in

HUTRI72 – Surat Aduan Perihal Proklamasi


Kepada,

Dwitunggal S dan H

Jl. Pegangsaan Timur No.56

Begini Bung, soal proklamasi, gimana kalau kemerdekaan ndak usah diumumkan saja? Tunggu, jangan keburu naik darah. Sebagai pemuda dari masa depan, saya tahu bangsa ini punya sejarah yang gampang marah. Kemarin saja ada orang dituduh nyolong amplifier masjid dibakar hidup-hidup. Bung tidak menyangka kan? Pasti Bung tidak menyangka. Sebelumnya, ada juga alim-ulama dituduh dukun santet lalu dibantai rame-rame. Isu ninja, preman bertato, generasi muda diculik dan hilang untuk selama-lamanya, ah, yang ini Bung juga pasti tak dengar karena sudah lebih dulu menghadap Tuhan. Yang dekat dengan zaman Bung itu… mungkin justru jutaan rakyat yang rindu tanah, ingin bisa nyangkul dan nanam padi di tanahnya sendiri tapi malah dibantai cuma perkara ideologi, dan sampai sekarang belum juga jelas kasusnya.

Di zaman saya, pembantaian itu masih berlangsung Bung. Iya, pembantaian. Gejalanya beralih skala menjadi lebih luas. Pembantaian ekonomi, pembantaian sosial, pembantaian budaya, akal sehat dan masih banyak lagi kalau harus disebut satu-satu di sini, Bung.

Perihal saya meminta Bung membatalkan membaca teks itu, bukan berarti saya tidak menghargai tetesan darah dan keringat rakyat yang telah berjuang di zaman Bung, juga di zaman sebelum Bung. Sungguh, saya menaruh hormat kepada mereka. Tapi kondisi sekarang ini berbeda Bung. Biar kata terjajah, rupanya masih lebih baik dari zaman saya. Bung lihat sendiri, saat ini Jepang sudah hilang kesaktiannya, sebentar lagi kompeni pasti akan datang lagi untuk memperbaiki pabrik-pabrik mereka yang rusak karena perang. Apalagi yang ditunggu? Rangkul saja mereka. Lumayan buat mbenahi infrastruktur jalan, bikin drainase, dan mbangun gedung-gedung klasik dengan tata-kota apik yang tidak sesemrawut di zaman saya. Bung tahu, di zaman saya, bekas bangunan-bangunan kompeni itu, yang di sebelah sana, kini sudah diawetkan dalam bentuk cagar budaya. Betapa itu menjadi bukti kalau orang dari zaman saya diam-diam rindu situasi tempo dulu. Zaman dijajah yang tidak separah penjajah-penjajah di zaman saya.

Nganu, begini Bung, jangan Bung marah dulu. Akan saya ceritakan apa alasan saya meresikokan diri datang ke sini dan minta Bung membatalkan proklamasi. Soalnya saya lihat sendiri hasilnya. Kurang-lebih 70 tahun dari sekarang, teks darurat yang Bung dan kawan-kawan susun sampai dini hari itu nantinya cuma membuat regenerasi pemimpin di negeri ini semakin ngelunjak. Percayalah. Rakyat tidak jauh lebih baik keadaannya daripada sekarang, tahun 1945.

Baca Juga :   HUTRI72: Merawat Kemerdekaan, Merawat Perdamaian

Ada yang perlu Bung ketahui. Bila hari-hari ini orang-orang yang hidup di zaman Bung dan juga di zaman sebelum Bung, seperti Mas Marco, Raden Mas Tirto Adhi Soerjo atau Mbah Samin Surosentikno yang rela dikurung, dibuang, bahkan meregang nyawa demi jengkal tanah yang diinjaki kompeni, lalu menyerahkan tanah yang dibela mati-matian itu kepada negara Indonesia sebab mereka percaya suatu saat negara yang mereka lahirkan itu akan membuat pengaturan yang adil dan beradab, besok, 70 tahun dari sekarang bangsa ini akan jadi bangsa.. aduhh, saya kehabisan bahasa untuk menyebutnya Bung. Begini deh, masak penggusuran terjadi dimana-mana. Yang digusur rakyat sendiri lagi. Sungguh bangsa ndak tahu diri. Iya, betul, bangsa Bung ini. Sebentar tho, jangan keburu naik darah. Ijinkan saya selesaikan dulu cerita ini.

Baiklah, daripada syok, mending Bung minum dulu..

Sudah? Saya lanjutkan, ya.

Begini lho, Bung. Kelak, tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh negeri Bung selain membuat rakyatnya ketawa pasrah. Ini benar Bung. Dan itulah kenapa saya sebut bangsa ini bangsa yang meneladani Malin Kundang. Bung harus tahu, di negeri Bung ini – negeri saya juga, kelak nyawa manusia cuma jadi lampu hias buat nutupin muramnya institusi hukum dalam menumpas kriminalitas yang bersemayam di dalam tubuhnya sendiri. Pernah ada cerita Bung, di zaman saya, Cicak dan Buaya berantem, terus disusul dengan pertunjukan hukuman mati. Buas pada bandar narkoba, tapi jinak pada koruptor. Hukum sudah jadi paku berkarat yang tajam ke bawah tumpul ke atas. Padahal kalau dihitung-hitung, keuntungan jadi bandar tak sebanding dengan koruptor lho, Bung. Koruptor tinggal tanda tangan, duit langsung meluncur ke rekening. Korupsi 3 milyar, paling di penjara 3 tahun. Itu sudah paling lama. Setelah keluar, bisa terjun ke politik lagi, senyam-senyum lagi. Lhaa orang jual narkoba? Masih harus bikin pasar, cari pelanggan, belum lagi harus ngasih diskon untuk menggaet pembeli.. gimana ndak ribet tu, Bung? Pasti Bung sudah baca Max Havelaar, kan? Ya, kurang lebih seperti itulah ilustrasi 70 tahun mendatang.


Sementara Tiongkok sudah merilis ponsel canggih berjuluk Apple dari Timur, negeri Gandhi dengan Swadesi yang sering Bung sebut-sebut itu sudah merintis travel ke luar angkasa, negeri Bung ini, kelak 70 tahun dari sekarang masih juga ribut soal beda agama, soal perppu, bahkan soal patung! Mereka senang kalau ada yang dihukum mati karena itu berarti ada bahan obrolan sampai pagi. Padahal kalau dipikir-pikir.. hukum harusnya kan menghukum ya Bung, bukan membunuh? Eh ya, btw kapan itu pas nonton liputan di tv, saya beroleh cerita tentang Kahar Muzakkar. Setelah nonton, saya jadi heran. Apa yang membuat Bung kelak memburu Kahar Muzakkar? Dia kawan seperjuangan Bung, kan? Lebih-lebih cuma karena beda paham yang tak dapat Bung damaikan dan menyebabkan perpecahan di tubuh militer. Aduh Bung…Bung… Coba niru cara presiden di zaman saya. Ajak makan bareng, selesai perkara.

Baca Juga :   HUTRI72 - Hidup dalam Mimpi Kemerdekaan Indonesia

Ah, tapi rupanya sudah sejak dulu ya Bung perkara paham lebih berharga ketimbang nyawa?

Kalau memang benar demikian, sungguh, betapa kejam negeri Bung ini – eh, negeri saya juga ding. Kompeni saja sudah menghapus jenis hukuman mati yang biadab itu, meski baru kemarin tahun 1983. Tapi tidakkah ini menunjukkan lebih mulia hukum kompeni daripada hukum di negeri Bung – eh negeri saya juga? Di sana nyawa lebih berharga ketimbang di sini. Bahkan, denger-denger saking berharganya, kebebasan dijunjung tinggi. Dan yang lebih penting lagi di sana nyimeng legal lo, Bung. Edan ndak tu? Coba negeri ini berani kayak gitu, pasti pendapatan daerah langsung melonjak drastis karena tanah kita tanah surga. Pemerintah mau naikin harga bengsin, sembako, silahkeun… orang kita sudah pada kaya dari bertani ganja.

***

Jadi Bung, percaya saya, ndak usah dibacakan kertas itu. Masih ada waktu. Daripada percum tak bergun. Toh, mau merdeka atau ndak, jutaan rakyat yang Bung dan kawan-kawan perjuangkan itu, mereka masih terjajah sampai hari ini. Eh, maksudnya kelak, 70 tahun lagi.

Bung tahu, ladang minyak, pabrik gula, kebon-kebon karet, teh dan kopi kompeni yang kelak Bung suruh go to hell with your aid itu, 70 tahun dari sekarang mereka justru diundang kembali, memberdayakan sumber-sumber alam dan tenaga murah pribumi di negeri ini. Kaum Marhaen yang Bung bela mati-matian itu, halaah, kalau Bung tahu gimana nasibnya sekarang, palingan Bung akan misuh dibuatnya. Iya, misuh pada pemimpin di zaman saya. Dan seandainya itu terjadi, saya akan dengan suka cita mendengar pisuhan yang keluar dari mulut Bung. Tentu tidak ada yang lebih ngelu di benak pemimpin daripada dipisuhi oleh para pendiri negeri ini.

Belum lagi kawanan intelektual bisu yang sibuk proyekan. Aduh, jangan ngarep banyak deh sama mereka. Hidup di zaman saya itu harus menunaikan prinsip “dahulukan selamat”. Itu kata James Scott, antropolog ahli Asia Tenggara. Jadi kata-kata Bung yang “Beri saya 10 pemuda..” itu sudah kadaluwarsa di zaman saya karena kami-kami ini lebih sibuk twitwar di media sosial daripada menulis jurnal. Sementara ilmu marxis yang Bung pelajari secara otodidak dan jadi motor penggerak zaman dalam melawan kompeni, sudah lama punah dari benak awam. Cuma anak sekolahan saja yang tahu. Orang awam yang mau belajar teori kritis, ndak berani, takut dituduh komunis. Kok bisa ya, Bung? Padahal kemarin saya baca di buku sejarah, partai pribumi yang pertamakali secara terang-terangan melawan kompeni kan PKI, benar ndak Bung? Di situ kadang saya merasa sedih. Gelombang pergerakan  tahun 1920-1930’an tentu berhutang pada PKI dalam hal membakar api perlawanan. Dan di zaman saya, tak ada yang lebih ironis dari itu.

Baca Juga :   HUTRI72 - MEMBANGUN PENDIDIKAN UNTUK MEMBANGUN INDONEISA

Bangsa yang Bung perjuangkan ini mungkin jablay ditinggal Bung. Tapi bagusnya, sekarang sudah banyak yang punya tv. Rekaman gambar bergerak yang cara kerjanya kayak kaca benggala. Seandainya Bung pergi jalan-jalan ke zaman saya dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri kayak apa teknologi tv layar datar diputar di ruang keluarga, saya jamin Bung pasti misuh. Saya berani taruhan cerutu Cuba kalau ini. Soalnya Bung, 70 tahun dari sekarang, banyak kaum Marhaen yang dulu Bung temui di sawah, kini menghuni kolong-kolong jembatan, tidur di bangku-bangku terminal, di trotoar dan emperan toko, dan itu semua dipertontonkan ke seluruh negeri sebagai pelengkap sinetron dan berita. Kemajuan kota yang dibangun di negeri ini telah melahirkan orang terlantar, penggusuran, bocah jalanan, dan aksi begal yang hari ini lagi ngetrend di tv-tv. Jangankan kok itu, lha kapan tahun itu kampus seintelektuil UGM saja didemo petani gegara ada akademisi yang pro kapitalis ketimbang rakyat. Bisa Bung bayangken, betapa ndologok produk pendidikan di zaman saya.

Oleh karena itu lebih baik Bung pikir-pikir dulu sebelum mengumumkan proklamasi. Masih ada waktu untuk membatalkannya. Kalau Bung masih keras kepala, baiklah, ndak apa-apa. Tapi saya akan teruskan surat ini ke Majapahit. Akan saya adukan semua ini ke Maha Patih Gajah Mada. Biar Sang Patih merevisi gagasan Nusantara.

Salam,

 

Penulis: Rio Heykhal Belvage, Peneliti Antropologi.

Surel: rio.belvage@gmail.com


Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR