in

HUTRI72 – Indonesia Belum Merdeka


HUTRI72

Lomba Menulis Artikel Argumentatif Geotimes

“Indonesia Belum Merdeka”

-Feresha Ray-

 

Sudah menjadi wacana kontemporer bahwasanya letak geografis Indonesia sebagai negara khatulistiwa yang menjadi determinan persimpangan jalur perdagangan, memicu keinginan bangsa lain untuk menginfiltrasi, mengulang kembali periodisasi penjajahan virtual. Bahkan tidak sedikit dari mereka mengadakan penelitian klandestin menyangkut sumber daya alam yang masih terpendam di pelosok, yang terkadang sikap apatis rakyat Indonesia sendiri menjadikannya seolah tak berintegritas.

Sebut saja, Lava Biru di Kawah Ijen. Belum banyak yang tahu bahwa fenomena yang disebut-sebut melawan hukum alam ini diam-diam mencuri perhatian dunia, bahkan banyak ilmuan asing yang jauh-jauh datang hanya untuk mencari tahu kekayaan apa yang tersembunyi di dalamnya. Pemandangan unik di malam hari yang menjadi akibat dari gas sulfur di dalam lahar mencapai temperatur 360° Celcius hingga menyembur lalu mengeluarkan api setinggi lima meter ke udara, melebur menjadi sulfur cair, meleleh, lantas terlihat seperti lava neon berpendar indah. Ironisnya, implikasi para penambang sulfat yang mempertaruhkan nyawa di sana, tidak mendapat manifestasi komprehensif yang cukup dari pemerintah Indonesia.

Menukil pernyataan filsafat Yunani kuno bernama Plato yang menyebutkan adanya  Peradapan Atlantis melalui buku “Critias dan Timaeus” lalu menyusul pernyataan Aryso Santos, ilmuwan Brazil yang telah menghabiskan tiga puluh tahun penelitian, melalui bukunya yang berjudul Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitive Localization of Plato’s Lost Civilization”. Di mana dia menampilkan tiga puluh tiga perbandingan seperti kekayaan alam, perkiraan cuaca, kondisi gunung berapi, luas wilayah dan cara bertani, kemudian memberi kesimpulan yang mengguncang dunia bahwa Benua Atlantis adalah Indonesia.

Belum lagi tentang kegemparan para arkeolog terkait penemuan manusia Hobbit di Indonesia pada tahun 2003. Atau, kehebohan yang diutarakan oleh NJ Krom, sejarawan Belanda yang saat itu sedang meneliti situs megalitikum pada tahun 1914, bahwa Bukit Padang Cianjur yang memiliki luas 900 M² dan diperkirakan berusia 25.000 tahun SM, adalah piramida tertua dan satu-satunya di bumi. Lalu, ada penemuan balok gutta percha–biasa digunakan sebagai kabel telegram di dasar laut–bertuliskan ‘Tjipetir’ di sejumlah negara Eropa seperti Prancis, Jerman, Norwegia, Spanyol, Swedia, Denmark dan Belanda, kembali mengindentifikasi Indonesia sebagai pemiliknya pada zaman Perang Dunia I. Kemudian, pernyataan dari Universitas Massey, Selandia Baru, yang mengungkapkan bahwa dua puluh delapan dari tiga puluh penduduk Madagaskar ber-DNA Indonesia, yang artinya, bangsa Indonesialah penemu pulau yang dulunya selama ribuan tahun hanya menjadi habibat binatang lemur itu, pada masa kerajaan Sriwijaya.

Semua fragmen di atas mengacu pada satu hal. Pluralisme Indonesia terus menjadi pusat perhatian dunia, berkat kekayaan alam, flora fauna, budaya dan konstelasi geografis yang masih menjadi misteri spektakuler, bahkan hingga negara maritim ini berusia tujuh puluh dua tahun. Lalu, apakah Indonesia sendiri sudah mengajukan diktum bahwa dirinya adalah negara yang benar-benar kaya?

Baca Juga :   HUTRI72- Kemerdekaan, Dicapai atau Diperjuangkan?

Menjadi pusat bertemunya jalur silang lalu lintas baik sosial, politik, ideologi atau pelayaran perdagangan antarbenua, serta negara tujuan para ilmuwan untuk menguak berbagai misteri dunia, membuat Indonesia tampak muskil apabila ingin terlepas dari budaya asing yang hendak mengintervensi. Banyaknya bangsa asing yang datang dan pergi guna kelancaran arus perdagangan dan penelitian baik di zaman dulu ataupun sekarang, menjadikan adat bangsa asing tersebut masuk dan perlahan memengaruhi budaya lokal. Di sinilah letak permasalahannya.

