OUR NETWORK

Awkarin Ditetapkan Jadi Juru Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf

“Saudari Karin Novilda bukan hanya anak muda berpengaruh, lebih dari itu, Saudari Karin adalah sosok anak muda hebat, pejuang kemanusiaan.”

Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, yang dipimpin Erick Thohir, tak mau kalah dari Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi yang baru saja menunjuk Young Lex, seorang rapper muda berbakat, jadi Juru Kampanye Nasional. Untuk mengimbangi Young Lex, Erick mengajak Awkarin bergabung dalam timnya. Hal itu disampaikan Erick pada Minggu, 4 November 2018, di HAUS Coffee, Ciputat, Tangerang Selatan.

Seusai menonton latihan bola anak-anak Arsenal Soccer School Indonesia di Lapangan International Sports Club of Indonesia (ISCI), Erick mengajak para awak media yang mengikutinya untuk minum kopi bareng. Di pelataran parkir ISCI, Erick menghentikan langkah dan kelihatan berpikir sebentar.

“Ada berapa orang sih?” tanyanya.

Ajudan Erick menghitung. 27 orang, Pak.

“Wah, banyak juga,” kata Erick, tertawa, “kalau begitu kita jalan saja, ya. Enggak jauh kok.”

Kesempatan itu dimanfaatkan sejumlah wartawan olahraga untuk menanyakan kepada Erick kondisi dunia olahraga Indonesia menurut Erick dan apa saja yang menurut Erick perlu segera dibenahi dan apakah Erick optimistis akan masa depan dunia olahraga Indonesia hingga apa olahraga favoritnya. Erick terlihat santai dan riang sekali menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut seperti siswa rangking 1 melulu yang menjawab pertanyaan-pertanyaan guru favoritnya. Tentu saja dia menyebut-nyebut prestasinya sebagai presiden beberapa klub terkenal dunia dan kegemilangannya dalam penyelenggaraan Asian Games.

Sampai saya mengajukan pertanyaan tajam.

“Pak Erick, Badan Pemenangan Nasional baru saja mengangkat Young Lex jadi salah satu Juru Kampanye Nasional. Kalau Anda tahu Young Lex, pengaruhnya di kalangan anak muda Indonesia sama besarnya dengan pengaruh Kanye West terhadap anak muda Amerika. Anda tahu Kanye West, bukan?”

Erick terlihat gelagapan, tapi kemudian tersenyum seperti berusaha tetap tenang.

“Nah, Young Lex ini punya jutaan pengikut di Instagram, punya jutaan subskriber di YouTube. Jauh di atas Fadli Zon dan Fahri Hamzah, apalagi kalau cuma dibandingkan dengan Budiman Sudjatmiko atau siapa pun yang merasa jagoan medsos yang ada di tim Anda. Kalau Anda bertanya kepada remaja tanggung secara acak, apa cita-cita mereka, kebanyakan akan menjawab mau jadi YouTuber kayak Young Lex.”

Saya lihat Erick memperhatikan saya dengan seksama, buktinya dia manggut-manggut.

“Apa langkah Anda untuk mengimbangi si Young Lex ini?”

“Begitu, ya?” Itulah respons pertamanya.

“Hmmm …. Oke, nanti kita bicarakan di HAUS Coffee, ya.” Erick memanggil ajudannya.

“Sebentar ya, Teman-teman, saya harus menghubingi beberapa orang. Kalian jalan duluan saja ke HAUS.”

Para wartawan yang dipanggil teman-teman oleh Erick itu menurut. Saya tidak. Tapi saya tidak berniat menguping pembicaraan telepon Erick, saya lebih tertarik penampakan Warkop Tampomas di mana segerombolan anak-muda asyik berdiskusi. Saya mendekat untuk melihat dari dekat. Salah satu dari mereka mengulang-ulang menyebut nama Lady Gaga, lalu Mario Ballotelli, lalu Timnas Italia, lalu Piala Dunia 1990, lalu Madonna dan Roberto Baggio. Ternyata mereka juga membicarakan olahraga. Dan dunia entertaimen. Oh, tidak, bocah itu juga mengulang-ulang Teori Hubungan Internasional. Saya mengambil kamera saku dari dalam tas dan mengambil foto mereka, foto warkop, warung fotokopi dan pecel lele di sampingnya, kampus di hadapannya.

Sementara Erick masih terlihat serius dengan telepon genggam di telinganya. Di seberang Warkop Tampomas, ia mondar-mandir ke utara ke selatan, ke utara ke selatan. Sepertinya pertanyaaan saya betul-betul mengusiknya. Saya meneruskan memotret saja.

Azan magrib berkumandang. Anak-anak muda itu masih bercengkerama. Erick bicara kepada ajudannya, tangannya bersedekap di perut. Selesai suara azan bersahutan, mereka berjalan. Saya mengikuti dari belakang.

Di Haus Coffee, keceriaan ala siswa berprestasi Erick itu kembali lagi. “Loh, kok pada belum pesan?” katanya. “Ayo, ayo, pesan kopi, pesan makanan, saya traktir semuanya.”

Sambil minum kopi, ia menceritakan ulang kehebatan anak-anak Indonesia yang tadi berlatih di Lapangan ISCI. Beberapa di antaranya, anak-anak itu, kata Erick, akan dikirim ke Inggris dan Italia untuk mendapatkan pelatihan yang jauh lebih baik. Tidak sekali pun ia menyentuh tema politik.

Azan isya berkumandang. Sebagian besar wartawan sudah kekenyangan. Erick sepertinya sudah kehabisan bahan pembicaraan. Ia melirik jam tangannya. Saya mendekat.

“Oh, iya, soal Young Lex,” katanya begitu melihat saya mendekat. “Sebentar lagi kita bicarakan secara serius, ya. He-he-he.” Ia memanggil ajudannya, “Tolong segera siapkan.”

Tak sampai sepuluh menit, HAUS Coffee telah disulap menjadi tempat konferensi pers resmi. Erick mengambil tempat di meja depan, pandangannya tidak lepas dari henpon, dan para wartawan dipersilakannya duduk di kursi yang sudah berderet rapi.

Sebuah mobil mewah berwarna hitam datang, parkir di depan Alfamart samping HAUS Coffee. Darinya keluarlah sosok Awkarin. Beberapa anak muda pengunjung Alfamart segera mendekat dan memanggil-manggil namanya, langkah mereka terhalang para pria bersafari berbadan kekar.

Awkarin mengambil tempat di samping Erick dan menyapa wartawan dengan sangat ramah. Puluhan mobil stasiun televisi beserta kameramannya berdatangan. Semua terjadi begitu cepat, saya nyaris tidak percaya. Suara Erick Thohir menyadarkan saya.

“Baiklah, Teman-teman, terima kasih atas kehadirannya dalam konferensi pers mendadak ini. Dalam kesempatan ini, saya ingin penyampaikan pengumuman penting: Saudari Karin Novilda, atau yang lebih dikenal dengan nama Awkarin, mulai hari ini resmi menjadi Juru Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf.”

Para wartawan, dipimpin oleh ajudan Erick, bertepuk tangan. Awkarin tersenyum.

“Bagi kami, Saudari Karin Novilda bukan hanya anak muda berpengaruh, influencer di Instagram dan YouTube, lebih dari itu, Saudari Karin adalah sosok anak muda hebat, pejuang kemanusiaan. Kita bisa melihat salah satu kiprahnya akhir-akhir ini, yang banyak membantu korban bencana Palu-Donggala. Kami percaya, dengan Karin Novilda di Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, masa depan Indonesia yang semakin cerah.”

Tepuk tangan kembali terdengar. Erick berbisik kepada Awkarin. Sesi tanya-jawab dibuka. Semua wartawan mengacungkan tangan. Erick memilih dan mempersilakan lima penanya pertama.

Empat dari lima pertanyaan tersebut terkait Young Lex.

Wartawan Kemarin Sore.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…