Risma-Whisnu dan Tantangan Lima Tahun ke Depan

126
Pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Surabaya Tri Rismaharini dan Whisnu Sakti Buana berada di tengah simpatisan dan pendukung ketika memberikan pidato kemenangan Pilkada 2015 kota Surabaya di Posko Pemenangan Risma-Whisnu di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (9/12). Pasangan petahana Tri Rismaharini-Whisnu Sakti Buana unggul atas pasangan Rasiyo-Lucy Kurniasari di beberapa hitung cepat sejumlah lembaga survei. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/aww/15.
Pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan Whisnu Sakti Buana di tengah simpatisan dan pendukung ketika memberikan pidato kemenangan Pilkada 2015 Kota Surabaya di Posko Pemenangan Risma-Whisnu di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (9/12). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/aww/15.

Kendati belum ada keputusan resmi dari Komisi Pemilihan Umum, pasangan Tri Rismaharini dan Whisnu Sakti Buana hampir dipastikan menjadi pemimpin Kota Surabaya untuk lima tahun ke depan. Pasangan petahana ini diperkirakan berhasil meraup suara hingga 86,22 persen–jauh meninggalkan pesaingnya, Rasiyo-Lucy, yang diusung koalisi Partai Demokrat dan Partai Amanat Nasional (PAN).

Selain sangat populer, Tri Rismaharini alias Risma memang dikenal pemimpin dengan segudang prestasi yang sulit dilawan siapa pun pesaingnya. Risma bukan hanya dinilai berhasil mengubah wajah Kota Surabaya menjadi green and clean, dengan taman-taman yang bersih dan menarik, dan membuat Surabaya berhasil mengondol penghargaan Adipura Kencana. Lebih dari itu, Risma juga diakui pemerintah pusat telah membuat berbagai langkah terobosan di bidang penyelenggaraan pemerintahan dan dikenal masyarakat sebagai sosok pemimpin yang merakyat dan suka bekerja keras.

Sesungguhnya tak ada yang mengherankan jika Risma dan pasangannya mampu meraup suara signifikan dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah (pilkada) kali ini. Sebagai petahana, Risma memang tak sulit diprediksi bisa jauh meninggalkan pesaingnya. Sebab, selama masa kepemimpinannya, ia dikenal sebagai sosok yang membumi dan mau turun tangan dalam berbagai persoalan kemasyarakatan.

Di saat Surabaya hujan deras dan banjir, misalnya, warga sudah biasa melihat Risma turun tangan langsung memeriksa gorong-gorong dan mengecek di mana saluran air buntu. Di saat taman kota rusak karena dinjak-injak massa yang berkerumunan karena ada sebuah acara, Risma sejak pagi hari juga tak segan memimpin langsung ke lapangan dan merehabilitasi taman agar segera kembali tertata seperti sebelumnya.

Meski di You Tube beredar luas video Risma yang mengumpat dan seolah berkata kasar, itu semua tertutupi oleh keseriusan Risma yang menginginkan taman kota tetap cantik seperti biasanya–walau itu harus ditebus dengan masuknya Risma ke rumah sakit karena kelelahan. Bagi warga Surabaya, Risma bukan sekadar seorang Wali Kota, tetapi tampaknya juga telah menjadi sosok Ibu yang senantiasa bekerja tanpa pamrih, demi kota dan masyarakat Surabaya.

Risma sendiri telah menyatakan bahwa dalam pilkada yang penting bukanlah menang atau kalah, melainkan ini adalah tahapan untuk melanjutkan pembangunan ke arah yang lebih baik. Bagi Risma-Whisnu, ketika mereka nanti benar dilantik menjadi wali kota dan wakil wali kota, agenda penting dan berat yang segera menanti adalah bagaimana memastikan agar arah pembangunan dan perkembangan Kota Surabaya sebagai megapolitan tidak mengalami arus balik.

Di masa kepemimpinan yang pertama, Risma-Whisnu boleh dibilang telah berhasil mempersiapkan dan membangun fondasi bagi pijakan arah pembangunan lima tahun ke depan. Program e-proc, renumerasi, dan berbagai langkah reformasi birokrasi yang dilakukan Risma merupakan upaya untuk mempersiapkan aparatur birokrasi yang benar-benar profesional dan transparan. Tetapi, masalahnya kemudian, bagaimana memastikan agar berbagai program pembangunan yang disusun lima tahun ke depan benar-benar memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat–sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat.

Dalam kurun waktu lima tahun ke depan, niscaya akan banyak agenda dan problema yang bakal dihadapi Risma-Whisnu. Kasus pembangunan Pasar Turi yang hingga kini belum menemukan jalan keluar yang terbaik, koordinasi perbaikan jalan yang masih belum berjalan baik, ancaman banjir, dan terutama program yang secara substansial benar-benar pro poor dan pro job, misalnya, itu semua merupakan agenda penting yang perlu memperoleh perhatian serius Risma-Whisnu.

Membuat kota yang lebih nyaman, asri, dengan trotoar yang lebar dan bagus, harus diakui merupakan langkah cerdas untuk segera memperlihatkan perubahan yang signifikan bagi wajah Kota Surabaya. Tetapi, di luar persoalan kenyamanan dan keindahan kota, ada beberapa masalah krusial lain yang membutuhkan terobosan Risma-Whisnu.

Pertama, bagaimana memastikan agar fasilitas publik dapat tersedia dengan merata, berkualitas dan tetap terjangkau masyarakat –terutama kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan, pendidikan, administrasi kependudukan, serta layanan transportasi publik yang aman dan nyaman.

Kedua, bagaimana Kota Surabaya mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan profil tenaga kerja lokal maupun migran miskin yang masuk ke Kota Surabaya? Bagi Kota Surabaya, agenda di bidang ketenagakerjaan yang penting bukan hanya bagaimana menarik investasi sebanyak-banyaknya, melainkan bagaimana memastikan investasi yang masuk ramah dan mau menyapa tenaga kerja lokal, khususnya dari golongan menengah ke bawah.

Ketiga, bagaimana mengembangkan dan menjamin potensi swakarsa masyarakat, dan aktivitas perekonomian rakyat dapat tumbuh mandiri dan mampu bersaing di era Masyarakat Ekonomi ASEAN? Sebagai kota terbesar nomor dua di Indonesia, Kota Surabaya jelas akan menjadi lahan dan pangsa pasar yang diserbu produk-produk dari luar dan produk dari berbagai negara asing. Jika para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Surabaya tidak siap, risikonya jelas akan membuat mereka tergerus iklim persaingan yang makin ketat.

Keempat, bagaimana memastikan agar masyarakat miskin di Kota Surabaya tidak masuk dalam pusaran program yang sifatnya meritokratis, yang membuat mereka potensial tersingkir dari arus persaingan perekonomian yang makin ketat.

Selain empat agenda besar di atas, tentu masih banyak prioritas program pembangunan lain yang perlu segera dirumuskan Risma-Whisnu. Apa pun program yang akan digulirkan dan dikembangkan nanti, yang terpenting adalah masyarakat pasti menunggu langkah-langkah terobosan yang benar-benar efektif dan inovatif, terutama dalam rangka meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat.

Selamat bekerja keras untuk Risma-Whisnu.

Komentar anda