in

HUT RI72- Pukarayat Dalam 72 Tahun Kemerdekaan RI


Pong – pong – pong

Bapak main pimpong

Ring- ring-ring

Ibu cuci piring

Sakit perut, sakit pinggang, sakit dada.

Teng – teng – teng

Sudah jam duabelas teng

Nenek lampir dikejar-kejar

Kolornya ditarik kuncing

Siapa gerak kena cubit

Masih terekam jelas di ingatan penulis ketika sekumpulan anak berusia 3-10 tahun sibuk membuat kelompok-kelompok kecil dan menyanyikan penggalan lagu di atas. Sebenarnya permainannya sederhana, yaitu terletak di lirik terakhir lagu siapa gerak kena cubit. Ketika lirik terakhir dinyanyikan anak-anak harus bermain peran menjadi patung, jadi bagi anak yang bergerak duluan akan mendapatkan cubitan dari teman sekelompoknya.

Semua anak terlihat sangat asyik dengan kelompoknya masing-masing. Semua sibuk dengan mulut yang berkomat-kamit menyanyikan lagu sambil kedua tangan digerakan beradu dengan tangan teman sebelahnya. Terlihat wajah-wajah polos yang penuh dengan keceriaan sambil tertawa-tertiwi bermain bersama teman-teman.

Sejauh perjalanan penulis hingga detik ini, sangat jarang penulis menemukan anak-anak yang masih bisa berkumpul bersama teman sejawatnya di luar jam sekolah, apalagi melihat mereka bermain dengan permainan yang seragam. Pemandangan yang sering penulis jumpai saat ini tak lain dari anak-anak yang sibuk dengan sejumlah aktifitas di luar sekolah seperti les mata pelajaran, les bela diri, les seni, les menggaji, ataupun yang paling banyak ditemui yaitu anak-anak yang tengah asyik bermain menatap layar handphone dan dengan lihai menggerakkan jari-jarinya berpindah dari atas ke bawah dan dari kanan ke kiri.

Kehadiran penulis saat itu di dusun Pukarayat disambut baik oleh anak-anak disana. Mereka datang bergerombolan dan bermain di dekat penulis. Seolah-olah mereka ingin menunjukkan bahwa inilah permainan yang kami punya disini. Kemanapun penulis berjalan selalu diikuti oleh pasukan anak-anak di belakang. Memang faktor komunikasi menjadi hambatan bagi kami untuk dapat berbicara satu sama lain disebabkan anak-anak di dusun Pukarayat hanya bisa menggunakan bahasa Mentawai. Tapi penulis bisa merasakan bahwa kehadiran penulis di tengah-tengah mereka seperti seorang tamu yang layak untuk diperlakukan dengan baik.

Baca Juga :   Memerdekakan Perut Sendiri

Saat itu pertama kali penulis menginjakkan kaki di dusun Pukarayat, Kabupaten Kepulauan Mentawai. Dusun ini termasuk salah satu dusun yang masuk dalam wilayah administrasi Desa Tuapeijat. Tuapeijat merupakan ibukota kabupaten Kepulauan Mentawai, namun satu-satunya akses yang bisa ditempuh dari Tuapeijat ke Pukarayat adalah jalur transportasi laut, sehingga penulis harus berlayar menggunakan boat menuju lokasi yang berjarak kurang lebih sekitar 30 menit dari Tuapeijat ini.


