OUR NETWORK

Para Penantang Basuki

Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (kanan) mendengarkan penjelasan maket proyek pembangunan Light Rail Transit (LRT) dari Direktur Utama Adhi Karya Kiswodarmawan (kiri) pada Groundbreaking Light Rail Transit (LRT) Indonesia di Jakarta, Rabu (9/9). LRT merupakan salah satu moda transportasi massal berbasis rel yang ramah lingkungan dan pembangunannya dilakukan secara elevated di atas tanah ruang milik jalan tol dan non tol serta direncanakan akan selesai pada tahun 2018. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/ama/15.
Presiden Joko Widodo didampingi Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mendengarkan penjelasan maket proyek pembangunan Light Rail Transit (LRT) dari Direktur Utama Adhi Karya Kiswodarmawan (kiri) di Jakarta, Rabu (9/9). ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/ama/15.

Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta masih sekitar dua tahun lagi, namun sejumlah nama yang akan maju menantang Basuki Tjahaja Purnama sudah bermunculan. Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Adyaksa Dault, dan pengusaha nasional Sandiaga Salahuddin Uno, adalah tiga di antara nama-nama yang banyak disebut akan maju dalam Pilkada DKI.

Sebelum benar-benar menjadi calon gubernur, tentu saja semua bakal calon itu harus memenuhi syarat, termasuk Basuki sebagai incumbent. Syarat utama adalah dukungan dari partai politik atau gabungan partai politik, atau bisa juga dengan dukungan warga DKI Jakarta melalui jalur perseorangan. Melalui opsi kedua (jalur perseorangan), misalnya, relawan yang tergabung dalam Teman Ahok tengah berjibaku mengumpulkan satu juta tanda tangan dukungan dan (fotokopi) kartu tanda penduduk untuk pencalonan Basuki.

Siapa yang paling berpeluang menjadi Gubernur DKI Jakarta 2017-2022? Basuki atau para penantangnya? Masih terlalu dini untuk menjawab pertanyaan ini. Selain belum ada hasil survei yang sudah mendeteksi popularitas dan elektabilitas mereka, pola dukungan pada bakal calon gubernur juga masih sangat cair.

Untuk saat ini, sebagai incumbent, mungkin Basuki yang paling populer. Tapi bukan tidak mungkin juga menjelang pilkada nanti, popularitas Basuki akan disalip para penantangnya. Dalam politik, popularitas politikus sangat fluktuatif.

Kita masih ingat, pada Pilkada DKI Jakarta 2012, bahkan sampai menjelang hari “H” popularitas Fauzi Bowo (Foke) sebagai incumbent masih di atas angin. Tapi siapa sangka, sang penantang, Joko Widodo, yang memenangi pemilihan pemimpin Ibu Kota (tahap kedua).

Tentu saja, meski sama-sama incumbent, antara Foke dan Basuki tak bisa disamakan. Keduanya sangat jauh berbeda secara penampilan dan kinerja. Selain itu, lawan-lawan Foke juga tak bisa dibandingkankan dengan para penantang Basuki saat ini. Lawan Foke saat itu, Jokowi dan Basuki, dua tokoh fenomenal pada masanya.

Sementara para penantang Basuki saat ini adalah tokoh-tokoh yang sudah dikenal rekam jejaknya. Dari ketiganya, yang paling menarik tentu Ridwan Kamil yang populer dipanggil Kang Emil. Sebagai Wali Kota Bandung, dia cukup populer dan dianggap berprestasi. Media sering menyejajarkan Kang Emil dengan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah, atau Jokowi saat menjabat Wali Kota Solo.

Sebelum menjadi wali kota, Kang Emil merupakan arsitek yang banyak menginspirasi dengan meraih sejumlah penghargaan bergengsi, terutama berkaitan dengan konsep-konsep baru tata ruang perkotaan yang sesuai kebutuhan zaman dan lebih ramah lingkungan. Kelemahannya, tahun ini Bandung masih menduduki posisi sebagai salah satu kota terkotor, meski bukan dengan nilai terbawah, seperti tahun-tahun sebelumnya saat dipimpin Dada Rosada.

Sandiaga Salahuddin Uno atau lebih populer disebut Sandi Uno, juga profil yang menarik karena latar belakangnya sebagai interpreneur. Kelebihan interpreneur biasanya memiliki kreativitas di atas rata-rata, bisa berpikir dan bergerak di luar kebiasaan (out of the box). Jokowi dan Jusuf Kalla adalah di antara contoh pejabat publik yang berlatar belakang interpreneur. Pernah jatuh bangun di dunia usaha serta berpengalaman memimpin Himpunan Pengusaha Muda Indonesia bisa menjadi modal sosial yang baik bagi Sandi Uno. Kelemahannya, belum memiliki pengalaman memimpin birokrasi pemerintahan.

Adyaksa Dault adalah tokoh pemuda yang punya pengalaman relatif lengkap. Pernah memimpin Komite Nasional Pemuda Indonesia, Menteri Pemuda dan Olahraga (2004-2009), dan sekarang memimpin Kwartir Nasional Pramuka. Kemunculannya sebagai bakal calon gubernur didukung sejumlah komponen masyarakat yang selama ini menolak kepemimpinan Basuki.

Ketiga (calon) penantang Basuki merupakan tokoh-tokoh muda yang mumpuni. Yang perlu disadari, menantang bukan berarti harus menang. Soal kalah atau menang biarlah rakyat (warga Jakarta) yang akan menentukan. Maju dalam pilkada, yang paling penting adalah untuk pendidikan politik. Dalam proses pilkada, para kandidat akan merasakan langsung praktik politik yang sesungguhnya. Jika pengalaman adalah guru terbaik, maka berpolitik secara langsung merupakan guru terbaik bagi para kandidat dan pendukungnya.

Dalam kompetisi politik yang sehat, kesediaan menerima kekalahan merupakan pendidikan politik yang berharga bagi rakyat (para pemilih) dan generasi mendatang, bahwa berpolitik bukan untuk menang-menangan. Politik menang-menangan pasti akan menghalalkan segala cara. “Boleh curang yang penting menang” akan menjadi moto praktik politik menang-menangan.

Kesadaran akan pentingnya mengedepankan pendidikan politik inilah yang pertama-tama harus menjadi pegangan para penantang berikut incumbent dalam setiap pemilihan kepala daerah, termasuk Basuki dan para penantangnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…