Jumat, Februari 26, 2021

Diskredit Basuki

Serangan Balik Koruptor lewat Praperadilan

Dalam altar pemberantasan korupsi, ada term corruptors fight back alias perlawanan balik koruptor atas proses hukum yang menimpanya. Artinya, seorang koruptor berusaha menyusun langkah...

Bom Istanbul: Turki di Tengah Pusaran ISIS

28 Juni 2016, bom bunuh diri mengguncang Bandara Ataturk, Istanbul, Turki. 36 jiwa dinyatakan tewas. Perdana Menteri Turki Binali Yildirim menyatakan kelompok Negara Islam...

Niat Jahat dan Testimoni Haris Azhar tentang Freddy Budiman

Dalam beberapa hari terakhir, berita tentang eksekusi pidana mati Freddy Budiman cs, menghiasi laporan utama berbagai media cetak dan elektronik. Setelah itu, berita yang...

Tentang Hatta dan Perempuan

Di antara para pendiri Republik, Mohammad Hatta adalah satu-satunya orang yang sangat kaku terhadap perempuan. Bahkan Haji Agus Salim yang santun sekalipun sangat pandai...

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) (kanan), Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi (kiri) memberikan keterangan kepada wartawan usai melakukan pertemuan di Balai Kota, Jakarta, Rabu (25/11). Dalam pertemuan tersebut membahas evaluasi kerja sama pengolahan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi yang diantaranya persoalan peningkatan kerja sama baru penambahan rute operasioanal truk sampah dan dana kemitraan. ANTARA FOTO/Risky Andrianto/nz/15
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) (kanan), Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi (kiri) memberikan keterangan kepada wartawan usai melakukan pertemuan di Balai Kota, Jakarta, Rabu (25/11). ANTARA FOTO/Risky Andrianto

Banyak metode untuk mendorong seseorang agar bisa populer, bisa dicintai, dan didukung untuk menjadi pemimpin. Namun, tidak semua metode sesuai dengan situasi dan kondisi. Salah memilih metode, alih-alih meraih hasil positif, malah sebaliknya menghasilkan hasil negatif.

Dukungan publik terhadap Basuki Tjahaja Purnama untuk memperpanjang jabatan sebagai Gubernur DKI Jakarta, menurut saya, tidak semuanya sesuai dengan situasi dan kondisi Jakarta khususnya, dan kondisi Indonesia pada umumnya.

Di antara yang tidak sesuai itu, pertama metode atau cara yang ditempuh dengan menggalang sentimen etnis. Kita mafhum, banyak warga etnis Tionghoa yang merasa bangga dengan tampilnya Basuki sebagai salah satu pemimpin yang penting di negeri ini. Namun, saat kebanggaan itu diekspresikan dalam bentuk kegiatan yang bisa dikategorikan kampanye dengan menonjolkan sentimen etnis Tionghoa, maka bukannya membantu, malah bisa merepotkan posisi Basuki.

Kita masih ingat, saat pasangan Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli pada Pilkada DKI Jakarta periode lalu mengusung sentimen etnis Betawi, hasilnya malah negatif. Sebab, menurut survei, ternyata etnis Betawi sudah tidak lagi mayoritas di DKI Jakarta. Selain itu, mengusung etnisitas di era sekarang sudah bukan waktunya lagi.

Kedua, cara yang juga negatif untuk popularitas dan elektabilitas Basuki adalah kegiatan atau pernyataan dukungan terhadap dirinya dengan menggunakan sentimen agama. Sebagai contoh, kita banyak menyaksikan “testimoni” tokoh agama mengenai kepemimpinan Basuki di tempat ibadah yang rekamannya tersebar di media sosial.

Seperti sentimen etnis, sentimen agama sudah tidak relevan dijadikan bahan kampanye. Tentu, para tokoh agama itu bukan bermaksud kampanye. Mereka hanya memberikan kesaksian, mungkin untuk menambah keyakinan/keimanan bahwa jika Tuhan sudah berkehendak, apa pun bisa terjadi, termasuk Basuki menjadi pemimpin. Bahkan, di antara kesaksian yang beredar di sosial media, ada di antaranya yang memprediksi Basuki sudah dikehendaki Tuhan akan menjadi Presiden Republik Indonesia.

Menurut ketentuan perundang-undangan, testimoni-testimoni itu juga tentu tidak memenuhi kriteria sebagai kampanye, karena tidak memenuhi unsur-unsur yang harus ada dalam kegiatan kampanye. Meskipun demikian, di mata publik, testimoni-testimoni itu bisa dipersepsi sebagai bentuk soft kampanye yang dilakukan di luar kegiatan kampanye formal. Persepsi inilah yang menjadi diskredit, terutama bagi elektabilitas Basuki. Sebab, di samping penggunaan sentimen etnis dan agama tidak relevan, langkah-langkah seperti itu juga bertentangan dengan komitmen yang selama ini ditekankan Basuki.

Dulu, saat media sosial belum berkembang seperti saat ini, mungkin kegiatan-kegiatan yang spesifik untuk situasi dan tempat yang spesifik masih bisa dilakukan. Namun, untuk saat ini tidak bisa lagi dilakukan  karena melalui media sosial yang spesifik itu bisa menyebar ke mana-mana, bahkan sampai pihak-pihak yang tidak selayaknya menerima informasi tentang kegiatan yang spesifik itu.

Dalam banyak kesempatan, Basuki menegaskan dirinya hanya berkomitmen dalam dua hal, menegakkan konstitusi dan antikorupsi. Dalam menegakkan konstitusi, implikasinya tentu harus mencegah atau setidaknya menghindari segala kemungkinan yang menyeret dirinya pada segala kegiatan yang bisa dipersepsi bertentangan dengan konstitusi.

Memegang komitmen seperti ini bukan pekerjaan mudah. Sebab, sebagai tokoh publik yang memiliki banyak pendukung, Basuki tidak bisa melarang siapa pun untuk memberikan dukungan pada dirinya. Di samping pemberian dukungan pada tokoh politik merupakan hak setiap warga negara, melarang dukungan juga sama artinya dengan “bunuh diri” secara politik.

Lantas bagaimana cara menghadapi dukungan dan antusiasme publik yang bisa dipersepsi merusak komitmen dirinya pada penegakan konstitusi? Inilah dilema bagi Basuki.

Untuk keluar dari dilema ini, saya kira akan sangat baik jika Basuki menjalin komunikasi intensif dengan para pendukungnya agar mereka berdiri tegak pada garis komitmen yang sama dengan dirinya. Menghindari kegiatan-kegiatan yang kemungkinan bisa menyeret dirinya pada penguatan sentimen etnis dan agama merupakan keniscayaan yang harus ditaati siapa pun yang menginginkan Basuki menjadi pemimpin.

Untuk sejumlah testimoni yang sudah beredar di media sosial dengan mengusung sentimen etnis dan agama, tidak perlu ditarik dari peredaran. Sebab, selain tidak mungkin bisa dilakukan, hal itu sudah menjadi milik publik yang mungkin sebagian sudah tersimpan di memori gadget yang bisa ditonton, diperdengarkan, atau bahkan diteruskan ke mana-mana.

Yang perlu dilakukan adalah penyebaran testimoni-testimoni baru yang lebih konstruktif  bagi popularitas dan elektabilitas Basuki, yang terbebas dari unsur-unsur yang mengarah pada sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Ini akan menjadi kredit bagi Basuki.

Mengimbangi diskredit dengan kredit yang jauh lebih masif adalah satu-satunya cara untuk meminimalisasi dampak negatif dari setiap diskredit bagi Basuki.

 

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.