnya, daya beli petani selama itu pula tidak mengalami peningkatan, lantaran petani tidak bisa menentukan harga sendiri ketika menjual produksi mereka.

Persaingan produksi lokal dengan impor, kata Henry, memang sangat ketat. Sebab, dari segi harga, misalnya, produk  impor memiliki banyak subsidi. Amerika Serikat, misalnya, memberikan subsidi sebesar US$ 130 miliar. Sementara Uni Eropa memberikan subsidi sebanyak US$ 109 miliar. Karena adanya subsidi itu, harga produk impor yang dijual bisa lebih murah ketimbang produk lokal.

“Dengan harga yang murah memicu produk impor lebih laris di pasaran. Masyarakat tentu lebih memilih produk dengan harga lebih murah untuk mereka konsumsi, tutur Henry. “Beberapa komoditas pangan yang dijual murah di antaranya kedelai, susu, jagung, gula, garam, dan beras.”

Oleh karena itu, Henry mendesak pemerintah, melalui Kementerian Perdagangan, dapat bersikap tegas untuk mundur dari WTO. Kemudian, mencari mekanisme lain sebagai solusi untuk memperbaiki kesejahteraan petani dalam negeri. “Jika memang harus bergabung dalam organisasi dunia, sebaiknya memilih organisasi yang berada langsung di bawah PBB, bukan WTO.”

Sementara itu, Manager Riset and Monitoring Indonesia for Global Justice (IGJ) Rachmi Hertanti mengatakan, saat ini yang diharapkan dan ditunggu oleh masyarakat adalah ketegasan Presiden Joko Widodo untuk menolak WTO. Terlebih program Nawa Cita yang diusung Presiden Jokowi sangat jelas bertentangan dengan agenda perdagangan bebas yang diusung WTO.

“Kami sudah bertemu Menteri Perdagangan Thomas Lembong. Dia berjanji akan memperjuangkan petani. Namun, tidak bisa 100 persen menggagalkan agenda WTO. Perlu ada kesepakatan lain,” katanya. “Ini sikap yang ambigu. Kemungkinan besar posisi Indonesia memang sangat lemah di WTO.”

Avatar
Tito Dirhantoro
Reporter GeoTIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.