in

Face-Negotiation ala Pak Basuki


Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok (tengah) menjawab petanyaan wartawan usai menjalani pemeriksaan di Bareskim, Mabes Polri, Jakarta, Selasa (22/11). Ahok diperiksa penyidik Bareskrim Polri selama 8,5 jam untuk pemeriksaan perdana sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama. ANTARA FOTO/Reno Esnir/foc/16.
Gubernur DKI Jakarta non-aktif Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok usai menjalani pemeriksaan perdana sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama di Bareskim, Mabes Polri, Jakarta, Selasa (22/11). ANTARA FOTO/Reno Esnir/foc/16.

Sebagai bangsa yang besar, Indonesia merupakan laboratorium kemajemukan. Berpindah jarak beberapa puluh kilometer saja kita akan menemui kebudayaan yang sangat berbeda. Perbedaan-perbedaan inilah yang seringkali rawan memicu pergesekan. Bangsa ini juga telah belajar bagaimana peristiwa sepele dapat memicu kerusuhan luas yang mengakibatkan korban jiwa dan harta benda yang tak sedikit jumlahnya.

Peristiwa terakhir yang menyedot perhatian dan energi bangsa ini adalah tuduhan kepada Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau yang biasa disapa Ahok atau Pak Bas (mengikuti anjuran salah satu pasangan calon untuk memanggil dengan sebutan yang baik).

Kemunculan Pak Bas sebagai calon gubernur atau bahkan calon presiden merupakan keniscayaan di negara demokrasi ini. Siapa pun yang tak dikenal asal-usulnya atau yang bukan berdarah biru berhak mencalonkan diri sebagai gubernur. Tidak ada yang salah dengan Pak Bas yang menjadi etnis minoritas, menganut agama minoritas, maupun gaya bicaranya yang blak-blakan dan terkesan arogan. Tentu saja Pak Bas mengalami peristiwa yang sangat kompleks hingga menjadi seperti sekarang ini.

Lalu, apa yang menyebabkan bangsa ini menghabiskan banyak energi untuk mengurus Pak Bas? Kenapa orang rela berbondong-bondong dari pelosok negeri untuk bergabung menyatakan sikap agar Pak Bas diadili? Pak Bas dituduh telah menistakan agama Islam terkait ucapannya sewaktu melakukan kunjungan di Kepulauan Seribu.


Dalam sebuah teori komunikasi antar budaya, Stella Ting-Toomey, profesor dari California University, mengemukakan sebuah teori yang disebut dengan Face-Negotiation Theory atau Teori Negosiasi Muka. Face yang dimaksud di sini adalah public image people display.

Face-Negotiation Theory ini didasarkan pada manajemen face. Teori ini merupakan salah satu teori yang secara eksplisit mengakui bahwa orang dari budaya yang berbeda memiliki perbedaan pemikiran mengenai face orang lain. Perbedaan pandangan ini menyebabkan timbulnya perbedaan cara dalam menghadapi konflik.

Baca Juga :   Dalam Nyala Lilin Tuhan Mengetuk

Dalam teori ini Ting-Toomey menunjukkan adanya perbedaan bagaimana orang-orang dari kultur individualistik dan kolektivistik menegosiasikan face dalam situasi konflik. Orang dari kultur yang berbeda akan menggunakan cara yang berbeda pula dalam mengelola konflik untuk memelihara face. Perhatian pada self-face dan other-face menjelaskan negosiasi konflik antara orang dari beragam kultur. Ting-Toomey menjelaskan bahwa budaya memberi bingkai interpretasi yang lebih besar di mana face dan konflik dapat diekspresikan.

Indonesia merupakan negara yang masuk dalam kultur kolektivistik di mana orang cenderung mempunyai kepedulian dan perhatian pada mutual-face dan other-face, sehingga mereka berusaha memberikan face kepada orang lain. Hal ini umumnya termanifestasi dalam tindakan penghindaran, kooperatif atau kompromi.

