Sabtu, Januari 16, 2021

HUTRI72-Merawat Kemerdekaan Indonesia Melalui Pendidikan

Ikhtiar Kemerdekaan Budaya

Oleh Bernando J. Sujibto "(The nation) is invisible; it must be personified before it can be seen, symbolized before it can be loved, imaged before...

HUTRI72 – Hidup dalam Mimpi Kemerdekaan Indonesia

Pada tanggal 17 Agustus 2017, genaplah 72 tahun Indonesia Merdeka! angka 72 tahun, menandakan bahwa Indonesia sudah termasuk tua bila dianalogikan kepada usia manusia....

HUTRI72- Tanggal Lahir bagi Sebuah Bangsa

Tanggal Lahir bagi  Sebuah Republik Jalan-jalan kecil gang dan dinding-dinding rumah di kampung-kampung sudah mulai dicat. Ada yang ungu berjejer dengan merah. Putih berjejer dengan...

HUTRI72 – Mewujudnyatakan Cita-cita Kemerdekaan

Pada 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur, Soekarno, memproklamirkan kemerdekaan Indonesia setelah hampir 3,5 abad menjadi bulan-bulanan para penjajah dan tahun ini negara Indonesia...

HUTRI72-Merawat Kemerdekaan Indonesia Melalui Pendidikan

Di suatu pagi. Seorang anak dengan baju lusuh, sepatu bolong dan koas kaki yang tak lagi putih berjalan dengan menenteng tas seadanya. Berjalan melewati bukit demi bukit, sungai, jembatan tali untuk mencapai ke sebuah tempat bernama sekolah. Perjuangan yang luar biasa, semangat yang pantang menyerah. Andaikan akses transportasi merata ia tidak akan berjuang sedemikian berat di tanah merdeka. Di suatu pagi yang sama, wilayah lain Indonesia, anak-anak sekolah dengan mudah memilih moda transportasi, entah bus, entah kendaraan pribadi baik motor maupun mobil, entah ojek online atau ojek pangkalan. Di tanah yang sama-sama merdeka keadaan bisa sebegitu berbeda. Itulah  gambaran wilayah indonesia, tanahnya merdeka namun berbeda jua.

Indonesia sudah merdeka 72 tahun. Perubahan sudah banyak terjadi. Akan tetapi selalu ada suasana pagi yang tidak sama bahkan sangat timpang. Pemerantaan infrastruktur dan nadi nadi kemerdekaan belum mencapai kepelosok pelosok. Mereka juga rakyat Indonesia yang harus dijamin pendidikannya tho?.

Data sekolah rusak atau tidak layak di tahun 2016 saja mencapai 152 ribu sekolah. Ketimpangan itu nyata. Bukankah kemerdekaan Indonesia untuk semua warga dan wilayah. Usia kemerdekaan Indonesia yang 72 tahun tidak hanya berlaku untuk Jakarta, Surabaya, Bandung atau Medan. Di wilayah Indonesia yang lain Jayapura, Bima, Sabang atau Solok usia kemerdekaannya juga sama kan? bukan berusia 12 tahun tho?. Lalu kenapa ada yang tertinggal ada yang jauh lari terdepan? Aspek pendidikan pun demikian.

Sejak merdeka Indonesia telah mencoba 11 kurikulum pendidikan. Artinya setiap 6,5 tahun kurikulum berganti. Indeks minat baca orang Indonesia tahun 2017 berada di peringkat 60 dari 61 negara. Bisa dibilang pergantian kurikulum tidak atau belum efektif apabila dilihat dari data tersebut. Memang benar parameter keberhasilan suatu kurikulum/pendidikan tidak bisa di ukur hanya dengan minat baca. Akan tetapi jika kita boleh merenung ada sebuah frase kuno buku adalah jendela dunia.didalam kitab suci Al Qur’an ayat yang pertama kali diturunkan terangan-terangan memerintahkan untuk membaca. Sehingga membaca merupakan hal yang begitu penting.

Di era berita hoax yang ada di setiap sudut ini kemampuan literasi bersifat urgent. Jika tidak bangsa ini akan mudah diadu domba, bertengkar dan merusak keharmonisan kebhinekaan kita. Itu terjadi karena kemampuan literasinya rendah, minat baca yang buruk selain akhlaq yang ambruk tentu saja.

