Rabu, Oktober 28, 2020

UU Cipta Kerja, Wujud Keluhuran Para Anggota DPR

Tommy Soeharto dan Titiek Soeharto Dukung Jokowi 7 Periode

Setelah Jusuf Kalla (JK) dan Partai Perindo mengajukan gugatan di Mahkamah Konstitusi (MK) soal masa jabatan wakil presiden, Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto,...

Terbukti Lakukan Eksploitasi Anak, Pemerintah Dukung KPAI Bubarkan PB Djarum

Akhirnya pemerintah republik menyepakati usulan KPAI untuk membubarkan eksploitasi terselubung PB Djarum. Berdasar pengakuan tetangga dari Kementerian Kesehatan, Ibuk Romlah Sukasah, katanya kabar burung Kementerian...

Akademi Ilmu Berkuasa

Tiba-tiba saya teringat "Akademi Ilmu Berkuasa", kolom yang dimuat di edisi perdana majalah "Astaga" (1975), majalah humor terbaik Indonesia yang hanya terbit setahunan (sampai...

Hanung Bramantyo: Jokowi Akan Perankan Darsam di Film Bumi Manusia

“Hepi banget saya,” kata sutradara Hanung Bramantyo, “Pak Jokowi mengajukan diri untuk berperan sebagai Darsam di film Bumi Manusia yang akan saya garap.” Hanung merasa...
Yesaya Sihombing
Esais, Pemerhati masalah sosial budaya keagamaan

Keputusan DPR untuk mengesahkan Omnibus Law Cipta Kerja, membuktikan bahwa lembaga legislatif itu adalah lembaga tinggi negara yang paling menjunjung tinggi nilai luhur ke-Indonesia-an di negeri ini. Betapa tidak, walau dihajar beragam opini negatif dari sana sini, langkah DPR tetap tegap berderap untuk melanggengkan proses RUU Cipta Kerja menjadi Undang-Undang. Langkah yang tentunya disadari dengan sepenuhnya, sudah bikin banyak pihak mangkel bukan kepalang.

Berbeda dengan pembahasan RUU PKS yang mandeg, dan bahkan dikeluarkan dari prolegnas, pembahasan RUU Cipta Kerja dapat terus melaju. Dari kenyataan ini saja, kita sudah patut bersujud syukur, memiliki lembaga tinggi negara yang mau belajar dari kesalahan masa lalu. Jika RUU PKS gagal akibat pembahasannya dibilang rumit, maka segala sengkarut yang dihadapi RUU Ciptaker dapat diatasi dengan baik dan dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Terdengar mirip dengan kata-kata di proklamasi kemerdekaan RI, bukan? Itulah bukti para anggota DPR kita masih menjunjung nilai-nilai luhur dari para founding father bangsa ini. Kalau bisa dibikin singkat, kenapa harus dilama-lamain? Dengan demikian, para anggota DPR itu telah membantah tuduhan yang mengatakan bahwa mereka pro-investasi, pro-asing dan aseng. Tuduhan yang tak berdasar dan menyesatkan. Buktinya, rapat saja pakai prinsip proklamasi, kok.

Nilai luhur para anggota DPR semakin nyata ketika mereka menunjukkan sikap teguh hati yang sangat paripurna saat sidang paripurna. Entah apapun suara sumbang di luar sana, mereka tetap saja teguh pendirian untuk memuluskan pengesahan UU Ciptaker. Mereka tak peduli dengan suara para pengamat, para ahli, bahkan saran dari ormas seperti NU dan Muhammadiyah pun diabaikan. Lha kalau suara mereka saja diabaikan, apalagi suara netizen dan rakyat jelata. Ya, tho? Sungguh, suatu keteguhan hati yang mungkin hanya dapat dibandingkan dengan keras kepalanya Raja Firaun di Mesir dahulu kala.

Selanjutnya, bila diperlukan, para anggota DPR juga bisa bertindak layaknya hulubalang-hulubalang yang cekatan dalam melindungi kepentingan pimpinannya. Lihat saja, mereka dapat mematikan mic dari orang yang hendak menyuarakan pendapatnya. Tentu dimaklumi, suara-suara semacam itu hanya akan memperlambat proses pengesahan RUU. Mereka juga tak peduli dengan aksi walk out dari anggota lain. Tidak masalah, kok.

Lagipula, kalau walk out kenapa tidak dilakukan sejak rapat-rapat awal? Kenapa di saat-saat terakhir baru seakan-akan tak setuju dengan Omnibus Law? Sungguh, itu adalah sikap yang lemah dan munafik.

Yang tak kalah membanggakan, DPR Indonesia telah mengharumkan nama bangsa ini di kancah dunia. Berita tentang pengesahan RUU ini, beserta demo yang menyertainya, sampai-sampai dimuat oleh media-media kenamaan internasional. Salah satunya, theguardian. Kurang bangga apa lagi coba?

Dan lagi, sebagai pihak yang berperan penting dalam peningkatan listerasi bangsa, DPR berhasil membuat RUU ini menjadi sebuah karya yang tebalnya kurang lebih 900an halaman. Tulisan yang pastinya melebihi novel-novel kenamaan karya penulis-penulis legendaris dunia.

Di sisi lain, inilah bukti para anggota DPR dapat melakukan dokumentasi RUU dengan baik dan tepat guna. Ketika ada pihak yang memprotes pengesahan UU tersebut, tinggal dijawab saja, “Emangnya kamu sudah baca naskahnya?” atau “Ah, paling kamu hanya termakan meme yang beredar di medsos, baca dulu dong, baru protes”. Skak mat! Siapa sih, pendemo yang mau membaca naskah setebal itu?

Oh ya, ada lagi, para anggota DPR ini juga menunjukkan sifat adiluhung dalam wujud jiwa ksatria. Seperti yang diucapkan Aziz Syamsudin, legislator Golkar dari dapil Lampung, “Kalau tak percaya DPR, saat Pemilu jangan dipilih”. Simpel, kan? Ya, itulah jiwa ksatria, berani bertanggung jawab, pasang badan, apapun resikonya.

Terakhir, tapi bukan berarti tak penting, para anggota DPR memperlihatkan kekompakan yang luar biasa. Mereka mempertahankan prinsip ‘bersatu kita teguh, kalau pun bercerai, nanti kita bisa bersatu lagi’. Ya, walau ada sedikit drama dan penolakan dari fraksi Demokrat dan PKS, toh, RUU Ciptaker akhirnya diketok palu menjadi UU.

Kayak ga tau aja, DPR kita itu macam apa. Saat menjadi oposisi, ya memang perannya harus pakai drama dikit-dikitlah, biar seru. Setelah rapat berakhir, toh mereka akan duduk bareng sambil ngopi dan tertawa lepas sembari bisik-bisik, “Tadi protesnya kurang dramatis, Bang. Harusnya sambil pukul meja gitu, lho. Hahaha…”

Akhirnya, tugas DPR untuk mengesahkan UU Ciptaker sudah paripurna. Masih ada satu pihak lagi yang akan menentukan keberlanjutan UU ini, yaitu Presiden. Sekarang, bola ada di tangan Presiden Jokowi. Apakah Pak Presiden juga dapat menunjukkan nilai-nilai luhur yang sudah dicontohkan oleh para anggota DPR kita? Mari kita tunggu saja.

Yesaya Sihombing
Esais, Pemerhati masalah sosial budaya keagamaan
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Politik dan Monopoli Media Sosial

Saat ini, kita hidup di era cyberspace (dunia maya). Era yang pertama kali diperkenalkan oleh William Gibson dalam buku Neuromancer itu, dimaknai sebagai suatu...

Candu Media Sosial, Kajian Filosofis dan Psikologis

Bermain ria di “alam medsos” terkadang meng-asyikkan. Tapi akhirnya menganggap dunia nyata jadi tak menarik untuk bersosialisasi dan mengemban hidup secara hakiki. Untuk melihat...

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Mengenal Dua Tokoh Ateisme: Feuerbach dan Marx

Ludwid Feuerbach (1804-1872) dan Karl Marx (1818-1883) menjadi dua tokoh besar ateisme dalam sejarah peradaban manusia. Keduanya digolongkan filsuf materialistis karena bagi mereka pemikiran...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.