OUR NETWORK
Ikhtiar Kemerdekaan Budaya

Oleh Bernando J. Sujibto

“(The nation) is invisible; it must be personified before it can be seen, symbolized before it can be loved, imaged before it can be convinced….”

(Cerulo, 1995: 3)

Tiba-tiba saya mengingat sepenggal kalimat di atas, dalam buku gubahan Karen A. Cerulo berjudul Identity Designs: The Sights and Sounds of a Nation, sesaat setelah saya mengalami subuah peristiwa yang—boleh saja kita sebut—absurd, invisible, imaginary dan sebagainya. Saya seperti dipaksa untuk kembali merenungi sejauh mana sebuah bangsa (dengan khazanah sejarah dan kebudayaannya) dan sekaligus arti negara (dengan sistem formalnya yang mengikat sebagai warga) hadir ke diri masing-masing warga negara (citizen).

Kesadaran bahwa setiap warga negara mempunyai tafsir berbeda-beda dan kadar intensitas penghayatan kepada nation-state bernama Indonesia yang fluktuatif adalah fakta tak-tertolak (undeniable fact) sebagai entitas warga negara. Sebelum sampai kepada nasionalisme, saya menawarkan perihal kesadaran (dan pengetahuan?) atas elemen-elemen nation-state (tradisi, budaya dan semua warisan baik berupa software seperti idea dan falsafah hingga hardware seperti produk dan karya warisan tradisi yang ada di tengah-tengah archipelago).

***

Hari itu tanggal 1 Oktober 2013 adalah hari pertama kami memulai aktivitas perkuliahan di Kelas Persiapan Bahasa Turki (TOMER), Karatay University, Konya, Turki. Namun sebelum kelas dimulai, ada sesi perkenalan seperti sudah menjadi tradisi sebelum memulai kelas baru. Seorang dosen meminta kami memperkenalkan nama, asal negara dan tokoh istimewa dari negara masing-masing, termasuk lagu kebanggaan.

Setiba giliran saya, nama Soekarno-Hatta dan lagu Indonesia Raya saya sebut dengan tanpa ragu. Begitu juga yang dilakukan oleh mayoritas mahasiswa yang berjumlah sekitar 20 orang waktu itu. Misalnya, mereka yang dari Afrika menyebut nama Nelson Mandela dan Bob Marley sebagai tokoh kebanggaan.

Tiba pula giliran mahasiswi dari Malaysia. Sebagai bangsa serumpun, dengan kebudayaan nyaris sama dalam banyak aspek, saya tergiur menunggu perkenalan si jelita dari negeri jiran itu. Mata dan telinga saya pasang awas. Dia menyebutkan seorang artis (saya kurang tahu pasti namanya siapa) sebagai sosok kebanggaannya. Sembari menunggu lagu kebanggaan apa yang akan ditunjukkan, mata saya tiba-tiba melotot pada sebuah kalimat yang ditulis sendiri di papan: “Rasa Sayang HEY”. Pandangan saya mendadak nanar dan dada bergemuruh sangat dahsyat.

“Itu Rasa Sayange, bukan? Itu lagu Indonesia. Saya tahu,” tiba-tiba Michiko yang duduk bersampingan dengan saya berbisik.

Michiko adalah seorang ibu paruh baya asal Jepang yang memilih bekerja sebagai guru bahasa Jepang pada sebuah lembaga kursus di kota Konya, Turki. Dia pernah tinggal dan mengajar bahasa Jepang di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang selama satu tahun lebih. Michiko masih ingat beberapa kalimat bahasa Indonesia dan menyukai belajar seni tradisi dan kebudayaan Indonesia.

Di tengah-tengah obrolan singkat kami, si gadis Malaysia ternyata meminta seisi kelas ikut menyanyikan selarik lagu yang baru saja ditulisnya. Dia menyontohkan cengkok dan irama Rasa Sayang HEY. Suara di kelas mendadak riuh rendah. Saya melihat muka mereka begitu antusias menyanyikan alunan lagu Rasa Sayang HEY hasil aransmen si gadis dari negeri Pak Cik itu. Bersamaan dengan irama lagu Rasa Sayang HEY yang didendangkan dengan cengkok khas Melayu, lidah saya mendadak kelu. Tak sepatah kata pun meluncur mengikuti birama lagu yang berkali-kali diulang.

Terdiam di tengah riuh nyanyian Rasa Sayang HEY yang diucapkan oleh kelas yang terdiri dari lidah-lidah antarbangsa, saya lalu berbisik “Mungkin, ini hanya respon dari seorang yang teramat sentimentil tentang ke-Indonesia-annya.”

Setelah peristiwa tersebut, banyak hal yang dapat saya pelajari, di antaranya tentang diri saya, atau diri-diri lain dengan pengalaman yang nyaris serupa, mungkin di tempat lain di luar Indonesia, dan sekaligus tentang kemerdekaan budaya. Poin penting yang lain adalah tentang Rasa Sayange yang dikenalkan kepada mereka teman-teman mahasiswa internasional oleh “orang lain” bukan dari “orang kita” sebagai bagian dari agen kebudayaan.

Feeling of belonging

Saya bukan dari Maluku, sebagai pewaris lagu Rasa Sanyange, tetapi perasaan memiliki kebudayaan Indonesia yang telah mengikat secara psikologis dan ideologis meyakinkan saya untuk mengatakan bahwa lagu tersebut adalah warisan sahih kebudayaan bangsa kamı. Batas teritorial negara secara fisik sudah runtuh dan digantikan oleh territorial ideology (Storey, 2001). Feeling of belonging, solidarity and communality (Anderson, 1991) mengambil peran vital untuk membentuk kesadaran sebuah komunitas kebangsaan. Di sini fungsi merawat ideologi itu penting untuk membingkai imajinasi kebangsaan tetap terjaga dan utuh.

Namun saya tidak ingin terjerembab dalam perangkap, meminjam istilah Storey, banal nationalism dan bloody nationalism, ataupun dalam bahasa populer dikenal nasionalisme buta. Tak pula menelan mentah statemen sang navigator ulung dari Amerika akhir abad 18, Stephen Decatu, Jr., dengan jargon populer “right or wrong, our country” yang ditadah oleh kelompok jingoism, penganut patriotisme ekstremis, di Amerika dan Inggris paruh abad 19 sebagaimana mereka tunjukkan terhadap Rusia. Kita harus menilik di sisi berbeda untuk menempatkan nasionalisme dan kesadaran kebangsaan sebagai ruh dan sekaligus harapan hidup bersama ke depan.

Identifikasi ihwal sensibilitas pengalaman di atas, dalam studi nation-state dan nationalism, menjustifikasi kategori individual member’s sense of self as a national (Verdery, K. 1996), perasaan pribadi yang bertaut dengan komunitas-bangsa. Perlu dicermati bahwa teritori dan komunitas secara natural telah membentuk keterikatan dan berkelit-kelindan yang dalam tingkatan paling ekstrim bisa membentuk sikap chauvinism yang diperkental oleh pengalaman, laku sosiologis dan kepercayaan yang berkembang di suatu masyarakat. Di situ terjadi proses penyatuan (unite) antara wilayah (territory) dengan masyarakat (people). Sehingga tak pelak teritori bisa membentuk (karakter) manusia dan sebaliknya manusia membentuk (karakter) teritori dalam kadar komunalitas (Storey, 2001).

Dalam kajian sosiologi klasik, kadar pengikat ini disebut totem oleh Emile Durkheim, yaitu penanda unik pada sebuah komunitas masyarakat yang menyatukan mereka secara ritual, sosial dan psikologis, di mana pergulatan di tengah kesamaan penderitaan, bahasa dan gestur atas nama simbol dan objek yang dijunjung bersama telah membentuk individu merasakan dirinya dalam kebersamaan yang serentak (in unison) (Cerulo, 1995).

Saya yakin bahwa aspek (penguatan) personal anak bangsa harus dibangun secara konsisten agar dapat memaknai dan sekaligus merasai nasionalisme hingga ke tulang putih-nya. Semua itu tentu terpola karena faktor proses interaksi dan pengajaran yang kontinuitas, sebagai subjek ataupun objek yang berada di tengah pergulatan kebudayaan suatu bangsa. Aspek psikologis yang berkembang secara baik untuk mengenal simbol nasional (national symbol) sebagai pengikat telah membentuk kesadaran identitas-personal kolektif yang unik (a unique collective ‘self’) (Cerulo, 1995). Di situlah pentingnya bagaimana penguatan sikap nasionalisme dan volunterisme terhadap negara dan bangsa harus ditanamkan secara sistematis kepada semua anak bangsa.

Proses tersebut harus didukung oleh keseluruhan sistem negara (sosial, politik, ekonomi, dst) yang terus memupuk rasa nasionalisme baik dalam aspek ideologis ataupun implementatif, sehingga rasa nasionalisme dengan sendirinya akan menjadi moda pemikiran dan sekaligus tindakan sosiologis sehingga mereka, dalam istilah sosiolog Turki Farhat Kentel (2009), menjadi overarching ideology. Rakyat Turki, terlepas dari pro dan kontra, bisa dihadirkan sebagai contoh di mana proses penanaman rasa nasionalisme berjalan secara sistematis sebagai aplikasi proyek ideologi yang mereka bangun sebagai bagian dari doktrin. Sehingga kesadaran national will mereka bisa disebut di atas rata-rata.

Menuju kemerdekaan budaya

Arti kemerdekaan hari ini adalah kemampuan memahami khazanah dan elemen-elemen Indonesia sebagai nation-state, di mana sejarah, tradisi dan budaya secara umum menjadi trigger untuk memproduksi dan melahirkan kesadaran sense of belongin kepada rakyat luas. Formulasi pengajaran dan proses doktrinasi ihwal pilar-pilar penyokong kebangsaan harus menjadi arus utama dalam proses pembentukan pengetahuan dan karakter ke-Indonesia-an melalui kebudayaan. Di sini kebudayaan menjadi fondasi yang harus dipersiapkan demi melahirkan generasi-generasi tanggung dengan wawasan Indonesia. Fenomena pengerasan (politik) identitas yang terjadi secara masif akhir-akhir ini harus diimbangi dengan satu formulasi penanaman nilai-nilai kebangsaan sebagai titik temunya.

Bagi generasi muda saat ini, kunci kemerdekaan Indonesa adalah kesadaran tentang kebudayaan itu sendiri. Turki adalah contoh yang bisa diketengahkan ihwal bagaimana nasionalisme terbangun dan lahir menjadi kesatuan dalam kesadaran kebudayaan mereka. Sehingga sikap patriotis dan menghargai simbol-simbol negara muncul secara natural dan sudah melekat sebagai cipta dan karsa yang berimplimentasi ke dalam laku kehidupan sosial masyarakat. Memang, aspek ini bukan sesuatu yang mudah mengingat bangsa Indonesia kerapkali menjadi yatim piatu budaya karena tercerabutnya kebudayaan kita sendiri.

Kemerdekaan budaya harus dipahami sebagai proses national will untuk membangun kesadaran generasi muda atas kebudayaan nasional Indonesia yang harus dijaga dan dikembangkan. Ketika sebuah bangsa sudah dapat mempelajari, memahami, mengembangkan, memperkenalkan dan menggunakan produk kebudayaannya dengan rasa bangga, kemerdekaan budaya yang sesungguhnya sudah dipraktikkan. Rasa Sayange bisa dibilang sebagai klaim kasuistik dengan cara memasangnya di situs promosi resmi Departemen Pariwisata Malaysia tahun 2007. Namun ketika dilihat dari rekaman sejarah atas klaim produk-produk tradisi dan budaya kita seperti Tempe, Reog Ponorogo, Angklung, Tari Pendet, Batik, dll, kasus Rasa Sayange perlu dilihat secara lebih luas, yaitu kehendak untuk berjibaku demi memiliki (dan mematenkan) produk tradisi dan budaya Indonesia sebagai identitas nasional mereka. Jika misalnya Malaysia berhasil memakai Rasa Sayange dan mematenkannya, itu artinya kita kalah dalam “perang kebudayaan” dan kemerdekaan budaya kita semakin suram.

Perang kebudayaan yang saya maksud adalah ihtiar kemerdekaan budaya itu sendiri yang mutlak harus dikandung badan, sehingga kita ke depan kita dapat mengembangkan dan sekaligus menanamkan nilai-nilai berwawasan kebangsaan yang bhennika kepada generasi muda Indonesia.

Akhirnya, apa yang bergemuruh dan membuncah dalam jiwa ketika berhadapan secara langsung dengan kasus Rasa Sayang HEY di atas adalah sebentuk kesadaran untuk merawat arti kemerdekaan yang sebenarnya, termasuk kemerdekaan budaya itu sendiri, sebuah produk tradisi dan budaya dari bangsa yang merdeka di bawah sang saka Merah Putih Indonesia! ***

 

(Bernando J. Sujibto, mendapatkan gelar master dari program paskasarjana Social Sciences di Selcuk University, Turki, dengan konsentrasi kajian sosiologi sastra).

Bacaan lanjutan:

Anderson, Benedict. 1991. Imagined Communities. London: Verso.

Cerulo, A. Karen. 1995. Identity Designs: The sights and Sounds of a Nation. New Jersey: Rutgers University Press.

Farhat Kentel, Express no. 75 August 25‐September 25, 2007.

Guibernau, Montserrat. 1996. Nationalism, The Nation-State and Nationalism in The Twentieth Century. Cambridge: Polity Press.

Seton-Watson, Hugh. 1977. Nation and State: An Inquiry into Origins of State and Politics of Nationalism. London: Metuhen.

Storey, David. 2001. Territory: the Claiming of the Space. New Jersey: Prentice Hall, 2001.

Verdery, K., 1996. ‘Whither Nation and Nationalism,’? in G. Balakrishnan (ed.), Mapping the Nation. London: Verso.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

OPINI TERBARU

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…