Rabu, Januari 20, 2021

Menjadi Manusia yang Berempati Terhadap Kelas Pekerja

Allah SWT via Roy Kiyoshi: Saya Desak Ali Mochtar Ngabalin Berpihak ke Jokowi

Roy Kiyoshi tiba-tiba ambruk. Para penonton di studio yang menonton langsung acara Kurma bengong. Tatapan mereka kemudian beralih ke arah para kru televisi yang...

Amien Rais Minta Dukungan FPI, Rizieq Shihab Siap (Fiksi)

Dikecam habis-habisan seputar pernyataannya tentang tuhan malu, Ketua Majelis Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais melakukan klarifikasi melalui akun Instagram amienraisofficial. Amien menyebut dia...

Amien Rais Ingin Menjadi Pelatih Timnas Allah

"Kalaupun bisa, mereka tidak akan berani melakukannya," jawab Amien Rais saat ditanya mengenai rencananya melatih Timnas. "Allah pernah mengusir Adam dan Hawa dari surga,...

Pangeran Saudi Tak Sudi Temui Amien Rais, Prabowo, dan Rizieq Shihab

Di tengah kabar kudeta dan pembunuhan terhadap dirinya yang dilansir beberapa media internasional, termasuk media-media Iran yang notabene musuh besar Arab Saudi, Pangeran Muhammad...
Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.

Tetangga saya di rumah bilang, jadi petani itu lebih mudah daripada jadi penulis. Selama lebih dari 40 tahun dia menjadi petani, bangun pagi, menggarap sawah, menanam padi, hingga memanen baginya adalah pekerjaan mudah. Maka saat ia meminta saya mengajari cara memakai ponsel, dia bingung luar biasa.

Lebih baik mencangkul seharian daripada menulis WhatsApp. Hurufnya kecil, layarnya terlalu terang, aplikasi terlalu banyak, hingga bingung cara mencari nomor. Kemajuan teknologi baginya adalah hal celaka. Dulu, untuk menelpon saudara, tetangga saya hanya perlu ke Wartel. Tekan nomor, bicara, bayar, selesai. Teknologi membuatnya bingung.

Suatu hari tetangga saya bilang, ia liat Tv di hape, maksudnya YouTube. Dia liat petani di Jepang punya mesin untuk menanam dan memanen padi. Jika selama ini untuk memanen dia butuh banyak orang, dengan mesin itu ia hanya butuh satu orang, dirinya sendiri.

Saya bilang teknologi ini udah ada di Indonesia, sudah ada yang menggunakan. Sederhana sekali, mesin yang serupa mobil, memotong padi, lalu mengolahnya menjadi gabah. Ia bilang ini jenius, ia tak perlu lagi butuh buruh tadi, ia butuh satu mesin maka akan bisa memanen sendiri dan menjual gabah ke pengepul keuntungan lebih banyak.

Berkah buat tetangga saya yang punya tanah, modal, dan alat produksi. Ini tentu bencana bagi mereka yang hanya jadi buruh tani. Tak punya keterampilan lain, pendidikan terbatas, dan hanya mampu menjual tenaga. Pekerjaan mereka terancam mesin, artinya, dalam masa depan teknologi pertanian, buruh tani tak dibutuhkan, mereka akan punah kalau tak beradaptasi.

Masalahnya adalah para buruh tani ini puluhan tahun hanya mengembangkan kemampuan memanen, menanam, dan memilah gabah. Boro-boro mau belajar koding, trading, atau editing video. Buat cari pekerjaan sebagai penjaga toko atau buruh angkut pasar aja susah. Tetangga saya yang bekerja sebagai buruh tani, saat musim kemarau, jadi pembantu dengan bayaran 15 ribu perhari. Mereka jelas tak akan bisa bertahan di zaman start up unicorn.

Jika kamu merasa superior karena bisa beradaptasi, ya bagus. Cuma mungkin perlu memeriksa privilese. Kecemasan kelas buruh karena mesin dan robot nyata. Bertahun-tahun mereka dibuat seperti sekrup untuk korporasi, saat sekrup itu haus, mereka dibuang dan diganti dengan teknologi baru.

Bagus jika anda punya privilese untuk belajar koding, belajar trading, atau editing yang membuat anda bisa mendapat penghasilan tambahan. Mengejek kelas buruh karena tak punya waktu senggang untuk belajar beradaptasi dengan zaman itu keji. Anda sekalian tak punya beban seperti mereka dan kelas buruh tak punya privilese seperti anda.

Perkembangan zaman memudahkan mereka yang punya akses, punya pendidikan, dan yang jelas punya kelebihan daripada yang lain. Jika kamu digital native, punya daya pikir kritis, memiliki modal untuk investasi, dan jaringan untuk diakses maka kamu lebih aman daripada kelompok buruh yang mesti bekerja 12 jam sehari, 6 hari seminggu dengan waktu istirahat terbatas dan tak punya waktu untuk belajar.

Ini mengapa, mengejek buruh dengan sebutan pemalas, tidak mau belajar, dan tak bisa beradaptasi adalah kesombongan atau kebebalan luar biasa. Jika buruh punya akses pendidikan, melek internet, punya jaringan, memiliki akses, dan tabungan modal, tentu mereka tak hendak jadi buruh. Mungkin mereka akan buka tabungan reksadana, jadi trader, atau mungkin bikin start up.

Tentu mudah bagi saya untuk bilang, jangan jadi buruh, mending jadi penulis konten atau jadi selebgram. Dengan Instagram, satu post bisa dapat bayaran 2 juta, kalau udah sukses kaya Awkarin bisa 30 juta per post. Tapi tetangga saya tidak tahu siapa Awkarin, tidak paham Instagram, dan tidak paham semua itu tidak lantas membuat dia kurang jadi manusia.

Saya tidak tahu bagaimana cara menanam padi, memupuk, memanen, dan memilah gabah jadi beras. Tapi saya tahu cara bikin konten menjadi viral, saya tahu bahwa jadi YouTuber dan mendapat penghasilan dari ads jauh lebih tinggi daripada sekadar jadi buruh.

Tapi saat ini ada 30 juta buruh di Indonesia kurang lebih. Mereka tentu tak bisa jadi selebgram semua, atau YouTuber, atau pro game, sebagian besar dari mereka mungkin hanya bisa jadi buruh dan itu tidak membuat mereka jadi lebih inferior daripada jadi karyawan di gedung, konten kreator, atau trader di pasar saham.

Tidak semua orang bisa jadi wiraswasta, tidak semua orang bisa jadi YouTuber, tidak semua orang bisa jadi penulis. Tapi saya kira, setiap manusia bisa punya empati dan sikap rendah hati. Menepuk dada sembari bilang bahwa anda bisa sukses hidup dengan berwiraswasta atau jadi pemain saham tidak berarti semua orang bisa melakukannya. Terutama mereka yang mesti bekerja 6 hari seminggu dengan lembur tanpa ada waktu belajar teknologi dan perkembangan zaman.

Amazon di Amerika telah membuat perangkat lunak yang menilai manusia atau buruh berdasarkan algoritma. Mereka bisa dipecat oleh kecerdasan buatan jika performa mereka turun. Tapi siapa yang bisa mengukur kecerdasan buatan tadi? Kecerdasan buatan tak punya keluarga, tak butuh istirahat, tak bisa sakit, tak bisa lelah, dan mereka jelas tidak punya depresi. Sementara manusia punya.

Kalau bisa, jangan merendahkan ketakutan kelas buruh karena mereka akan diganti robot atau mesin. Suatu saat, jika kemampuan anda dirasa tak diperlukan juga akan diganti. Korporasi akan mengeruk keuntungan lebih banyak dan anda hanya dianggap sebagai remah yang dibuang karena tak mampu beradaptasi.

Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Itu Teo Demokrasi dan Nasionalisme?

Apa itu Konsep Teo Demokrasi? Teo demokrasi terdiri dari gabungan kata yaitu teologi yang berarti agama dan demokrasi yang terdiri dari kata demos berarti rakyat dan...

Menilik Superioritas Ras dalam Film Imperium

Film Imperium yang ditulis dan disutradarai oleh Daniel Ragussis adalah sebuah film thriller yang menampilkan usaha seorang karakter utama yang mencoba untuk “masuk” ke...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

ARTIKEL TERPOPULER

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Bagaimana Masa Depan Islam Mazhab Ciputat?

Sejak tahun 80-an Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta dikenal "angker" oleh sebagian masyarakat, pasalnya mereka menduga IAIN Jakarta adalah sarangnya orang-orang Islam liberal,...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.