in

HUTRI72–Menjadi Libero Kemerdekaan yang Memerdekakan


Mendengar “Hari Ulang Tahun” (HUT) tiba-tiba saya teringat lagu “Selamat Ulang Tahun” milik grup musik cadas, Jamrud dalam album Sydney 090102. Tidak hanya lika-liku hidup mereka yang menarik, karya-karya yang terlahir membentangkan semangat persaudaraan yang terkenang hingga kini. Lantunan “selamat ulang tahun” yang mereka ciptakan amat unik jika kita resapi secara riang dalam gebyar HUT RI yang ke-72 (“HUTRI72”).

“Hari ini, hari yang kau tunggu/ Bertambah satu tahun, usiamu/ Bahagialah selalu”, kata Jamrud. Tanggal 17 Agustus menjadi hari yang sakral dan bersejarah. Momentum yang tepat untuk mengenang perjuangan para pahlawan yang gugur di medan perang. Yang kalah dalam pergulatan, tetapi terkenang dalam membangun sebuah bangsa yang berdaulat dan merdeka: bangsa Indonesia. Sejak dideklarasikan 17 Agustus 1945, bangsa kita mulai merangkak setelah diasuh kolonialisasi yang berkepanjangan. Terlahir dari dua ibu tiri: Belanda dan Jepang yang mewariskan mental manusia terjajah. Oleh karena itu, 17 Agustus 2017 menjadi refleksi yang patut kita maknai secara mendalam.

Sudah menjadi tradisi, perayaan kemerdekaan suatu bangsa disambut sukacita oleh segenap bangsanya. Begitupun makna kemerdekaan bagi segenap warga Indonesia. Semua kalangan bersatu padu memasang baliho, bendera, spanduk, umbul-umbul hingga bergumul dalam perlombaan Agustusan: balap bakiak, balap karung, gigit koin, makan kerupuk, paku botol, panjat pinang , perang bantal, dan tarik tambang.

HUT RI Episode 72 (“HUTRI72”)

Marilah kita berbahagia dan berdoa secara tulus hati atas pertambahan usia yang dibilang tak muda untuk suatu negara. Ibarat manusia, kita sudah sangat kenyang menikmati asam garam kehidupan. Berbagai rintangan dan konflik telah terpatri dalam sejarah. Amatlah sayang jika kita lupakan begitu saja mengingat perjalanan suatu bangsa tidak lepas dari berdirinya bangsa tersebut, bukan? Lantas, kenangan seperti apa yang akan kita maknai dalam episode 72 ini?

Akankah kita berakhir tragis sebagai bangsa plural yang terpecah belah seperti Balkan? Atau berjaya sebagai bangsa yang merawat keragamannya karena memiliki zirah persatuan dan kesatuan dalam pergulatan global? (Azra dalam “Mukjizat Indonesia”, Kompas, 15/11/2016). “Semoga Tuhan, melindungi kamu/ Serta tercapai semua angan dan cita-citamu/Mudah-mudahan diberi umur panjang/Sehat selama-lamanya/”, lagi-lagi Jamrud mendoakan. Kata “kamu” dapat kita maknai sebagai bangsa Indonesia, sedangkan orang yang memberikan doa adalah seluruh masyarakat Indonesia tanpa pandang usia, kelas, gender, ras, dan agama.

Baca Juga :   HUTRI72 - MERAWAT KEMERDEKAAN KITA , (Krisis Tokoh Negarawan)

Angan-angan dan cita-cita yang kita ikrarkan dalam pancasila dan UUD 1945 jangan sampai menjadi tong kosong nyaring bunyinya. Faktanya, kita masih amnesia dengan amanat “…membentuk suatu  pemerintahan yang melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial”.

Laporan Pembangunan Manusia 2016 yang dikeluarkan PBB (UNDP) memperkuat hal itu dengan kemunduran kesenjangan gender yang menyebabkan nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia berkurang 18,2 persen dari 0,6689 menjadi 0,563. Fenomena kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa “kemerdekaan” belum diraih secara utuh dalam pembangunan saat ini. Pemenuhan hak asasi (HAM) yang sama, baik laki-laki maupun perempuan perlu mendapatkan perhatian lebih serius dari pemerintah. Itu baru satu sisi dari jaminan keadilan secara gender, belum keadilan dalam berbagai sektor lainnya, seperti ketimpangan ekonomi, pergesekan etnis, isu SARA dalam beragama, dan kebobrokan korupsi yang terus terjadi.

Menjadi Libero Kemerdekaan

             Ibarat sepak bola, kita berada pada posisi unggul dengan mengantongi skor “merdeka”. Hal ini ditandai dengan pengakuan bangsa-bangsa di dunia atas kedaulatan bangsa Indonesia sebagai negara yang bebas dari tindak penjajahan alias merdeka (KBBI, 2016). Bayangkan, jika kita berada pada posisi Palestina yang kemerdekaannya masih terus diusik Israel? Bersyukurlah, kita memiliki para pendiri bangsa yang visioner. Para founding fathers kita mampu mengakomodasi keragaman sebagai sebuah potensi untuk merajut tali persaudaraan meskipun tidak semudah membalikkan telapak tangan.


Kesungguhan ini dapat kita lihat dalam esai “Kesebelasan Para Bapak Bangsa” yang ditulis Zen RS (lihat https://sport.detik.com/aboutthegame/pandit/d-2664500/kesebelasan-para-bapak-bangsa).  Formasi 3-5-2 yang diraciknya menggambarkan skenario bertahan dan menyerang yang seimbang. Sebelas tokoh yang ditempatkan menggambarkan karakteristik dan mental yang kuat dan khas dalam konteks kebangsaan.

