Teror, Ramadhan, dan Kesalehan Sosial Muhammadiyah-NU

452
Members of Iraqi Counter Terrorism Service (CTS) forces look at the positions of Islamic State militants during clashes in western Mosul, Iraq, May 15, 2017. REUTERS/Danish Siddiqui TPX IMAGES OF THE DAY *** Local Caption *** Anggota Badan Penanggulangan Terorisme Irak melihat posisi militan Islamic State saat bentrok di barat Mosul, Irak, Senin (15/5). ANTARA FOTO/REUTERS/Danish Siddiqui/cfo/17

Serangan sporadis yang terjadi di London Bridge dan Borough Market, London, Inggris, Sabtu, 3 Juni 2017 menewaskan tujuh orang dan menyebabkan 48 orang luka-luka, kembali meneror rasa aman rakyat Inggris. Serangan ini terjadi di tengah persiapan Inggris menjelang pemilihan umum pada 8 Juni 2017.

Teror itu terjadi 12 hari setelah bom bunuh diri dalam konser penyanyi Ariana Grande di Manchester, yang menewaskan 22 orang dan melukai puluhan orang (Tempo 16/6). Rentetan kejadian biadab itu sangat melukai warga Inggris bahkan warga dunia terutama umat Muslim yang akan menyambut bulan suci Ramadhan. Di mana umat Muslim seharusnya menyambutnya dengan sukacita, bukan dengan duka dengan melihat korban yang berjatuhan serta masih adanya pelaku teror yang berjubah agama.

Bulan Ramadhan bagi umat Muslim adalah bulan yang sangat istimewa jika bukan dikatakan sebagai bulan yang sangat sakral di mana terdapat perpaduan antara ibadah ilahiah dan ibadah sosial. Perpaduan dua dimensi inilah yang membedakan ibadah puasa Ramadhan dengan ibadah-ibadah lainya. Oleh karenanya, sangat mafhum jika Nabi Muhammad sangat menantikan dan merindukan Ramadhan.

Bahkan, dalam suatu hadits bila Nabi Muhammad melihat hilal dia berkata : Allah Maha Besar. Ya Allah, jadikanlah hilal ini bagi kami membawa keamanan, keimanan, keselamatan, keislaman dan taufik kepada yang dicintai Robb kami dan diridhai-Nya. Robb kami dan Robbmu (hilal) adalah Allah. (HR. Addaromi). Apa yang terjadi di negera dengan liga sepak bola terbaik di dunia kemarin tentu sangat bertolak belakang dengan harapan dan doa Nabi Muhammad dalam menyambut bulan Ramadhan bahkan menodai spirit luhur Ramadhan itu sendiri.

Pelaku Bom di negeri Ratu Elisabeth yang ditengarai dilakukan kelompok ISIS adalah salah satu bentuk dari kebodohan struktural (jahil murakab) dalam memahami doktrin agama. Akibat dari buta dan kaku dalam memahami teks, maka agama dijadikan tameng untuk menghalalkan segala cara dalam mewujudkan tujuan dan pelampiasan sakit hati bahkan dendam.

(Baca juga: Globalisasi: Payung Baru bagi Terorisme)

Tindakan teror dan kekerasan bagi mereka seolah halal dan menjadi ladang ibadah dikarenakan mereka tuna wawasan dalam memahami hakikat dan tujuan dari spirit beragama. Kelompok-kelompok yang terus berkonflik dan menghunus senjata dalam menyelesaikan persoalan adalah mereka yang dalam hidupnya hanya diajarkan konsep Jihad dengan kekerasan tanpa sedikitpun diajari tentang konsep perdamaian dan kesalehan sosial. Padahal Nabi Muhammad sendiri diutus ke Jazirah Arab karena kebrobokan moral dan sosial yang ada pada saat itu.

Oleh karena itu, sebetulnya musuh kita, khususnya umat Muslim dari masa Nabi hingga saat ini adalah kebodohan, ketimpangan sosial, dan dekadensi moral. Tak heran jika Kiyai Ahmad Dahlan sebelum mendirikan Muhammadiyah bahkan mungkin pada saat itu belum terpikirkan akan mendirikan Organisasi Muhammadiyah, adalah bagaimana Kiyai Dahlan dengan terus menerus mengajarkan tafsir surat Al-Maun kepada murid-muridnya. Hingga muridnya mendalami dengan betul hakikat ajaran kesalehan sosial yang ada dalam surat tersebut. Bahkan dalam konteks mengamalkan kesalehan sosial, Kiyai Dahlan tidak kaku dan sungkan untuk bergaul dengan kalangan Non-Muslim.

Yang menarik, mengutip mantan Menteri Agama Tarmizi Taher, “sunguhpun titik berangkat keprihatinannya adalah penjajahan bangsa barat atas umat Islam pada saat itu, namun Kiyai Dahlan tidak menutup diri untuk mengadopsi sistem pendidikan Barat. Ini menunjukkan bahwa beliau memiliki sikap arif dan jernih dalam melihat dan memilah persoalan. Pada saat itu Barat harus dimusuhi sebagai penjajah, namun harus dikawani sebagai peradaban” (Tarmizi Taher : 2005)

Doktrin kesalehan sosial yang diajarkan secara kaffah, konsisten dan berkelanjutan oleh Kiyai Dahlan pada akhirnya melahirkan sebuah organisasi besar Muhammadiyah yang hingga saat ini masih kokoh bersama dengan Nahdhatul Ulama (NU) menjadi tenda bangsa, merawat kebhinekaan dan terus berbakti dengan nyata pada umat dan bangsa baik di bidang pendidikan, kesehatan maupun menjadi kelompok “kritis” bagi negara.

