Minggu, November 29, 2020

Ini Dia Bocoran Hasil Pertemuan Amien Rais dan Jokowi

Paleo-Proksemik Soya

“Ruang” adalah salah satu konsep utama dalam antropologi. Relasi antara “budaya” dan “ruang” nampaknya bisa digambarkan sebagai variabel sentral yang mempengaruhi perilaku manusia dan...

Andai Habib Rizieq Jadi Kepala BPIP, RUU HIP Takkan Segaduh ini!

Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) memiliki niat suci, agar Pancasila bisa tetap sakti di abad-21. Pancasila tak boleh jadi sekadar pajangan dinding, atau mantra...

Amien Rais Minta Dukungan FPI, Rizieq Shihab Siap (Fiksi)

Dikecam habis-habisan seputar pernyataannya tentang tuhan malu, Ketua Majelis Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais melakukan klarifikasi melalui akun Instagram amienraisofficial. Amien menyebut dia...

Allah SWT via Roy Kiyoshi: Saya Desak Ali Mochtar Ngabalin Berpihak ke Jokowi

Roy Kiyoshi tiba-tiba ambruk. Para penonton di studio yang menonton langsung acara Kurma bengong. Tatapan mereka kemudian beralih ke arah para kru televisi yang...

Tiba-tiba kehebohan terjadi di kompleks perumahan Kampung Sawit Sari, Depok, Sleman, Yogyakarta. Rupanya Jokowi melintas di situ dan beberapa warga yang sedang asyik berolah raga pagi langsung minta berfoto bersama orang nomor satu Indonesia tersebut. Apakah Jokowi akan menemuai salah satu warga yang tinggal di situ? Betul sekali, Jokowi menemui Amien Rais yang pernah diruwat oleh sebagaian warga Yogyakarta.

Resminya pertemuan empat mata antara dua orang Universitas Gadjah Mada itu tertutup. Yang tuan rumah adalah guru besar atau profesor di UGM. Yang satu lagi, dulunya bukan siapa-siapa di Fakultas Kehutanana UGM, cuma pecinta alam yang sering mendaki gunung bersama kawan-kawannya. Kini keduanya tokoh bangsa. Yang pertama tokoh reformasi, meski banyak yang meragukan ketokohannya, yang kedua adalah presiden kelima di era reformasi. Publik pasti kepo ingin tahu apa isi pembicaraan mereka berdua.

Mandhaninews akhirnya berhasil (bukan Argentina) mendapatkan dialog empat mata mereka, meski tanpa Tukul Arwana di sana. Amien Rais dan Jokowi rupanya sudah lama ingin bertemu sebagai sesama tokoh bangsa beda generasi. Inilah petikan dialog mereka:

“Terima kasih, Pak Jokowi menyempatkan mampir di rumah saya. Ini saat yang saya tunggu-tunggu. Saya ingin langsung menanyakan atau klarifikasi beberapa hal kepada Anda, Mister Presiden.”

“Silakan. Pak Amien bertanya apa saja, saya akan mencoba menjawab. Jika tak bisa saya jawab, ya kita agendakan pertemuan berikutnya. He-he-he. Monggo.”

“Pak Jokowi, saya ingin bertanya soal kebijakan Anda membagi-bagi sertifikat kepada masyarakat dan saya katakan sebagai pengibulan alias pembohongan. Bagaimana menurut Mister Presiden?”

“Begini. Pak Amien pasti paham, tanah adalah aset yang sangat penting. Pak Amien pasti tahu, selama ini mengurus sertifikat tanah itu lamanya minta ampun. Saya tahu ada yang bilang: Pak Amien, atau yayasan milik Pak Amien, punnya tanah banyak dan luas sekali. Bahkan ada yang bilang Pak Amien adalah orang nomor tiga yang punya tanah terluas di Jogja. Pemerintah cuma memastikan bahwa kini mengurus sertifikat itu mudah dan murah, selama syarat-syarat kepemilikan terpenuhi. Saya juga tahu, lho, Pak Amien itu sangat baik dan ramah kepada orang Jogja yang mau menjual tanah. Baik dan ramah sekali. Tapi kalau tanah sudah berpindah tangan ya sudah, he-he-he ….”

Pak Jokowi kok tahu saja sih kalau saya punya banyak tanah? Saya jadi pengin malu, xi-xi-xi. Yang kedua, saya ingin memberi kartu merah karena Mister Jokowi gagal menyejahterakan rakyat. Ekonomi yang dibangun hanya menguntungkan golongan kaya dan asing.”

“Silakan beri saya kartu merah atau kartu kuning, ndak masalah. Sebab yang penting bagi saya adalah rapor yang diberikan oleh lembaga yang kredibel seperti Bank Dunia dan lembaga pemeringkat ekonomi lainnya. Mereka umumnya menyatakan bahwa ekonomi kita tumbuh di tengah pelambatan ekonomi dunia. Saya juga percaya lembaga-lembag survei kredibel yang menyatakan tingkat kepuasan masyarakat tinggi terhadap kinerja pemerintah. Soal pembangunan lebih menguntungkan orang kaya, jelas saya bantah. Saya membangun infrastuktur jalan, bendungan, pelabuhan, dan bandara, justru lebih banyak di luar Jawa terutama Indonesia Timur. Selama ini mereka tak tersentuh. Kalau saya mau, saya bisa membangun Jawa saja yang jumlah penduduk dan pemilihnya jauh lebih banyak. Saya tak lakukan itu. Oh, ya, rapor yang asli itu nanti pada pilpres 2019. Apakah rakyat memilih saya kembali atau tidak.”

“Yang ketiga, Mister Presiden, saya ingin klarifikasi bahwa kebijakan Anda itu kurang simpatik pada sebagian umat Islam. Anda juga membiarkan adanya usaha-usaha kriminalisasi terhadap para ulama.”

“Begini, Pak Amien. Saya memang tak mungkin memuaskan semua pihak, apalagi pihak-pihak yang memang tak suka saya. Umumnya umat Islam Indonesia itu toleran dan cinta damai, setidaknya yang ditunjukkan oleh Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Tentu saya menyadari bahwa mayoritas Islam Indonesia adalah moderat, karena itu saya senang berkunjung ke pesantren-pesantren, bertemu para kyai yang tinggi ilmunya dan sejuk dakwahnya. Lha, kalau ada segelintir ulama yang suka menggunakan ujaran kebencian dan menabrak Undang-Undang yang berlaku, itu adalah ranah hukum, saya tak ikut campur. Tak ada kriminalisasi ulama, yang ada ulama yang berbuat kriminal.”

“Soal penjajahan ekonomi asing di Blok Mahakam dan Freeport McMoran, Mister Presiden berani mengakhiri penjajahan ekonomi itu?” tanya Amien Rais.

“He-he-he. Saya itu ibarat pencuci piring dalam sebuah pesta. Siapa yang makan, siapa pula yang harus mencuci piring. Nah, karena itu saya pelan-pelan memberantas mafia migas. Tentu banyak yang kecewa karena terhenti pemasukannya. Selain itu, saya harus memastikan semua perjanjian dengan pihak asing berjalan dengan baik dan kita menerima keuntungan untuk itu. Saya mengerti banyak orang tak suka dengan saya, salah satunya karena kucuran keuntungan dari migas saya tutup. Tapi bisa saya pastikan, saya ingin memberantas mafia migas agar pendapatan kita di sektor ini meningkat.”

“Saya mewanti-wanti agar Mister Presiden tidak pernah berpikir menjadikan Indonesia menjadi economic backyard atau halaman belakang ekonomi RRC, tempat buang sampah.”

“Begini, Pak Amien. Saya tak main poros-porosan seperti Anda dan Konco-konco Anda  bilang: ada Poros Mekah dan Poros Beijing. Kita ini hidup di dunia modern dan cepat bergerak. Dengan siapa pun kita bisa berdagang dan berusaha, selama menguntungkan kedua belah pihak. Kenapa dengan RRC kita banyak berhubungan? Karena memang ekonomi RRC sedang tumbuh mengalahkan Eropa, Amerika, dan Jepang yang dulu menjadi mitra utama ekonomi kita. Jadi, ini hanya soal hubungan bisnis saja. Arab Saudi pun berbisnis denga RRC tak masalah. Bisa jadi masalahnya ada pada Pak Amien Rais yang membuat apa saja menjadi masalah. Masalah saya, justru saya jarang menemui masalah. He-he-he.”

Usai pertemuan, keduanya dicegat wartawan di depan pintu. “Silakan tanya Pak Amien. Beliau senior saya, dan tuan rumah lagi. He-he-he,” ujar Jokowi. Amien Rais lalu menjawab bertubi-tubi pertanyaan dari wartawan, seperti dirinya bertubi-tubi bertanya kepada Jokowi. Amien Rais menyampaikan kepada wartawan persis apa yang Jokowi sampaikan dalam pertemuan empat mata sebelumnya.

Sungguh seperti yang diramalkan Hanum Rais (putri Amien Rais), pertemuan ini tak merendahkan Jokowi juga tak meninggikan Amien Rais. Ya, memang betul, semua orang sudah tahu tinggi badan masing-masing tokoh itu. Setelah pertemuan itu tinggi mereka tak berubah barang satu senti pun.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nostalgia Dinasti Politik Pemimpin Negara

Pasca bergulirnya reformasi 1998, khususnya dengan terbitmya UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah serta peraturan-peraturan pemerintah yang...

Tebet, Megamendung, dan Petamburan

Pandemi corona makin liar. Jika sebelumnya cluster penyebaran corona menyeruak di rumah sakit, perkantoran, sekolah, pesantren, perumahan, restoran, dan RT/RW -- kini tengah ramai...

Messi Adalah Nabi dan Maradona Adalah Tuhan

Paus Francis tersenyum. Ia juga berasal dari Argentina. Saat itu Ia mengunjungi klub sepokbola di Buienes Aires, Argentina: the Sportivo Pereyra de Barracas FC. Di...

Pentingnya Vitamin bagi Tubuh Di Era New Normal

Daya tahan tubuh atau imunitas menjadi benteng untuk mencegah virus masuk dan menyerang tubuh kamu. Dengan dimulainya aktivitas di luar rumah lagi di masa...

Saatnya Mempertanyakan Amatiran Politik Sumatera Barat

..."Kami simpulkan sedikit inti tulisan sebelumnya. Menurut data BPS, Sumatera Barat hari ini memiliki kue ekonomi kecil, produktivitasnya rendah, dan kesejahteraannya yang tidak sedang...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Messi Adalah Nabi dan Maradona Adalah Tuhan

Paus Francis tersenyum. Ia juga berasal dari Argentina. Saat itu Ia mengunjungi klub sepokbola di Buienes Aires, Argentina: the Sportivo Pereyra de Barracas FC. Di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.