Minggu, Oktober 25, 2020

Jokowi, Rohingya, dan Diplomasi Kita

Omong Reklamasi Minus Politik

Menteri Koordinator Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli berbincang dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya dan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama...

Papua dan Nobel untuk Pak Jokowi

Saban tahun di bulan Oktober, Nobel Perdamaian biasanya dianugerahkan kepada sosok/ tokoh yang berjasa besar dalam memperjuangkan dan menjaga perdamaian dan kemanusiaan. Dalam tahun-tahun...

Nasib Orang Asli Usai Perjuangan dan Pesta Pora Jokowi

Setiap 9 Agustus komunitas Bangsa Minoritas dan kelompok-kelompok Orang Asli di seluruh dunia merayakan World Indigenous Day. Di Indonesia, perayaan ini justru terasa begitu...

100 Miliar Rio Haryanto Versus Popularitas Jokowi-JK

Pembalap Tim Manor Racing Rio Haryanto berpose usai acara pernyataan pers mengenai dukungan pemerintah dan BUMN untuk Rio berlaga di Formula 1, Jakarta, Kamis...
Avatar
Budi Setiawan
Pengamat Sosial dan Hubungan Internasional, tinggal di Jakarta

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Aung San Suu Kyi.

Tanpa kesigapan Indonesia membantu Myanmar mengatasi krisis Rohingya, masalah kemanusiaan yang mengharu biru ini bakal menjadi krisis internasional. Eskalasi kekerasan terus berlanjut jika Myanmar dibiarkan mengatasi masalahnya sendirian. Kebijakan rezim militer Myanmar yang sangat represif akan mengundang Dewan Keamanan PBB untuk menetapkan Myanmar sebagai negara yang harus diintervensi.

Perlu diketahui, sejak krisis Kosovo dan Timor Leste, Dewan Keamanan PBB telah menegaskan bahwa kedaulatan sebuah negara tidak terbatas pada aspek legalitas dan batas teritorial, melainkan juga bagaimana penyelenggara negara melindungi hak asasi manusia rakyatnya. Jika menindas, kepemimpinan negara harus dicopot PBB dengan berbagai cara.

Pesan dari Jakarta

Indonesia berhasil menyakinkan Myanmar akan realitas internasional ini. Jakarta mampu membujuk rezim Yangon menghentikan eskalasi kekerasan. Myanmar sejak awal memang panik dan resah karena gempuran tudingan internasional hingga butuh rasa aman dan ruang untuk membela diri. Dia memerlukan pihak yang dipercaya, jujur, dan paham akan keadaan sebenarnya. Myanmar menunjuk pihak itu adalah Indonesia.

Mereka minta Indonesia sebagai satu-satunya pintu bagi apa pun bantuan kemanusiaan serta upaya-upaya internasional dalam menyelesaikan krisis Rohingya tersebut. Myanmar nampaknya puas dengan kecerdikan Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatukan aneka organisasi Islam yang sebagian besar juga menghimpun dana ke Suriah dalam satu wadah aliansi bantuan kemanusiaan.

Pembentukan aliansi ini berhasil menyekat persepsi bahwa bantuan dari Indonesia adalah untuk Muslim Rohingya, tetapi untuk semua masyarakat lintas agama dan ras. Imbangan dari Aliansi kemanusiaan itu adalah keterlibatan sejak awal Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi ) dan Palang Merah Indonesia (PMI) yang tanpa gembar gembor sudah aktif melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan di Rakhike. Keberhasilan ini telah menciptakan persepsi internasional bahwa tragedi Rohingya bukanlah konflik agama tapi kemanusiaan.

Dan atas nama kemanusiaan, Indonesia akan membujuk keras Bangladesh agar menampung pengungsi Rohingya, sementara upaya penanganan krisis di level internasional tengah dilakukan untuk mencegah kejadian serupa tidak terulang lagi. Indonesia menegaskan penyelesaian krisis dan keterlibatan internasional harus disetujui oleh Myanmar. Langkah memanggil dunia internasional ini tepat karena bagaimanapun Indonesia tidak bisa menanggung tugas besar sendirian.

Nantinya Indonesia ingin semua kesepakatan internasional sesuai usulan awalnya: menginginkan Rakhine sebagai kawasan inklusif yang memberi rasa aman bagi semua warga terlepas apa pun agamanya. Indonesia sejak tahun 2012 berusaha keras mewujudkan ini. Jika model pembangunan di Rakhine ini berhasil, maka program serupa bisa ditiru untuk mengatasi problema separatisme yang sampai kini mendera Myanmar.

Jadi, Indonesia ingin menanamkan embrio perdamaian permanen di kawasan Rakhine yang nantinya akan mempengaruhi kebijakan nasional Myanmar tentang rekonsiliasi nasional . Indonesia akan terus menyakinkan Myanmar bahwa tindakan represif hanya akan membuat negara ini lemah daya tawarnya di pelataran internasional. Campur tangan asing dengan maksud-maksud penguasaan ekonomi akan terjadi jika Myanmar terus menindas orang Rohingya.

Dan bisa dipastikan Indonesia memberikan contoh betapa dirinya sendiri pernah mengalami kejadian ketika intervensi asing sangat merendahkan martabat bangsa dan menciptakan kerugian besar dalam skala ekonomi dan politik secara jangka panjang. Hanya dengan kepemimpinan nasional yang kuat, entah itu militer atau sipil, dan berwelas asih serta bertindak terukur dalam kasus Rohingya, Myanmar bisa berwibawa di mata internasional. Perkembangan menunjukkan, wejangan dan jalan yang ditawarkan Indonesia ini disambut baik Myanmar.

Keberhasilan di Myanmar ini sekali lagi merupakan kisah sukses diplomasi kita yang mengemban amanat negara yang bebas aktif memajukan perdamaian internasional. Apa yang dilakukan Menteri Retno Marsudi di Myanmar juga menegaskan bahwa sejak lama kita menjadikan diplomasi sebagai unsur penting pertahanan negara.

“Buku Putih Pertahanan Indonesia 2015” menegaskan diplomasi adalah untuk mencegah niat negara lain menyerang atau mengancam kepentingan nasional. Karena itu, keberhasilan usaha diplomasi sangat bergantung pada kualitas dan kemampuan komunikasi strategis yang diperankan oleh unsur-unsur pertahanan negara.

Dalam buku itu juga ditegaskan peran penting Indonesia sebagai mitra strategis masyarakat internasional dilaksanakan melalui usaha-usaha perdamaian di berbagai kawasan dalam rangka membangun kepercayaan dunia. Upaya mempromosikan perdamaian dan stabilitas di berbagai kawasan, baik pada tataran regional maupun global, dilakukan melalui upaya-upaya diplomasi yang menjamin kepentingan nasional.

Acuan ini, meski dibuat 2015, adalah kelanjutan doktrin pertahanan sebelumnya yang selalu mengedepankan diplomasi sebagai ujung tombak kepentingan nasional. Jadi, terlepas dari beda gaya arahan politik luar negeri antara zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Presiden Joko Widodo, garis merah pentingnya diplomasi ini selalu sama dan akan terus mewarnai perjalanan para diplomat kita di masa-masa mendatang.

Yang selalu senyap bekerja memadamkan potensi ancaman ketika masih jauh di halaman depan. Yang hanya bersuara ketika memang penting bersuara. Seperti di kasus Rohingya.

Avatar
Budi Setiawan
Pengamat Sosial dan Hubungan Internasional, tinggal di Jakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

Lelaki Dilarang Pakai Skin Care, Kata Siapa?

Kamu tahu penyakit lelaki: mau menunjukkan kegagahan! (Ayu Utami, Maya) Sering kali, drama dari negeri ginseng menampilkan para aktor maskulin dengan wajah glowing (bersinar) yang menggunakan skin care (perawatan kulit...

Digitalisasi Bisnis Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mengubah secara drastis dunia usaha. Dari pasar, proses bisnis, sumber pendanaan, konsumen, tenaga kerja, tempat kerja, hingga cara bekerja, semuanya berubah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Memperkuat Peran Politik Masyarakat

Salah satu kegagalan konsolidasi demokrasi elektoral adalah tidak terwujudnya pemilih yang cerdas dalam membuat keputusan di hari pemilihan. Menghasilkan pemilih cerdas dalam pemilu tentu...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.