Menurut Kepala Kampung Dusun Pukarayat, Bapak Delfian, dusun ini  terdiri dari 110 kepala keluarga. Tidak ada moda transportasi darat yang terlihat mondar-mandir berkeliaran di dusun. Tidak ada motor, mobil dan sepeda. Semua penduduk menggantungkan hidup pada kedua kaki untuk kegiatan mobilisasinya setiap hari. Pagi hari sekitar jam delapan penduduk akan berangkat mencari nafkah dengan caranya masing-masing. Sebagian menuju ladang, dan sebagian lainnya menuju sawah jika saatnya panen sawah, jika tidak mereka menuju lautan untuk mencari ikan. Sebagian besar rumah penduduk tertutup dari pagi hingga sore hari, jikapun ada penunggunya itupun hanya anak-anak atau ibu-ibu muda yang baru melahirkan sehingga tidak memungkinkan bagi mereka untuk ikut serta ke ladang atau ke sawah. Beberapa orangtua menitipkan anak balitanya kepada tetangga yang menunggui rumah. Jika malam datang, terlihat rumah-rumah penduduk di dalam kegelapan karena hanya cahaya rembulan di langit malam yang meneranginya. Ya, listrik belum masuk ke dusun Pukarayat. Tidak ada listrik disini dan sinyal handphone pun masih hanya muncul di beberapa titik yang sulit untuk dijangkau. Kehidupan di dusun ini terus berjalan seperti roda yang terus berputar. Masyarakat terbiasa hidup dalam segala keterbatasan fasilitas yang ada, termasuk televisi yang sering terlihat memenuhi setiap rumah yang ada di kota. Jangankan dua atau tiga buah televisi layaknya kebanyakan rumah penduduk metropolitan, untuk satu buah pun mereka tidak punya. Minimnya fasilitas dusun juga terasa hingga ke bidang pendidikan, dusun Pukarayat memiliki 1 gedung sekolah dasar yang satu buah ruangannya pun dipinjamkan untuk murid TK dan PAUD. Dusun ini tidak memiliki SMP dan SMA sehingga siswa-siswa yang telah menamatkan bangku SD harus melanjutkan SMP ke Desa Tuapeijat.

Baca Juga :   Merayakan Kemerdekaan dari Tengger

Kemerdekaan Indonesia tidak diraih dalam kurun waktu lima atau sepuluh tahun belakang saja. Sudah 72 tahun negara Indonesia merdeka. HUTRI72 seharusnya menjadi sebuah momentum kemerdekaan yang bisa dirasakan sepenuhnya oleh semua warga negara dalam semua bidang, mulai dari bidang pendidikan, kesehatan, kesejahteraan dan lain sebagainya. Hidup di Pukarayat bak hidup di negeri seberang. Tidak ada moda transportasi publik yang berangkat sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Untuk menuju desa atau kota kabupaten, penduduk harus mengumpulkan beberapa orang untuk berangkat secara bersama-sama menggunakan pompong. Pompong adalah salah satu alat transportasi laut yang ukurannya lebih kecil dari boat dan tidak menggunakan atap. Jika beberapa orang penduduk memiliki kepentingan sama untuk menuju kota dan sepakat untuk berangkat di jadwal yang sama, maka setiap orang akan dikenakan biaya Rp.50.000/kepala. Namun jika tidak, satu orang bisa dikenakan biaya hingga Rp.500.000. Hal ini tentu akan menjadi beban yang cukup berat bagi penduduk yang memiliki urusan mendadak dan diharuskan menuju desa secara tiba-tiba melihat latar kondisi ekonomi masyarakat yang pada umumnya bermata pencaharian ke ladang, sawah dan laut.

Namun dibalik itu, kemerdekaan Indonesia masih dirawat oleh anak-anak Dusun Pukarayat. Anak-anak sama sekali belum tersentuh oleh gadget atau barang elektronik yang dapat merenggut kebebasan berpikir dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Masyarakatnya pun masih mengedepankan semangat gotong royong, saling bahu membahu untuk menolong satu sama lain. Tidak ada sifat individualisme dan ingin menang sendiri di dusun ini. Tidak ada jurang perbedaan antara si kaya dan si miskin. Sifat yang seharusnya tidak boleh sedikitpun memudar dalam setiap jiwa bangsa Indonesia. Dirgahayu Indonesiaku. Semoga semakin menuju kemerdekaan sejati. Kemerdekaan yang dapat mewujudkan keadilan dan kesejahteraan sosial di setiap insan pertiwi termasuk penduduk di Dusun Pukarayat, Desa Tuapeijat, Kabupaten Kepulauan Mentawai. Malainge Mentawai!

Baca Juga :   HUTRI72 - Pembangunan Untuk Persatuan

 

 

Retya Elsivia

Jalan Muhammad Hatta, Gang Panti Asuhan Muhammadiyah, Pepaya 1 no 2, Anduring, Padang, Sumatera Barat.

retya92@gmail.com

+6285263838300

Field Facilitator Arbeiter Samariter Bund

penulis dan anak-anak Dusun Pukarayat (Juli, 2017)


Written by retya92

I am currently working as facilitator in Arbeiter Samariter Bund