in

HUTRI72 — Pagar dan Kemerdekaan Kaum Muda


Apa alasan seseorang berjuang dan melawan?

Jika pertanyaan itu ditujukan kepada Wiranggaleng, tokoh utama novel Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer, alasannya adalah karena dia harus terpisah dengan Idayu. Kekasihnya tersebut harus melayani kerajaan Tuban. Kenyataan yang memaksa Galeng menunda pulang ke desa dan perlahan terjebak dalam peperangan. Di novel lain, Max Havellar karya Multatuli, alasan seorang saijah lebih sederhana lagi. Kerbaunya dicuri Ki Demang.

Pertanyaan yang sama, melatari Ben anderson mengurai titik awal perjuangan bangsa-bangsa Asia Tenggara untuk merdeka. Menurut beliau, perlawanan itu bermula karena ada sesuatu yang dibayangkan sebagai identitas bersama. Sesuatu yang ia sebut kemudian Imagined Community. Alasan tersebut yang membuat Tirto Adhi Suryo, Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan banyak lagi memilih berjuang dan menanggalkan hidup mereka yang sebenarnya akan aman-aman saja jika tidak melawan.

Jika Galeng dan Saijjah memiliki alasan yang lebih personal, para tokoh bangsa kita menggunakan alasan yang lebih untuk sesuatu yang lebih besar, kepemilikan bersama dalam bentuk bangsa.

Tapi keduanya bertemu simpul pada titik yang sama: Sesuatu yang mereka anggap sebagai miliknya sedang dicuri dan harus direbut kembali. Lalu, pertanyaannya kemudian, sejauh mana batasan kepemilikan tersebut, terutama sebagai bangsa, dan di zaman sekarang?

*

Di ranah privat, kepemilikan bisa dilihat dengan adanya legalitas dan batas yang tanpa harus diperlihatkan–bisa disaksikan oleh semua pihak. Pertama, ditandai oleh surat-surat kepemilikan dan yang kedua dengan adanya batas, misalnya jika itu tanah atau rumah dihadirkan pagar.

Mengenai hal yang kedua inilah menjadi fenomena menarik terkait kepemilikan. Batas yang kini berwujud pagar semakin meninggi. Terutama, jika melihat kehidupan di Kota. Pertengahan sampai akhir dekade 90, di desa tempat saya melalui masa kecil, masih banyak pagar masih dibangun dari tumbuhan.

Baca Juga :   HUTRI72 - Indonesia Belum Merdeka

Dalam bahasa penduduk setempat (Bugis) pagar biasa disebut “sappo”, kata yang sama digunakan untuk menyebut “kerabat”. Sebuah tanda bahwa fungsi pagar bukan hanya membatasi tetapi justru mengakrabkan. Hal tersebut bisa dilihat dari jenis tumbuhan yang digunakan sebagai pagar. Jenis tumbuhan yang disebut “comace”, biasa juga disebut “pohon pelindung”. Jika sudah bercabang, cabangnya bisa digunakan sebagai pagar lagi. Biasanya jika sudah rimbun, tetangga bisa memangkas cabang tersebut untuk digunakan sebagai pagar atau alat untuk memikul barang. Efek sosial yang lain, anak kecil saat itu, saya dan teman sebaya tidak merasa terbatasi. Kami bebas bermain di mana saja, pekarangan orang lain adalah taman bermain kami. Orang tua pun tidak merasa cemas Di mana anaknya bermain. Para penduduk yang sudah dewasa di kampung tersebut adalah orang tua yang lain bagi anak-anak. Mereka tidak sungkan untuk menegur atau melarang jika kami permainan atau tempat bermain kami berbahaya. Pagar yang tidak membatasi membuat satu lingkungan seperti satu rumah.


Sebaliknya, kehidupan urban justru penuh dengan pagar beton yang tinggi. Efeknya, tetangga tidak saling mengenal. Semua orang adalah orang lain. Tidak ada pekarangan sebagai taman bermain bersama, orang dewasa bukan orang tua bagi setiap anak. Pagar yang tinggi adalah lambang kehidupan individual.

Sialnya, pagar-pagar tinggi tersebut terus berlipat ganda. Bukan hanya pembatas rumah sendiri dengan rumah orang lain. Pagar hari ini juga berarti gadget, kesibukan kerja, fanatisme, hidup saling mencurigai, dan kekurangan empati.

Baca Juga :   HUTRI72 – Kemerdekaan Bukanlah Tujuan

Lalu, bagaimana kaum muda hari ini merasa memiliki Indonesia sebagai satu bangsa?

Alwy Rachman, Dosen Universitas Hasanuddin sekaligus pengamat budaya di Sulawesi Selatan, pernah menuliskan bahwa untuk mengidentifikasi diri sebagai sebuah bangsa, perlu menguak “tiga takdir.”

Ilmu geopolitik mengenal yang namanya “geography is destiny”. Konon, Napoleon yang pertama mengungkapkannya. Napoleon dikabarkan telah mengatakan ini pertama dan menyerang Rusia tak lama kemudian. Pernyataan semacam itu menunjukkan gagasan deterministik tentang perang dan politik. Artinya, wilayah geografis tertentu memiliki keunggulan strategis, ekonomis, dan politis.

Takdir tersebut yang menakdirkan kita sebagai bangsa indonesia hidup di atas daratan lebih 7 juta kilometer persegi dan luas perairan lebih 5 juta persegi.

Kedua, ada “demography is destiny”, takdir kependudukan. Melihat jumlah penduduk dan perkembangan kehidupan anak muda, seharusnya ini menjadi modal besar. Dan yang terakhir adalah “Identity is Destiny”, Takdir identitas ini membuat Indonesia memiliki lebih 300 suku dan lebih 700 bahasa. Tiga hal tersebut adalah langkah awal mengidentifikasi apa yang kita miliki sebagai bangsa bernama Indonesia.

Takdir-takdir itulah yang kadangkala mengusik nasionalisme angkatan muda masa kini. Mereka mengungkapkan rasa geram jika pesawat atau perahu nelayan asing masuk ke perairan sendiri, membahas pertumbuhan penduduk, membaca data-data urbanisasi, dan mencetak slogan-slogan daerah ke baju kaos atau memotret upacara adat lalu mengunggahnya di instagram. Kemerdekaan pun hanya perayaan, bukan perjuangan untuk merdeka itu sendiri.

Baca Juga :   Merawat Indonesia dengan Kebebasan Berpendapat

Jika Saijah dan Wiranggaleng melawan untuk kepentingan sendiri, itu bukan masalah, setiap orang bisa dan akan melakukannya. Tapi membandingkan Tirto Adhi Suryo, Soekarno, atau tokoh bangsa lain dengan anak muda hari ini adalah sebuah penjajahan sendiri. Memisahkan peristiwa dengan konteks zaman adalah awal kesalahan bernalar.

Menceritakan kisah para pahlawan tentu penting bagi inspirasi kaum muda. Tetapi, narasi kemerdekaan yang disusun hanya dengan perjalanan dari Sumpah pemuda menuju 17 agustus 1945, menghadirkan peninggalan-peninggalan kemerdekaan ke museum, atau upacara bendera hanya melahirkan narasi yang beku dan usang. Kaum muda hari ini yang bergegas cepat hanya akan menjadikannya sebatas tanggal merah—sebatas waktu untuk singgah.

Kaum muda hari ini harus menguak tiga takdir tersebut ke ranah yang lebih sederhana, yaitu kemampuan mengidentifikasi lingkungan sendiri. Itu baru akan terwujud jika mereka mampu dan kaum tua mau membuat mereka melampaui atau mungkin merubuhkan “pagar” apapun bentuknya. Keluar pagar, berkumpul, lalu mengidentifikasi milik bersama. Mengambil alih ruang publik atau menyadari milik mereka yang dicuri. Dengan itu, mereka akan mampu memiliki narasi kemerdekaan sendiri. Kemerdekaan yang cair dan bergerak setiap waktu. Kemerdekaan yang dimengerti oleh Salim Kancil dan Ibu-ibu yang berpayung hitam setiap Kamis di depan Istana Presiden, kemerdekaan yang hanya dirasakan oleh mereka yang paham hakikat sukacita, sukacita yang kata Multatuli, bukan karena memotong padi. Tapi sukacita karena memotong padi yang kita tanam sendiri.

#HUTRI72

Nama: Arkil Akis

Usia: 28 Tahun

Pekerjaan: Pustakawan Katakerja

Email: untukarkil@gmail.com