Baca Juga :   HUTRI72 - Mengingat masa lalu, merawat masa depan

Dalam epsiode 72 ini, justru yang menjadi tantangan selanjutnya adalah bagaimana mempertahankan keunggulan dengan pertandingan yang tak kunjung usai. Kemenangan kita tak bisa ditentukan lewat babak adu penalti. Setiap tindakan pelanggaran yang kita lakukan pastilah diganjar teguran, kartu kuning atau kartu merah. Begitupun kasus-kasus yang terjadi selama 72 tahun ini harus kita antisipasi dan cegah agar tidak terus terulang.

Kita harus tetap berjuang dalam beratus-ratus menit, bahkan berabad-abad dalam sebuah pergulatan kebangsaan. Mempertahankan kemerdekaan sampai titik darah penghabisan. Serangan yang berpotensi meremuk-redamkan kedaulatan harus disikapi secara cerdik tanpa mengedepankan angkara murka, melainkan berwujud solusi. Berbagai gempuran dari berbagai lini kebangsaan (ekonomi, sosial, budaya, politik, agama) perlu disikapi dengan pikiran yang tenang. Membaca keadaan, menganalisis kemungkinan, meracik taktik, dan melakukan serangan balik (counter attack) dengan tetap mengusung persatuan dan kesatuan.

Menjawab tantangan tersebut, seluruh rakyat Indonesia harus mampu menjadi libero-libero kemerdekaan. Libero tidak harus dibebankan pada seorang bek yang tangguh. Semua lini haruslah bekerja sama menjadi libero-libero dalam segala bidang kehidupan. Hal ini haruslah kita lakukan agar gawang keadilan kita tidak kebobolan. Kita dapat mencegah situasi yang berbahaya menimpa stadiun kebinekaan yang terawat selama 72 tahun ini. Mulai dari potensi serangan terorisme dari berbagai ruang (fisik dan dunia maya lewat propaganda digital), serangan SARA dalam konstelasi politik praktis, serangan divide et impera yang membuat kita terpecah belah.

Kita harus dapat memaksimalkan perbedaan sebagai penguat kerukunan. Mengakui pluralitas dan menghormati kemajemukan bangsa Indonesia (Mahasthavira, 2012). Dengan cara ini, ego-ego individualistis setelah normalisasi kehidupan (Parera dalam Simatupang, 2004) dalam memainkan bola kebangsaan dapat dicegah sehingga kita tidak berjuang secara sendiri-sendiri. Permainan tim yang solid. Menjaga keseimbangan dalam bertahan (merawat kepercayaan satu sama lain, membentengi persatuan dan kesatuan untuk melestarikan khazanah kearifan lokal dari Sabang sampai Merauke) dan menyerang (melakukan terobosan taktik ekonomi kreatif, tidak didikte “pihak lain” sehingga setiap langkah kita begitu penuh beban, dan bergerak bersama untuk meningkatkan daya saing bangsa dengan keteladanan dan keseriusan).

Baca Juga :   HUTRI72 - Kemerdekaan adalah Warisan yang Bukan Hanya untuk Dikenang

Jika hal ini dapat kita lakukan, bukan tidak mungkin, tidak hanya sektor sepak bola saja yang keciptaratan karena begitu solidnya mereka dalam menyerang dan bertahan, tetapi juga berbagai sektor lainnya. Kemerdekaan yang diraih 72 tahun silam dapat tetap terjaga dengan kemunculan para  libero kemerdekaan. Dari Sabang sampai Merauke tanpa pandang kelas, gender, usia, etnis, ras, dan agama. Sudah sepatutnya kita buktikan bahwa kemerdekaan yang diraih tanpa mengemis-mengemis itu dapat terjaga pada masa kini dan nanti. Dari generasi ke generasi. “Merdeka!”

 

DAFTAR RUJUKAN

Azra, A. (2017). “Mukjizat Indonesia”. Kompas, 30 Mei 2017, hlm. 15.

Badan Bahasa. (2016). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: Depdikbud.

Mahasthavira, dkk. (2001). Merajut Kembali Persatuan. Jakarta: Bisma.

Simatupang, I. (2004). Kebebasan Pengarang Dan Masalah Tanah Air. Jakarta: Kompas.

UNDP. (2016). Human Development Report 2016. Diakses via:             http://www.id.undp.org/content/dam/indonesia/2017/doc/INSIndonesia_Country%20       Explanatory%20Note_HDR2016.pdf.

Zen RS. “Kesebelasan Para Bapak Bangsa”. Diakses via:     https://sport.detik.com/aboutthegame/pandit/d-2664500/kesebelasan-para-bapak-      bangsa.

Penulis bernama Iwan Ridwan. Lahir di Karawang, 18 September 1995.  Alumnus Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia UPI. Ketua Sanggar Budidaya Linguistik (SBL) UPI. Bergiat di Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) UPI. Saat ini tinggal di Jalan Raya Cilamaya, Dusun Cicinde I A Desa Cicinde Selatan RT 02 RW 01, Kec. Banyusari,  Kab. Karawang 41374. Dapat dihubungi via email: pujangga.lingastra@gmail.com. Nomor HP: 089663739806. Tulisannya pernah termuat di sejumlah media massa lokal dan nasional seperti Analisa, Balai Bahasa Jabar (laman daring), Buruan.co (laman daring), Fajar Sumatera, Haluan Padang, HU Kompas, Kompas Muda, Koran Madura, Koran Merapi, Koran Sindo, Majalah Sastra Tarebung, Media Indonesia, Padang Ekspres, Pikiran Rakyat, Radar Mojokerto, Riau Pos, Suara Karya, Viopublishers (laman daring), Warta Kota. Selain aktif menulis esai dan puisi, penulis juga pernah menyajikan makalah di bidang bahasa dan sastra dalam beberapa pertemuan ilmiah.


Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR