OUR NETWORK
HUTRI72 – Banyak Baca, Ke-Bhineka-an Terjaga

Sebuah survey yang dilakukan oleh sebuah lembaga internasional yang fokus terhadap keberagaman etnis di sebuah negara. Dalam survey tersebut menempatkan negara Indonesia berada di urutan kedua ,di bawah Papua Nugini, sebagai negara dengan keberagaman etnis terbanyak di dunia. Beragamnya etnis dan suku bangsa, yang mempunyai kebudayaan, adat istiadat dan corak yang berbeda-beda di setiap daerahnya, membuat kentalnya keberagaman di Indonesia. Beragamnya etnis dan suku bangsa di Indonesia tak hanya dalam konteks kebudayaan, namun juga dalam hal kepercayaan.

Kepercayaan yang beragam terus berkembang hingga masuknya kepercayaan “impor”. Kepercayaan-kepercayaan tersebut berbaur dengan kepercayaan lokal dan membentuk kepercayaan baru hasil asimilasi dan akulturasi, seperti Islam kejawen.

Terhitung sudah 72 tahun negeri ini terlepas dari tangan penjajah. Tak serta merta pula negeri ini terlepas dari jeratan permasalahan yang ada dengan tingkat ke-kompleks-an yang berbeda-beda. Salah satu masalah yang lazim dihadapi negara dengan tingkat keberagaman tinggi adalah Etnosentris dan Primordialisme. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata Primordialisme adalah perasaan kesukuan yang berlebihan. Kata “Primordialisme” sendiri berasal dari bahasa Latin, primus dan ordiri. Kata primus berarti pertama, sedangakan  ordiri berarti tenunan atau ikatan.

Dalam konteks tertentu, primordialisme mempunyai dampak positif, seperti menjaga adat istiadat yang ada, melestarikan kebudayaan nenek moyang. Namun, dalam konteks lain, primordialisme dapat menyebabkan perpecahan antarsuku. Sikap primordialisme dapat dilihat ketika seseorang memandang adat istiadat suku/etnis lain menggunakan landasan dan logika budayanya. Tentunya hal ini tidak dibenarkan mengingat setiap suku bangsa/etnis di belahan dunia manapun mempunyai ciri khas dan keunikan sendiri. Sikap primordialisme dapat menyebabkan seseorang bertindak etnosentris. Sifat etnosentris adalah sikap kesukuan yang berlebihan.

Pada dasarnya, hubungan yang terjadi antarindividu di dalam masyarakat bersifat Kooperatif Antagonis , yaitu kerjasama antarpihak yang didasari oleh pertentangan, akibatnya kita lebih mementingkan diri sendiri atau kelompok kita. Menurut Zatrow (1989), sikap etnosentris adalah sikap dan pandangan yang menjadikan cara hidup dan adat istiadat yang berlaku di dalam grupnya sebagai landasan dalam melakukan penilaian terhadap kelompok lain. Sama seperti primordialisme, sikap etnosentrisme tak selamanya buruk. Ada konteks tertentu di mana sikap etnosentris memberikan dampak yang baik, seperti semakin kuatnya hubungan antaranggota kelompok akibat konflik yang terjadi dengan kelompok lain. Contoh dari dampak positif sikap etnosentris dapat kita lihat saat terjadi pengusiran terhadap etnis Madura di Kalimantan. Banyak orang-orang beretnis Madura dari daerah lain membantu saudara sesuku mereka yang diusir dari Kalimantan.

Sikap primordialisme dan etnosentris juga dapat menghasilkan masalah lain, seperti stereotip dan prasangka sosial yang dapat menimbulkan konflik sosial. Permasalahan tersebut bukanlah hal baru di negara ini, bahkan hal tersebut bukanlah permasalahan eksklusif yang hanya terjadi di negara ini. Diperlukan langkah kongkrit dan kontinu dalam meredam dan mengarahkan sikap baik primordialisme dan etnosentris, ke arah yang positif.

Pendidikan sejak dini merupakan satu-satunya cara paling efektif untuk meredam sikap primordialisme dan etnosentris secara berlebihan. Kita dapat mengajarkan dan memberikan pemahaman akan keberagaman yang kita miliki terhadap buah hati kita. Kita bisa memberi contoh mengenai konsep keberagaman ke anak kita, dimulai dari hal-hal sederhana yang ada di sekitar kita dan hal-hal yang terjadi di sekitar kita.

