OUR NETWORK
Memerdekakan Perut Sendiri

Oleh Haris Fadhil

Indonesia, merayakan tahun ke-72 proklamasi kemerdekaannya pada 17 Agustus 2017 ini. Jika diibaratkan manusia, maka usia tersebut tergolong tua. Dalam usia tersebut, manusia bisa mengalami penurunan kualitas fisik bahkan kualitas pikirannya. Di usia tersebut, orang-orang bisa saja menjadi lamban, mudah lupa, hingga tak lagi mandiri dan bergantung dengan orang lain. Namun, sebagai bangsa, Indonesia tak boleh begitu

Sebagai bangsa merdeka, orang Indonesia haruslah benar-benar bebas dari penjajahan pihak asing, bahkan di dalam perutnya sendiri. Tanah yang subur, didukung para petani yang unggul seharusnya bisa membuat negeri ini bebas dari ketergantungan terhadap bangsa lain dalam hal pangan. Hal inilah yang disadari oleh Presiden Joko Widodo yang berusaha diwujudkan oleh pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla lewat kerja nyata membangun sektor pertanian di Indonesia.

Berkaca dari data yang diungkapkan oleh Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Agung Hendriadi, jumlah produksi Gabah Kering Giling (GKG) pada 2015 menembus 75,55 juta ton. Jumlah tersebut meningkat 4,66% dibandingkan 2014 yakni 70,85 juta dan di tahun  2016 lalu Indonesia berhasil memproduksi gabah kering giling mencapai 79,1 juta ton.

Lebih lanjut, peningkatan produksi juga terjadi pada komoditi bawang merah dengan produksi 2016 yakni 1,29 juta ton meningkat 5,74% dibandingkan 2015 yang mencapai 1,22 juta. Untuk komoditi cabai, produksi di 2016 capai 78.167 ton sedangkan kebutuhannya yakni 54.346 juta ton.

Produksi jagung juga naik 4,2 juta ton atau 21,9% yang setara dengan Rp 13,2 triliun. Peningkatan produksi tersebut berpengaruh terhadap kebijakan impor pemerintah yang sejak tahun 2016, pemerintah tak lagi mengeluarkan rekomendasi impor, beras, cabai, dan bawang merah.

Ya, meskipun masih ada impor sejumlah bahan pangan, seperti singkong yang pada pada semester I -2017, impor singkong RI mencapai 3,2 ribu ton atau US$ 613,2 ribu. Ada pula impor garam, yang disebut akan mencapai 75 ribu ton pada 2017 ini dan juga impor kentang dari Januari-Juni di 2017 nilainya 35,6 ribu ton atau US$ 15,9 juta.

Itu adalah sekelumit masalah pangan di Indonesia, jika dilihat dari sisi produksi hasil tani. Namun, ada masalah lain yang terus menghantui di negara ini. Masalah ini berakar dari makin tipisnya jarak antar bangsa akibat arus liberalisasi, yang membiarkan beragam produk asing masuk ke Indonesia dengan begitu mudahnya. Masalah itu adalah budaya konsumsi pangan lokal yang mulai tergerus. Ya, lihat saja, di mana-mana kini dengan mudahnya orang Indonesia menjumpai restoran cepat saji asal Amerika Serikat, atau negara lainnya yang dipenuhi orang-orang Indonesia dari beragam kalangan.

Tak salah memang, untuk sekedar mengenal, dan mencicipi makanan asing. Yang menjadi masalah adalah ketika orang Indonesia lebih gandrung terhadap pangan asing, dibanding pangan lokal. Ada sejumlah dampak yang merugikan dengan kehadiran restoran asing di Indonesia. Dampaknya tak beda jauh dengan penjajahan pada masa lalu. Jika di masa lalu orang Indonesia dipaksa menanam sejumlah komoditas yang kemudian hasilnya diambil dan dijual oleh bangsa penjajah untuk membangun negerinya. Maka, sekarang orang Indonesia dipaksa memakan makanan dari negara asing, yang uangnya sebagian besar akan masuk ke kantong para pemilik restoran asing, yang sudah pasti bukan orang Indonesia.

Dampak buruk berikutnya, para pemilik restoran asing itu akan membeli bahan baku dari para petani lokal, dengan harga normal, karena berada di dalam wilayah Indonesia. Sedangkan, pihak restoran menjual makanannya dengan standar harga global, yang artinya meraup untung berkali lipat, dan petani kita tak juga bisa sejahtera. Tak terjadi perdagangan yang adil dalam hal ini. Coba saja restoran asing itu tetap berada di negaranya, dan butuh bahan baku dari Indonesia, maka ia harus mengimpor, yang artinya akan lebih mahal. Beruntunglah mereka karena bisa berbisnis di Indonesia.

Berikutnya, yang lebih berbahaya adalah Indonesia bisa kehilangan banyak pangan tradisional. Hilangnya sesuatu bisa terjadi karena orang-orang melupakannya. Hal inilah yang akan terjadi jika makanan asing menajajah perut orang Indonesia. Makanan lokal mulai dilupakan, lama-kelamaan pangan lokal itu berkurang jumlah produksinya, dan sesuai dengan hukum ekonomi, barang-barang yang sedikit jumlahnya akan menjadi mahal, akibat harganya yang mahal, orang-orang juga malas membelinya karena tersedianya makanan asing yang lebih murah. Akhirnya, pangan lokal akan hilang dibasmi makanan asing, dan kehilangan jenis pangan lokal artinya kehilangan satu identitas kebangsaan.

Sudah sepatutnya di usia yang ke-72 tahun ini bangsa ini bebas dari jajahan pihak asing, dimulai dari memerdekakan perutnya sendiri. Mulai menggandrungi pangan lokal, membeli dari para pedagang di pasar tradisional, atau bahkan dari para petaninya, adalah cara sederhana untuk memulai memerdekakan diri sendiri dari jajahan pihak asing. Membeli produk lokal, juga akan membantu pemerintah yang dipimpin Presiden Joko Widodo dalam mewujudkan kemandirian ekonomi, dan meningkatkan kesejahteraan petani, hingga para pedagang tradisional. Memakan pangan lokal juga lebih murah, lebih sehat, dan mampu menjaga perputaran kapital di dalam negeri hingga membuat daya beli masyarakat stabil dan harga jual hasil tani tak fluktuatif.

Segala upaya pemerintah dalam meningkatkan produk pertanian dalam negeri dan meningkatkan kesejahteraan petani lokal akan sia-sia jika tidak didukung oleh rakyat dengan membeli hasil pertanian tersebut. Mendukung upaya baik dari pemerintah untuk menjadikan bangsa ini makin sejahtera merupakan cara sederhana bagi warga negara dalam merawat dan mengisi kemerdekaan yang diwariskan para pahlawan dan pendiri bangsa.***

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

OPINI TERBARU

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…