Jumat, Februari 26, 2021

Generasi Milenial Perlu Belajar dari Bu Mega, Jangan Demo Aja

Ikuti Jack Ma Masuk Partai, Nadiem Makarim Resmi Bergabung ke PDIP

Beberapa teknopreneur terkemuka Indonesia, yang memiliki perusahaan bernilai jutaan dolar, resmi bergabung dengan PDIP dan menduduki jabatan penting dalam partai. Mereka antara lain Nadiem...

Young Lex Gantikan Ratna Sarumpaet di Tim Kampanye Prabowo-Sandi Uno

“Pak Djoko Santoso sampai susah tidur tiga hari tiga malam,” kata Dahnil Anzar Simanjuntak, Koordinator Juru Bicara Prabowo-Sandiaga, “Beliau istikharah berulang-ulang, berulang-ulang, untuk menemukan...

Allahu Akbar! Inilah Hasil Pertemuan Amien Rais dan Mahathir Mohamad

Akhirnya Ketua Dewan Penasehat Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais menyatakan diri siap menjadi calon presiden pada 2019. Salah satu yang membuat dirinya mantap...

Setya Novanto Protes Perlakuan Polisi Pada Demonstran May Day

MANDHANINEWS: Mantan anggota DPR dan politisi Golkar. Setya Novanto melayangkan protes keras pada polisi. Hal ini karena perlakuan tidak menyenangkan yang dilakukan aparat hukum...
Yesaya Sihombing
Esais, Pemerhati masalah sosial budaya keagamaan

“Anak muda kita jangan dimanja, dibilang generasi kita adalah generasi milenial. Saya mau tanya hari ini apa sumbangsihnya generasi milenial yang sudah tahu teknologi membuat kita sudah viral tanpa harus bertatap langsung?”, demikian ujar Megawati dalam acara peresmian kantor PDI-P secara daring, pada hari Rabu (28/10/2020).

Bukan kebetulan, tanggal tersebut bertepatan dengan peringatan hari Sumpah Pemuda, yang tahun ini diperingati tak semeriah biasanya, selain karena pandemi, juga karena maraknya demo di mana-mana.

Tentu, Megawati ingin meng-encourage para tunas bangsa agar menjadi generasi yang berfaedah, layaknya para pemuda pemudi saat Sumpah Pemuda. Kalau generasi milenial kerjaannya cuma demo terus, mau jadi apa negara ini? Masih mending kalau demo masak atau make-up, bisa di-endorse dan dapat uang. Nah, kalau demo Omnibus Law mau dapat apa? Sudah suaranya tak didengar, ada lagi ancaman dari aparat gahar, dengan pentungan yang bikin gemetar.

Emangnya belum kapok, kemarin pas demo malah digiring jalan jongkok ke polsek terdekat, abis itu disuruh buka baju sambil diceramahi berbagai pesan moral? Sukur-sukur kalo kondisi tubuh sehat. Lha kalau masuk angin karena ngligo apa nggak bikin repot biyunge, le?

Maka, wajarlah kalau sebagai seorang ibu yang pernah jadi ibu negara, dan sekarang masih menjadi ibu partai, Megawati bertanya tentang sumbangsih generasi milenial di Indonesia. Harus diakui, ukuran sumbangsih yang beliau maksud tidaklah jelas. Walau demikian, kita patut menghargai dan berprasangka baik terhadap pernyataan beliau.

Megawati secara tidak langsung memberi teladan, untuk menjadi manusia yang bermanfaat, tidak perlu banyak koar-koar dengan suara lantang di jalanan. Buktinya, tanpa banyak bicara, beliau bisa menjadi presiden wanita pertama di Indonesia. Lalu, waktu menjadi presiden, kita juga mengenal beliau sebagai presiden yang tak banyak bicara.

