Rabu, Maret 3, 2021

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Jokowi Umunkan Program 1 RT 1 Rumah Baca

Pagi tadi, Sabtu 7 Juli 2018, Jokowi membatalkan beberapa proyek pembangunan jalan tol dan mengalihkan dananya untuk program "1 RT 1 RB" (Satu Rukun...

Park Chung-hee: Pemuda Idola Korea Sepanjang Zaman

Wawancara ini ditranskrip setelah saya berhasil melarikan diri dari ruangan gelap, di mana saya dipaksa makan samyang enam kali sehari, dan harus mendengarkan Park...

Ikuti Jack Ma Masuk Partai, Nadiem Makarim Resmi Bergabung ke PDIP

Beberapa teknopreneur terkemuka Indonesia, yang memiliki perusahaan bernilai jutaan dolar, resmi bergabung dengan PDIP dan menduduki jabatan penting dalam partai. Mereka antara lain Nadiem...

Wawancara Eksklusif Teroris Anggota ISIS

Pagi tadi, seorang anggota ISIS menepati janjinya. Ia datang ke kamar kos saya dengan hanya membawa pisau—ini lebih baik ketimbang perjanjian sebelumnya. Kami duduk...

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang cukup kunci dan menjadi penghubung antara kelompok mahasiswa Jakarta dan Bandung juga menjadi poros yang mempertemukan beberapa kelompok intelektual muda dengan kelompok militer yang kemudian menjadi para penguasa Orde Baru.

Ketika Orde Baru mulai eksis, Soe Hok Gie yang berharap pada orde baru ini bisa lebih baik dari orde lama justru harus menelan kekecewaan yang mendalam. Karena saat jatuhnya pemerintahan Soekarno yang kemudian menjadi presiden kedua Republik Indonesia diwarnai dengan sebuah drama kemanusiaan yang begitu pilu dan juga banjir darah. Telah banyak buku yang menjadi kesaksian mengenai hal ini, juga buku-buku hasil penelitian.

Namun, Soe Hok Gie barangkali adalah salah satu intelektual muda yang paling awal berani bersuara dan memprotes penangkapan, penyiksaan dan juga pembunuhan secara sewenang-wenang dan bertentangan dengan prinsip Hak Asasi Manusoa (HAM). Ini suatu hal yang barangkali tidak dilakukan oleh orang lain, apalagi mengingat histeria anti-Komunis yang digelorakan melalui operasi intelijen itu kemudian justru membenamkan hati nurani dan membenarkan tindakan balas dendam yang semena-mena kepada para PKI dan simpatisnya.

Gerakan penumpasan para anggota dan simpatisan, menurutnya pun berjalan dengan brutal dan tanpa mengindahkan hukum dan penghormatan hak asasi, dan lebih merupakan aksi balas dendam yang tak jelas juntrungannya. Fiksi atas kekejaman PKI yang dilakukan oleh Gerwani yang menyayat-nyayat kelamin para jenderal dengan silet di lubang buaya. Fakta dan fiksi jelas dua hal yang beda.

Fakta asli yang sebetulnya telah diungkap melalui publikasi hasil otopsi tim medis terhadap 6 jenazah jenderal dan seorang perwira yang dikubur di Lubang Buaya di kawasan Halim. Namun, fakta ini seperti disembunyikan rapat-rapat dan baru ditemukan oleh seorang Indolog dari Universitas Cornell, Ben Anderson yang menimbulkan kehebohan.

Menurut saya sendiri atas ringkasan artikel dan kumpulan harian yang ditulis Soe Hok Gie di atas, tidak seutuhnya benar. Karena beberapa kudeta besar-besaran yang dilakukan PKI sendiri mungkin sudah menimbulkan trauma bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Dibandingkan dengan peristiwa Gestapu sendiri, PKI Madiun lebih mengerikan. Beberapa korban bahkan ada yang dipenggal hidup-hidup adapun Gubernur Jawa Timur yakni Raden Mas Tumenggung Ario Soejo menjadi salah satu dari sekian banyaknya korban dari peristiwa pemberontakan PKI Madiun. Ia yang baru saja pulang dari pertemuannya untuk menghadiri peringatan 40 hari meninggalnya sang adik yang juga dibunuh oleh tokoh PKI. Disaat itu tubuhnya diseret ke dalam hutan dan dihabisi nyawanya, mayatnya pun dibuang ke sungai.

Tidak membela atas perlakuan pemerintah pada Orde Baru dan juga tidak menyalahkan. Kita sebagai generasi penerus, sudah sepatutnya mengungkap dengan senetral-netralnya. Mungkin pada saat itu, dengan tingkat kecerdasan masyarakat berbeda dengan masyarakat sekarang. Dan, itu digunakan Pak Harto sebagai sebuah strategi dengan rumor yang dijadikan sebuah propaganda untuk menggiring rakyat bertindak. Perlukah? Mungkin saat itu memang diperlukan. Salah? Benar?

Tergantung persepsi kalian sendiri-sendiri. Sisi baiknya adalah Pak Harto masih menunjuk dokter-dokter yang jujur untuk melakukan autopsi dan visum post mortem. Menandakan beliau ingin suatu saat, masalah ini terungkap kebenaran yang sebenar-benarnya.

Lepas dari semua itu, mari kita bersama-sama mendoakan para korban pembunuhan PKI. Kematian mereka, terlepas dari semua kontroversi adalah suatu titik balik dimana bangsa ini akhirnya menemukan jati dirinya.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.