Terima Kasih, Pak Ahok

10514
Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. ANTARA FOTO/Pool/Tatan Syuflana

“Tetapi saya telah belajar mengampuni dan menerima semua ini. Jika untuk kebaikan berbangsa dan bernegara, alangkah ruginya warga DKI dari sisi kemacetan dan kerugian ekonomi akibat adanya unjuk rasa yang mengganggu lalu lintas.

Tidaklah tepat saling unjuk rasa dan demo dalam proses yang saya alami saat ini. Saya khawatir banyak pihak yang akan menunggangi jika para relawan berunjuk rasa, apalagi benturan dengan pihak lawan yang tidak suka dengan perjuangan kita.”

Itulah petikan surat Ahok yang dibacakan Veronica Tan, seorang perempuan hebat yang rela suaminya lebih banyak mengabdikan diri bagi negeri dibanding menghabiskan waktu dengan keluarga. Meski akhirnya pengabdian itu justru berbalas jeruji penjara.

Ahok akhirnya meminta para pendukungnya untuk menerima vonis majelis hakim. Ia menarik banding dengan alasan tak ingin ada saling unjuk rasa yang bisa mengakibatkan kemacetan dan kerugian ekonomi. Sehari setelah menarik banding, Ahok mengundurkan diri dari jabatannya sebagai gubernur DKI Jakarta dan mengembalikan sisa uang operasionalnya sebagai gubernur. Suatu sikap luar biasa yang hampir tidak pernah dilakukan oleh politisi-politisi lainnya di negara ini.

Meski Ahok begitu legowo, rasanya banyak pendukungnya sulit menerima ini begitu saja. Memang sulit ketika luka ketidakadilan belum sepenuhnya sembuh. Ketika politisasi kasus hukum dipertontonkan. Dan ketika sentimen SARA masih menjadi permainan oknum elite politik.

Tak mudah, Pak Ahok. Berat menerimanya begitu saja seperti tidak pernah terjadi apa-apa ketika anak bungsumu, Daud, masih kerap menanyakan: “Papa, kapan pulang?”
Tapi akhirnya saya—dan semoga banyak pendukungnya juga—sadar bahwa Ahok memang bukan politisi biasa. Ahok adalah seorang negarawan. Sejak awal, perjuangan Ahok tidak pernah tentang dirinya. Ini tentang Indonesia.

Ahok mengingatkan kita untuk tidak sekadar berjuang untuk dirinya saja, tapi untuk terus berjuang memegang nilai-nilai yang selalu kita perjuangkan bersama. Karena, jika tidak, perjuangan Ahok selama dua tahun ini akan menjadi sia-sia.

Ini pun diakui oleh Pak Djarot Saiful Hidayat di Makam Kramat Mbah Priok bahwa dalam di penjara sekalipun, Ahok masih memikirkan Jakarta. “Di suasana seperti itu Pak Ahok masih saja yang dipikirkan kerja, kerja, dan kerja,” katanya.

Kita harus tetap berjuang demi pemerintahan yang bersih, jaminan kesehatan dan pendidikan bagi warga, pembangunan infrastruktur yang dapat menjadi solusi kemacetan dan banjir. Kita harus selalu memastikan bahwa pasukan oranye tak berkurang, fasilitas rumah sakit selalu layak, Kartu Jakarta Pintar (KJP) digunakan untuk kepentingan pendidikan, izin usaha tak menjadi ladang perselingkuhan politik antara pengusaha dan politisi. Masih banyak lagi.

Tapi, intinya, kita tak boleh lengah untuk memperjuangkan ini.

Dan perjuangan yang paling penting adalah soal kebinekaan.

Ahok telah membayar harga yang begitu mahal untuk Indonesia. Ia mengesampingkan ego dan ambisinya semata-mata demi persatuan Republik ini. Relakah kita mundur ketika Ahok sudah memberikan jiwa dan raganya untuk negeri ini?

Kita tak boleh mundur selangkah pun! Kita tak boleh membiarkan siapa pun mengoyak persatuan negeri ini.

Kita tak akan pernah menerima upaya meruntuhkan NKRI, Pancasila, Bhinneka Tunggal, dan UUD 45. Kita tidak akan diam melihat penyebaran hoax semata-mata untuk mendelegitimasi Pak Jokowi sebagai Presiden kita! Karena itu, Pak Ahok, jangan khawatir.

Kami akan meneruskan perjuanganmu, memperjuangkan nilai-nilai mulia ini. Kami akan bersama Presiden Jokowi, mendukung setiap langkah Presiden untuk menjaga negeri ini. Hanya Presiden Jokowi harapan kami saat ini. Beliaulah penjaga kebinekaan kami.

Terima kasih, Pak Ahok, untuk segalanya. Dan sebelum surat pengunduran diri Bapak akhirnya diterima, izinkanlah saya mengatakan: Terima kasih, Pak Gubernur

Komentar anda