Sedangkan dalam kultur indvidualistik, orang akan lebih peduli pada self-face, sehingga membuat mereka lebih memilih untuk memperbaiki face sendiri melalui dominasi atau bersikap agresif.

Cara komunikasi Pak Bas yang blak-blakan dan tak segan-segan memarahi orang lain di depan umum jauh dari konsep ideal kultur kolektivistik Ting-Toomey. Alih-alih memberikan perhatian pada mutual-face atau other-face, Pak Bas lebih memilih mendamprat orang di depan umum yang mana dalam kultur kolektivistik itu merupakan sebuah tindakan mempermalukan yang “tabu”.

Dalam kasus dugaan penistaan agama, Pak Bas tidak menerapkan pola komunikasi yang diyakini umum digunakan dalam kultur masyarakat kolektivistik, yaitu mempertimbangkan other-face dan mutual face. Dalam hal ini yang dimaksud dengan other-face adalah umat Islam di Indonesia pada umumnya.

Baca Juga :   Ahok dan Penggusuran: Dibenci dan Dirindu

Bukankah ayat dalam salah satu kitab suci jika digunakan untuk menipu adalah pukulan untuk umat Islam? Sebuah aib? Mungkin saja umat Islam di negara ini sudah menyadarinya, betapa banyak penipu yang membawa nama agama mereka.

Berapa banyak orang berkedok guru-guru pembimbing spiritual Islam yang ternyata tak lebih dari penipu? Berapa banyak orang bergelar haji tapi menjadi tahanan KPK? Berapa banyak orang bersorban teriak-teriak atas nama Islam dan melakukan perusakan? Belum lagi aksi anak-anak tanggung takut menghadapi hidup yang berhasil dicuci otaknya jika meledakkan bom itu syahid, matinya pasti surga.

Itu semua adalah aib bagi umat Islam di negeri ini. Sebagaimana aib tidak seharusnya dibicarakan di depan umum, apalagi ditelanjangi, mungkin dengan lirikan mata saja sudah cukup–meminjam lirik Tompi–“menghujam jantung”.

Sebagai umat Islam tentu saja mereka malu dan terpukul. Beberapa mencari cara untuk mengatasinya dan beberapa memilih diam karena merasa tak sanggup berbuat apa-apa. Nah, ketika Pak Bas dituding menyinggung ayat al-Qur’an yang dipakai untuk menipu, tentu saja umat Islam Indonesia merasa malu dan merasa dipermalukan. Dalam hal ini Pak Bas memilih menyelamatkan self-face-nya, bertindak agresif dengan menunjukkan bahwa memilih dirinya adalah lebih benar daripada mengutamakan other-face dengan tidak menyinggung apa yang di luar kapasitasnya sebagai penganut kepercayaan yang berbeda.

Baca Juga :   Dua Jurus Kungfu Ahok, Satu Tujuan

Kemudian apa bedanya dengan perkataan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang serupa saat berkampanye di Belitung beberapa tahun silam? Jelas beda. Hal tersebut diucapkan Gus Dur sebagai bagian dari umat Islam. Terlebih kapasitas Gus Dur sebagai seorang kiai yang cukup dihormati di negara ini. Semacam otokritik yang jauh bisa diterima daripada kritik dari luar.

Jika saja Pak Bas bisa mengatur cara berkomunikasinya dengan mempertimbangkan kultur di mana dia tinggal dan jika saja Pak Bas mau menyelamatkan face umat Islam di Indonesia, mungkin bangsa ini tidak harus mengeluarkan banyak energi untuk menuntut pertanggungjawabannya dan menyeret masalah ini ke isu SARA. Bahkan bukan mustahil mereka bakal dengan sukarela mengusung Pak Bas tidak saja sebagai calon gubernur, tapi juga calon presiden.

Maka, Pak Bas, ke depan, jangan lagi sepelekan cara berkomunikasi!


Written by Dyah Ayu Harfi R

Dyah Ayu Harfi R

Mahasiswa S2 Ilmu Komunikasi dan Media Universitas Gadjah Mada, Konsultan Pariwisata dan Industri Kreatif. Penyuka kopi.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR