OUR NETWORK
HUTRI72 – MEMBANGUN PENDIDIKAN UNTUK MEMBANGUN INDONEISA

HUTRI72”

MEMBANGUN PENDIDIKAN UNTUK MEMBANGUN INDONESIA

“Tulisan ini adalah ekspresi kegaluan penulis berdasarkan pengetahuan empiris terkait pendidikan di Indonesia”

 

Pada tanggal 5-7 Agustus 2017 kemarin, Saya pergi ke Surabaya dalam rangka mengunjungi nenek tercinta untuk mengobati rasa kerinduan di dalam hati. Kebetulan, Di rumah nenek, juga tinggal paman dan bibi yang bekerja sebagai Guru TK dan malamnya menyambi les untuk tambahan kehidupan. Disanalah saya bertemu dengan Ahsan (14 tahun) dan Anam (13 tahun). Di usia mereka yang sudah belasan, mereka masih belum bisa membaca maupun menulis. Ahsan adalah seorang anak sulung yang memiliki empat saudara yang kesemuanya belum mengecap bangku sekolah. Sedangkan Anam merupakan anak tunggal dari pasangan orang tua yang bekerja serabutan. Ia sekarang duduk di bangku SMP kelas 7.

Ahsan dan Anam setiap harinya datang ke rumah nenek saya untuk belajar membaca dan menulis. Usut punya usut, biaya les mereka ternyata bukan di tanggung oleh orang tua mereka melainkan seseorang yang bersimpati kepada mereka. Memang murah, bagi sebagian kalangan. Hanya 15.000 per minggu, namun tidak bagi mereka. Alasan ekonomi lah faktor utama mereka tak bisa merasakan manisnya ilmu pengetahuan layaknya remaja seusianya, disamping faktor lingkungan dan Pendidikan orang tua. Bagi Ahsan, ini adalah kesempatan emas untuk memulai pendidikan, setidaknya belajar membaca dan menulis. Namun Anam yang sudah kelas 7 SMP, adalah hal yang biasa. Saya terlampau heran mengapa di kota Surabaya, masih ada anak yang tak bisa membaca meskipun sudah kelas 7 SMP. Penyebab utamanya, menurut Anam, gurunya kurang memperhatikanya ketika di bangku sekolah. Ia pun malu kalau gurunya tahu bahwa ia belum bisa mambaca apalagi menulis. Yang ia lakukan, pada saat sekolah, adalah mencontek pekerjaan teman sekelas utnuk mendapat nilai baik sehingga tak kena marah gurunya. Yah.. “TAK DIMARAHI OLEH GURU”. Satu kalimat yang saya garis bawahi sehingga menimbulkan hipotesa tersendiri dibenak saya terkait tak mampunya Guru-Guru kita untuk mendidik murid sehingga ia memiliki semangat belajar dan bukan takut belajar. Namun itu hanyalah pandangan sempit penulis.

Cerita singkat di rumah nenek itu, mengingatkan saya terhadap adik kelas saya di SMK (setingkat SMA). Sama seperti cerita diatas, adik saya juga belum bisa membaca, hanya sanggup mengeja. Pernah saya mengikuti diskusi di ruang guru, pada saat itu, terkait Wiwit (adik kelas saya), akan dikemanakan ia selanjutnya ketika ia bahkan belum bisa membaca. Guru-guru saya di SMK pernah mengusahakan kelas tambahan (membaca dan menulis) untuk si Wiwit sepulang sekolah. Namun saat itu, setiap kali Wiwit diajari dengan sabar oleh Bapak-Ibu guru, ia menolak dan menangis agar ia dapat cepat pulang. Lalu, usaha kedua adalah memanggil orang tuanya untuk datang ke sekolah agar bisa – secara baik-baik – kedua orang tuanya tersebut meminta sang anak untuk pindah ke SLB, sekolah luar biasa. Namun diluar dugaan, orang tua murid memohon pihak sekolah agar tetap menyekolahkan anaknya di sekolah itu. Lagi-lagi masalah ekonomi dan mind set yang menjadi penyebab. Sekolah kami adalah sekolah yang tak terpandang, jika digambarkan dalam perspektif orang tua,”daripada tidak sekolah, mending disekolahkan di sekolah itu”. Memang hanya sedikit murid yang bersekolah disana sehingga Bapak Ibu guru mampu memantau kemampuan muridnya satu per satu.

