Kamis, Januari 21, 2021

Potret Buram di Sudut Tenabang

Dari Cacat Hukum sampai Ketidakjelasan Saksi Pelapor

Sidang kasus dugaan penistaan agama yang menyeret Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai terdakwa benar-benar membuat saya termangu. Bagaimana tidak, dari sejak dilaporkannya Calon Gubernur...

Teman Ahok dan Perbaikan Fungsi Partai Politik

Di luar kontroversi dan beragam tuduhan yang ditujukan pada Teman Ahok, kita patut mengapresiasi pencapaian relawan yang mampu mengumpulkan lebih dari satu juta kartu...

Keberagamaan Basuki

Menjelang akhir tahun, soal kehidupan beragama menjadi perbincangan hangat antara lain karena dua peringatan “kelahiran”, Maulid yang diperingati umat Islam dan Natal yang diperingati...

Di Mana Budaya Malu Pemimpin Kita

(Ilustrasi) Ketua BPK Harry Azhar Azis (kanan) menunjukkan surat pemanggilan klarifikasi pajak atas Surat Pemberitahuan (SPT) Pajak penghasilan 2015 di Kantor Pusat Ditjen Pajak,...

Salah satu potret kemiskinan di Jakarta. Ketimpangan ekonomi di Indonesia semakin tinggi selama setahun terakhir. (Andrey Gromico/The Geotimes)
Salah satu potret kemiskinan di Jakarta. (Andrey Gromico/The Geotimes)

Di pinggir rel kereta api Tanah Abang, Jakarta Pusat, berjejer rumah-rumah semi permanen. Rumah-rumah itu hanya berdinding kardus, triplek bekas, dan beratapkan seng berkarat. Udara pengap, lembab, dan bau tak sedap semakin terasa ketika memasuki pemukiman yang telah berdiri sejak tahun 1990-an itu.

Meskipun sudah beberapa kali digusur, para warga di kawasan itu terus bertahan. Tak ada pilihan lain buat mereka yang sebagian besar bekerja sebagai pemulung. Pendapatan mereka tak cukup untuk mengontrak rumah yang layak atau rumah susun sederhana, alih-alih membeli apartemen wah yang berdiri megah tak jauh dari pemukiman itu.

Ani (36), misalnya, sudah 3 tahun tinggal di pinggir rel kereta api. Ibu yang memiliki dua anak tersebut bersikeras bertahan di kawasan tersebut, meski Agustus tahun lalu gubuk mereka telah digusur. Ani dan suaminya membangun kembali rumah dari puing-puing triplek bekas. Buang air besar satu keluarga juga dilakukan di sungai. Air sungai yang berada 20 meter dari gubuknya itu juga digunkan untuk keperluan sehari-hari seperti mencuci dan mandi.

Jika disuruh memilih, Ani tentu ingin tinggal di rumah yang layak. Tapi apa boleh buat, penghasilan suaminya hanya cukup untuk membuat dapur mengepul. “Mau ngontrak nggak ada duit, Mas. Yang penting bisa buat tidur dan nggak kehujanan dan kepanasan,” kata Ani di Tanah Abang, Jakarta, Selasa (12/1).

Tak sampai satu kilometer dari pemukiman kumuh itu, berdiri kokoh apartemen dan mal mewah. Kondisi tersebut sangat ironis. Di tengah menjulang tingginya mal-mal mewah, apartemen elite, dan gedung pencakar langit, masih nampak di pelupuk mata perkampungan kumuh dan warga miskin yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Itulah salah satu potret kesenjangan sosial di Jakarta. Belum lagi kesenjangan sosial di wilayah Indonesia lainnya seperti Papua, Nusa Tenggara, dan lainnya. Itulah kenyataannya, jurang kesenjangan sosial di negeri ini sangat tajam.

Berdasarkan laporan Bank Dunia, tingkat ketimpangan ekonomi di Indonesia melebar drastis dalam 15 tahun terakhir. Jurang antara kaum miskin dan orang kaya semakin melebar. Pada tahun 2002, 10 persen warga terkaya Indonesia mengkonsumsi sama banyak dengan total konsumsi 42 persen warga termiskin. Sedangkan pada tahun 2014 orang-orang kaya itu mengkonsumsi sama banyak dengan 54 persen warga termiskin. Laju tersebut paling cepat di antara negara-negara Asia Timur.

Bank Dunia juga mencatat, 10 persen orang kaya menguasai sekitar 77 persen seluruh kekayaan aset dan keuangan di negara ini. Jika lingkupnya diperkecil, 1 persen orang terkaya di Indonesia menghimpun separuh total aset negara ini.

Ketimpangan ekonomi tersebut jelas akan menghambat pertumbuhan ekonomi jika warga miskin tidak mampu mendapatkan pekerjaan, produktif, tidak mampu berinvestasi, dan tidak mampu keluar dari garis kemiskinan. Rasio gini yang lebih tinggi akan mengarah pada perlambatan ekonomi dan membuat perekonomian menjadi tidak stabil.

Terbukti saat ini total pendapatan 20 persen orang kaya naik 5 persen, pertumbuhan ekonomi malah melambat 0,4 persen. Sebaliknya, ketika pendapatan 20 persen orang miskin naik 5 persen, maka ekonomi tumbuh 1,9 persen.

Jika ketimpangan ekonomi ini tak bisa diatasi, dampaknya akan semakin memburuk dan bisa menimbulkan konflik sosial. Hal itu bisa dibuktikan dari riset Bank Dunia yang menyebutkan daerah-daerah dengan tingkat ketimpangan ekonomi lebih tinggi, rasio konfliknya menjadi hampir 2 kali lebih besar dibandingkan daerah dengan tingkat ketimpangan lebih rendah.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Apa Itu Teo Demokrasi dan Nasionalisme?

Apa itu Konsep Teo Demokrasi? Teo demokrasi terdiri dari gabungan kata yaitu teologi yang berarti agama dan demokrasi yang terdiri dari kata demos berarti rakyat dan...

Menilik Superioritas Ras dalam Film Imperium

Film Imperium yang ditulis dan disutradarai oleh Daniel Ragussis adalah sebuah film thriller yang menampilkan usaha seorang karakter utama yang mencoba untuk “masuk” ke...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

ARTIKEL TERPOPULER

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Bagaimana Masa Depan Islam Mazhab Ciputat?

Sejak tahun 80-an Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta dikenal "angker" oleh sebagian masyarakat, pasalnya mereka menduga IAIN Jakarta adalah sarangnya orang-orang Islam liberal,...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.