Saya teringat pada salah satu iklan TV yang menggambarkan karakter beliau. Di iklan tersebut, Bu Mega hanya terdiam di depan televisi yang sedang menampilkan adegan kekacauan di negeri ini. Ia tak mengatakan apa-apa. Kemudian, setelah mukanya di-zoom in, tampak tetes air mata mulai membasahi pipi. Ah, siapa yang naruh brambang di sini?

Di lain kesempatan, Bu Mega membuktikan kapasitas dan kelihaiannya dalam merangkul atau mendengkul lawan politik, tanpa harus emosi dan pakai pengeras suara. Lihat saja, politik nasi goreng Megawati yang berhasil bikin Prabowo bertekuk lutut, sekaligus bikin Surya Paloh kebakaran jenggot (tidak perlu dibayangkan). Sekali goreng, dampaknya bisa kemana-mana.

Kembali pada kritik beliau kepada generasi milenial, tentunya kritik tersebut menyasar seluruh generasi milenial di negeri ini. Walau demikian, kita perlu mengakui bahwa ada anak-anak bangsa yang sudah berhasil meneladani karakter ‘diam tapi berfaedah’ ala beliau.

Ya, contohnya adalah staf khusus milenial Presiden Jokowi. Cara kerja mereka sangatlah senyap, sampai-sampai tak terdeteksi oleh milenial di luar istana. Saat yang lain berdemo, dapat dipastikan mereka tidak akan ikut berdemo. Malah kalau bisa, membangun narasi yang lebih cerdas untuk meng-counter konten-konten demo tersebut. Bisa jadi, memes penjelasan Omnibus Law yang beredar di medsos, adalah hasil kinerja anak-anak muda teladan bangsa tersebut.

Pun demikian, bila kita berbicara dalam konteks partai, ilmu ke-Megawati-an sudah diterjemahkan dengan baik oleh milenial calon kepala daerah. Sebut saja nama Gibran Rakabuming Raka, misalnya. Tanpa banyak bersuara di jalanan, ia dapat meraih tiket calon walikota Solo. Ada momen di mana Gibran langsung datang menemui Ibu Megawati di kediaman beliau. Transfer ilmu yang diberikan Mega, kelak terbukti mampu membawa Gibran melenggang menjadi calon pemimpin Solo, walau sebelumnya sudah ada calon dari DPC kota tersebut.

Selanjutnya, walau nggak tergolong generasi milenial banget, silence-spirit Mega telah menclok dengan sempurna kepada Mbak Puan Maharani. Dengan laku diam dan ilmu lobi tingkat wahid, Puan berhasil menjadi ketua DPR wanita pertama di Indonesia. Ilmu ini juga yang diterapkan saat sidang-sidang berlangsung. Potensi kegaduhan dapat diredam dengan cara mematikan mic orang yang sedang berbicara. Diam adalah koentji. Kalau tidak mau diam, ya dipaksa diam. Sederhana, tho.

Di jajaran pemerintahan, sepertinya, Pak Wakil Presiden, Ma’ruf Amin, juga sudah cukup familiar dengan ilmu diam tapi berfaedah ini. Entah, apakah Presiden Jokowi juga sudah menguasai ilmu ini atau belum. Yang jelas, Pak Presiden tak terlalu terusik dengan berbagai demo yang berlangsung belakangan ini. Walau anjing menggonggong, kafilah akan tetap berlalu. Mungkin begitu prinsipnya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan, kalau dulu Megawati dan partainya suka berkoar dengan lantang saat menjadi oposisi pemerintah, ternyata itu semua memang cuma buat pantes-pantes aja, tidak berfaedah, tidak menghasilkan sumbangsih apa-apa. Ya memang benar sih, kekuasaan bisa mengubah banyak hal, termasuk prinsip seseorang.

Wahai generasi milenial unfaedah, ingat selalu pesan Ibu, ya!

Yesaya Sihombing
Esais, Pemerhati masalah sosial budaya keagamaan
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.