Bersekolah di sekolah itu mambuka cakrawala saya mengenai persepsi masyarakat umum yang menilai sekolah hanya sebagai formalitas untuk memperoleh ijazah sehingga dapat digunakan untuk melamar pekerjaan. Lulusan sekolah kami, kebanyakan, berorientasi untuk mendapat pekerjaan seusai lulus SMK ketimbang melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Tercatat, hanya saya dan satu orang teman saya yang sementara ini sedang berkuliah di perguruan tinggi. Sedang yang lainya bekerja di sejumlah pabrik sebagai buruh kontrak.

Selanjutnya, saya akan meneruskan cerita saya terkait pendidikan saat saya di Pare tepatnya Desa Tulungrejo yang biasa dikenal dengan Kampung Inggris. Setelah saya lulus SMK, saya tak langsung melanjutkan pendidikan saya ke jenjang perkuliahan. Saat itu ada program beasiswa dari salah satu kursusan yang menawarkan belajar gratis selama sepuluh bulan tanpa di pungut biaya. Singkat cerita, saya diterima dan masuk program itu. Selama sepuluh bulan berada di sana, saya bertemu dengan banyak sahabat dari beckground yang berbeda. Pekerja, Mahasiwa, Pelajar, Sarjana bahkan Dosen belajar bersama dalam satu kelas tanpa mengenal strata pendidikan dan saling menghormati satu sama lain. Dalam cerita ini, saya akan memfokuskan kepada pertemuan saya dengan Mahasiswa dan Sarjana Sastra Inggris maupun Pendidikan Bahasa Inggris.

Dalam pertemuan singkat satu periode pengajaran (dua minggu sekali) di Kampung Inggris, saya sering bertanya tentang kehidupan kuliah dan proses pembelajaran di sana. Banyak dari mereka menjawab bahwa kuliah saja tidak cukup, kita juga harus mengikuti Organisasi Mahasiswa untuk mengasah soft skill kita, karena bermodal ijazah dan nilai IP bagus – saja  tidaklah cukup tanpa adanya soft skill. Terkhusus bagi Mahasiswa dan Sarjana Sastra Inggris maupun Pendidikan Bahasa Inggris, saya memiliki ketertarikan sendiri karena statement mereka yang menyatakan “Belajar dua minggu di Pare, kami mendapat lebih banyak daripada 1 tahun bahkan 8 semester di perkuliahan”. Banyak pula dari mereka yang melakukan penelitian khusus untuk tugas akhir dan Skripsi di Pare. Dari sini saya dapat melihat persoalan sistem pendidikan kita yang terlalu berkutat pada tataran teori dan kurang dalam prakteknya. Hal tersebut patut disayangkan mengingat para Mahasiswa harus berlama-lama belajar di pendidikan formal padahal bisa dilakukan lebih cepat di pendidikan Informal.

Realitanya, pendidikan formal kita yang terlampau lama tidak terlalu efektif untuk menghasilkan lulusan-lulusan berkualitas dibanding pendidikan formal. Sebagai contoh Musa Izzanardi Wijanarko yang diterima di FMIPA ITB pada usianya yang masih 14 tahun, ia tak pernah belajar di sekolah formal laiknya Mahasiswa-Mahasiswi lain. Di umurnya tersebut murid-murid biasa mungkin masih kelas 8 atau 9 SMP. Ia masuk ITB melalui jalur SBMPTN setelah mendapat ijazah paket C nya. Bahkan ceritanya, ia pernah tidak naik di kelas TK A saat ia kecil.

Dari cerita diatas, penulis mencoba mengarahkan pada problema riil pendidikan di Indonesia terkait permasalahan ekonomi, lingkungan, guru, pola pikir orang tua, semangat belajar siswa dan sistem pendidikan yang saat ini berlangsung di Indonesia. Sebagai tambahan, penulis juga ingin menyantumkan betapa rendahnya minat membaca dan kepekaan sosial sahabat-sahabat Mahasiswa kebanyakan yang bersifat pragmatis, berkuliah agar mendapat nilai baik dan lulus cepat, tanpa memperhatikan Tri Dharma pendidikan Indonesia, (Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat). Ini merupakan hal buruk mengingat merekalah yang akan menjadi pemimpin masa depan Indonesia.

…..