Sebagai bangsa yang merawat kemerdekaan. Untuk menyikapi hal tersebut pemerintah wajib menyediakan fasilitas penunjang kemampuan literasi seperti perpustakaan bisa berupa perpustakaan digital, penyebaran buku-buku dan memperbanyak kelompok literasi ke berbagai daerah. Dan yang paling efektif adalah melalui sekolah dengan sistem pendidikannya dan peran para guru.

Pahlawan-pahlawan Indonesia berasal dari kaum terdidik, melalui pengetahuan (tanpa mendiskreditkan aspek lain) merekalah Indonesia bisa merdeka. Ir Soekarno, Drs Moh Hatta, Ki Hajar Dewantara dll adalah orang terdidik gemar membaca. Apa jadinya jika meraka-mereka semuanya buta huruf? Kita akan menjadi bangsa yang terus terjajah. Tidak akan ada kata merdeka.

Bangsa Indonesia sudah merdeka. Kita sebagai bangsa penerus, merawat kemerdekaan Indonesia adalah suatu keharusan. Dalam tulisan ini merawat Pendidikan adalah  sebagai bentuk merawat kemerdekaan. Selain infrastruktur dan fasilitas terkait pendidikan yang harus diperbaiki. Sistem pendidikan juga termasuk didalamnya.

Negara Indonesia terdiri dari 34 provinsi 17.000 pulau. Dapat dipahami betapa bhinekanya bangsa ini. Indonesia di huni oleh beribu suku dengan berbagai macam karakter, budaya dan kearifan lokal. Sehingga penyamarataan sistem pendidikan/kurikulum untuk setiap pelosok wilayah di indonesia adalah bentuk dari keangkuhan yang tidak menghargai kebhinekaan.

Langkah paling bijak untuk menyikapi keberagaman adalah otonomi sistem pendidikan bagi setiap wilayah. Sedangkan pemerintah indonesia menyiapkan fasilitas & orang-orang terbaik bagi dunia pendidikan. Dengan otonomi pendidikan setiap wilayah diberi keluasan untuk menyusun kurikulum pendidikan yang sesuai dengan corak  wilayah masing-masing. Bukan berarti pemerintah lepas tangan, pedoman dan panduan harus dari pemerintah melalui Kemendikbud. kemendikbud juga bertugas mengawasi dan memverifikasi. Merawat kemerdekaan berarti menghargai kebhinekaan. Dalam dunia pendidikan: Indonesia yang  bhineka tidak seharusnya mengunakan satu sistem pendidikan/kurikulum. Sebaiknya kebhinekaan sistem untuk indonesia yang bhineka bukan satu sistem untuk Indonesia yang bhineka.

72 tahun merdeka, metode pengajaran guru sedikit sekali berubah. Miskin inovasi pengajaran yang bermutu. Pelajaran sejarah yang seharusnya menyenangkan menjadi pelajaran yang begitu membosankan. Matematika yang begitu penting menjadi pelajaran yang paling ditakuti/dihindari. Apa yang salah? Metode pengajarannya. Metode konvensional masih mendominasi. Sekolah adalah tempat belajar. Yang secara definitif haruslah menyenangkan.

Dengan otonomi pendidikan, seorang guru bebas berinovasi metode pengajaran dengan batasan-batasan sesuai pedoman dari kemendikbud tentu saja. Bangsa yang besar membutuhkan cara cara yang istimewa tidak biasa. Melalui otonomi sistem pendidikan kemampuan literasi bangsa indonesia akan  tumbuh dan berkembang. Merawat generasi bangsa melalui pendidikan sebagai bentuk merawat kemerdekaan Indonesia. Dirgahayu Indonesia. HUTRI72. MERDEKA!!!.

 

BIODATA

NAMA                  : GUNAWAN

TTL                         : BOYOLALI, 30 AGUSTUS 1989

ALAMAT              : Dk BAWANG RT 01/06, KAUMAN

KEC KEMUSU KAB BOYOLALI

AGAMA                               : ISLAM

EMAIL                   : sulidi234@gmail.com

No. Tlp                  : 085 647 848 065

Twitter                 : @Koentawibisana

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.