Minggu, Februari 28, 2021

Buku Menjerat Gus Dur, Perlawanan Merawat Ingatan

Buku Mencari Negarawan, 85 Tahun Buya Ahmad Syafii Maarif

Negarawan Sejati Itu Bernama Ahmad Syafii Maarif Review Buku: David Krisna Alka dan Asmul Khairi (eds.), Mencari Negarawan: 85 Tahun Buya Ahmad Syafii Maarif,...

Perubahan Sosial Era Revolusi Industri 4.0

Review Buku: Haryatmoko, Jalan Baru Kepemimpinan dan Pendidikan Jawaban Atas Tantangan Disrupsi-Inovatif, 2020. Perkembangan teknologi digital menjadi salah satu penanda revolusi industri 4.0. Di...

Bedah Buku Karya Kepala Sekolah dan Guru Purwakarta

Bedah Buku karya Kepala Sekolah dan Guru yang masih  merupakan rangkaian kegiatan Festival Literasi Purwakarta bertema "Kecerdasan Berbahasa Dalam Sejuta Pena " yang sebelumnya...

Don Quixote, Buku, Imajinasi, dan Cinta

Siapa tidak mengenal Don Quixote de La Mancha, tokoh ciptaan Miguel de Cervantes sastrawan Spanyol dalam novelnya yang terkenal: Petualangan Don Quixote. Figur lugu...
Fahmi Karim
Mahasiswa pascasarjana program studi Ekonomi Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Buku Menjerat Gus Dur, penelitian dokumen sejarah oleh Virdika Rizky Utama yang sontak meramaikan publik. Pasalnya, selain buku itu ditulis oleh anak muda yang kira-kira pada masa Gus Dur masih duduk di Sekolah Dasar, buku itu berisi dokumen super rahasia yang tidak boleh diketahui oleh banyak orang.

Yang lebih bikin geger lagi nama-nama yang tertulis dalam dokumen Skenario Semut Merah (SEMER) itu masih eksis dan beberapa wajahnya ada di barisan pemerintahan. Ada juga beberapa nama dalam dokumen tersebut sangat susah diminta penjelasannya. Jika tidak mengancam dirinya, tentu akan disingkap sejarah itu.

Buku ini laris dalam cetakan pertama. Tapi saya belum membeli buku ini, saya hanya membaca poin-poin pentingnya di situs alif.id yang ditulis langsung oleh Mas Virdika. Di wilayah saya, Manado, buku ini belum sempat sampai. Youtube memberi saya gambaran singkat bagian-bagian buku ini.

Saya kira dalam buku ini hanya bagian tentang dokumen terkait pemakzulan Gus Dur yang menohok. Entah karena Gus Dur merupakan orang baik sehingga kebanyakan orang merasa tergores hatinya ketika disingkap konspirasi dibelakang itu dan di blow up, atau memang karena bukan Gus Dur yang dibela namun memang sudah ada dendam pada nama-nama yang berkonspirasi itu.

Entah ini merupakan skenario Tuhan, namun data yang menjadi rujukan awal penelitian buku Menjerat Gus Dur adalah dokumen yang telah dibuang. Tapi di sini saya tidak akan fokus pada penulis buku yang muda, berani, dan gondrong itu serta hasil risetnya.

Saya akan mencoba menulis ingatan-ingatan saya tentang cerita-cerita tentang Gus Dur yang melekat di ketidak-sadaran saya. Sehingga kesimpulannya: meski dokumen itu mencoba kembali membicarakan “kasus” yang menurunkan Gus Dur dari jabatan presiden, tapi saya akan sulit percaya karena yang tertanam di kepala selama ini adalah kemanusiaan Gus Dur.

Bagaimana cara merawat ingatan? 

Dalam sejarah, salah satunya dengan terus membaca sebanyak mungkin tentang peristiwa lampau. Dari sini kita akan membandingkan peristiwa satu dengan peristiwa lain. Dari literasi sejarah, ingatan akan masa lalu akan terus bertalian sampai mungkin kita akan memberinya batasan.

Yang menguatkan sejarah, selain pelaku sejarah, adalah dokumen. Sejarah biasanya adalah pertarungan kevalidan dokumen. Meskipun, mungkin, dokumen lain juga belum terungkap.