Pada usia Republik Indonesia yang mulai beranjak tua ini, kita masih kalah dibandingkan Malaysia, Singapura maupun Korea Selatan dalam hal pendidikan. Pendidikan formal kita harus diperbaiki dengan cara-cara sistematis dan bertahap. Membangun pendidikan berarti membangun masa depan. Menumbuhkan bibit yang suatu saat akan tumbuh besar menjadi sandaran setiap masyarakat adalah tujuan utamanya. Pendidikan pula menciptakan orang-orang yang akan menyelesaikan permasalahan lain di Indonesia.

Menurut saya, untuk membangun pendidikan yang lebih baik, pertama-tama kita harus memperbaiki kurikulum yang ada. Kurikulum berfungsi sebagai tolak ukur kemampuan anak dalam menerima pelajaran. Yang saat ini terjadi adalah kurikulum untuk mendapat nilai baik, bukanya pemahaman yang baik dalam suatu bidang studi. Sehingga realitas yang terjadi, siswa cenderung good assesment orientation bukan value orientation dari suatu ilmu pengetahuan.  Penulis menganjurkan, Penerapan K13 (kurikulum 2013) atau sistem pendidikan pondok pesantren, bukan FDS (full day school), harus diimplementasikan sesegera mungkin di seluruh Indonesia. K13 menganjurkan para siswa dapat menjadi lebih aktif dan kritis dalam penerimaan pembelajaran, sedangkan sistem pondok pesantren menjadikan siswa mampu lebih fokus dalam belajar. Telah banyak bukti pula, lulusan Pondok Pesantren selalu menjadi orang penting dalam aspek sosial kemasyarakatan di daerahnya masing-masing, mereka memiliki nilai kebermanfaatan yang tinggi di kalangan masyarakat umum.

Yang kedua, harus ada kualifikasi yang lebih tinggi kepada para guru misal; selain lulusan S1, mereka juga harus memenuhi persyaratan kreativitas guru dalam handling class, metode pengajaran dan cara komunikasi. Guru yang Memilki cara unik menarik perhatian siswanya akan sangat diperlukan. Memilih metode pembelajaran yang paling tepat dengan melihat situasi murid-murid menjadi catatan penting untuk menjadikan suasana kelas lebih kondusif bagi anak-anak. Guru-guru yang memiliki kreativitas tersebut akan memunculkan banyak inovasi untuk membuat cara-cara baru dalam untuk menarik siswa sehingga tersampaikanya ilmu menjadi lebih efektif dan efisien.

Jika kedua hal tersebut sudah terselesaikan, mind set masyarakat akan pentingnya pendidikan pula sedikit demi sedikit akan berubah. Bahwasanya pendidikan bukan berarti memperoleh ijazah untuk bekal mencari kerja, namun pendidikan adalah sarana mencari ilmu untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Dengan perbaikan pendidikan, diharapkan seluruh segmentase permasalahan yang terdapat di Indonesia bisa dianalisis, sehingga menemukan penyelesaian masalah yang terbaik. Masalah perekonomian juga akan mudah diatasi jika semua masyarakat sadar akan pentingnya pendidikan

Pendidikan menjadi sangat penting dalam upaya pembangunan bangsa. dengan adanya pendidikan yang baik, semua orang akan memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk mengurus dirinya. pendidikan berbasis moral juga patut dikembangkan untuk menaggapi isu keberagaman yang akhir-akhir ini mencuat menjadi permasalahan besar di Indonessia. permasalahan tersebut akan sangat mudah teratasi jika setiap orang memiliki kesadaran untuk bertabayyun dan untuk saling menerima. kesadaran tersebut akan terbangun oleh pendidikan. orang yang berpendidikan diharapkan mampu menganalisis setiap masalah dan mencari jalan keluar terbaik. setiap masalah dapat diselesaikan jika pendidikan sudah baik. jika ada statement yang berkata uang adalah segalanya, maka saya akan berkata “pendidikan adalah segalanya” dan sedikit tambahan, ” dan segalanya adalah pendidikan”.

nama lengkap: Ahmad Alifian Nuruddin Ghufroni Hazmi

ttl : Surabaya 03-06-1997

alamat rumah: Pamotan RT01 RW01 Porong Sidoarjo

alamat domisili: jl halmahera 2 no.21 Sumbersari Jember

alamat email: aang.hasmi@gmail.com

kuliah: Universitas Jember, FISIP HI (Hubungan Internasional)

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

OPINI TERBARU

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…