Sabtu, Januari 16, 2021

“HUTRI72-Ternyata Kita Masih Terjajah”

Hikayat Merah Putih di Pagar Halaman

Oleh F Daus AR Ingatan sedari kecil ketika Pak Desa tampil di depan jemaat salat Jumat di masjid mengumumkan tentang perlunya memasang bendera seminggu sebelum...

Kemerdekaan Bangsa yang Gelap

Oleh Yunita Maya Syahdan, setiap malam menjelang tidur, seorang gadis cilik berwajah tak menarik direngkuh oleh kedua orangtuanya dan dihujani kata-kata pujian. “Selamat tidur, Cantik....

HUTRI72-Mencari Kemerdekaan yang Hakiki

HUTRI72 – Mencari Kemerdekaan yang Hakiki   Kemerdekaan hadir sepenuhnya ketika ketakutan tak lagi ada. Di lain sisi, kecemasan juga membuntuti jika ketiadaanya turut serta sebagai...

HUTRI72 – Banyak Baca, Ke-Bhineka-an Terjaga

Sebuah survey yang dilakukan oleh sebuah lembaga internasional yang fokus terhadap keberagaman etnis di sebuah negara. Dalam survey tersebut menempatkan negara Indonesia berada di...
Tika.M
Mantan Banker yang kini bekerja sendiri jadi tukang gambar

Belakangan ini di Negara kita ramai orang  menyerukan: NKRI harga mati, Aku Indonesia, Aku Pancasila, lain sebagainya.

Pertanyaannya, saat kita gencar menyerukan semangat kebangsaan apakah benar cinta dan tahu bagaimana mencintai bangsa, tanah air, ini? Apakah kita sudah benar-benar merdeka dari segala bentuk “penjajahan”?

 

Dijajah Kepentingan Politik

Bung Karno pernah mengatakan Perjuangan (setelah kemerdekaan RI) lebih sulit karena melawan bangsa sendiri.

Setelah Pemilihan Presiden 2014, masyarakat Indonesia seakan belum bisa beralih dari hiruk pikuk pesta demokrasi mengakibatkan munculnya dua kubu dalam masyarakat berdasarkan atas pilihan politik masa pilpres. Ada kubu yang masih euforia atas kemenangan pilihannya, ada yang tak berhenti menyesali seharusnya idolanya lah yang menjadi pemenang dan tak henti mengutuk kemenangan pihak lain. Mereka menjelma menjadi pencinta dan pembenci. Yang menyebabkan keduanya saling gontok satu sama lain.

Apa yang dilakukan oleh Presiden saat ini, selalu salah di mata pendukung kubu yang kemarin kalah. Sementara apapun yang dilakukan pemerintah saat ini selalu benar di mata pendukung yang menang. Orang yang berpikiran netral sekarang sepertinya langka. Yang sebelumnya mau bersuara untuk menyerukan ketidakadilan di negeri ini, sekarang berubah entah menjadi pencinta atau pembenci.

Sampai kapan kefanatikan itu berakhir? Sampai kapan bisa tersadarkan bahwa sedang dimanfaatkan elit politik untuk mencapai kepentingan mereka dengan kedamaian rakyat sebagai tumbalnya.

Bukan suka dan benci berlebihan yang dibutuhkan Negara dan bangsa untuk menjadi lebih baik.  Tapi orang-orang yang berpikiran terbuka yang sama-sama bisa mengawal jalannya pemerintahan. Bagaimana mungkin seseorang bisa menjadi obyektif kalau pemikirannya hanya berdasarkan alasan suka dan tidak suka kepada tokoh yang sedang berkuasa.

Belum usai ribut soal politik, ditambah lagi ribut mengenai munculnya paham radikal intoleran yang mengatas namakan agama. Mereka mendompleng demokrasi Indonesia untuk mewujudkan keinginan mendirikan Negara sesuai dengan yang mereka pahami.

Kelompok ini berteriak atas diskriminasi yang mereka alami di masa pemerintahan sekarang, di sisi lain mereka juga gencar menyuarakan kebencian terhadap kelompok etnis/agama yang berbeda dengan mereka secara masif dan terang-terangan.

Ironi. Menggunakan ruang demokrasi tapi bertujuan mengenyahkan demokrasi itu sendiri. Keberatan atas ketidak adilan dan diskriminasi, namun sendirinya melakukan hal yang tidak menghargai perbedaan.

Elit politik bersama rakyat seharusnya bisa mempersempit pergerakan kelompok intoleran, namun selama masih ada kepentingan politik dengan memanfaatkan kemunculan kelompok tersebut, adalah hil yang mustahal untuk dilakukan.

 

Dijajah oleh Televisi dan Sosial Media

Mengapa orang banyak percaya dengan hoax yang beredar di sosial media? Karena terlalu malas membaca buku.

Menurut studi “Most Littered Nation in The World” oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 lalu, Indonesia berada di urutan ke 60 dari 61 negara mengenai minat membaca.[1] Persisnya berada di bawah Thailand dan di atas Bostwana. Meski secara infrastruktur pendukung minat baca, Indonesia melebihi beberapa Negara maju.

Orang Indonesia lebih gemar menonton televisi dan bermain sosial media, dibandingkan membaca buku, Padahal jika kita sudah membiasakan diri membaca buku terutama buku yang

bermutu dengan tulisan yang dapat dipertanggungjawabkan dengan sendirinya bisa menyaring kabar yang beredar di internet atau obrolan di warung kopi tentang benar tidaknya. Sebaliknya, jika miskin literasi akan mudah terpengaruh dengan pemberitaan yang ramai beredar. apalagi jika berita yang provokatif.

Televisi seharusnya bisa menjadi sarana edukasi bagi masyarakat. Tapi ternyata tayangan televisi banyak yang tidak mendidik. Acara berita dan bincang-bincang isu aktual, kadang cenderung berpihak kepada kepentingan politik tertentu bahkan provokatif. Belum lagi tayangan kriminal, sinetron, dan hiburan yang tidak dapat dipetik manfaatnya bagi pemirsa.

Menjadi dilema pertelevisian saat ini. Di satu sisi televisi harus dapat mempertanggung jawabkan tayangan yang disajikan agar bermanfaat bagi masyarakat, namun di sisi lain ada kepentingan bisnis demi mendapatkan keuntungan besar.[2]

Jika kita terus-terusan diasupin dengan tontonan tak bermanfaat, ditambah dengan keengganan membaca buku yang bermutu, tidak menutup kemungkinan otak tambah tak terasah. Ditambah lagi dengan banyaknya waktu terbuang hanya untuk sosial media.

Tahun 2014 seorang pembuat film asal Inggris, Gary Turk, membuat sebuah film pendek yang berjudul “Look Up”. Video yang menjadi viral itu mengisahkan tentang kehidupan orang jaman sekarang yang dikuasai oleh sosial media (internet). Komentar pro-kontra didulang dari video tersebut.

Sungguh menyedihkan jika kehidupan kita didominasi oleh sosial media dan televisi, semacam terjajah. Karena waktu yang seharusnya berguna malah terbuang percuma.

 

Dijajah oleh Sifat Inferior

Suatu hari saya membaca tulisan di bawah gambar seorang selebriti tanah air pada laman sosial medianya, kira-kira isinya begini: “live now yah di xxx all about my new album. And also nyanyi live”.

Tulisan seperti itu banyak sekali dijumpai malah dianggap wajar. Orang lebih suka menggunakan bahasa asing dibanding bahasa sendiri meski terkadang dalam satu kalimat bahasanya campur-campur.

Bagi banyak orang, penggunaan bahasa asing  terutama bahasa Inggris, dianggap dapat meningkatkan gengsi. Bahkan orang tua masa kini sudah memberikan pendidikan bahasa Inggris formal kepada anaknya sejak dini.

Bukan hanya cara berkomunikasi saja yang lebih banyak menggunakan bahasa Inggris namun juga berpengaruh terhadap penamaan ruang publik, acara formal, dan juga  merk dagang. Sebagai contoh, anda bisa melihat tempat minum kopi (café) modern rata-rata menggunakan bahasa asing.

Bahasa asing selalu dianggap lebih menarik, tak perduli jika salah tata bahasa.  Toh bukan bahasa utama (bahasa ibu). Ironi bukan? Jika begitu, kenapa tidak menggunakan bahasa Indonesia saja?

Orang kini lebih banyak menjadi pengkritik kesalahan berbahasa asing (Grammar Nazi) dibanding memperhatikan bagaimana berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Memang benar bahwa bahasa asing perlu dipelajari agar kita tidak tertinggal kemajuan jaman dan mengerti komunikasi lintas Negara. Namun tidak berarti menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi kita asli orang Indonesia, lahir, besar dan tinggal pun di Indonesia.

Tidak cuma bahasa asing yang menjamur pada masyarakat Indonesia, namun juga segala hal yang berbau asing. Terutama gaya hidup. Tidak selamanya budaya asing jelek, tentu ada hal-hal yang bisa diadopsi dari kebiasaan orang asing yang positif. Misalnya seperti membiasakan diri disiplin dalam antrian, tidak membuang sampah sembarangan, gemar membaca sejak dini. Meski begitu sebaiknya tidak harus menghilangkan adat kita sebagai orang Indonesia. Yang punya tata krama dan keramahan khas Indonesia, menghargai kebudayaan lokal, dan tetap memiliki jati diri sebagai orang Indonesia.

Sungguh disayangkan jika kita menghilangkan identitas kita sebagai orang Indonesia hanya karena ingin terlihat lebih keren. Semoga kita tidak melupakan peribahasa Indonesia yang mengatakan: “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”.

Dirgahayu Indonesia.

Mari sama-sama kita lepas dari rasa terjajah. Merdeka!

#HUTRI72  #LOMBAMENULIS

 

[1] http://edukasi.kompas.com/read/2016/08/29/07175131/minat.baca.indonesia.ada.di.urutan.ke-60.dunia

[2] http://www.remotivi.or.id/amatan/37/Membaca-Gerak-Industri-Televisi

 

Bio Data Penulis.

Penulis saat ini sedang aktif menjadi “tukang gambar” bisa ditemui pada akun Instagram: @bookiner

 

 

 

 

Tika.M
Mantan Banker yang kini bekerja sendiri jadi tukang gambar
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.