Senin, Januari 18, 2021

Menurut Survei Internal, Pak Amien Layak Jadi Pahlawan Bersama Polpot

Vladimir Putin: Prabowo Subianto Fadli Zon Bukan Pegawai Rusia

Gerah mendapatkan tautan di semua platform media sosial dari netizen Indonesia mengenai Prabowo Subianto dan Fadli Zon, pemerintah Rusia akhirnya merasa perlu menanggapi secara...

Allahu Akbar! Inilah Hasil Pertemuan Amien Rais dan Mahathir Mohamad

Akhirnya Ketua Dewan Penasehat Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais menyatakan diri siap menjadi calon presiden pada 2019. Salah satu yang membuat dirinya mantap...

Jokowi Umumkan Uya Kuya Pengganti Yudi Latif di BPIP

Tak perlu waktu lama bagi Jokowi menemukan pengganti Yudi Latif untuk menduduki jabatan strategis Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Pilihannya jatuh kepada sosok...

Tiru Bukittinggi, Walikota Yerusalem Larang Perempatan Karena Mirip Salib

Nir Barkat, Walikota Yerusalem menggemparkan publik kota itu setelah melarang adanya perempatan atau simpang empat di kotanya. Hal ini ia ambil setelah menelaah dan...
Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.

Setelah mengumumkan kemenangan berdasarkan survei internal, kini kubu 02 mengumumkan bahwa Amien Rais dinyatakan layak untuk diberi gelar pahlawan. Pernyataan ini disampaikan menyusul sikap Amien Rais yang dianggap konsisten melawan rezim sejak rezim orde baru, rezim Megawati hingga Rezim cebong.

Teguh Jambu, Juru bicara BPN menyebutkan konsistensi pak Amien yang anti-sains dan anti-ilmu pengetahuan sungguh mengagumkan. “Beliau ini mirip Polpot. Pokoknya kalau ada orang sekolahan, beliau lawan,” katanya. Pak Amien menurut BPN sudah layak menjadi guru bangsa. “Beliau ini bisa bicara sama Allah, tahu maksudnya Allah, bisa membedakan mana partai setan dan mana partai Tuhan,” kata Teguh. Jika selama ini orang kuliah di Amerika pulang ke Indonesia jadi liberal, berbeda dengan pak Amien. “Beliau sekolah jauh ke Amerika tidak jadi liberal, pulang jadi ahli nujum, bisa tahu kehendak Allah,” kata Teguh.

Baru-baru ini Paduka Yang Mulia Kyai Profesor Amien, begitu ia ingin disapa, menyatakan bahwa belum pernah seumur hidup ia melihat Pemilu yang demikian rusak, demikian keji, dan demikian kacau. “Hanya di rezim Jokowi,” katanya. Sikap ini, menurut Paduka Yang Mulia Kyai Profesor Amien diambil berdasarkan perasaan yang ia alami. “Di jaman orde baru ngga kaya gini. Lebih demokratis,” katanya.

Jaman Pak Harto demokratis, karena anda punya tato, tembak mati via Petrus. Menolak pembangunan? Ya tuduh PKI. Gampang. Sekarang jaman Jokowi semua serba susah. Masak mau kritik aja bebas, ngga ada itu jaman pak Harto Kamisan. Di Jaman Jokowi, Kamisan dibiarkan, ngga ditengok. “Ini kan buruk, masak mau Biarin pejuang HAM menuntut keadilan, nanti apa? Jangan-jangan gelar bapak reformasi saya diambil juga,” katanya khawatir.

Menurut Paduka Yang Mulia Kyai Profesor Amien, Kalau jaman pak Harto, Pemilu merupakan syarat, sekedar gaya-gayaan, karena pemenang Pemilu sudah ditetapkan yaitu Golkar. Kini lebih gila, lebih ancur, dan lebih dekaden. “Bayangkan satu orang satu suara, satu orang bisa memilih Presiden. Ini kan gendeng,” katanya. Paduka Yang Mulia Kyai Profesor Amien menyatakan Pemilu orde baru lebih demokratis, karena presiden dipilih berdasarkan musyawarah. “Rakyat yang goblok ini kan ga perlu dikasih hak milih, cukup kita-kita aja yang pinter,” katanya.

Indonesia dianggap mengalami kemunduran besar. Jika dulu cukup partai Golkar menang maka Pak Harto bisa langsung jadi Presiden, sekarang orang bisa mencalonkan diri jika diusung oleh cukup partai. “Ini kan kemunduran besar. Sudah benar Presiden dipilih oleh ulama, oleh umaro, kaya khilafah, ngga usah satu suara satu orang, jadinya kan demokrasi thagut. Yang bener itu kaya dulu,” kata Paduka Yang Mulia Kyai Profesor Amien.

Pemilu kali ini juga dianggap luar biasa mengerikan. Jika jaman pak Harto, daerah yang tidak memenangkan Golkar akan sengsara, di bawah Jokowi semua daerah dibangun. Mau dukung atau tidak, mau Cebong atau tidak, infrastruktur dibangun merata. “Jokowi ini sudah melanggar kitah orde baru, melanggar tradisi, tidak benar,” kata Paduka Yang Mulia Kyai Profesor Amien. Menurutnya sudah benar, daerah yang tidak memenangkan Presiden maka jangan dibangun, dibiarkan sengsara, biar tahu rasa, ini kok malah dibangun merata. Dikira Presiden bekerja untuk rakyat, di mana mana Presiden ya bekerja untuk pendukungnya.

Paduka Yang Mulia Kyai Profesor Amien mengusulkan agar Pak Prabowo yang jadi Presiden-presidenan, meniru jejak Idi Amin. Salah satu pemimpin revolusioner di Afrika. “Beliau itu kan sama-sama militer, sama-sama merintis dari bawah, sama-sama anti-aseng, ya bedanya pak Prabowo lebih ganteng,” kata Paduka Yang Mulia Kyai Profesor Amien. Begitu nanti kabinet-kabinetannya terbentuk, dan Paduka Yang Mulia Kyai Profesor Amien berharap bisa jadi penasehat pura-puranya Presiden. Menyerukan orang aseng keluar dari Indonesia. “Biar nanti kita yang punya tanah banyak, kaya saya di Jogja,” kata beliau.

Masalah terbesar Indonesia, kata Paduka Yang Mulia Kyai Profesor Amien, paska reformasi terlalu banyak orang asing keturunan Tionghoa dan Arab yang berkuasa. Yang Tionghoa jadi pebisnis, hingga bisa bikin unicorn, sementara yang Arab jadi ulama-ulamaan, kaya Bahar bin Smith yang doyan tinju itu. “Lha kalau semua lapak diambil orang asing, saya ini mau jadi apa? Ulama nanggung, mau bikin start up bingung,” kata Paduka Yang Mulia Kyai Profesor Amien.

Paduka Yang Mulia Kyai Profesor Amien juga mendukung sikap Pak Prabowo yang bilang para ahli survei ke Antartika saja. “Lho ya gimana. Saya ini sekolah sekian tahun di Chicago, tahu artinya survei politik. Lha kalau masyarakat semua pinter, siapa yang akan dibodohi pake agama? Nanti kalau semua kritis, mana ada yang percaya kalau Allah bilang ini itu, lapak saya kan sepi, saya ga laku,” katanya mengiba.

Ini mengapa Paduka Yang Mulia Kyai Profesor Amien mendorong perang terhadap ilmu pengetahuan. Filsafat, Matematika, Politik, Bahasa, segala jenis pendidikan harus dilarang. Semua orang harus bisa mengaji baca tulis Arab, tak perlu belajar Statistik, Matematika. Ilmu pengetahuan membuat orang jadi kritis, mereka tidak akan percaya lagi sama kurma dan bekam kalau tahu manfaat vaksin. Orang akan berhenti minum kencing onta kalau tahu manfaat imunisasi, bayangkan berapa banyak bisnis orang Islam yang hancur Karena ini. “Harus dilawan itu pengetahuan, bahaya. Nanti orang ga percaya lagi saya bisa ngerti kehendak Allah,” katanya.

Bahaya Matematika adalah orang bisa tahu bahwa quick count dan survei dibangun dari sains. Bisa dipertanggungjawabkan secara metodologis, dan ada ilmunya. Berbeda dengan partai Allah atau Partai Setan, atau air kencing onta, menurut Paduka Yang Mulia Kyai Profesor Amien, sains bisa membuktikan secara keilmuan mengapa pak Prabowo kalah. “Nanti saya jadi apa kalau orang tahu pak Prabowo kalah beneran?,” katanya mengiba.

Ke depan, Paduka Yang Mulia Kyai Profesor Amien mendorong pendidikan liqo terpadu. Isinya mengapa bumi datar, bahaya vaksin, dan mengapa menikah perempuan usia 14 tahun sesuai Sunah dan aman punya banyak anak. Menurutnya semua sudah diatur dalam agama, semua sudah bener, ngga perlu lagi aneh-aneh. “Di akherat ngga ditanya berapa dua tambah dua, tapi ditanya milih Prabowo apa Nggak,” kata beliau.

Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.
Berita sebelumnyaInstagram
Berita berikutnyaMenanti Pemimpin Idaman
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Dilema Vaksinasi dalam Menghadapi Masa Transisi

Pandemi covid-19 telah membawa perubahan kebiasaan yang fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Selama masa pandemi, kebiasaan-kebiasaan di luar normal dilakukan dalam berbagai sektor, mulai dari...

Wacana sebagai Represifitas Tersembunyi

Dewasa ini, lumrah dipahami bahwa represifitas diartikan sebagai tindakan kekerasan yang berorientasi pada tindakan fisik. Represifitas juga acap kali dikaitkan sebagai konflik antara aparatus...

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

penerapan etika bisnis dalam CSR dan lingkungan hidup

Di dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif menuntut para pembisnis untuk meningkatkatkan daya saingnya. Namun kebanyakan dari mereka masih belum mengerti bagaimana...

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.