OUR NETWORK

Via Vallen Salah, Perempuan yang Sumber Fitnah Selalu Salah

Jika aku terus hidup, selamanya aku menjadi fitnah terbesar bagi kaum lelaki yang mulia.
perempuan aktivis-perempuan-geotimes

Aku ingin bercerita tentang pelecehan seksual yang pernah kualami. Tapi bakal membosankan sekali. Sebab ya begitu-begitu saja, ceritanya seperti yang lain, seperti Via Vallen: aku biasa saja, ada orang mesum yang reseh kepadaku, aku ingin marah, tapi justru aku yang disalahkan. Klise, kan? Apalagi, itu kan aib yang seharusnya ditutupi. Buat apa aku umbar? Kayak orang cari sensasi saja.

Lagipula memangnya aku benar-benar paham apa itu pelecehan seksual? Jangan-jangan yang aku maksud pelecehan sebenarnya cuma siulan abang-abang nongkrong ketika aku lewat. Padahal kan mereka hanya unjuk bakat bersiul.

Atau jangan-jangan, yang aku maksud pelecehan sebenarnya cuma tatapan panjang orang asing di bus sambil mepet-mepet yang bikin tidak nyaman. Padahal kan bisa jadi dia hanya menatap jendela buram di sampingku, bukan menatapku, wajahku, apalagi tubuhku.

Atau parahnya yang aku maksud pelecehan sebenarnya hanya komentar-komentar memuji kecantikan mataku, bibirku, atau bentuk tubuhku sebagai perempuan. Padahal itu kan hanya apresiasi, semestinya aku tidak perlu lebay dan sensi hanya karena dibilang cantik. Apalagi sampai ikut-ikutan menceritakan kisah lebay begituan ke media sosial dan membuat semakin banyak orang membaca kebodohanku.

Memangnya kalau aku ikutan bercerita #MeToo setiap ada kasus pelecehan seksual, manfaatnya apa? Paling cuma membuat orang-orang jadi tahu kalau ukhti-ukhti berhijab lebar atau bahkan bercadar pun ternyata punya aib pelecehan. Apa enggak memalukan, tuh? Di mana izzah-mu, ya Ukhti? Mestinya aku diam-diam saja sambil intropeksi kenapa bisa menerima pelecehan seperti itu. Lelaki zaman sekarang kan banyak yang berpendidikan. Mana mungkin mereka tiba-tiba menggoda kalau aku tidak kegenitan?

Iya, kuakui memang aku yang salah. Sebagai perempuan aku memang sumber fitnah. Bahkan Nabi yang mulia pun mengatakan seperti itu, bahwa tidak ada fitnah yang lebih berbahaya bagi lelaki selain wanita. Sebenarnya aku berharap pernyataan tadi bukan ucapan lelaki favoritku itu. Sayangnya hadis itu termasuk salah satu Sahih Bukhari yang sangat populer.

Tentu saja aku tidak bisa menyalahkan tafsir syariat patriarkis yang insekyur sehingga selalu mengangkat narasi negatif perempuan seperti itu. Padahal, setiap membaca keseluruhan sejarah hidup Nabi, bisa dibilang banyak predikat mulia dipegang perempuan dalam sejarah hidup Nabi dan Islam.

Yang pertama kali mendengar dan mempercayai wahyu Allah yang disampaikan Rasulullah adalah perempuan, yaitu Khadijah. Yang pertama kali rela mati membela Islam dan Rasulullah adalah perempuan, yaitu Sumayyah. Bahkan kata Nabi, surga yang diharapkan banyak orang itu terletak di telapak kaki Ibu, seorang perempuan.

Tapi, tapi, tapi … Itu kan hanya pembenaranku saja. Meskipun banyak peristiwa sejarah yang menunjukkan derajat kaum hawa sangat mulia dalam Islam, tetap saja Nabi pernah menyatakan kalau perempuan itu sumber fitnah. Maka apa pun yang aku lakukan, selalu bisa menjadi godaan untuk para lelaki yang sebenarnya berpendidikan dan belajar agama itu.

Mungkin memang benar, sebaiknya perempuan sepertiku mengurung diri saja di zaman modern seperti ini. Tidak keluar rumah, karena kehadiran dan perbuatanku akan menjadi fitnah. Tidak juga menggunakan media sosial—meskipun tanpa foto, karena kata-kata dan pemikiranku pun bisa mengundang fitnah. Diam saja menjaga diri di rumah agar jadi sebaik-baik muslimah.

Yah, meskipun di zaman Nabi dulu para perempuan sebenarnya justru aktif berkarya dalam banyak bidang di ruang publik. Khadijah dan Saudah mengelola bisnis lintas negara. Ummu Atiyah terjun ke banyak medan perang, Shafiyah bahkan menjadi ahli strategi militer. Aisyah menjadi guru besar bukan hanya untuk kaum hawa tetapi juga lelaki. Rufaida Aslamiah mendirikan tenda kesehatan dan bedah di dekat Masjid Nabawi. Dan lain-lain. Para perempuan di zaman Nabi hidup di ruang publik, tidak hanya berdiam di rumah sebagai fitnah.

Tapi kan, tapi kan … itu di zaman Nabi. Perempuan bisa leluasa memaksimalkan amanah potensi manusia mereka sebab mana mungkin ada lelaki jahiliyah yang berani melecehkan? Ketika keponakan Nabi menatap perempuan agak lama saja langsung dipalingkan mukanya oleh Nabi langsung. Apalagi sambil suit-suit grepe-grepe?

Sejujurnya aku bingung sih pada sikap Nabi yang riwayatnya dicatat Bukhari dan Muslim ini. Katanya yang jadi sumber fitnah itu perempuan. Tapi kenapa ketika keponakan beliau enggak sengaja menatap fitnah terbesar itu Nabi malah sibuk menasihati si lelaki buat menjaga pandangan dan bukannya menyuruh si perempuan buat jaga diri? Beliau bahkan tidak menyuruh si perempuan buat menutupi wajahnya yang sedang berhaji dan bakal ketemu banyak sekali lelaki. Padahal kalau si perempuan berpenampilan lebih sopan dan tertutup keponakan Nabi tidak mungkin akan menatapnya, kan? Harusnya Nabi memahami logika sederhana ini, dong?

Atau sebagai laki-laki sebenarnya Nabi paham kalau masalahnya adalah di otak lelaki, bukan pakaian atau sikap perempuan? Ah, tapi mana mungkin, yang selalu salah kan perempuan.

Aku memang sudah membungkus diri dengan baju dan jilbab lebar, tapi wajahku yang terlihat bisa mengundang atensi. Bahkan ketika sudah menutup wajah pun, aku tetap salah karena katanya tingkah laku yang kalem ini membuatku tampak imut, dan itu menarik minat lelaki. Dan ketika aku berubah galak, katanya itu jadi lebih menggemaskan bagi para lelaki. Hvft.

Sungguh aku jadi serbasalah. Sepertinya lebih baik aku menghilang dari radar publik. Enggak usah sok iye mengembangkan potensi seperti para sahabiyah di zaman Nabi. Diam dan sembunyi saja di rumah.

Tapi …. menjadi perempuan misterius begitu bukan berarti tidak bisa menjadi godaan bagi kaum lelaki zaman sekarang, yang fantasi dan fetisnya semakin aneh-aneh. Padahal sebagai muslimah yang baik seharusnya kan aku membantu saudara lelakiku untuk menahan hawa nafsu mereka, agar tidak tergoda oleh kehadiran kami yang sumber fitnah ini.

Tapi kalau sebagai perempuan aku masih hidup, selamanya aku akan menjadi fitnah terbesar bagi kaum lelaki yang mulia. Apa sebaiknya aku mati saja agar para lelaki itu tidak insekyur atas keimanan mereka? Lagipula apa ruginya sih kalau tidak lagi ada perempuan di dunia ini?

Esty Dyah Imaniar
Penulis dan pendiri Modesty Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.