Minggu, Januari 24, 2021

Secarik Pledoi untuk Akhi Gilang Kazuya Shimura

Sikapi Polemik, MUI Akan Keluarkan Fatwa Terkait Mi Instan Paling Enak

Ma'ruf Ridhoi, ketua Majelis Umatmi Indonesia, mengaku prihatin atas polemik mie instan paling enak yang saat ini sedang terjadi. Seperti diketahui, polemik mi instan...

Tiru Bukittinggi, Walikota Yerusalem Larang Perempatan Karena Mirip Salib

Nir Barkat, Walikota Yerusalem menggemparkan publik kota itu setelah melarang adanya perempatan atau simpang empat di kotanya. Hal ini ia ambil setelah menelaah dan...

Ini Dia Bocoran Hasil Pertemuan Amien Rais dan Jokowi

Tiba-tiba kehebohan terjadi di kompleks perumahan Kampung Sawit Sari, Depok, Sleman, Yogyakarta. Rupanya Jokowi melintas di situ dan beberapa warga yang sedang asyik berolah...

Wawancara Eksklusif Teroris Anggota ISIS

Pagi tadi, seorang anggota ISIS menepati janjinya. Ia datang ke kamar kos saya dengan hanya membawa pisau—ini lebih baik ketimbang perjanjian sebelumnya. Kami duduk...
Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.

Tolonglah, jika Anda beriman dan beragama yang benar (yaitu Islam), tolong baca naskah pembelaan untuk Akhi Gilang Kazuya Shimura ini sampai selesai. Jika sudah, jangan lupa sebar di grup-grup WhatsApp Anda, terutama jika hendak melawan partai setan dan mengganti presiden 2019 nanti.

Bismillah ….

Saudara-saudaraku yang muslim. Tolong, yang muslimah mintalah izin kepada suami atau wali Anda sebelum membaca. Afwan, ana tidak mau terkena dosa karena Anda membaca sesuatu tanpa izin suami atau wali. Karena begitulah tempat perempuan seharusnya, di belakang suami. Terang benderang seperti petuah Bos Gilang Kazuya Shimura Honda Yamaha terdahulu, ketika menjawab kritik Tante Kalis Mardiasih, bahwa banyak perempuan s3 kenalannya justru hanya jadi ibu rumah tangga. Perempuan kok mau memajukan agama, apalagi sains, itu mah tugas laki-laki.

Sejak saya membaca maklumat Suhu Gilang soal perempuan, pandangan saya terbuka benar. Bukan apa-apa, saya kira dulu posisi perempuan dan laki-laki itu setara. Ternyata tidak. tapi soal ini kita bahas lain kali saja.

Saya ingin membela status Akhi Gilang Kazuya Shimura soal buka puasa yang diejek banyak orang.

Saya melihat banyak orang berlaku tidak adil. Mereka itu suka teriak-teriak toleransi tapi tidak bijak kepada Cikgu Gilang. Di mana-mana, toleransi itu ya dilakukan minoritas terhadap mayoritas. Tahu dirilah, sudah kecil kok belagu. Betul apa betul?

Sudah tahu umat Islam ini mayoritas di Indonesia, minoritas kok malah makan di food court pas bulan puasa? Memangnya enggak bisa makan di tempat lain? Kan kasihan yang puasa, mesti rebutan tempat makan, tempat duduk, dan antre. Mbok kasihani Kak Gilang. Di Indonesia ini, memangnya muslim punya privilese apa sih?

Sebagai muslim yang sudah pasti masuk surga dan imannya jaminan mutu, saya merasa bahwa Akhi Gilang Kazuya Shimura itu korban pluralisme dan sekulerisme. Bagaimana tidak? Di Indonesia ini, jumlah masjid dibanding pos polisi saja masih lebih banyak masjid. Kok bisa-bisanya beliau dipaksa buka puasa di food court? Ini pasti ada konspirasi untuk melemahkan umat.

Di mana-mana, banyak masjid menyediakan takjil gratis. Ustadz Gilang yang imannya setara dengan saya pasti akan lebih memilih buka di masjid daripada di food court. Kenapa? Pertama, bisa berjamaah. Kedua, bisa bersilaturahmi dengan sesama muslim. Kalau beliau terpaksa berbuka di food court, pasti karena tidak ada masjid di sekitar situ.