Cara lain yang bisa kita lakukan untuk menjaga ke-bhinekaan kita adalah dengan banyak membaca buku. Para ilmuwan sepakat bahwa dengan banyak membaca dapat membuat pikiran kita tak sempit. Pandangan kita akan suatu masalah akan semakin luas, sehingga jika terjadi suatu peristiwa, kita bisa melihat permasalahan tersebut dari berbagai sudut pandang dan kacamata. Banyak membaca juga melatih nalar dan daya logis kita, sehingga tak mudah percaya terhadap suatu berita kebohongan (hoax) dan mempercayai sebuah berita hanya dari satu sumber saja sehingga bisa terhindar dari ancaman perasangka buruk dan korban hoax. Membudayakan membaca sejak dini merupakan hal yang sangat penting. Kemampuan berpikir logis dan nalar anak akan terlatih sejak dini jika banyak membaca. Membaca buku fiksi mampu meningkatkan rasa empati dan intelijensi emosi kita. Selain itu, dengan banyak membaca buku juga bagus untuk kesehatan memori kita di hari tua nanti. Untuk itu sangat diperlukan untuk membudayakan kegiatan membaca.

Langkah selanjutnya yang bisa dilakukan adalah dengan menumbuhkan semangat cinta tanah air. Menanamkan bahwa kita semua satu dalam menuju tujuan bersama, yaitu Indonesia yang maju, Indonesia yang sejahtera dan Indonesia yang beradab. Kita bisa mencapai tujuan-tujuan tersebut dengan kebersamaan yang kuat tanpa memandang apa sukunya, siapa tuhannya, bagaimana warna kulitnya dan dari mana ia berasal. Sikap tersebut dapat kita tumbuhkan, khususnya terhadap generasi muda, dengan cara menyebarkan semangat kebersamaan, persatuan, dan persaudaraan. Langkah selanjutnya yang bisa kita terapkan dalam menjaga kebersamaan adalah dengan menjaga adab kita di dunia maya. Dengan jumlah generasi muda yang tergolong banyak dan melek teknologi, Indonesia merupakan salah satu pangsa besar dan salah satu pengguna media sosial terbanyak di dunia. Namun, sangat disayangkan masih banyak generasi muda yang tak beretika saat menggunakan media sosial. Banyak dari generasi muda yang seakan tak peduli ketika berkomentar dan menyampaikan pendapatnya akan suatu hal yang mana hal tersebut berbeda, baik dari sudut pandang, ideologi dan pendapat. Banyak dari mereka berpikir bahwa ketika menyampaikan pendapat di dunia maya berbeda dengan menyampaikan pendapat di dunia nyata. Mereka seakan tak peduli akan efek buruk dari cara penyampaian mereka yang salah. Sungguh amat disayangkan ketika kemajuan teknologi sudah sangat maju, tetapi tak dibarengi oleh kemajuan dalam berpikir.

Berbeda pendapat merupakan suatu yang lazim dan wajar. Jiika kita memang tak setuju akan suatu ide, gagasan dan sudut pandang, kita bisa menyampaikannya dengan cara yang baik dan beradab, sesuai yang diajarkan oleh adat istiadat dan ajaran kepercayaan masing-masing individu. Banyak dari generasi muda yang tak peduli ketika menyampaikan pendapatnya, melakukan penilaian akan suatu hal atau peristiwa yang terjadi di sekitarnya menggunakan logika dan nalar kelompoknya tanpa memikirkan perasaan orang lain dan dampak buruk yang akan terjadi di kemudia hari, baik bagi dirinya maupun kelompoknya.

Sebagai penutup, sudah saatnya bagi kita, generasi muda, yang bukan hanya generasi penerus bangsa, tetapi juga generasi penentu bangsa, melakukan gebrakan dan perubahan untuk mendobrak kesalahan dan penyimpangan yang terjadi di masyarakat. Gerakan gemar membaca buku dapat kita lakukan, dengan dimulai dari diri sendiri, selanjutnya kita bisa mengajak orang terdekat untuk melakukannya. Kita juga bisa ikut kegiatan atau komunitas tempat berkumpulnya para pecinta buku. Dengan mengikuti kegiatan tersebut, kita tidak hanya memperluas dunia pergaulan, tetapi juga memperluas sudut pandang dan pengetahuan. Jika bukan kita yang melakukan perubahan, siapa lagi?

 

#HUTRI72 #Indonesia #Merdeka #Agustusan #lawanhoax

 

Nama : Muhammad Syaiful

Asal Kota : Jakarta

TTL : Jakarta, 3 September 1995

Pekerjaan : Mahasiswa

Asal Institusi : FIB UI

Email : muhammad.syaiful61@ui.ac.id

No. HP : 089515091994

a guy who loves coffee and french a lot. Majoring French literature UI 2016

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

OPINI TERBARU

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…