in ,

Basuki, Banjir, dan Kemacetan


Warga berjalan menembus banjir yang melanda kawasan Kampung Pulo, Jakarta, Senin, (16/11). Kawasan di sepanjang aliran Kali Ciliwung terendam banjir akibat Bendungan Katulampa yang sudah mencapai siaga satu. ANTARA FOTO/M Ali Wafa
Warga berjalan menembus banjir yang melanda kawasan Kampung Pulo, Jakarta, Senin, (16/11). Kawasan di sepanjang aliran Kali Ciliwung itu terendam banjir akibat Bendungan Katulampa yang sudah mencapai siaga satu. ANTARA FOTO/M Ali Wafa

Memasuki musim penghujan, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama akan menghadapi tantangan baru, tantangan yang juga dihadapi Gubernur DKI Jakarta sebelumnya, yakni banjir. Dan, jika banjir sudah melanda, Jakarta yang dalam kondisi normal sudah macet, sudah pasti akan bertambah macet.

Banjir dan macet menjadi dua sejoli penantang utama Basuki. Jauh lebih menantang ketimbang tantangan para kompetitornya dalam Pilkada yang akan digelar 2017 mendatang. Untuk menjawab tantangan para kompetitor, Basuki masih cukup banyak waktu. Tapi untuk menjawab tantangan banjir dan kemacetan, tidak bisa menunggu.

Sebenarnya, ada banyak alasan untuk mengelak dari kedua tantangan ini, misalnya dengan mengatakan bahwa banjir dan kemacetan merupakan keniscayaan bagi kota besar seperti Jakarta. Bahkan, konon, sejak jauh sebelum Indonesia merdeka, ketika masih bernama Batavia, kota ini sudah pernah dilanda banjir besar.

Selain itu, bisa juga beralasan bahwa, selain Jakarta, kota-kota lain juga mengalami hal serupa. Pada hujan pertama, Bogor sudah dilanda banjir, begitu juga dengan Bekasi dan Bandung. Kemacetan di tiga kota ini juga tidak kalah dengan Jakarta, bahkan kadang jauh lebih macet.


Tapi, alangkah naifnya jika Basuki menyampaikan alasan-alasan itu untuk menghindari kritik dan kecaman publik terkait banjir dan kemacetan. Jika itu dilakukan, apa bedanya Basuki dengan Fauzi Bowo yang pada saat memimpin Jakarta lebih banyak ngeles saat ditanya tentang banjir dan kemacetan.

Baca Juga :   Niat Jahat dan Testimoni Haris Azhar tentang Freddy Budiman

Tanpa harus diberi alasan pun sebenarnya publik, terutama warga Jakarta, menyadari sepenuhnya bahwa untuk mengubah Jakarta menjadi kota yang tiba-tiba bebas banjir dan kemacetan mustahil bisa dilakukan.

Logikanya sederhana, bagaimana mungkin bisa mengurangi banjir Jakarta sementara curah hujan tidak berkurang (malah bertambah), sementara tanah-tanah kosong yang seharusnya menjadi tempat resapan air semakin menyempit. Bagaimana mungkin kemacetan di Jakarta akan berkurang, sementara penambahan jumlah kendaraan yang memenuhi Jakarta tidak dibarengi secara proporsional dengan penambahan ruas jalan.

Jadi, tidak perlu menyampaikan apologi, publik sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi di Jakarta, juga di kota-kota besar lainnya yang ada di Indonesia. Semuanya tengah menuju situasi yang lebih buruk, dalam hal banjir dan kemacetan.

Yang perlu dilakukan Basuki adalah aksi-aksi nyata yang mampu memberikan harapan. Harus ada langkah-langkah kongkret yang tengah dan akan dilakukannya untuk mengurangi banjir dan kemacetan. Tugas yang memang sudah seharusnya dilakukan oleh siapa pun yang memimpin Jakarta, ada atau tidak adanya kritik dan kecaman publik.

Penertiban dan pembersihan bantaran sungai, terutama Ciliwung dan Pesanggrahan, harus lebih ditingkatkan. Para pemilik tanah dan bangunan yang berada di sekitar bantaran sungai harus terus-menerus disadarkan agar mereka berperan serta dalam program ini, sekurang-kurangnya tidak menghambat jalannya proses penertiban dan pembersihan.

Sampah-sampah yang berserakan–bahkan menumpuk–di pinggir dan di tengah-tengah sungai harus dibersihkan. Publik juga harus terus-menerus disadarkan agar tidak membuang sampah sembarangan. Dengan tertib membuang sampah pada tempat yang tepat, publik sudah cukup membantu mengatasi banjir.

Baca Juga :   Jakarta's Game of Throne

Perbaikan saluran air, pembangunan drainase yang bisa menampung debit air secara signifikan juga harus terus diupayakan. Jika Pemerintah Provinsi DKI Jakarta merasa tidak cukup punya dana, publik bisa digalakkan untuk membangun secara sukarela (swadaya). Saya yakin tidak ada yang keberatan karena semua dilakukan semata-mata untuk kepentingan mereka.

Langkah-langkah yang konkret dan strategis juga harus terus dilakukan untuk mengurangi kemacetan. Penambahan ruas-ruas jalan dan penertiban para pengendara agar taat aturan harus terus digalakkan. Publik harus sepenuhnya sadar bahwa upaya mengurangi kemacetan tak akan banyak membantu jika kesadaran disiplin para pengendara tidak ditingkatkan.

Pembaruan dan penambahan moda transportasi massal punya peranan penting untuk mengurangi kemacetan Jakaarta. Semakin baik dan nyaman sistem transportasi publik, akan semakin banyak warga masyarakat yang akan beralih dari penggunaan kendaraan pribadi ke moda transportasi publik. Anjuran atau bahkan seruan untuk menggunakan transportasi publik tak ada gunanya jika tidak dibarengi upaya perbaikan sistemnya agar lebih nyaman dan terpadu.

Jakarta harus dibebaskan dari banjir dan kemacetan. Ini sudah pasti menjadi harapan bukan hanya warga Jakarta tapi seluruh warga negara Indonesia. Karena Jakarta adalah showroomnya Indonesia. Jika Jakarta tampak kumuh, banjir, dan macet, persepsi warga dunia tentang Indonesia akan buruk pula.

Tapi yang juga harus digarisbawahi, kota-kota lain selain Jakarta juga harus melakukan pembenahan yang sama. Karena jika hanya Jakarta yang semakin baik kondisinya, pasti akan berdampak pada kenaikan urbanisasi menuju Jakarta yang berarti juga akan menambah masalah baru bagi ibu kota kita tercinta.


Baca Juga :   Ujian Independensi Basuki

Written by Jeffrie Geovanie

Jeffrie Geovanie

Anggota MPR RI 2014-2019

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR