OUR NETWORK
HUTRI72 – MERDEKA SEJAK DALAM PIKIRAN DAN ADIL DALAM PERBUATAN DENGAN BANYAK MEMBACA

“Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”

Moh. Hatta

 

Negara Indonesia Lahir dari Perjuangan Para Pembaca

 

Sebagai negara yang diperjuangkan oleh banyak sekali intelektual muda yang berpendidikan tinggi dan berintegritas kuat, Indonesia telah berhasil menjadi bangsa yang berdaulat dengan kekuatannya sendiri. Di dalamnya terdapat tokoh-tokoh bangsa yang memperjuangkan kedaulatan dengan kemampuan secara intelegensi dan kecerdasaan emosi yang luar biasa. Para kaum intelektual mampu menyusun strategi, melakukan diplomasi, dan matang dalam berpendapat yang dituangkan baik secara lisan maupun tulisan untuk mencapai kemerdekaan. Satu hal yang pasti dilakukan para tokoh tersebut adalah gemar membaca.

 

Sebut saja Ir. Soekarno, yang semasa hidupnya menghabiskan banyak sekali waktu untuk membaca. Beliau berpengetahuan luas, menguasai berbagai bahasa asing, menghargai perbedaan bahkan mampu menyatukan bangsa-bangsa dengan kekuatannya saat menyampaikan gagasan-gagasannya melalui kata-kata. Sampai-sampai ketika ia dipenjara, tentara Belanda pun melarang Bung Karno untuk membaca buku dan menulis, karena apabila keduanya sudah dilakukan oleh Bung Karno, maka tentara Belanda merasa terancam.

 

Hal yang sama dilakukan oleh Bung Hatta, tokoh nasional yang berasal dari Sumatera Barat ini terkenal sebagai seorang pemikir yang berpendirian teguh. Beliau sangat sistematis dan mampu berpikir secara strategis untuk memperoleh kedaulatan negara. Hal-hal yang ia lakukan saat diasingkan ke Pulau Banda adalah banyak membaca dan menulis, yang kemudian pemikiran-pemikirannya menjadi pondasi semangat rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan dan berdaulat secara sebagai Indonesia.

 

Dari dua tokoh tersebut dapat dilihat bahwa para pejuang menghabiskan banyak waktunya untuk menempa diri dengan membaca dan menjadikan masing-masing tokoh tersebut memiliki karakter yang kuat serta berwawasan luas. Dengan begitulah pemikiran-pemikiran para pejuang tidaklah sembarangan, setiap tokoh memiliki pemahaman yang dalam tentang nilai-nilai kebangsaan, menciptakan dasar negara yang mementingkan keadilan sosial, dan berpihak pada perjuangan rakyat agar dapat terus merdeka sebagai bangsa dan negara.

 

Lupa Meniru Para Pahlawan

 

Namun sejarah tentang kegemaran membaca yang dilakukan para tokoh nasional yang berjuang merebut kemerdekaan dari penjajah justru kini hanya menjadi masa lalu yang banyak dilupakan orang. Budaya membaca tak lagi ditiru dan popular di kalangan generasi muda dalam mengisi kemerdekaan. Bagaimana tidak, sebuah penelitian hasil studi Most Littered Nation In the World 2016 menyebutkan bahwa kenyataannya minat baca di Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara. Indonesia berada satu peringkat di bawah Thailand dan satu peringkat di atas Botswana. Sejalan dengan hasil studi di atas, berdasarkan survei UNESCO mengatakan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya sekitar 0,001 persen, yang dapat diartikan dalam hal ini bahwa di antara seribu masyarakat hanya ada satu masyarakat yang memiliki minat baca.

 

Keadaan ini dipengaruhi pula dari kurangnya akses masyarakat terhadap buku dan sumber informasi literasi lainnya di seluruh Indonesia. Hanya kota-kota besar yang memiliki toko buku yang layak untuk dikunjungi dengan distribusi buku yang cukup jumlahnya. Minimnya keberadaan perpustakaan juga tidak membangkitkan ekosistem minat baca masyarakat, terlebih generasi muda yang kini sudah banyak menggunakan teknologi dan melupakan buku. Sehingga membaca, terutama membaca buku menjadi kegiatan yang begitu saja terlupakan.

 

Hal tersebutlah yang membuat negara kita kini seakan-akan buta dalam menghadapi berbagai pesoalan, berpikiran sempit dalam menerima perbedaan, dan mudah putus asa saat ditempa berbagai ujian. Pribadi generasi muda kini yang lebih banyak menggunakan teknologi untuk hal-hal yang tidak perlu, membuat karakter bangsa semakin terkikis. Generasi penerus bangsa kini sangat mudah terprovokasi, mendahulukan ego serta amarah dibandingkan fakta yang dapat didapatkan secara objektif, dan seringkali terburu-buru dalam menyimpulkan sebelum menganalisa data. Kebanyakan hal tersebut terjadi karena malasnya membaca.

 

Rangkaian dampak dari kecilnya minat baca mengakibatkan generasi kini yang seharusnya dapat mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang bermanfaat justru mengabaikan nilai-nilai yang telah ditanamkan para pahlawan untuk diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan sebaik-baiknya.

 

Masih Ada Harapan

 

Namun di antara berbagai data dan berita yang menyatakan terpuruknya minat baca pada masyarakat Indonesia, terdapat pemaparan yang dapat membangkitkan semangat kita bersama, bahwa menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia diperlihatkan bahwa persentase siswa yang membaca buku di beberapa daerah bisa dikatakan tinggi. Provinsi Kepulauan Riau dinyatakan pada urutan pertama minat baca siswa tertinggi yaitu sebanyak 94,01 persen, disusul di Urutan kedua ditempati Provinsi DKI Jakarta yang mencapai 92,44 persen, dan di peringkat keempat terdapat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang mencapai 91,00 persen. Semoga hal ini dapat ditiru oleh provinsi-provinsi lainnya dengan menciptakan ekosistem baca yang terkait satu sama lain sehingga minat baca di berbagai daerah di Indonesia dapat terus meningkat secara merata.

 

Semangat membaca di beberapa kalangan generasi muda juga terus dipopulerkan dan disebarluaskan. Muncul berbagai komunitas buku, komunitas baca, gerakan perpustakaan keliling, komunitas penulis, komunitas pembacaan puisi, dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan literasi membuat banyak pihak secara sukarela menularkan minat baca di berbagai daerah sebagai upaya yang patut terus didukung oleh berbagai pihak baik pemerintah maupun masyarakat secara umum.

 

Merawat Kemerdekaan dengan Membaca

 

Membaca adalah meningkatan kemampuan diri dengan bertambahnya wawasan dan ilmu pengetahuan yang apabila terus dilakukan dapat mendatangkan kebermanfaatan yang tak lekang oleh waktu. Karena dengan membaca otak kita diasah untuk meningkatkan kemampuan imajinasi dan bahasa yang dapat berpengaruh untuk memacu otak dalam berpikir dan bertindak.

 

Segala hal yang dibaca merupakan sejumlah informasi yang akan tersusun dalam kepala, yang apabila semakin banyak kita miliki maka akan semakin siap juga bekal kita untuk bertindak dalam mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi. Hal ini membuat masyarakat Indonesia tidak hanya kuat dalam pikiran namun dapat juga bijaksana dalam perbuatan.

 

Membaca berarti mengenal dan memperkaya berbagai kosakata, hal ini membuat setiap orang yang gemar membaca dapat berkomunikasi dengan baik karena dapat menggunakan kata-kata dengan sistematis dan sebagaimana mestinya guna menghindari salah persepsi dalam berkomunikasi. Hal ini sangatlah perlu dimiliki di era digital, di mana sosial media berperan aktif untuk menunjang kehidupan bersosialisasi. Apabila kita tahu kosakata yang baik dan untuk digunakan, maka dengan membaca kita bisa malatih diri untuk mengatur kalimat yang akan kita sampaikan tanpa menyakiti orang lain. Hal tersebut penting untuk menghindari banyaknya pertengkaran yang terjadi di dunia maya yang pada akhirnya dapat memunculkan kebencian-kebencian tertentu yang dikhawatirkan memprovokasi masyarakat lainnya dan terjadi secara terus-menerus. Tentunya didukung dengan memilih buku atau bacaan secara bijak, yang sekiranya dapat menambah ilmu, memperkaya wawasan, dan menjadikan diri lebih baik.

 

Di samping itu, setelah hari ini HUTRI72 telah berlangsung, meniru apa yang telah dilakukan oleh para pahlawan terdahulu dengan banyak membaca buku dapat melahirkan manusia Indonesia yang mampu berpikir dengan analisa yang kuat, dapat berpikir kritis terhadap suatu masalah atau peristiwa dengan pandangan yang terbuka dengan tidak serta merta menghakimi orang lain, dan tentunya dapat menerima perbedaan serta keragaman dalam tindakan yang seadil-adilnya. Karena membaca adalah membebaskan pikiran, sebuah upaya memahami dan mengerti sebelum bertindak.

 

Ditulis oleh:

Nama: Muthia Zahra Feriani

TTL: Bandung, 25/02/92

Alamat Email: muthiazf@gmail.com

No. Hp: 089611680468

pencerita

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

REKOMENDASI

http://ligalaga.id/feed/
    ligalaga.id
    http://wisato.id/feed/
      wisato.id
      KARTUN HARI INI
      http://poliklitik.com/feed/

        OPINI TERBARU

        Hey there!

        Forgot password?

        Don't have an account? Register

        Forgot your password?

        Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

        Your password reset link appears to be invalid or expired.

        Close
        of

          Processing files…