A Muslim American man holds up his hands in prayer after breaking fast and performing the Maghrib sunset prayer on the first day of Ramadan at the Islamic Cultural Center in Manhattan, New York, U.S., May 27, 2017. REUTERS/Amr Alfiky TPX IMAGES OF THE DAY *** Local Caption *** Seorang Muslim Amerika mengangkat tangan saat berdoa setelah berbuka puasa dan salat Magrib di hari pertama Ramadhan di Pusat Budaya Islam, Manhattan, New York, Sabtu (27/5). ANTARA FOTO/REUTERS/Amr Alfiky/djo/17

Revitalisasi

Gerakan revolusi mental yang digalakan oleh pemerintahan Presiden Jokowi saat ini akan lebih bernas dan membumi jika diikuti dengan gerakan revitalisasi kesalehan sosial. Hal ini sebetulnya sesuai dengan tweet Presiden Jokowi dalam menyambut Ramadhan tahun lalu “Selamat datang #Ramadhan. Semoga ibadah puasa mempertebal keimanan dan kesalehan sosial kita.

Oleh karena itu perlunya revitalisasi kesalehan sosial dalam tiga dimensi yang tidak bisa lepas dalam kehidupan kita. Pertama, revitalisasi kesalehan sosial dalam dimensi ekonomi dan kesejahteraan. Revitalisasi kesalehan sosial dalam bidang ini akan berdampak nyata dan dahsyat jika dilakukan oleh semua komponen bangsa ini terutama kaum elite dan konglomerat. Kita berharap kepedulian nyata dari kaum elite dan konglomerat negeri ini terhadap kaum dhuafa disertai dengan mengurangi gaya hidup hedonis ditengah kesenjangan ekonomi yang semakin melebar.

Menurut data Bank Dunia, 50 persen pendapatan negara masih dinikmati oleh penduduk terkaya, sisanya dibagi rata. Dan masih menurut data Bank Dunia, pada 2002, konsumsi dari 10 persen penduduk terkaya di Indonesia sama banyaknya dengan total konsumsi dari 42 persen penduduk termiskin. Selanjutnya pada 2014, konsumsi dari 10 persen penduduk terkaya setara dengan total konsumsi dari 54 persen penduduk termiskin. Jika anda tidak percaya, silakan berkunjung ke Mall Mall papan atas di Jakarta, anda akan tau siapa sebetulnya yang menikmati kekayaan negeri ini.

Kedua, dalam dimensi politik, kita berharap revitalisasi kesalehan sosial dalam bidang politik dapat berdampak nyata pada prilaku elite dalam mengeluarkan kebijakan, yaitu pro kepada kemaslatan publik (public virtue), menjauhi tindakan korupsi dan memiliki mental pengayom dan pelayan bagi masyarakat. Kesalehan sosial dalam dimensi politik diharapkan bisa melahirkan pejabat publik yang dapat melahirkan perubahan nyata pada kualitas hidup masyarakat yang dipimpinya.

Sedangkan dalam dimensi sosial, revitalisasi kesalehan sosial diharapkan mampu melahirkan bangsa yang toleran, menghargai dan menghormati perbedaaan, menghindari cara-cara kekerasan dalam menyelesaikan persoalan dan lebih mengedepankan dialog. Karena obat konflik dan kesalahpahaman adalah dialog. Dewasa ini, dengan mengatasnamakan agama, kelompok tertentu kerap berbuat gaduh disaat Ramadhan dengan melakukan sweeping dan terkadang melakukan kekerasan (persekusi).

(Baca juga: Ramadhan Di Layar Kaca)

Kita harus sepakat bahwa penegakan hukum harus diserahkan pada aparat negara yang mendapatkan mandat dari UUD. Tugas kita di era demokrasi dan di era keterbukaan serta gegap gempitanya sosial media sebetulnya diberi kemudahan untuk mengontrol aparat penegak hukum atau pejabat publik yang tidak melakukan tugasnya dengan baik. Jadi mari kita serahkan pelanggaran hukum kepada pihak yang berwajib dan tidak melakukan “main hakim sendiri” yang malah menciptakan kegaduhan di masyarakat

Dengan hadirnya momentum Ramadhan semoga revitalisasi kesalehan sosial dalam tiga dimensi diatas bisa terwujud di tengah-tengah masyarakat, kususnya kaum Muslim yang sedang khusyu menjalankan ibadah puasa. Disamping ibadah ilahiyah yang semakin meningkat hendaknya bulan Ramadhan juga menguatkan kesalehan sosial kita sehingga terwujud masyarakat yang adil, makmur, aman tentram dan sejahtera.

Kejadian Bom di Inggris beberapa hari lalu dan terjadinya konflik laten yang terjadi di Timur Tengah hingga saat ini adalah akibat nihilnya doktrin kesalehan sosial. Taklid buta terhadap pemaknaan Jihad tanpa dibarengi dengan pemahaman secara kaffah dalam kehidupan beragama melahirkan masyarakat yang gampang melakukan kekerasan sehingga menutup ruang dialog yang sehat.

Di dalam Ramadhan yang teduh ini, bangsa Indonesia patut bersyukur memiliki Muhammadiyah dan NU yang hingga saat ini konsisten mengedepankan kesalehan sosial dan berbuat nyata dalam membangun dan mencerdaskan bangsa serta loyal terhadap Pancasila. Wallahualam

Komentar anda