Senin, Maret 8, 2021

Awkarin Ditetapkan Jadi Juru Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf

Tiru Bukittinggi, Walikota Yerusalem Larang Perempatan Karena Mirip Salib

Nir Barkat, Walikota Yerusalem menggemparkan publik kota itu setelah melarang adanya perempatan atau simpang empat di kotanya. Hal ini ia ambil setelah menelaah dan...

Menurut Survei Internal, Pak Amien Layak Jadi Pahlawan Bersama Polpot

Setelah mengumumkan kemenangan berdasarkan survei internal, kini kubu 02 mengumumkan bahwa Amien Rais dinyatakan layak untuk diberi gelar pahlawan. Pernyataan ini disampaikan menyusul sikap...

UU Cipta Kerja, Wujud Keluhuran Para Anggota DPR

Keputusan DPR untuk mengesahkan Omnibus Law Cipta Kerja, membuktikan bahwa lembaga legislatif itu adalah lembaga tinggi negara yang paling menjunjung tinggi nilai luhur ke-Indonesia-an...

Daripada Mikirin Covid-19, Lebih Asyik Bermain Majas 

Sebenarnya saya paling tidak suka dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Sebab, waktu SD pernah ditampar sama si guru. Sempat trauma coy. Sudahlah, yang lalu biar...
Teguh Jambu
Wartawan Kemarin Sore.

Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, yang dipimpin Erick Thohir, tak mau kalah dari Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi yang baru saja menunjuk Young Lex, seorang rapper muda berbakat, jadi Juru Kampanye Nasional. Untuk mengimbangi Young Lex, Erick mengajak Awkarin bergabung dalam timnya. Hal itu disampaikan Erick pada Minggu, 4 November 2018, di HAUS Coffee, Ciputat, Tangerang Selatan.

Seusai menonton latihan bola anak-anak Arsenal Soccer School Indonesia di Lapangan International Sports Club of Indonesia (ISCI), Erick mengajak para awak media yang mengikutinya untuk minum kopi bareng. Di pelataran parkir ISCI, Erick menghentikan langkah dan kelihatan berpikir sebentar.

“Ada berapa orang sih?” tanyanya.

Ajudan Erick menghitung. 27 orang, Pak.

“Wah, banyak juga,” kata Erick, tertawa, “kalau begitu kita jalan saja, ya. Enggak jauh kok.”

Kesempatan itu dimanfaatkan sejumlah wartawan olahraga untuk menanyakan kepada Erick kondisi dunia olahraga Indonesia menurut Erick dan apa saja yang menurut Erick perlu segera dibenahi dan apakah Erick optimistis akan masa depan dunia olahraga Indonesia hingga apa olahraga favoritnya. Erick terlihat santai dan riang sekali menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut seperti siswa rangking 1 melulu yang menjawab pertanyaan-pertanyaan guru favoritnya. Tentu saja dia menyebut-nyebut prestasinya sebagai presiden beberapa klub terkenal dunia dan kegemilangannya dalam penyelenggaraan Asian Games.

Sampai saya mengajukan pertanyaan tajam.

“Pak Erick, Badan Pemenangan Nasional baru saja mengangkat Young Lex jadi salah satu Juru Kampanye Nasional. Kalau Anda tahu Young Lex, pengaruhnya di kalangan anak muda Indonesia sama besarnya dengan pengaruh Kanye West terhadap anak muda Amerika. Anda tahu Kanye West, bukan?”

Erick terlihat gelagapan, tapi kemudian tersenyum seperti berusaha tetap tenang.

“Nah, Young Lex ini punya jutaan pengikut di Instagram, punya jutaan subskriber di YouTube. Jauh di atas Fadli Zon dan Fahri Hamzah, apalagi kalau cuma dibandingkan dengan Budiman Sudjatmiko atau siapa pun yang merasa jagoan medsos yang ada di tim Anda. Kalau Anda bertanya kepada remaja tanggung secara acak, apa cita-cita mereka, kebanyakan akan menjawab mau jadi YouTuber kayak Young Lex.”

Saya lihat Erick memperhatikan saya dengan seksama, buktinya dia manggut-manggut.

“Apa langkah Anda untuk mengimbangi si Young Lex ini?”

“Begitu, ya?” Itulah respons pertamanya.

“Hmmm …. Oke, nanti kita bicarakan di HAUS Coffee, ya.” Erick memanggil ajudannya.

“Sebentar ya, Teman-teman, saya harus menghubingi beberapa orang. Kalian jalan duluan saja ke HAUS.”

Para wartawan yang dipanggil teman-teman oleh Erick itu menurut. Saya tidak. Tapi saya tidak berniat menguping pembicaraan telepon Erick, saya lebih tertarik penampakan Warkop Tampomas di mana segerombolan anak-muda asyik berdiskusi. Saya mendekat untuk melihat dari dekat. Salah satu dari mereka mengulang-ulang menyebut nama Lady Gaga, lalu Mario Ballotelli, lalu Timnas Italia, lalu Piala Dunia 1990, lalu Madonna dan Roberto Baggio. Ternyata mereka juga membicarakan olahraga. Dan dunia entertaimen. Oh, tidak, bocah itu juga mengulang-ulang Teori Hubungan Internasional. Saya mengambil kamera saku dari dalam tas dan mengambil foto mereka, foto warkop, warung fotokopi dan pecel lele di sampingnya, kampus di hadapannya.

Sementara Erick masih terlihat serius dengan telepon genggam di telinganya. Di seberang Warkop Tampomas, ia mondar-mandir ke utara ke selatan, ke utara ke selatan. Sepertinya pertanyaaan saya betul-betul mengusiknya. Saya meneruskan memotret saja.

Azan magrib berkumandang. Anak-anak muda itu masih bercengkerama. Erick bicara kepada ajudannya, tangannya bersedekap di perut. Selesai suara azan bersahutan, mereka berjalan. Saya mengikuti dari belakang.

Di Haus Coffee, keceriaan ala siswa berprestasi Erick itu kembali lagi. “Loh, kok pada belum pesan?” katanya. “Ayo, ayo, pesan kopi, pesan makanan, saya traktir semuanya.”

Sambil minum kopi, ia menceritakan ulang kehebatan anak-anak Indonesia yang tadi berlatih di Lapangan ISCI. Beberapa di antaranya, anak-anak itu, kata Erick, akan dikirim ke Inggris dan Italia untuk mendapatkan pelatihan yang jauh lebih baik. Tidak sekali pun ia menyentuh tema politik.

Azan isya berkumandang. Sebagian besar wartawan sudah kekenyangan. Erick sepertinya sudah kehabisan bahan pembicaraan. Ia melirik jam tangannya. Saya mendekat.

“Oh, iya, soal Young Lex,” katanya begitu melihat saya mendekat. “Sebentar lagi kita bicarakan secara serius, ya. He-he-he.” Ia memanggil ajudannya, “Tolong segera siapkan.”

Tak sampai sepuluh menit, HAUS Coffee telah disulap menjadi tempat konferensi pers resmi. Erick mengambil tempat di meja depan, pandangannya tidak lepas dari henpon, dan para wartawan dipersilakannya duduk di kursi yang sudah berderet rapi.

Sebuah mobil mewah berwarna hitam datang, parkir di depan Alfamart samping HAUS Coffee. Darinya keluarlah sosok Awkarin. Beberapa anak muda pengunjung Alfamart segera mendekat dan memanggil-manggil namanya, langkah mereka terhalang para pria bersafari berbadan kekar.

Awkarin mengambil tempat di samping Erick dan menyapa wartawan dengan sangat ramah. Puluhan mobil stasiun televisi beserta kameramannya berdatangan. Semua terjadi begitu cepat, saya nyaris tidak percaya. Suara Erick Thohir menyadarkan saya.

“Baiklah, Teman-teman, terima kasih atas kehadirannya dalam konferensi pers mendadak ini. Dalam kesempatan ini, saya ingin penyampaikan pengumuman penting: Saudari Karin Novilda, atau yang lebih dikenal dengan nama Awkarin, mulai hari ini resmi menjadi Juru Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf.”

Para wartawan, dipimpin oleh ajudan Erick, bertepuk tangan. Awkarin tersenyum.

“Bagi kami, Saudari Karin Novilda bukan hanya anak muda berpengaruh, influencer di Instagram dan YouTube, lebih dari itu, Saudari Karin adalah sosok anak muda hebat, pejuang kemanusiaan. Kita bisa melihat salah satu kiprahnya akhir-akhir ini, yang banyak membantu korban bencana Palu-Donggala. Kami percaya, dengan Karin Novilda di Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, masa depan Indonesia yang semakin cerah.”

Tepuk tangan kembali terdengar. Erick berbisik kepada Awkarin. Sesi tanya-jawab dibuka. Semua wartawan mengacungkan tangan. Erick memilih dan mempersilakan lima penanya pertama.

Empat dari lima pertanyaan tersebut terkait Young Lex.

Teguh Jambu
Wartawan Kemarin Sore.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.