Rabu, Maret 3, 2021

Jokowi Umumkan Uya Kuya Pengganti Yudi Latif di BPIP

Sambil Ngeteh Imajiner, Jokowi Ngomongin Cawapres ke Saya

Berita-berita seputar siapa cawapres Jokowi, akhir-akhir ini terus menjadi liputan empuk sejumlah media massa yang mampu membetot perhatian publik. Sayangnya, figur cawapres itu hanya...

Tiru Bukittinggi, Walikota Yerusalem Larang Perempatan Karena Mirip Salib

Nir Barkat, Walikota Yerusalem menggemparkan publik kota itu setelah melarang adanya perempatan atau simpang empat di kotanya. Hal ini ia ambil setelah menelaah dan...

Terbukti Lakukan Eksploitasi Anak, Pemerintah Dukung KPAI Bubarkan PB Djarum

Akhirnya pemerintah republik menyepakati usulan KPAI untuk membubarkan eksploitasi terselubung PB Djarum. Berdasar pengakuan tetangga dari Kementerian Kesehatan, Ibuk Romlah Sukasah, katanya kabar burung Kementerian...

Amien Rais Minta Dukungan FPI, Rizieq Shihab Siap (Fiksi)

Dikecam habis-habisan seputar pernyataannya tentang tuhan malu, Ketua Majelis Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais melakukan klarifikasi melalui akun Instagram amienraisofficial. Amien menyebut dia...

Tak perlu waktu lama bagi Jokowi menemukan pengganti Yudi Latif untuk menduduki jabatan strategis Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Pilihannya jatuh kepada sosok bintang televisi Surya Utama alias yang lebih dikenal publik dengan nama Uya Kuya.

Mengapa Uya?

Dalam jumpa pers mendadak di jam sahur Minggu pagi (10/6) tadi, Jokowi menyatakan tidak ada tokoh lain yang lebih pantas  dan sanggup dan cemerlang dalam menjalankan tugas berat di BPIP kecuali Uya Kuya. Jokowi mengaku menerima puluhan rekomendasi nama akademisi, aktivis, dan politikus, dari para stafnya, tetapi Jokowi mencoret semua nama itu dengan keyakinan tinggi.

“Semua rekomendasi saya coret, he-he-he,” kata Jokowi, “saya lebih percaya insting saya sendiri. Saya pilih Pak Uya Kuya.”

Uya yang berdiri di samping kanan Jokowi memamerkan tawa khas dan lesung pipitnya.

“Pak Uya Kuya ini kan sudah sangat berpengalaman, terbukti, jaminan mutu, berhasil menyelesaikan persoalan banyak orang dan menyadarkan banyak orang. Dengan pengalaman menyadarkan banyak orang itu, saya minta Pak Uya mem-Pancasila-kan banyak orang,” kata Jokowi.

Jokowi hakulyakin, dengan segenap kemampuan Uya Kuya, “tidak seorang pun yang tidak pancasilais akan tersisa di negeri ini”. Sehingga jargon “tidak ada tempat untuk intoleransi”, “tidak ada tempat untuk terorisme di negeri ini” dan jargon lain—yang sering diucapkan Jokowi sendiri—tidak berhenti di jargon saja. Jokowi percaya, dengan Uya Kuya  menjadi Kepala BPIP, bangsa ini akan pancasilais total dan karena itu gemah ripah loh jinawi.

Sebelum membuka sesi tanya-jawab, Jokowi mempersilakan King Uya Kuya menyampaikan sambutannya.

Uya menghabiskan waktu setengah jam untuk mengucapkan syukur kepada Allah SWT, salawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW, dan ucapan terima kasih yang daftarnya demikian panjang: dari keluarga intinya, sanak famili, para kru dan pemain di acara televisi Rumah Uya, hingga para penggemar Uya di berbagai daerah. Semua yang ia ingat ia sebutkan.

“Aduh, jadi kayak dapet Oscar,” kata Uya cengengesan, “mana gajinya gede lagi.” Sebagian besar wartawan yang hadir mengantuk dan menguap berulang-ulang, kecuali beberapa saja yang berdedikasi tinggi termasuk wartawan Mandhaninews.

Tanpa ada yang mempersilakan, wartawan Mandhaninews langsung menembak dengan pertanyaan tajam, “Jadi apa program Anda sebagai ketua BPIP? Bagaimana Anda mewujudkan cita-cita Presiden tadi, menjadikan bangsa ini ‘pancasilais total’? Kongkretnya seperti apa?”

“Santai saja, Kisanak, santai, ho-ho-ho,” jawab Uya, sambil memainkan jari-jari beberapa senti di depan matanya. “Saya sudah menyiapkan program andalan. Pak Jokowi juga terpesona dengan gagasan ini, dan langsung merestui: Mendirikan Rumah Uya untuk Pancasila sampai ke desa-desa.”

Uya menamai program tersebut “One Desa, One Rumah Uya”, disingkat “ODE-ORU”.  Ketika mengucapkan “ODE-ORU”, Uya mengangkat tangan kanannya yang terkepal, melepas ibu jari dan telunjuknya sebagai simbol “d”, jempol dan telunjuk itu kemudian dihadapkan ke atas membentuk “u”.

Dengan keberadaan Rumah Uya di seluruh penjuru tanah air, Uya optimistis semua warga negara yang bermasalah dengan Pancasila akan menemukan solusinya baik-baik. Mereka yang bermasalah akan dipanggil ke Rumah Uya, untuk menceritakan semua persoalannya, dan staf Rumah Uya akan memberikan layanan, resep, atau terapi tertentu agar “si pasien” sembuh dan kembali menjadi pancasilais.

“Oh iya, satu lagi, tadi Pak Presiden juga sudah setuju banget: Rumah Uya sebagai acara televisi akan ditayangkan setiap hari, di semua stasiun televisi, tiap jam sembilan malam, kayak Dunia dalam Berita dulu. Isinya nanti kompilasi terbaik, pilihan, dari semua praktek Rumah Uya.”

Karena telah masuk waktu Subuh, sesi tanya-jawab kemudian ditiadakan.

Selesai pertemuan, seperti biasa, wartawan Mandhaninews menemui sumber dalam istana untuk mengetahui “cerita di balik berita”.

Sang sumber menerangkan, pemilihan Uya Kuya sudah diperhitungkan masak-masak oleh Jokowi dan memiliki tujuan politik yang kental. Maksud Jokowi dengan ungkapan “pancasilais total” adalah meraih total suara pemilih pada Pilpres 2019.

“Di Solo kan Pak Jokowi pernah berhasil meraih 90.09 persen suara, sekarang Pak Jokowi berambisi meraih 100 persen suara,” ungkap sang sumber.

“Anda tahu siapa sasaran pertamanya? Pak Jokowi secara khusus memberi tugas pertama kepada Uya Kuya untuk ‘mengerjai’ Amien Rais.”

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.