in

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”


“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

Oleh Ali Romdhoni

 

…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu rangkaian kata ilmu bumi. ‘Dari Sabang sampai Merauke’ bukanlah sekedar menggambarkan satu geographisch begrip. ‘Dari Sabang sampai Merauke’ bukanlah sekedar satu geographical entity.

Presiden Soekarno dengan lantang meneriakkan paragraph di atas di hadapan bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1963, empat tahun sebelum mengakhiri jabatannya (12 Maret 1967). Di stadion utama Gelora Bung Karno Jakarta, presiden pertama Republik Indonesia itu mengajak seluruh rakyatnya untuk tidak melihat Indonesia hanya sebagai negara kepulauan terbesar di dunia.

Melihat Indonesia sebagai kumpulan pulau-pulau dengan masyarakat penghuninya hanya akan membuat kita menemukan negeri ini penuh dengan batas-wilayah, perbedaan budaya, suku, agama, ras dan aneka ketidak-samaan lainnya.

Maka, bukan itu.

Indonesia bukan sekedar negara dengan ribuan pulau dan bentang-batas wilayah di dalamnya.

…Ia adalah merupakan satu kesatuan kebangsaan. Ia adalah satu national entity. Ia adalah pula satu kesatuan kenegaraan, satu state entity yang bulat-kuat. Ia adalah satu kesatuan tekad, kesatuan ideology, satu ideological entity yang amat dinamis. Ia adalah satu kesatuan cita-cita social yang hidup laksana api unggun,” lanjut Bung Karno.

Kenapa makna filosofis ‘Dari Sabang sampai Merauke’ ini ditegaskan oleh Soekarno di depan bangsa Indonesia, dan bahkan dunia?

Menurut saya, karena Soekarno sangat memahami bahwa usia RI pada saat itu baru belasan tahun. Sebagai Negara baru, kondisi di internal masih labil dan rentan terjadi gesekan. Di tambah lagi, sejarah kelahiran Negara Indonesia bermula dari bersatunya beberapa kerajaan dan suku bangsa.

Dalam konteks yang demikianlah penjelasan Soekarno mengenai makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’ sangat relevan.

Indonesia memang memiliki masa lalu sebagai kumpulan pulau-pulau dengan suku, bahasa dan budaya yang berjumlah seribu lebih. Badan pusat statistik (BPS) menyebutkan, misalnya, dalam  sensus penduduk tahun 2010 tersedia 1331 kategori suku. Namun, hari ini mereka telah berikrar menjadi satu kesatuan, bangsa yang satu.

Jadi, saat ini bangsa Indonesia adalah kesatuan masyarakat yang memiliki cita-cita social yang sama, yaitu hidup sejahtera dan berdaulat di antara bangsa-bangsa lain di dunia. Kesadaran seperti ini harus dimiliki oleh setiap individu dari seluruh bangsa Indonesia.

Bila masalah persatuan dari Sabang sampai Merauke tidak dituntaskan sejak awal, maka dikhawatirkan kelak akan terjadi perdebatan klasik, misalnya tentang sentiment kelompok, dan lainnya. Sampai hari ini pun penjelasan Presiden Soekarno di atas masih relevan sebagai renungan bersama, para petinggi dan juga generasi muda.

Baca Juga :   Memerdekakan Perut Sendiri

Menururt saya, adanya gejolak di tengah masyarakat—berupa ketidak-puasan sebagian pihak terhadap jalannya pemerintahan, keinginan pihak tertentu untuk lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), provokasi untuk mengganti landasan dan dasar negara, serta lainnya—semua itu tidak lepas dari pilihan sikap tiga pihak di bawah ini.

Pertama, sepak terjang para elit di pemerintahan dalam menjalankan amanat yang dimandatkan oleh rakyat Indonesia.

Kedua, tindakan sebagian kecil dari masyarakat kita sendiri yang merecoki jalannya pemerintahan. Motif tindakan ini bisa murni keinginan sendiri, seperti orientasi beberapa individu untuk mengejar kekuasaan. Dalam prosesnya mereka menggunakan cara-cara yang membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa.

Kemungkinan tujuan lain, si pelaku sebenarnya tidak memiliki orientasi untuk memperoleh kekuasaan, tetapi dia bekerja kepada pihak lain yang ingin berkuasa, atau menginginkan bangsa Indonesia di bawah kendalinya.

Ketiga, pihak dari luar rakyat Indonesia yang menginginkan negara ini kacau sehingga rakyatnya tidak bisa mengurus dirinya sendiri.