Ada yang bilang, “Umur sudah berapa puluh tahun sih? Ngapain cari makan di food court pas buka puasa, dikira bakal sepi apa ya?” Ini namanya victim blaming. Akhi Gilang itu korban sekularisme, yaitu tidak adanya larangan bagi nonmuslim untuk makan di foodc ourt saat puasa. Seharusnya negara hadir untuk mengatur ini, demi tegaknya syariat. Bukan apa-apa, iman yang kuat kan diatur dan dilindungi negara, bukan yang didapat dari perjuangan diri.

Selain itu, banyak yang menghina Akhi Gilang Kazuya Shimura sebagai manusia yang manja. Manja itu kan kalau minoritas minta dijamin haknya. Sebagai umat yang mayoritas, muslim seperti Bos Gilang kan hanya meminta haknya untuk berbuka di food court. Apa salah? Ini kan hak dalam beribadah. Begini nih tipikal kaum yang enggak pernah ikut aksi di Monas.

Terus, apa salahnya sih pakai celana cingkrang dan janggutan? Afwan, bukan bermaksud SARA, tapi Indonesia ini memang cuma rasis kepada umat Islam. Tidak ada itu rasis kepada kelompok lain. Memangnya di Indonesia pernah ada seruan untuk membunuh Cina, misalnya? Atau mengusir keturunan Tionghoa dari Indonesia hanya karena penampilan fisiknya? Mana pernah orang Tionghoa tokonya dibakar, anak perempuannya diperkosa, diburu dan diancam akan dibunuh cuma karena matanya sipit?

Kalau memang ada kerusuhan rasial di Indonesia, ya, wajarlah orang-orang Tionghoa itu menutup diri dan takut. Tapi kan faktanya enggak pernah terjadi. Yang terjadi di Indonesia ini justru konspirasi memojokkan umat Islam. Coba lihat pelaku Bom Bali, atau bom-bom lain, mana ada yang janggutan apalagi pakai celana cingkrang? Mereka itu tatoan semua, liberal, dan probarat. Media saja yang bikin framing seolah-olah pelakunya muslim bercelana cingkrang dan janggutan.

FYI, ane baca dari grup sebelah, nama asli Aman Abdurrahman itu Alan Scotland, jelas liberal, anak JIL. Sekarang saja dandanannya pakai celana cingkrang, dahi hitam, terus janggutan. Pokoknya Akhi Gilang pasti benar. Makanya beliau harus bawa-bawa tampilan fisik dalam pembelaannya.

Soal paha nih, ya, yang benar itu perempuan harus menjaga diri supaya enggak diperkosa. Secara default, laki-laki itu kan lemah terhadap nafsu, tunduk pada birahi, kalau lihat paha mulus pengin tambah bini atau memperkosa. Bukan salah Kak Gilang dong kalau mengamuk melihat ada yang pakai hot pants di bulan puasa, karena kita sebagai laki-laki memang ditakdirkan memperkosa kalau perempuan enggak bisa jaga diri.

Tolonglah, yang nonmuslim harus belajar toleransi agar umat Islam bisa beragama dengan baik. Misalnya, gereja itu jangan bikin misa hari minggu terus. Kan bikin jalanan macet? Memangnya enggak tahu kalau muslim itu senin sampai jumat kerja? Kami yang muslim ini juga butuh liburan dan jalan-jalan. Tolonglah toleransi. Mana gereja suka berisik nyanyi-nyanyi melulu. Untung cuma sekali, coba kalau lima kali sehari dan disiarkan pakai toa dari subuh sampe malam. Apa enggak merusak telinga umat Islam?

Ane paham, nonmuslim itu punya hak. Tapi tahu dirilah. Kalian di Indonesia ini kan minoritas. Jagalah perasaan kami yang mayoritas ini. Kami ini halus, mudah terluka. Perkara makan saja bisa sakit hati karena rebutan tempat.

Untuk itu, ke depan, ane mau kita toleransi.

Tolonglah, nonmuslim hormati umat Islam yang sedang berpuasa. Jangan makan di food court di bulan puasa. Apa kalian enggak tahu bahwa kami ini lapar dan sedang beribadah? Kami bukan umat yang gampang marah, atau minta dikasih keistimewaan, apalagi minta dijaga perasaanya. Tapi, ya, awas kalau enggak dikasih, ane tulis di Facebook.

Semoga kita terlindung orang-orang yang ada dalam surah Al-Munafiqun, yaitu mereka yang seolah-olah beragama tapi munafik. Semoga kita trerlindung dari mereka yang mengaku beriman tapi kelakuannya sebelas-dua belas dengan kaum jahil.

Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Upaya Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan

Kasus KDRT khususnya terhadap perempuan masih banyak terdengar di wilayah Indonesia. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (6/03/20) juga meluncurkan catatan tahunan (CATAHU) yang...

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.