OUR NETWORK

Paleo-Proksemik Soya

Lembaga Soya Ganda Negara (Lesgan). Lembaga ini merupakan lembaga ad hoc yang tidak berada di bawah kendali kementerian negara, tapi dibiayai oleh anggaran negara dan perjanjian antar pemerintah.
foto: tirto.id

“Ruang” adalah salah satu konsep utama dalam antropologi. Relasi antara “budaya” dan “ruang” nampaknya bisa digambarkan sebagai variabel sentral yang mempengaruhi perilaku manusia dan penginderaan yang dilakukan. Namun demikian, relasi “ruang” dalam antropologi nampaknya semakin mengalami perubahan.

Edward T. Hall melakukan penelitian mengenai pengaruh budaya pada persepsi sosial dan perilaku; kemudian di tahun 1963, teori proksemik diperkenalkan. Sebagai salah satu sub kategori dari komunikasi non-verbal, proksemik menyatakan bahwa manusia memiliki mekanisme pembuatan jarak yang natural, dan kemampuan ini dimodifikasi oleh budaya, yang membantu manusia untuk mengelola kontak dalam situasi atau interaksi sosial.

Hall mengungkapkan bahwa proksemik menjadi hal yang penting untuk diteliti karena tidak hanya terkait dengan bagaimana manusia berinteraksi dengan manusia lain dalam kehidupannya sehari-hari, tapi juga bagaimana manusia mengelola ruang di dalam tempat tinggal dan bangunan-bangunan yang mereka gunakan, serta tata letak kota yang mereka huni.

Persepsi manusia akan ruang berhubungan erat dengan tindakan, sehingga hal ini tidak dapat dipandang sebagai persepsi abstrak atau pasif. Selain itu, tingkatan-tingkatan dalam proksemik mengandung empat unsur “jarak”, yaitu: jarak intim, jarak pribadi, jarak sosial, dan jarak publik (Hall 1966:115).

Bila dikoneksikan dengan kebutuhan “ruang” dalam pekerjaan, proksemik memiliki keterkaitan dengan ergonomi, dimana ruang dan benda-benda (di dalam kota, di jalanan, di dalam bangunan, di seberang ruangan), dalam aspek morfologis dan fisiologis, membentuk kebutuhan manusia dan syarat-syarat psikologis dan estetika sesuai kebiasaan, perilaku, dan tuntutan budaya dari seorang individu (Castells 1980:118).

Dalam setting bekerja di kantor pemerintah, hubungan antar sesama kantor pemerintah, atau hubungan antara kantor pemerintah sebagai entitas dengan kelompok masyarakat yang datang (dengan maksud apa pun), bahkan hubungan internal di dalam unit badan tersebut tidak selalu sejajar, kondusif, dan saling mendukung.

Penginderaan dalam suasana kerja dapat muncul dari pengalaman sebelum memiliki relasi profesional dengan kantor tersebut, atau bahkan setelah mendapatkan “petunjuk-petunjuk” bagaimana seharusnya seorang karyawan berperilaku dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya sehari-hari.

Empat puluh lima tahun setelah pertama kali dirilis, Ardelean menawarkan pendekatan yang menyajikan perbaikan terhadap teori proksemik. Salah satu pondasi proksemik Hall adalah penelitian Hediger mengenai pendomestikan hewan. Menurut Hediger, proses pendomestikan hewan tidak hanya menekankan pada perlunya bagaimana kita memahami metode simbolisme sensor dari suatu spesies; kesalahan manusia yang paling utama dalam menerjemahkan perilaku hewan adalah dengan melihat komunikasi hewan sebagai manusia (anthropomorphizing).

Persepsi hewan dalam menggunakan penginderaannya menunjukkan bagaimana pembentukan jarak merupakan hasil dari pertimbangan teritorial. Bahkan, menurut Hediger, jarak kritis merupakan hal yang dapat diukur secara presisi dalam unit hitung sentimeter. Yang hendak diungkapkan oleh Ardelean adalah bahwa Hall nampaknya alpa mengeksplisitkan hubungan yang tidak sejajar antar kelompok masyakarat (paleo-proksemik).

Masyarakat, sebagai kelompok manusia dalam definisi organisme dinamik, bahkan dapat memandang sekelompok orang sebagai “spesies” yang berasal dari kelas sosial yang sama atau berbeda. Perbandingan ini dapat dianalogikan seperti kelompok hewan yang berasal dari spesies yang sama (kelinci dengan kelinci), kelompok hewan yang berasal dari spesies yang berbeda (anjing dengan kelinci), atau hewan dari kelompok yang sama namun dalam situasi terancam (terlalu banyak tikus dalam suatu habitat).

Sama halnya dengan hewan yang bisa hidup dalam lingkungan yang alami dan artifisial (misalnya, manusia adalah musuh artifisial untuk beruang), manusia pun memiliki kemampuan untuk hidup dalam kebudayaan yang timbul secara alami maupun artifisial.

Ardelean memang memperkenalkan paleo-proksemik secara formal untuk bidang arkeologi, namun karena konsep tersebut merupakan pengembangan khusus dari proksemik maka sepertinya paleo-proksemik dapat digunakan untuk memahami bagaimana ruang diciptakan dan dibentuk dalam kehidupan bekerja di kantor pemerintah.

Instansi pemerintah dengan pegawai swasta

Di Indonesia, UU No. 5/2014 tentang Aparatur Sipil Negara mendefinisikan bahwa Aparatur Sipil Negara (ASN) dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu: Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang bekerja pada instansi pemerintah.

PNS merupakan profesi yang bagi warga negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, diangkat sebagai Pegawai ASN secara tetap oleh pejabat pembina kepegawaian untuk menduduki jabatan pemerintahan – atau dengan kata lain, PNS yang secara umum dikenal dalam perspektif umum masyarakat Indonesia.

Sedangkan, PPPK adalah warga negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, yang diangkat berdasarkan perjanjian kerja untuk jangka waktu tertentu dalam rangka melaksanakan tugas pemerintahan. Kategori yang terakhir ini kerap disebut sebagai “konsultan pemerintah” (swasta).

PPPK sebagai PNS(wasta) bertugas sebagai elemen pendukung bagi PNS(ipil). Artinya, tidak ada satu pun kantor pemerintah di Indonesia yang hanya mempekerjakan PPPK saja. Namun demikian, tidak pernah diatur dalam undang-undang bagaimana komposisi PNS dan PPPK yang bekerja dalam suatu intansi pemerintah.

Tidak menutup kemungkinan bahwa dalam satu kantor pemerintah, jumlah PPPK lebih banyak daripada jumlah PNS. Bahkan, bisa jadi jumlah PNS yang dalam suatu lembaga pemerintah hanya dalam hitungan jari saja (biasanya menjabat posisi-posisi strategis), sedangkan jumlah PPPK yang direkrut lebih dari seratus orang.

Setidaknya skenario sedemikian yang terjadi pada Lembaga Soya Ganda Negara (Lesgan). Lembaga ini merupakan lembaga ad hoc yang tidak berada di bawah kendali kementerian negara, tapi dibiayai oleh anggaran negara dan perjanjian antar pemerintah.

Lesgan menjadi istimewa menurut pandangan para pemangku kepentingan kebijakan pemerintah, karena lembaga ini dimandatkan untuk merancang seluruh program yang berelasi dengan kedelai (selanjutnya disebut “soya”) secara holistik di tingkat nasional. Ups, sebagai bagian dari Lesgan, bertanggung jawab untuk memiliki, menjaga, dan mengelola data-data para petani soya dan setiap kandidat potensial petani soya.

Tidak hanya itu saja, informasi yang disimpan oleh Lesgan, melalui Ups, juga mencakup data rumah tangga, keluarga, dan kerabat para petani soya dan kandidat potensial petani soya (bahkan jumlah dan nama istri atau suami petani dan kandidat potensial petani pun bisa diketahui).

Oleh karena itu, kantor Lesgan selalu didatangi tamu dengan beragam tujuan, mulai staf Bappeda yang berkonsultasi tentang anggaran daerah dan program terkait soya di daerah hingga akademisi yang ingin mendapatkan informasi untuk penelitian; dari masyarakat umum yang datang secara pribadi sampai mereka yang datang secara berkelompok dan membawa spanduk; atau sesama APN yang bekerja di instansi pemerintah lainnya hingga sesama PPPK yang berasal dari unit kerja lain dari lingkungan Lesgan.

Sebenarnya Lesgan masih memiliki 15 divisi lain selain Ups. Tapi Ups dianggap memiliki signifikansi khusus karena pemerintah menetapkan Surat Keputusan (SK) yang terang-terangan menyebutkan dan meresmikan keberadaan Ups sebagai bagian dari Lesgan yang melakukan pengelolaan data. Penetapan SK tersebut menimbulkan hak istimewa, dimana Ups dibolehkan melakukan perencanaan dan pengajuan anggaran secara terpisah dari Lesgan.

Para karyawan Ups, sebagai bagian khusus, dari Lesgan, dapat dikategorikan ke dalam empat sub-unit, yaitu: administrasi, penelitian, data statistik dan perundang-undangan, dan teknologi informasi. Setiap bagian memiliki karakteristik yang khas, dan yang akan dijelaskan lebih rinci dalam tulisan ini adalah mengenai sub-unit data statistik dan perundang-undangan yang bertugas memberikan penjelasan kepada setiap pemangku kepentingan yang datang ke Ups dengan tujuan melakukan konsultasi data.

(Paleo-) Proksemik dan Ups

Paleo-proksemik, yang ditawarkan Ardelean, merupakan cabang khusus proksemik untuk mempelajari pola-pola proksemik dari sekelompok orang dan kelompok-kelompok sosial yang terjadi di masa lalu melalui analisis catatan-catatan penelitian untuk meningkatkan kapasitas penjelasan dan pemaknaan ilmiah.

Sama sekali tidak berlawanan dengan teori proksemik, pendekatan paleo-proksemik bertujuan untuk melakukan penyesuaian (terutama dalam bidang arkeologi) untuk mengetahui pentingnya perilaku proksemik sebagai bagian organik dari realitas manusia dan sebagai faktor kausal relevan yang terkait dalam penetapan dimensi fisik-antropik dari ruang sosial.

Yang dimaksud sebagai “pola-pola proksemik” oleh Ardelean adalah sintesa dari perilaku dan sikap yang relatif dapat diprediksi dan mungkin terjadi dari setiap anggota unit sosial budaya di dalam konteks tertentu dan lingkungan spesifik dari antar-muka ruang kelompok masyarakat.

Proksemik klasik menyatakan adanya dua jenis ruang. Pertama, ruang dibentuk dari penginderaan biologis manusia yang digunakan untuk mengekstrak informasi dari ruangan (“ruang” didefinisikan oleh sentuhan, suhu, pendengaran, penglihatan, dan bau). Kedua, ruang dibentuk oleh jarak (jarak intim, jarak pribadi, jarak sosial, dan jarak publik), dimana pengambilan jarak juga didasarkan pada organ-organ sensorik. Paleo-proksemik memungkinkan dipahaminya bagaimana ruang terjadi pada jarak yang memang sengaja dibentuk secara sosial.

Secara sosial, jarak yang pertama kali diambil Lesgan terdapat dalam penggunaan bahasa dalam nama. Alih-alih menggunakan “kedelai” atau “kedele” yang lebih akrab dalam Bahasa Indonesia, kata “soya” dipilih karena lebih mengisyaratkan kesan yang prestisius.

Karena tidak semua petani soya mengetahui bahwa “soya” adalah “kedele”, maka ketika ada kekesalan masif di kalangan petani (yang mengakibatkan terjadinya melakukan unjuk rasa), akan diperlukan waktu lebih lama untuk mencari kantor yang “mengurusi” per-kedele-an, karena Lesgan “mengurusi” per-soya-an. Walaupun kemudian, mungkin, rombongan yang berunjuk rasa akhirnya mengetahui fungsi Lesgan, paling tidak Lesgan memiliki waktu untuk bersiap-siap lebih dulu.

Pola Perilaku dan Pola Proksemik

Nyaris seluruh ruang dibentuk dan jarak yang diambil Ups dapat dikategorikan artifisial. Keartifisialan ini nampak tulen sehingga tamu yang datang berkunjung dan tidak memiliki kepekaan yang sejalan akan merasa bahwa ruang dan jarak yang terjadi memang muncul secara alamiah.

Ada tujuh karyawan Lesgan yang termasuk dalam sub-unit data statistik dan perundang-undangan. Tidak terlalu banyak, apalagi bila dibandingkan dengan 497 pemerintah kabupaten/kota dan 33 provinsi yang ada di Indonesia.

Bila dianalogikan dengan pekerjaan lain, maka tujuh karyawan Lesgan tersebut sepertinya dapat diumpamakan seperti customer service officer pada industri perbankan. Sama seperti karyawan bank, tujuh karyawan berstatus PPPK tersebut harus berpenampilan dan bertutur profesional, karena mewakili nama pemerintah pusat. Keharusan ini berlaku untuk setiap karyawan Lesgan, sehingga setiap tamu yang datang ke kantor Lesgan akan disapa dengan sebutan “Bapak” atau “Ibu”.

Setiap karyawan Lesgan pasti mengikuti kelas bimbingan sesuai keperluan unit kerjanya. Para karyawan Ups di sub-unit data statistik dan konsultasi pun sedemikian, mereka mempelajari materi tentang bagaimana cara menghadapi dan menangani pengunjung yang datang. Bahkan, pimpinan sub-unit data statistik dan perundang-undangan pun kerap memberikan pengayaan materi sendiri kepada anggota timnya.

Jarak yang diterapkan, diambil, dan ditetapkan oleh pimpinan sub-unit kepada anggota tim menjadi dasar utama pembentukan ruang saat mereka menemui pemangku kepentingan Lesgan yang datang untuk melakukan konsultasi tentang data statistik dan perundang-undangan.

Hal itu dapat terbaca dari durasi waktu yaitu setiap pertemuan rata-rata berdurasi selama 15 menit di ruangan rapat khusus; gaya bahasa dalam kalimat yang digunakan (formal bila menemui jurnalis dan akademisi; akrab atau datar bila menemui staf pemerintah daerah, dll.

Intonasi suara selalu dalam gelombang beta dengan kisaran nada do=D atau do=Cminor (hanya digunakan orang-orang tertentu saja); cara menempatkan diri di hadapan tamu yang selalu berada di seberang tamu pada sisi yang berhadapan dengan pintu ruangan agar wajah tamu dapat direkam dengan jelas di kamera CCTV; suhu ruangan disetel di 18° Celcius; bahkan sampai dengan cara menghapus keringat di dahi yang tidak menggunakan tisu atau sapu tangan, cukup menekan bagian alis sedikit.

Bila permintaan untuk berkonsultasi datang melalui telepon, maka strategi yang digunakan akan dititikberatkan pada intonasi suara dengan gelombang beta rendah dengan kisaran nada do=D atau do=F, khusus untuk orang-orang tertentu do=Aminor; diksi yang digunakan menyesuaikan dengan identitas penelpon (sangat mungkin menggunakan bahasa daerah); dan kecepatan berbicara yang lambat dan agak diayun.

Tujuan setting pada pertemuan antar-muka bertujuan untuk membuat pengunjung cepat pulang dan tidak mengajukan terlalu banyak pertanyaan. Sedangkan, pada konsultasi per telepon, setting dijaga agar atmosfir tetap penelepon merasa tetap nyaman sehingga tidak dapat mengingat rinci setiap pertanyaan yang ingin diajukan.

Lesgan tidak ingin terkesan pelit informasi dan kaku sebagai instansi pemerintah, tapi respon terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diberikan akan sangat mungkin disalahartikan, dan dapat menimbulkan ambiguitas dalam pemaknaan di masyarakat. Oleh karena itu, Lesgan menggunakan kebijakan fleksibilitas terkendali dalam komunikasi.

Berseberangan dengan Hall yang menyatakan bahwa persepsi manusia akan ruang sangat tergantung dengan tindakan. Ardelean berpendapat bahwa salah satu dari kealpaan teori klasik proksemik adalah diabaikannya signifikansi dari kelompok-kelompok sosial sebagai unit observasi dan analisis dasar, serta penggunaan klaster dan jumlah individu yang kesesuaiannya didasarkan tidak pada kriteria-kriteria yang mencolok secara sosial dan disengaja, tapi hanya berdasarkan kebetulan belaka.

Pendekatan paleo-proksemik memungkinkan dilakukannya analisis dan pemaknaan terhadap jarak yang diambil dan ruang yang terbentuk dari perjumpaan yang terjadi secara tidak langsung.

Situasi yang berbeda terjadi saat permintaan konsultasi disampaikan pemangku kepentingan melalui surat elektronik (surel). Tidak ada seorang pun anggota tim yang mau memberikan respon langsung kepada pengirim surel bila tidak ada contoh balasan (untuk pertanyaan yang mirip atau serupa) atau instruksi dari pimpinan sub-unit.

Permintaan yang disampaikan ke Ups melalui surel, selazimnya juga dibalas melalui surel. Akan tetapi, komunikasi tertulis merupakan komunikasi yang paling dihindari, karena dianggap sensitif dan mudah disalahartikan. Anggota tim Ups enggan memberikan respon apapun secara langsung karena menghindari kemungkinan melakukan kesalahan (alasan yang umum diberikan adalah: “menunggu disposisi”), di mana keengganan ini menyebabkan pihak penanya berupaya menutup jarak dengan menghubungi bagian administrasi Lesgan secara repetitif.

Pada saat sedemikian, Lesgan melalui Ups akan semakin berusaha membentuk ruang yang terkesan fleksibel dengan jawaban: “kami akan segera menghubungi Bapak/Ibu kembali sore ini.” Bila sudah ada contoh balasan atau instruksi yang diberikan, maka sebagian besar inti jawaban adalah seragam.

Keseragaman jawaban juga disebabkan karena mayoritas pertanyaan yang disampaikan juga seragam; namun seringkali respon yang diberikan memang formalitas semata –sebagai tindakan atas jawaban yang diberikan sebelumnya lewat telepon.

Hall, menurut Ardelean, pernah beberapa kali menggunakan istilah pola-pola proksemik, tapi tidak ada definisi eksplisit yang menggambarkan kerangka konseptual dari terminologi tersebut. Lebih jauh lagi, nampaknya ada kecanggungan dalam menafsirkan perilaku proksemik atau pola-pola perilaku. Ardelean menawarkan bahwa pola-pola proksemik dapat didefinisikan sebagai pola-pola perilaku yang berasosiasi dengan beragam tingkatan dari kedekatan-jarak (proximity).

Pada relasinya dengan pola-pola proksemik, tindakan dari tujuh konsultan data statistik perundang-undangan di Ups memang secara sengaja diterapkan untuk mendapatkan reaksi yang sebelumnya diprediksi. Kedekatan-jarak dalam ruang sosial yang dibentuk antara konsultan data dan pemangku kepentingan merupakan hal yang cenderung dianggap alami oleh pemangku kepentingan, tapi konsultan data menyadari dengan benar keartifisialan ruang sosial tersebut dan atmosfir di dalamnya.

Akhirnya, paleo-proksemik membuka penjelasan akan kemungkinan bahwa individu akan terpengaruh dan terbentuk dari lingkungan kebudayaan yang alami dan artifisial. Salah satu elemen dalam (paleo-)proksemik adalah suara. Seturut dengan proksemik klasik, manusia mengambil jarak karena adanya fenomena yang berkaitan dengan suara, tekanan nada, dan tinggi nada dalam berbicara. Dalam proksemik klasik, hal-hal sedemikian merupakan bagian integral dari orang yang berbicara dan tidak dapat dimanipulasi dengan sadar.

Pendekatan paleo-proksemik menjelaskan bahwa dalam situasi yang dilatih dan tertentu, seseorang dapat melakukan manipulasi secara sadar terhadap elemen suara. Akan tetapi, paleo-proksemik menyatakan bahwa justru dalam situasi sehari-hari yang tidak dilatih, secara tidak sadar, orang tersebut akan tetap melakukan manipulasi terhadap elemen suaranya.

Dalam proksemik klasik, Hall kerap menyebutkan hidden dimension sebagai penjelasan mengapa seseorang mendadak tampak ramah, datar, bengis, dll. Ardelean menawarkan gagasan bahwa hidden dimension tersebut merupakan efek artifisial yang telah diprediksi.

Lusiana Rumintang
Mahasiswi Program Doktor Antropologi FISIP UI Angkatan 2019

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.