Dari ketiga pihak di atas, kita bisa memberi pengertian atau mengajak pihak pertama dan kedua untuk bersatu, bahu-membahu memajukan Indonesia. Titik mulainya berangkat dari pemahaman atas makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’.

Tetapi, lihatlah bagaimana yang terjadi di Indonesia kita hari ini? Perhatikan model kerja sebagian besar para elit pemimpin kita. Apakah di sana ada upaya untuk memahami makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’, kemudian berusaha mengemban amanat rakyat dan para pendiri bangsa Indonesia untuk menjaga persatuan bangsa.

Lihatlan para wakil rakyat kita yang terhormat. Setiap hari apa yang mereka bicarakan di layar televise, di koran. Lihatlah pula ungkapan hati dan fikiran mereka di akun pribadi (media social)-nya. Setiap saat apa yang mereka bahas dan kerjakan.

Kita bisa mengecek perilaku keseharian mereka, misalnya, melalui akun jejaring media sosial yang lazim dipakai oleh sebagian masyarakat kita. Saya menandai, terdapat elit pemimpin negeri ini memanfaatkan teknologi murah itu untuk ‘memamerkan’ kegiatan mereka, selain juga untuk membantah para rival yang menyerangnya (bertengkar).


Maka, kita semua bisa menyaksikan, mulai dari presiden, menteri, anggota dewan perwakilan rakyat, hingga anak-anak sekolah di kampung lazim mempertontonkan kegiatan kesehariannya di akun pribadinya. Di sinilah kita bisa mengintip sebagian dari perilaku para petinggi, termasuk model pelayanannya terhadap masyarakat.

Kita semua tentu masih sama-sama mengingat, bagaimana suasana menjelang dan pasca pemilihan umum Presiden Indonesia 2014 yang lalu. Masyarakat seakan dibuat terbelah menjadi dua kelompok: suka-tidak suka, pro-kontra dan seterusnya. Eh, hari ini orang-orang itu sudah mulai mengatur aneka strategi untuk kembali memperebutkan jabatan presiden.

Baca Juga :   HUTRI72: Merawat Kemerdekaan, Merawat Perdamaian

Melalui media kita bisa melihat hampir setiap saat ada kelompok yang protes ini dan itu, ingin ini dan itu, menuntut ini dan itu. Lalu, siapa yang peduli nasib dan kemajuan rakyat dari Sabang sampai Merauke?

Kemudian lihatlah masyarakat kita, para generasi mudanya. Apa yang mereka lakukan. Bagaimana pula keteladanan yang telah diberikan oleh para orang tua, guru dan dosen kepada anak-didiknya.

Lihatlah pula perkembangan kehidupan kita dalam bersosial-media. Kita menyaksikan sebagian masyarakat kita gemar memanfaatkan media hanya untuk mengumbar kebencian, menantang bertengkar saudaranya sendiri. Ada anak muda merendahkan para sepuh. Pegawai yang sejak awal dihidupi oleh negara dan bertugas melayani masyarakat justru menghasut publik untuk merobohkan tatanan negara. Ada pula dosen yang mengajari mahasiswanya anti dengan NKRI.

Sampai di sini saja, kondisi internal kita sudah sangat payah. Jangankan sampai diserang oleh pihak ketiga dari luar, kita sendiri sudah saling menyerang antara satu dengan yang lainnya.

Apakah kita tidak berfikir, bagaimana kalau ternyata memang ada pihak lain yang menginginkan kita cerai-berai.

Mengenai hal ini, budayawan Emha Ainun Nadjib sudah sering mengatakan bahwa bangsa ini sedang dikendalikan oleh pihak lain. Lewat ceramah dan orasinya Cak Nun berkali-kali mengingatkan, bila kita semua tidak waspada di luar sana ada pihak ketiga yang ingin rakyat Indonesia selamanya bodoh.

Apakah ini benar atau tidak, sulit dibuktikan. Tetapi, kita harus mawas diri, jangan sampai setiap hari energi kita habis hanya untuk bertengkar dengan saudara sendiri. Dan bukankah memang demikian itu yang terjadi?

Maka, menjadi sangat penting bagi kita untuk sekali lagi merenungi pesan para pendahulu. Sejak awal Indonesia dibangun sebagai rumah bersama. Di dalamnya tinggal beragam-rupa suku, bangsa, ras, agama, bahasa dan budaya. Namun mereka memiliki tujuan yang satu, yaitu menjadi bangsa Indonesia yang berdaulat dan siap berkontribusi untuk menciptakakan tatanan di dunia yang lebih baik.

Kalaupun hari ini kita telah berhasil melanjutkan cita-cita para pendiri bangsa, sejatinya tugas kita sebagai generasi muda belumlah rampung. Langkah selajutnya adalah mengantarkan segenap bangsa Indonesia kepada kondisi ideal, masyarakat yang berpartisipasi kepada kesejahteraan dunia.

Kita harus bersiap memimpin laju pertumbuhan masyarakat dunia ke arah yang lebih baik.

Berbicara hal ini, saya memiliki kegemaran mendatangi para bijak berstari, para tokoh sepuh panutan masyarakat. Tujuan saya untuk mendengar nasehat para begawan ini. Saya bersyukur, beberapa waktu yang lalu berkesempatan mendengar nasehat pentingnya merawat kebangsaan dari KH Maimoen Zubair, KH Musthofa Bisri dan KH Dimyati Rois.

Baca Juga :   HUTRI72- Menjaga Kibaran Sang Saka Merah Putih di Daerah Perbatasan

Saya menangkap, ketiga tokoh di atas menasehatkan bahwa para pemimpin dan generasi muda sekarang harus bersungguh-sunguh dalam menjaga Indonesia, menjaga kemerdekaan Indonesia. Para pendahulu berjuang melawan penjajah, taruhannya nyawa.

Para elit bangsa ini jangan sampai terkena bujuk-rayu pihak yang ingin mengambil keuntungan dari sumber daya alam yang dimiliki bangsa Indonesia. Bila kita berkaca kepada sejarah, kekalahan para tokoh pejuang kita dulu, antara lain, karena dihianati teman atau anak buah sendiri yang memberi ruang kepada musuh.

Perlu di-ingat pula, sebelum Indonesia merdeka bangsa ini telah memiliki pemikir, negarawan dan kesatria yang unggul dalam menyelenggarakan pemerintahan. Tetapi lawan kita juga menggunakan berbagai strategi untuk menggempur pertahanan bangsa Indonesia.

Kita juga bisa belajar kepada para pendahulu, misalnya Tjokroaminoto, Sukarno, Hatta, Tan Malaka, dan Wahid Hasyim. Mereka semua adalah politikus pada zamannya. Mereka terjun ke arena politik dengan kesadaran bahwa berpolitik pada zaman itu adalah memperjuangkan cita-cita, menebar benih kesadaran kebangsaan, menegakkan kemerdekaan walau dengan resiko yang sangat berbahaya.

Khusus kepada anak muda, kita harus belajar dari setiap proses yang telah terjadi di negeri kita, termasuk kesalahan yang pernah dilakukan orang-orang sebelum kita. Selanjutnya, kita bersiap untuk membawa perjalanan bangsa Indonesia ke medan yang lebih luas.

Ini pula yang dipesankan Bung Karno dalam pidatonya yang berjudul ‘Genta Suara Revolusi Indonesia’: “…Hai seluruh bangsa Indonesia, tetap tegakkanlah kepalamu. Jangan mundur, jangan berhenti. Tetap derapkanlah kakimu di muka bumi…,”

 

 

SUMBER:

Cak Nun: Yang berkuasa di Indonesia bukan Jokowi atau Megawati! (https://www.youtube.com/watch?v=vFOnC8P_TeU)

Mengulik Data Suku di Indonesia (https://www.bps.go.id/KegiatanLain/view/id/127)

Pemimpin (http://historia.id/kolom/pemimpin)

Pidato Presiden Soekarno Genta Suara RI 17 Agustus 1963 (https://www.youtube.com/watch?v=UmC4r002qS4)

Wawancara dengan KH Dimyati Rois di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah (14 Februari 2017.

Wawancara dengan KH KH Musthofa Bisri di Leteh, Rembang, Jawa Tengah (4 Januari 2017)

Wawancara dengan KH Maimoen Zubair di Sarang, Rembang, Jawa Tengah (4 Januari 2017).

 

 

IDENTITAS PENULIS

Nama              : ALI ROMDHONI

Pekerjaan       : Ph.D student di Heilongjiang University, China

Email               : ali_romdhoni@yahoo.com

WA                  : 08157730320

Facebook       : Dhoni Ali Romdhoni

Twitter           : https://twitter.com/kata_dhoni

Blog                : http://aliromdhoni.blogspot.co.id/


Written by Ali Romdhoni

Ali Romdhoni

Pengajar FAI Universitas Wahid Hasyim, Semarang. Saat ini sedang
studi doktoral di Heilongjiang University, China.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR