in

HUTRI72- Merawat Kemerdekaan Dengan Merevitalisasi Kebhinekaan


Sekarang ini kita memasuki usia ke-72 sebagai sebuah negara yang merdeka dan berdaulat. Dalam rentang belum mencapai satu abad kemerdekaan ini kita masih gagap untuk berbuat sesuai dengan cita cita kemerdekaan. Cita cita kemerdekaan  yang jelas tertuang dalam teks pembukaan undang undang dasar 1945 sampai kini masih tertatih dijalankan di negeri ini.

Indonesia dibangun dan merdeka oleh seluruh rakyat indonesia yang terdiri dari berbagai latar belakang suku bangsa. Cita cita menjadi sebuah bangsa dan bertanah air yang satu yang dengan tegas dinyatakan oleh para pemuda pada 28 Oktober 1928 seakan hampir terlupakan.

Menjaga Imajinasi Sebagai Sebuah Bangsa 

Kemerdekaan yang kita capai di tanggal 17 agustus 1945 berkat kesadaran dari para pencetus ide nasionalisme. Kesadaran yang menurut Benedict Anderson, adalah imajinasi kesadaran di benak orang orang yang menyadari sebagai satu kesatuan komunitas masyarakat sebuah bangsa (nation). Kesadaran inilah yang ditangkap oleh para pemuda untuk mempersatukan semua elemen di Nusantara ini untuk menjadi satu kesatuan sebagai sebuah bangsa. Dan pada akhirnya bercita cita untuk menjadi sebuah bangsa yang merdeka lepas dari kolonialisme.

Nasionalisme yang muncul pada waktu itu mempunyai beberapa pokok pikiran. Pertama, kesaatuan nasional, yakni mengesampingkan perbedaan latar belakang suku untuk melahirkan suatu negara-nasion. Kedua, solidaritas, yakni untuk menciptakan pertentangan terhadap penjajah. Ketiga, nonkooperasi dengan penjajah dan berdiri di atas kaki sendiri. (Onghokham. 2003)

Baca Juga :   HUTRI72 - Tingkat Literasi Indonesia

Kini setelah kue kemerdekaan itu tersaji kesadaran sebagai sebuah bangsa yang satu mulai terkikis oleh kepentingan kepentingan yang berbau Suku, Agama, Ras, dan antar Golongan (SARA). Ketika nafsu pribadi sebagai warga negara yang merdeka muncul ke area publik sebuah ancaman disintegrasi menjadi nyata di depan mata.

Sebagai sebuah negara kepulauan, tidak mudah bagi bangsa Indonesia untuk mempertahankan kesatuan meski sejak proklamasi  kemerdekaan telah menyatakan sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dengan luasnya daerah yang terpisah oleh lautan yang juga luas tentunya menjaga imajinasi sebagai sebuah bangsa yang satu perlu strategi khusus bukan sekedar pemahaman ide ide di sekolah saja.


Kesadaran imaji sebuah bangsa yang mempunyai kesamaan nasib dan cita cita nampaknya perlu dilakukan strategi baru mengingat musuh kita bukan lagi kaum penjajah namun muncul dari sifat ketamakan pribadi pribadi yang rakus ingin menguasai kue kemerdekaan.

Pemerataan Akses Terhadap Kue Kemerdekaan

Ketika semua unsur bangsa ini telah memahami sebagai bangsa yang satu tentunya  harus diikuti dengan keadilan dalam memperoleh hak hak yang sama sebagi sebuah bangsa yang satu dan merdeka. Kita adalah negara maritim yang kaya baik sumber daya laut maupun darat. Tentunya setelah sekian lama dikuasai dan dieksplorasi oleh  pemerintah kolonial kekayaan itu harus bisa dinikmati secara adil dan merata.

Baca Juga :   HUTRI72 – Kemerdekaan Bukanlah Tujuan

Isyu isyu ketimpangan pengelolaan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah pusat banyak dirasakan oleh mereka mereka yang aksesnya sulit dikarenakan letak geografis yang jauh dari ibukota negara.  Pemerintah seharusnya bertanggung jawab secara penuh untuk merawat kemerdekaan ini dengan memberikan kemudahan bagi mereka mereka yang jauh dari ibukota negara.

Apa yang terjadi di Jawa banyak terasa asing bagi saudara kita yang jauh terutama di wilayah pulau pulau terpenci yang berbatasan dengan negara lain. Tak jarang karena kemudahan akses ke wilayah negara lain membuat mereka kehilangan kesadaran sebagai bagian dari entitas NKRI. Apa yang mereka pahami sebagai bagian negara Indonesia yang merdeka  seolah hanya imaji kosong karena tiadanya sentuhan dari pemerintah.

Mental korup di sebagian pemegang pemerintahan telah menambah buruk keadaan ini. Cita cita akan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia seolah hanya jargon belaka di benak mereka. Bila ketimpangan ekonomi dan sosial yang terjadi selama ini dibiarkan berlarut larut saya tidak bisa membayangkan sebuah keniscayaan yang terjadi adalah perasaan apatis saudara saudara kita di daerah terluar sebagai sebuah bangsa yang satu dan tergabung dalam NKRI akan muncul dan mengikis kesatuan bangsa.

Merawat Kemerdekaan Dengan Merevitalisasi Kebhinekaan    

Perlu ditegaskan kembali bahwa kemerdekaan yang kita peroleh adalah hasil kesadaran nasionalisme sebagai sebuah bangsa yang satu. Ketika perbedaan suku bangsa dan keragaman adat istiadat mampu  dikondisikan oleh pemuda sebagai mesiu untuk mencetuskan cita cita sebagai negara yang satu dan merdeka di tahun 1928 lewat sumpah pemuda, harusnya kita saat ini yang lebih maju dan merata akses pendidikannya bisa mampu melampaui cita cita itu dengan menyepuh kemerdekaan lebih berdaya guna bagi seluruh rakyat Indonesia.

Baca Juga :   HUTRI72 - Garam dan Kemerdekaan

Penyeragaman yang terjadi di masa orde baru harusnya ditinjau kembali. Meski reformasi telah meruntuhkan orde baru, namun secara intrinsik diakui atau tidak cara cara orde baru masih langgeng terjadi di masyarakat.

Selain itu dominasi suatu golongan pun harus diminimalkan agar ketimpangan yang dirasakan menjadi berkurang. Dalam sebuah wilayah yang merdeka semua mempunyai hak yang sama terlebih lagi di sistem demokrasi yang kita percayai ini. Tak ada lagi perasaan lebih unggul antara suku yang lainnya karena keberagaman itu mempunyai keunggulan dan karakteristik sendiri sendiri pada masing masing suku dan golongan.

Tentunya tidak mudah untuk memendam egoisme masing masing, namun demi merawat cita cita kemerdekaan yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, memahami sebagai bangsa yang berbeda beda namun tetap satu juga adalah keharusan yang tak bisa ditawar tawar. Merdeka!

#HUTRI72 #KEBHINEKAAN

Oleh      : Agus Buchori

Email     : agusbuchori@gmail.com

TTL         : Lamongan 17 November 1975

Alamat : JL. Darsono No 487 Paciran Lamongan


Written by guslitera

Saya seorang arsiparis juga pengajar yang menyukai dunia tulis menulis, berasal dari kampung nelayan di pesisir utara Kabupaten Lamongan tepatnya Desa Paciran