Selasa, Maret 2, 2021

Penak Zaman Soeharto? Penak Apanya?

Politisi Sontoloyo

Politik yang hanya mencari kekuasaan memang sering menyebalkan. Sebab bisa menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Masa bodo dengan etika. Masa bodo dengan kebenaran. Tapi...
Redaksi
Redaksi

Ada slogan kebangkitan Orde Baru yang ingin dijejalkan kepada rakyat Indonesia, “Penak zamanku, tho?” Penak apanya? Kita bisa mulai sejak 1965. Pembersihan PKI yang dilakukan tanpa proses pengadilan menyebabkan ratusan ribu nyawa melayang. Ada sejarawan mencatat angkanya mencapai 2 juta orang. Dengan cara itulah Soeharto naik ke kursi kekuasaan.

Di Aceh 10 ribu orang menjadi korban pemberlakuan Daerah Operasi Militer. Hal yang sama terjadi di Papua. Berbagai kasus lain seperti tragedi Talang Sari, Haur Koneng dan Tanjung Priok, Penembak Misterius (Petrus) juga menggambarkan betapa murahnya harga nyawa rakyat.

Kekejaman itu terjadi atas nama stabilitas politik demi pembangunan ekonomi. Yang terjadi adalah pemberangusan siapa saja yang berseberangan dengan penguasa. Tapi sisi ekonomi ternyata juga meninggalkan masalah besar. Kroni Soeharto memanfaatkan kedudukannya untuk mengeruk kekayaan Indonesia.

Tanya saja petani cengkeh atau petani bawang putih pada zaman itu. Seorang Putera Presiden mengelola tata niaganya, yang menyebabkan daya tawar petani ambruk. Hanya dengan tangan kekuasaan mereka menikmati setiap tetes keringat petani. Sementara petaninya sendiri hidup merana.

Waktu itu hampir tidak ada peluang ekonomi yang lolos dari cengkraman kepentingan Cendana. Semua anak dan keluarga Soeharto berbisnis. Memanfaatkan kedudukan orang tuanya sebagai Presiden.

Kehidupan zaman Orde Baru adalah politik yang penuh penindasan dan aspirasi yang terbungkam. Pers penuh sensor. Mahasiswa dan aktivis dibungkam. Ekonomi dikuasai kroni Soeharto. Rakyat hanya bisa menikmati remah-remahnya saja.

Makanya rakyat berontak. Gerakan 1998 adalah titik perlawanan rakyat pada Orde Baru.

Kini anak-anak dan bekas menantu Suharto ingin mengajak bangsa Indonesia kembali ke jaman kegelapan itu.

Slogannya keren. “Penak zamanku, tho?”

Penak apanya?

Kita perlu kembali mengingatkan rakyat bagaimana sebuah kekuasaan yang otoriter dan beringas pernah bercokol di Indonesia. Saat awal berkuasa, kekuasaan jenis itu memakan ratusan ribu korban nyawa. Begitu pun ketika kejatuhannya. Ratusan nyawa menjadi tumbalnya.

Diskusi seruput kopi kita kali ini menghadirkan dua tokoh mahasiswa yang aktif menentang Soeharto di masa akhir kekuasaannya. Adian Napitupulu dan Wanda Hamidah. Keduanya aktivis 1998 yang paling gigih menentang kekuasaan Soeharto. Selamat mengikuti.

Redaksi
Redaksi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.