Banner Uhamka
Rabu, September 30, 2020
Banner Uhamka

Jokowi Umumkan Uya Kuya Pengganti Yudi Latif di BPIP

Vladimir Putin: Prabowo Subianto Fadli Zon Bukan Pegawai Rusia

Gerah mendapatkan tautan di semua platform media sosial dari netizen Indonesia mengenai Prabowo Subianto dan Fadli Zon, pemerintah Rusia akhirnya merasa perlu menanggapi secara...

Secarik Pledoi untuk Akhi Gilang Kazuya Shimura

Tolonglah, jika Anda beriman dan beragama yang benar (yaitu Islam), tolong baca naskah pembelaan untuk Akhi Gilang Kazuya Shimura ini sampai selesai. Jika sudah,...

Dituduh Pakai Stuntman, Ini Klarifikasi Jokowi

MANDHANINEWS menemui Presiden Jokowi usai acara Asian Games. Kami bertanya apakah benar beliau memakai stuntman atau pemeran pengganti untuk aksi motor di pembukaan Asian...

Ini Dia Bocoran Hasil Pertemuan Amien Rais dan Jokowi

Tiba-tiba kehebohan terjadi di kompleks perumahan Kampung Sawit Sari, Depok, Sleman, Yogyakarta. Rupanya Jokowi melintas di situ dan beberapa warga yang sedang asyik berolah...

Tak perlu waktu lama bagi Jokowi menemukan pengganti Yudi Latif untuk menduduki jabatan strategis Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Pilihannya jatuh kepada sosok bintang televisi Surya Utama alias yang lebih dikenal publik dengan nama Uya Kuya.

Mengapa Uya?

Dalam jumpa pers mendadak di jam sahur Minggu pagi (10/6) tadi, Jokowi menyatakan tidak ada tokoh lain yang lebih pantas  dan sanggup dan cemerlang dalam menjalankan tugas berat di BPIP kecuali Uya Kuya. Jokowi mengaku menerima puluhan rekomendasi nama akademisi, aktivis, dan politikus, dari para stafnya, tetapi Jokowi mencoret semua nama itu dengan keyakinan tinggi.

“Semua rekomendasi saya coret, he-he-he,” kata Jokowi, “saya lebih percaya insting saya sendiri. Saya pilih Pak Uya Kuya.”

Uya yang berdiri di samping kanan Jokowi memamerkan tawa khas dan lesung pipitnya.

“Pak Uya Kuya ini kan sudah sangat berpengalaman, terbukti, jaminan mutu, berhasil menyelesaikan persoalan banyak orang dan menyadarkan banyak orang. Dengan pengalaman menyadarkan banyak orang itu, saya minta Pak Uya mem-Pancasila-kan banyak orang,” kata Jokowi.

Jokowi hakulyakin, dengan segenap kemampuan Uya Kuya, “tidak seorang pun yang tidak pancasilais akan tersisa di negeri ini”. Sehingga jargon “tidak ada tempat untuk intoleransi”, “tidak ada tempat untuk terorisme di negeri ini” dan jargon lain—yang sering diucapkan Jokowi sendiri—tidak berhenti di jargon saja. Jokowi percaya, dengan Uya Kuya  menjadi Kepala BPIP, bangsa ini akan pancasilais total dan karena itu gemah ripah loh jinawi.

Sebelum membuka sesi tanya-jawab, Jokowi mempersilakan King Uya Kuya menyampaikan sambutannya.

Uya menghabiskan waktu setengah jam untuk mengucapkan syukur kepada Allah SWT, salawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW, dan ucapan terima kasih yang daftarnya demikian panjang: dari keluarga intinya, sanak famili, para kru dan pemain di acara televisi Rumah Uya, hingga para penggemar Uya di berbagai daerah. Semua yang ia ingat ia sebutkan.

“Aduh, jadi kayak dapet Oscar,” kata Uya cengengesan, “mana gajinya gede lagi.” Sebagian besar wartawan yang hadir mengantuk dan menguap berulang-ulang, kecuali beberapa saja yang berdedikasi tinggi termasuk wartawan Mandhaninews.

Tanpa ada yang mempersilakan, wartawan Mandhaninews langsung menembak dengan pertanyaan tajam, “Jadi apa program Anda sebagai ketua BPIP? Bagaimana Anda mewujudkan cita-cita Presiden tadi, menjadikan bangsa ini ‘pancasilais total’? Kongkretnya seperti apa?”

“Santai saja, Kisanak, santai, ho-ho-ho,” jawab Uya, sambil memainkan jari-jari beberapa senti di depan matanya. “Saya sudah menyiapkan program andalan. Pak Jokowi juga terpesona dengan gagasan ini, dan langsung merestui: Mendirikan Rumah Uya untuk Pancasila sampai ke desa-desa.”

Uya menamai program tersebut “One Desa, One Rumah Uya”, disingkat “ODE-ORU”.  Ketika mengucapkan “ODE-ORU”, Uya mengangkat tangan kanannya yang terkepal, melepas ibu jari dan telunjuknya sebagai simbol “d”, jempol dan telunjuk itu kemudian dihadapkan ke atas membentuk “u”.

Dengan keberadaan Rumah Uya di seluruh penjuru tanah air, Uya optimistis semua warga negara yang bermasalah dengan Pancasila akan menemukan solusinya baik-baik. Mereka yang bermasalah akan dipanggil ke Rumah Uya, untuk menceritakan semua persoalannya, dan staf Rumah Uya akan memberikan layanan, resep, atau terapi tertentu agar “si pasien” sembuh dan kembali menjadi pancasilais.

“Oh iya, satu lagi, tadi Pak Presiden juga sudah setuju banget: Rumah Uya sebagai acara televisi akan ditayangkan setiap hari, di semua stasiun televisi, tiap jam sembilan malam, kayak Dunia dalam Berita dulu. Isinya nanti kompilasi terbaik, pilihan, dari semua praktek Rumah Uya.”

Karena telah masuk waktu Subuh, sesi tanya-jawab kemudian ditiadakan.

Selesai pertemuan, seperti biasa, wartawan Mandhaninews menemui sumber dalam istana untuk mengetahui “cerita di balik berita”.

Sang sumber menerangkan, pemilihan Uya Kuya sudah diperhitungkan masak-masak oleh Jokowi dan memiliki tujuan politik yang kental. Maksud Jokowi dengan ungkapan “pancasilais total” adalah meraih total suara pemilih pada Pilpres 2019.

“Di Solo kan Pak Jokowi pernah berhasil meraih 90.09 persen suara, sekarang Pak Jokowi berambisi meraih 100 persen suara,” ungkap sang sumber.

“Anda tahu siapa sasaran pertamanya? Pak Jokowi secara khusus memberi tugas pertama kepada Uya Kuya untuk ‘mengerjai’ Amien Rais.”

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.