in

Benarkah Gus Dur Mendukung Ahok?

ahok-gusdur-ok
Ahok dan Gus Dur [sumber: fiqhmenjawab.net]
Sosok Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjadi bukti betapa pemimpin membutuhkan keberanian. Ia berani menggebrak sistem politik di DKI Jakarta dengan gaya kepemimpinan yang khas. Reformasi birokrasi, percepatan program, dan kesungguhannya membenahi Ibu Kota menjadi nilai lebihnya. Meski dari beberapa gebrakan ini, ia mendulang banyak musuh, baik dari politisi, pengusaha, dan mereka yang tidak sepakat dengan gaya kepemimpinannya.

 

Tuduhan penistaan agama merupakan rentetan panjang dari dinamika politik yang mengelilingi kepemimpinan Ahok. Tentu saja isu ini tidak bisa dibaca terpisah dari kontestasi politik di DKI Jakarta.

Dalam beberapa forum, Ahok sering mengungkapkan bahwa dirinya didukung oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ahok menjelaskan, Gus Dur sebagai panutannya dan teladannya. Lalu, benarkah Ahok didukung Gus Dur? Apakah nilai-nilai keteladanan Gus Dur masih dipraktikkan Ahok?

Gus Dur Membela Minoritas
Dalam nota keberatan yang dibacakan pada sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Selasa (13/12/2016), Ahok mengungkapkan hubungan baiknya dengan almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Menurut Ahok, hubungan intensifnya dengan Gus Dur menjadi bukti betapa ia sangat menghargai tokoh Islam. Bagi Ahok, Gus Dur merupakan guru dan panutan yang memberikan inspirasi dan keberanian.

Ahok menegaskan, keberaniannya mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta karena pengaruh Gus Dur. “Saya berani mencalonkan diri sebagai gubernur sesuai dengan amanat Gus Dur, bahwa gubernur bukan pemimpin tapi pembantu dan pelayan masyarakat.”
Dalam memori masa kecilnya, Ahok mengingat betapa ia dibesarkan dalam tradisi Islam. Ia dibesarkan dan menjadi anak angkat oleh seorang Muslim dari Makassar, Haji Baso Amir.

“Saya seperti anak yang tidak tahu terima kasih, apabila saya tidak menghargai agama dan kitab suci orang tua angkat saya, dan beliau adalah pemeluk Islam yang sangat taat,” ungkap Ahok.

Baca Juga :   Ahok, Sumber Waras, dan Ketidakwarasan

Dalam proses Pilkada Bangka Belitung pada 2007, Gus Dur mendampingi Ahok. Saat itu, Ahok kalah dalam drama politik melawan rivalnya. Gus Dur menyarakan Ahok untuk melayangkan gugatan, karena ada indikasi kecurangan. Kemudian Gus Dur memberikan dukungan agar Ahok menjadi gubernur, dan menjadi pemimpin politik yang menjadi teladan. Ahok bercerita, dalam berbagai forum, Gus Dur mendorong agar etnis Tionghoa dapat menjadi gubernur.

Istri Gus Dur, Sinta Nuriyah, mengisahkan betapa dukungan suaminya terhadap sosok Ahok karena dua hal fundamental. Pertama, Gus Dur tertarik dengan keberanian Ahok. “Seorang minoritas yang berani tampil untuk merebut posisi dari kelompok yang sudah dominan. Ini buat Gus Dur sangat menarik,” terang Sinta (Kompas, 9/9/2016). Alasan kedua, pada waktu itu Ahok dianggap sebagai sosok yang bersih, jujur, dan terbuka.

Kiprah Ahok kontroversial ini mengingatkan kita pada kontroversi-kontroversi yang mengelilingi Gus Dur. Karena kepemimpinannya, Ahok mendapatkan penghargaan Gus Dur Award pada akhir Januari 2016. Penghargaan ini diserahkan oleh keluarga Gus Dur pada orang-orang yang selama ini dianggap mampu meneruskan perjuangan Gus Dur. Ahok menerima Gus Dur Award, bersama dua tokoh lain, KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dan Tanto Mendut (budayawan dari Magelang).

Ahok dianggap sebagai tokoh pemimpin yang tegas dan pemberani. Menurut Yenni Wahid, Ahok berani menjadi pemimpin yang mementingkan kepentingan publik, kemaslahatan bersama. Ahok juga berani menegakkan aturan, yang seringkali berseberangan dengan pengusaha tamak. Upaya penghematan anggaran yang dilakukan Ahok menjadi nilai-nilai kepemimpinan yang selaras dengan nilai-nilai utama Gus Dur.

Mengenai Gus Dur Award, Alissa Wahid menegaskan pertimbangan utama pemberian penghargaan yakni keselarasan dengan nilai-nilai perjuangan Gus Dur. “Keluarga Ciganjur memberikan penghargaan ini kepada tokoh-tokoh yang kami pandang selaras dengan nilai-nilai keteladanan Gus Dur,” ungkap Alissa, sebagaimana dilansir CNNIndonesia (24/1/2016).

Baca Juga :   Serangan Bertubi pada Basuki

Kiprah Gus Mus sebagai tokoh Islam yang mengajarkan Islam ramah ke ranah internasional menjadi pertimbangan utama. Gagasan-gagasan Islam Nusantara yang mengkampanyekan nilai-nilai moderat, toleransi, dan keadilan, yang selama ini disampaikan Gus Mus menjadi pelajaran berharga. Kiprah Gus Mus dalam mengajarkan Islam yang ramah, baik di media sosial maupun tindakan kebangsaan, menjadi bukti kesamaan visi dengan Gus Dur.

Selanjutnya, Tanto Mendut dianggap sebagai budayawan yang berhasil memajukan budaya dari komunitas seraya mengusung kearifan lokal. Pelbagai gerakan budaya yang dilakukan Tanto Mendut, melalui Festival Lima Gunung dan beragam festival berbasis komunitas rakyat, menjadi oase di tengah keringnya iklim kebudayaan.

Nilai Kemanusiaan
Benar jika Gus Dur mendukung Ahok. Namun, Ahok yang didukung Gus Dur adalah Ahok yang berani, tegas, dan terbuka. Bukan Ahok yang terbelit kepentingan elite politik. Ahok yang didukung Gus Dur adalah Ahok yang bersih dan tidak korupsi. Bukan Ahok yang terseret mafia koruptor Rumah Sakit Sumber Waras. Ahok tentu ingat bagaimana Gus Dur berjuang untuk membela minoritas, membela kemanusiaan. Dukungan Gus Dur bukan sekadar pilihan politik ataupun kedekatan personal, namun untuk tujuan kemaslahatan.

Saya yakin, Ahok masih menganggap Gus Dur sebagai guru, sebagai inspirasi. Untuk itu, renungkanlah kembali cara-cara Gus Dur dalam melakukan manuver-manuver politik, strategi Gus Dur dalam menyelesaikan masalah. Tentu dengan keberpihakan kepada rakyat kecil dan berjuang untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan.

Written by Munawir Aziz

Munawir Aziz

Peneliti Islam & kebangsaan, penulis buku "Gus Dur dan Jaringan Tionghoa Nusantara" (2017).

Leave a Reply

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR