Kamis, Desember 3, 2020

Potret Buram di Sudut Tenabang

Pemprov DKI Diminta Tak Langsung Mencabut KJP

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta diminta untuk tidak langsung memberikan sanksi pencabutan Kartu Jakarta Pintar (KJP) kepada pelaku penyalahgunaan kartu bantuan sosial dari pemerintah ini....

Pentas Jokowi di Ladang Sawit

Akhirnya ada presiden Indonesia yang mengunjungi orang-orang Suku Anak Dalam. Joko Widodo jadi Presiden pertama yang melakukan hal tersebut. Tidak cukup sekadar berkunjung, Jokowi menelurkan...

Sertifikasi Kayu Legal demi Hutan yang Lestari

Siang dua pekan lalu itu matahari terasa sangat menyengat. Waktu menunjukkan pukul 11.30 WIB, namun para pengrajin kayu itu masih giat bekerja. Mereka dengan...

Prahara Ahok: Mimpi Masyarakat Demokratis dan Fakta Keimanan

Dalam penelitian mutakhirnya, Jeremy Menchik menyebut Indonesia sebagai negara berketuhanan (godly nationalism). Ini menjadi tesis Menchik dalam memperlihatkan wajah demokrasi yang unik di Indonesia....

Salah satu potret kemiskinan di Jakarta. Ketimpangan ekonomi di Indonesia semakin tinggi selama setahun terakhir. (Andrey Gromico/The Geotimes)
Salah satu potret kemiskinan di Jakarta. (Andrey Gromico/The Geotimes)

Di pinggir rel kereta api Tanah Abang, Jakarta Pusat, berjejer rumah-rumah semi permanen. Rumah-rumah itu hanya berdinding kardus, triplek bekas, dan beratapkan seng berkarat. Udara pengap, lembab, dan bau tak sedap semakin terasa ketika memasuki pemukiman yang telah berdiri sejak tahun 1990-an itu.

Meskipun sudah beberapa kali digusur, para warga di kawasan itu terus bertahan. Tak ada pilihan lain buat mereka yang sebagian besar bekerja sebagai pemulung. Pendapatan mereka tak cukup untuk mengontrak rumah yang layak atau rumah susun sederhana, alih-alih membeli apartemen wah yang berdiri megah tak jauh dari pemukiman itu.

Ani (36), misalnya, sudah 3 tahun tinggal di pinggir rel kereta api. Ibu yang memiliki dua anak tersebut bersikeras bertahan di kawasan tersebut, meski Agustus tahun lalu gubuk mereka telah digusur. Ani dan suaminya membangun kembali rumah dari puing-puing triplek bekas. Buang air besar satu keluarga juga dilakukan di sungai. Air sungai yang berada 20 meter dari gubuknya itu juga digunkan untuk keperluan sehari-hari seperti mencuci dan mandi.

Jika disuruh memilih, Ani tentu ingin tinggal di rumah yang layak. Tapi apa boleh buat, penghasilan suaminya hanya cukup untuk membuat dapur mengepul. “Mau ngontrak nggak ada duit, Mas. Yang penting bisa buat tidur dan nggak kehujanan dan kepanasan,” kata Ani di Tanah Abang, Jakarta, Selasa (12/1).

Tak sampai satu kilometer dari pemukiman kumuh itu, berdiri kokoh apartemen dan mal mewah. Kondisi tersebut sangat ironis. Di tengah menjulang tingginya mal-mal mewah, apartemen elite, dan gedung pencakar langit, masih nampak di pelupuk mata perkampungan kumuh dan warga miskin yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Itulah salah satu potret kesenjangan sosial di Jakarta. Belum lagi kesenjangan sosial di wilayah Indonesia lainnya seperti Papua, Nusa Tenggara, dan lainnya. Itulah kenyataannya, jurang kesenjangan sosial di negeri ini sangat tajam.

Berdasarkan laporan Bank Dunia, tingkat ketimpangan ekonomi di Indonesia melebar drastis dalam 15 tahun terakhir. Jurang antara kaum miskin dan orang kaya semakin melebar. Pada tahun 2002, 10 persen warga terkaya Indonesia mengkonsumsi sama banyak dengan total konsumsi 42 persen warga termiskin. Sedangkan pada tahun 2014 orang-orang kaya itu mengkonsumsi sama banyak dengan 54 persen warga termiskin. Laju tersebut paling cepat di antara negara-negara Asia Timur.

Bank Dunia juga mencatat, 10 persen orang kaya menguasai sekitar 77 persen seluruh kekayaan aset dan keuangan di negara ini. Jika lingkupnya diperkecil, 1 persen orang terkaya di Indonesia menghimpun separuh total aset negara ini.

Ketimpangan ekonomi tersebut jelas akan menghambat pertumbuhan ekonomi jika warga miskin tidak mampu mendapatkan pekerjaan, produktif, tidak mampu berinvestasi, dan tidak mampu keluar dari garis kemiskinan. Rasio gini yang lebih tinggi akan mengarah pada perlambatan ekonomi dan membuat perekonomian menjadi tidak stabil.

Terbukti saat ini total pendapatan 20 persen orang kaya naik 5 persen, pertumbuhan ekonomi malah melambat 0,4 persen. Sebaliknya, ketika pendapatan 20 persen orang miskin naik 5 persen, maka ekonomi tumbuh 1,9 persen.

Jika ketimpangan ekonomi ini tak bisa diatasi, dampaknya akan semakin memburuk dan bisa menimbulkan konflik sosial. Hal itu bisa dibuktikan dari riset Bank Dunia yang menyebutkan daerah-daerah dengan tingkat ketimpangan ekonomi lebih tinggi, rasio konfliknya menjadi hampir 2 kali lebih besar dibandingkan daerah dengan tingkat ketimpangan lebih rendah.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.