Ambil saja contoh konkret yang acapkali memunculkan kegelebahan. Iklan produk, atau pemberitaan media, atau bahkan sekadar kampanye pemilu, yang kalau tidak pakai bahasa luar terasa kurang merangsang. Bayangkan saja apabila 646 bahasa daerah (sesuai dengan penelitian yang dilakukan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan per tanggal 18 Oktober 2016) yang dimiliki Indonesia, atau bahkan bahasa ibu sendiri punah pada beberapa tahun mendatang. Itu baru masalah bahasa.

Tendensi mengonsumsi produk impor demi meningkatkan prestise, di mana tanpa disadari perlahan menggerogoti integritas nasional, juga turut andil. Kondisi pertahanan kontinental utara Indonesia yang rawan sengketa juga masih menjadi permasalahan masif. Tumbuhnya fanatisme ideologi selain Pancasila baik dalam pemerintahan ataupun kemasyarakatan yang mampu melahirkan radikalisme dalam skala tertentu. Pun, ketika budaya lokal diklaim bangsa luar, sebutlah wayang, gamelan, angklung dan batik, rakyat Indonesia baru koar-koar menggelegarkan kepemilikan, dengan lantang mengucap sumpah serapah atas tindak pencurian, padahal saat disarankan belajar memainkan gamelan atau sekadar menonton wayang sebagai wujud apresiasi, banyak alasan dan merasa berat hati bak diminta membeli sepuluh unit Lamborghini.


Mari membicarakan hal yang lebih seru. Sinematografi. Indonesia terus diserang demam drama televisi dari negara luar, sebut saja Korea, India dan Turki. Drama televisi dari berbagai negara yang ditayangkan di Indonesia ini memang bagus-bagus. Berkualitas dan sudah mengantongi rating tinggi dari negaranya masing-masing. Tidak bisa menyalahkan pihak stasiun televisi, karena rakyat Indonesia sendiri pun menyukainya. Padahal kalau dilihat dari eksplorasi cerita dan sinematografi yang disajikan, drama Indonesia atau bahkan perfilman lokal tidak kalah bagus dengan mereka. Untuk cerita berbasis modernisme, Indonesia menyimpan ribuan lokasi memukau yang bisa dijadikan tempat pengambilan gambar. Sedangkan jika ingin mencuci otak penonton melalui drama atau film historikal, Indonesia pun memendam sejuta ide cerita zaman kerajaan, baik fiksi atau fakta, yang tersebar di sepenjuru nusantara, yang bahkan negara lain tidak memilikinya. Lalu pertanyaannya, apakah jutaan inspirasi cerita itu sudah tervisualisasikan ke dunia melalui sumber daya yang ada?

Baca Juga :   HUTRI72 – Merdeka dari Korupsi

Kenyataan menggelitik yang dialami dunia perfilman lokal adalah pada tahun 2016 kemarin, ketika Indonesia untuk pertama kalinya menciptakan film berteknik CGI berjudul Bangkit!, namun mayoritas penonton justru memberi sambutan kontradiktif terkait film yang memakan biaya dua belas miliar tersebut, bahkan tanpa kemafhuman membandingkannya dengan film Hollywood berpendanaan triliunan rupiah.

Ditambah lagi masalah kekinian yang mendadak viral padahal kalau ditelisik tak punya kontribusi apa pun bagi kebangkitan bangsa. Adanya plagiator yang terus dipuja-puja, pelaku penistaan yang justru diangkat menjadi duta, membesar-besarkan ‘ndeso’ padahal di ‘rumah’ tetangga kerap terdengar sejumlah nama binatang sebagai ungkapan kekesalan dianggap biasa saja, sedangkan Demian Aditya sang pesulap berbakat yang tampil memukau di Amerika justru dipandang sebelah mata. Jika anomali jukstaposisi seperti ini terus menggentayangi, bukan tidak mungkin di masa depan Indonesia akan menjabat sebagai ‘negara hantu’ di mata dunia.

Dari polemik-polemik di atas dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya Indonesia itu negara yang sangat malang. Kelahiran dan pertambahan usianya sangat tragis. Tak hanya menjadi incaran berbagai bangsa asing yang berebut menduduki pemerintahan melalui infiltrasi berbagai hal kecil yang terkadang tidak disadari, namun juga menjadi sasaran empuk perbudakan mental rakyatnya sendiri.

Masih ingat tragedi mengerikan reparator ampli yang dituduh mencuri di musala saat dirinya sedang menunaikan salat, lalu dibakar hidup-hidup oleh warga, padahal bukti belum ditelisik? Sungguh malu rasanya, karena saat mendengar berita ini, seorang teman dari luar negeri mengajukan pertanyaan: “Itu Indonesia, atau negeri rimba? Bagaimana saya tidak takut berkunjung ke sana? Dan bagaimana saya bisa khusyuk berjumpa dengan-Nya di musala saat harus menepi dalam perjalanan kunjungan?”.

Kalau sudah begini, masih pantaskah Indonesia berpongah menganggap dirinya sudah merdeka secara fundamental? Lalu apa faedahnya para pahlawan yang sampai rela mengorbankan nyawa demi memerangi penjajah virtual, dan kemudian dengan berlinang air mata penuh haru memproklamirkan tujuh belas Agustus sebagai klimaks pengonsolidasiannya? Hanya sebagai pengisi dan penghias buku sejarahkah? Sekadar menjadi pemanis dalam memanipulasi massa saat berkarier? Pemanis buatan yang hanya manis di bibir, begitu ditelan akan menimbulkan radang tenggorokan, lantas naik menjadi penyakit batuk yang tidak sembuh-sembuh selama sebulan? Pada akhirnya, semua kembali kepada paradigma individualis di masing-masing kepala yang berjumlah lebih dari 250 juta ini.

Ada satu lelucon klasik yang dituturkan para tetua. Alkisah seorang penambang batu yang menemukan batu besar seukuran gardu, di tengah hutan. Untuk membawanya turun ke kampung, dia harus membelah batu temuannya menjadi beberapa bagian terlebih dahulu. Awalnya, dia begitu semangat mengayunkan kapaknya, mengingat batu tersebut adalah harta karun yang mampu mengubah perekonomian keluarga. Namun pada pukulan ke sembilan puluh sembilan, dia menyerah karena batu tersebut masih utuh, tidak retak sedikit pun. Dia pulang dengan membawa kekecewaan di hati. Lalu, seorang penambang lain datang dan mendapati batu seukuran gardu tersebut. Diayunkanlah kapaknya dengan tenaga penuh, dan ajaibnya hanya dengan satu kali pukulan, batu itu sudah terbelah menjadi beberapa bagian, lalu bisa dibawa pulang. Sebenarnya, yang membelah batu seukuran gardu tersebut bukanlah pukulan ke seratus dari penambang batu kedua, melainkan adalah akumulasi dari pukulan-pukulan sebelumnya yang dilakukan oleh penambang batu pertama.

Baca Juga :   HUTRI72-Wajah Bopeng Sebelah HUT Kemerdekaan

Terkadang, rasa jenuh meracuni perspektif manusia untuk berhenti memerjuangkan kemerdekaan, menganggap pengkhianatan terhadap proses bukanlah suatu dosa, lalu sengaja menelungsupkan jiwa pada substansi konservatif yang ambigu. Tanpa sadar, bahwa momen terdistraksi menjadi indikasi betapa dekatnya manusia pada pendewasaan kejayaan empiris yang sahih. Mengutip pernyataan Deddy Corbuzier dalam video motivasinya, bahwa tidak ada umat yang mampu mengendalikan lautan, tetapi manusia bisa menjadi nakhoda untuk mengendalikan kapalnya masing-masing.

Selamat ulang tahun, Indonesia. Jadilah angin semilir yang menyejukkan dan terus mengibarkan kegagahan Merah-Putih di tiangnya, bukan menjadi angin badai yang berpotensi menghancurkan kapabilitas dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bertanah air, bertumpah darah satu.

Jadi, masing-masing dari kita sudah menyiapkan kado apa untuk ulang tahun Indonesia? ^^

 

-Feresha Ray-

Pencinta biru, martabak, dan kamu. ^^

***

Putri bungsu pasangan suami istri (almarhum) Suwardy Muh Yusuf dan Rosita pemilik nama lengkap Feresha Fajaretno Yuliray ini terlahir di Salatiga, 20 Juli 1994. Editor, layouter, reviewer, penulis konten, penulis novel Segulung Darah Subuh, Gunting Berkarat Merah, Koma, dan Wed(nge)nesday.

Beralamat di Jalan Siti Projo Nomor 137 RT 01 RW 05 Dukuh Nanggulan Kelurahan Kutowinangun Kidul Kecamatan Tingkir Kota Salatiga Provinsi Jawa Tengah 50742, dan memiliki nomor ponsel 085877534383. Bisa dikontak via e-mail ke feresha.fajaretno@gmail.com atau www.facebook.com/feresha.ray sebagai akun sosial media miliknya. Perempuan ambivert yang akrab disapa Ray ini sewaktu kecil punya obsesi ingin menjadi sutradara film.

Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa konten berjudul “Indonesia Belum Merdeka” yang diikutsertakan dalam lomba menulis opini argumentatif kemerdekaan yang diadakan oleh Geotimes ini, adalah orisinal, murni karya sendiri, tidak melanggar hak cipta pihak lain, tidak mengandung konflik SARA dan pornografi, belum pernah dipublikasikan di mana pun baik sebagian atau seluruhnya, juga tidak sedang diikutsertakan pada perlombaan serupa. Penulis menyatakan sepenuhnya bertanggung jawab terhadap isi, serta bersedia didiskualifikasi apabila di kemudian hari nanti ditemukan adanya unsur plagiat di dalam konten ini.

***


Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR