Jumat, Januari 22, 2021

Hidup Bersih Ala Basuki

Politik Giring “Nidji” dan Kemudaan

Vokalis band pop Giring ‘Nidji’ Ganesha mencoba peruntungannya di bidang politik. Nidji bukanlah satu-satu kaum muda yang menjatuhkan keputusan memasuki gelanggang politik. Sebelumnya, yang paling...

Irman Gusman, Korupsi, dan Demokrasi Kita

Masih hangat di memori kita ucapan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo yang mengajak agar para pejabat publik mengakhiri perilaku yang korup. Dan...

Media dan Jurnalis Kita Masih Antikritik

Beberapa hari lalu, jurnalis The Guardian Owen Jones menulis kritik tentang jurnalis dan media di Inggris. Ringkasnya, dia bilang bahwa media-media di Inggris sudah...

Pekerti Tuan Besar Besar dalam Puisi

Puisi memuji, politik mengingkari, ungkapan ini mungkin bisa dijadikan acuan untuk memahami hubungan antara puisi, masyarakat, dan politik di era aplikasi digital ini. Alih-alih tersambung...

Panitia memotong daging kurban sebelum dibagikan di kawasan Menteng Atas, Setiabudi, Jakarta. FANTARA FOTO/M Agung Rajasa
Panitia memotong daging kurban sebelum dibagikan di kawasan Menteng Atas, Setiabudi, Jakarta. FANTARA FOTO/M Agung Rajasa

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengeluarkan Instruksi Gubernur Nomor 168 Tahun 2015 tentang Pengendalian, Penampungan, dan Pemotongan Hewan. Dengan instruksi ini, Basuki melarang penjualan dan penyembelihan hewan kecuali di tempat yang telah ditentukan, termasuk hewan kurban.

Akibatnya apa? Kebiasaan umat muslim menyembelih hewan kurban di tempat-tempat ibadah (masjid, mushola), dan di sekolah-sekolah, tidak diperbolehkan. Kebiasaan menjajakan hewan-hewan kurban di tepi jalan dan trotoar juga dilarang. Inilah yang membuat banyak tokoh muslim memprotes kebijakan Basuki. Mantan Bupati Belitung Timur ini dituduh anti-Islam.

Basuki bergeming. Dia berdalih justru dengan instruksi itu ia berupaya mengamalkan ajaran Islam yang menjunjung tinggi kebersihan dan kesehatan. Basuki yang melewati masa kanak-kanak dengan belajar di sekolah Islam melihat apa yang dilakukan umat muslim dalam melaksanakan perintah berkurban tidak sejalan dengan ajaran Islam tentang kebersihan yang menjadi syarat hidup sehat.

Melihat kebijakan Basuki, saya teringat cerita salah satu tokoh pembaruan Islam, Muhammad Abduh, yang sekembali dari pengembaraan di Eropa mengatakan, “Aku pergi ke Barat dan melihat Islam, aku kembali ke Timur dan melihat muslim.”

Di mata murid Jamaluddin al-Afghani ini, cara hidup orang Eropa menggambarkan cara hidup yang diajarkan Islam, meski mereka bukan muslim. Sebaliknya, cara hidup di negara-negara muslim tidak mencerminkan ajaran Islam.

Para cendekiawan muslim Indonesia seperti Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, dan Ahmad Syafii Maarif–untuk sekadar menyebut beberapa nama–adalah penganjur Islam substantif, yakni Islam yang mengacu pada nilai-nilai, perilaku, dan cara hidup yang sesuai dengan ajaran Islam.

Islam substantif kerap dikontraskan dengan Islam formalis, yakni cara-cara berislam dengan menonjolkan atribut-atribut formal, misalnya beribadah secara formal, namun kurang berdampak pada penegakan nilai-nilai yang diajarkan Islam. Rajin salat dan berzikir di tempat ibadah, namun dalam kehidupan sehari-harinya tidak mencerminkan cara-cara hidup Islami.

Menurut Abduh, cara-cara hidup umat muslim yang banyak bertolak belakang dengan ajaran Islam inilah yang menghalang-halangi kemajuan Islam. Al-Islamu mahjubun bi al-muslimin, (keindahan dan keagungan) Islam tertutup oleh (perilaku dan kebiasaan buruk) umat muslim. Islam mengajarkan kebersihan, namun umat muslim banyak mengabaikannya. Islam mengajarkan hidup sehat, namun umat muslim banyak melanggarnya.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (kiri) memukul gendang tanda dibukanya wisata Balaikota di gedung Balaikota, Jakarta, Sabtu (12/9). Mulai saat ini masyarakat dapat berwisata ke Gedung Balaikota serta masuk ke dalam kantor Gubernur DKI Jakarta setiap Sabtu dan Minggu mulai pukul 09.00-17.00. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/ama/15

Basuki secara formal bukan muslim. Akan tetapi, kebijakan-kebijakan yang diambilnya dalam memimpin DKI Jakarta mencerminkan tata hidup yang Islami. Mungkin tidak semuanya, karena sebagai manusia biasa ia juga memiliki banyak kekurangan.

Bersih dalam pandangan Basuki tak sekadar dalam pengertian fisik, tapi juga bersih hati, pikiran, dan tindakan. Bersih fisik terkait dengan lingkungan teritorial atau lokasi. Penertiban bantaran Kali Ciliwung, misalnya, yang banyak dijadikan hunian liar dan pembuangan sampah menjadi salah satu prioritas kerja pemerintahan Basuki. Ini merupakan kelanjutan program bersama pendahulunya, Gubernur Joko Widodo, yang telah menyulap lingkungan waduk Pluit yang kumuh dan kotor menjadi taman yang bersih dan indah.

Bersih hati dan pikiran erat kaitannya dengan apa yang disebut Sigmund Freud sebagai “asosiasi bebas”. Kebebasan manusia bisa membersihkan hati dan pikirannya karena dengan kebebasan, apa yang terdetak dalam hati dan terlintas dalam pikiran, akan langsung diekspresikan. Berbeda misalnya pada saat manusia dalam tekanan, yang ada dalam hati dan pikiran tak bisa diekspresikan dengan bebas sehingga menggumpal, berakumulasi, dan lama kelamaan menjadi penyakit yang sulit disembuhkan.

Sedangkan bersih dalam tindakan merupakan ekspresi yang mencerminkan penolakan terhadap semua hal yang merugikan orang banyak. Antikorupsi, misalnya, adalah contoh dalam bentuknya yang optimal dari bersih dalam tindakan.

Banyak orang yang mengaku hidup bersih hanya dalam kata-kata yang terucap, ini merupakan manipulasi awal. Apabila sudah sampai pada tahap lahirnya tindakan-tindakan yang bertentangan dengan apa yang diucapkan, maka pada saat itulah manipulasi telah memasuki stadium lanjut yang sangat sulit disembuhkan.

Banyak kalangan menuduh Basuki bermulut kotor hanya karena dia sering memaki dengan kata-kata kasar. Jika dilihat dalam perspektif budaya yang normal, tuduhan itu benar adanya. Tapi jika dilihat dalam konteks apa yang dia bicarakan, sejatinya ia melakukan tindakan yang proporsional. Pada kejahatan kita tak perlu bermanis muka dan kata-kata karena hal itu tidak akan menyembuhkannya. Ada substansi makna di luar fakta.

Dalam sistem budaya yang normal, ada kesesuaian antara substansi makna dan fakta. Tapi dalam sistem budaya abnormal, kerap terlihat ada kesenjangan antara keduanya. Pada saat terjadi kesenjangan seyogianya kita lebih melihat substansi ketimbang faktanya.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Apa Itu Teo Demokrasi dan Nasionalisme?

Apa itu Konsep Teo Demokrasi? Teo demokrasi terdiri dari gabungan kata yaitu teologi yang berarti agama dan demokrasi yang terdiri dari kata demos berarti rakyat dan...

Menilik Superioritas Ras dalam Film Imperium

Film Imperium yang ditulis dan disutradarai oleh Daniel Ragussis adalah sebuah film thriller yang menampilkan usaha seorang karakter utama yang mencoba untuk “masuk” ke...

ARTIKEL TERPOPULER

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.