Karena pelaku-pelaku dalam dokumen SEMER itu masih hidup maka sangat mudah diklarifikasi kebenarannya. Beruntung: mendapatkan dokumen dan kebanyakan dari nama-nama dalam dokumen itu orangnya masih hidup.

Literasi tentang sejarah juga mudah mempengaruhi setiap orang. Maklum, karena tidak semua orang mau meneliti tentang masa lalu. Biasanya apa yang dia ketahui hanyalah dari apa yang telah dia baca. Itu juga bisa berubah jika menemukan fakta-fakta sejarah yang baru.

Sejarah memang dahulu ditulis oleh pemenang. Yang kalah juga menulisnya tapi disingkirkan pemenang. Tapi untuk sekarang, di zaman yang canggihnya minta ampun, segala informasi sejarah bisa diakses. Pikiran kita lebih muda melakukan uji kebenaran sejarah dengan meninjau sumber-sumber yang lain.

Soal ingatan-ingatan sejarah yang terawat, saya akan memulai dengan selipan ingatan tentang beberapa presiden Indonesia. Misalnya Soekarno, ayah dari Megawati. Saya terhubung dengan Soekarno karena pernah bermalam-malam dengan tulisannya. Juga tulisan-tulisan tentangnya. Mungkin Anda demikian. Ide-idenya membuat saya merasa dekat denganya.

Meski ada beberapa buku yang mengulas sisi lain dari Soekarno, tapi itu akan tertutup dengan banyaknya buku yang menceritakan betapa Soekarno sangat berperan dibalik kemerdekaan Indonesia. Apakah karena lebih banyak dia mengabdi pada rakyat atau bagaimana, namun sedikit kesulitan menemukan nada negatif tentang Soekarno. Bukan tidak ada.

Maksud saya begini: di samping ada banyak pemberitaan baik tentang Soekarno, ada juga pemberitaan buruk tentangnya. Dari situ kita mudah menerima fakta sejarah tentangnya sekalipun dari yang tidak suka dengannya atau dari pengagumnya.

Contoh lain dari memori tentang Soeharto. Di kalangan aktivis, sosok Pak Harto jangan ditanya lagi. Jika bukan kritikan pedas, bisa-bisa makian. Itu terasa di angkatan saya yang lahir tahun 90an. Ketika ada pemberitaan yang baik-baik tentangnya, setidaknya pikiran saya sulit memverifikasi kebenarannya, atau bahkan tertolak.

Meski beberapa wadah ideologisasi telah dibekuk dan ikut berpartisipasi pada rezim Orde Baru (orba), seperti pendidikan formal dan media massa, tapi tetap tidak menutup tindakannya selama memerintah. Sebut saja peristiwa-peristiwa dalam ingatan Anda. Tidak bisa tertutupi meskipun bahkan di ranah kebudayaan telah digunakannya untuk menutup itu.

Sekalipun ada fakta sejarah yang membuat kita harus menerima itu sebagai kebenaran tindakannya, tapi tetap saja yang terselip diingatan adalah pelanggaran-pelanggaran HAM. Setelah lalu-lalang di masa lalu, film Penumpasan Penghianatan G 30 S PKI, sebagai propaganda ingatan, hanyalah suatu opera yang dalangnya sudah jelas.

Bagaimana dengan Gus Dur?

Kasus yang menjerat Gus Dur masih tetap kabur sampai dokumen rahasia itu dipublis. Kasus yang kabur itu ditelan oleh kemuliaan Gus Dur.

Ingatan kita tentang Gus Dur ada beragam jenis. Melintasi batas-batas identitas. Seperti ucap Gus Dur, sejarah telah membuktikan itu.

Buku yang memaparkan dokumen rahasia, bagi saya, malah justru bukan untuk dendam kepada nama-nama itu–tidak juga melupakan nama-nama itu–tapi lebih memperkuat apa yang selama ini kita yakin sebagai Gus Dur.

Fahmi Karim
Mahasiswa pascasarjana program studi Ekonomi Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Generasi Muda di Antara Agama dan Budaya

Oleh: Bernadien Pramudita Tantya K, SMA Santa Ursula Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Indonesia adalah negara yang kaya akan bahasa, budaya,...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.