Palestina di Tengah Keabsurdan Dunia Islam [Hari Al-Quds Internasional]

2117
Pengunjuk rasa Palestina melemparkan batu ke arah pasukan Israel. Mereka mendukung tahanan Palestina dalam mogok makan di penjara Israel, di desa Beita Tepi Barat, dekat Nablus, Jumat (19/5). ANTARA FOTO/REUTERS/Mohamad Torokman

Jenin, awal bulan Juni. Seorang gadis remaja bercelana jins dan berjaket pink terkapar di atas aspal. Sesekali tubuhnya menggelepar. Namanya Nour Iqab Abd el-Jabbar Enfeat, usianya 15 tahun. Dia baru saja ditembak tentara Israel. Beberapa lelaki berseragam dan bersenjata laras panjang mengitarinya, sambil mengucapkan kata-kata entah apa. Video kejadian ini diunggah di YouTube dan seorang komentator menulis bahwa di antara suara yang terdengar adalah, “Matilah kau pelacur!”

Nouf hanya satu nama di antara sekian banyak nama anak-anak remaja Palestina yang mengalami kejadian serupa. Sejak awal tahun 2017 saja, sudah ada 9 anak yang tewas ditembak tentara Israel, menurut Defence for Children International-Palestine (DCIP).

Sepanjang tahun 2016, ada 33 anak yang tewas di tangan tentara Israel, atau pemukim Yahudi, 26 di antaranya lagi-lagi dengan tuduhan akan melakukan serangan. Tuduhan yang meragukan, kata DCIP. Apalagi beberapa video menunjukkan bahwa mereka menembak mati anak-anak dan perempuan hanya didasarkan pada kecurigaan yang tak terbukti.

Bilapun benar ada beberapa kasus penikaman yang dilakukan anak-anak Palestina, sangat mudah dimaknai sebagai bentuk keputusasaan dan frustasi atas beratnya situasi yang mereka hadapi. Sekolah-sekolah mereka dihancurkan, guru pun dibunuh. PBB melaporkan bahwa sepanjang tahun 2015 ada pembombardiran terhadap 96 sekolah, 46 serangan terhadap pelajar dan guru, dan 62 kasus gangguan terhadap proses belajar-mengajar, seperti penutupan sekolah dan pemenjaraan para guru dan murid. Khusus di Gaza, ada 262 sekolah dan 274 TK yang rusak atau hancur dalam serangan IDF tahun 2014.

Anak-anak itu pun setiap saat bisa digeruduk oleh tentara Israel, tanpa alasan yang masuk akal. Menurut DCIP, sepanjang tahun 2016, ada 158 anak dari Tepi Barat yang ditahan Israel dan divonis oleh peradilan militer. Sebanyak 62 persen di antara mereka mendapatkan kekerasan fisik selama di penjara dan 52 persen mengalami kekerasan verbal.

Sebanyak 25 anak bahkan ditahan di sel tunggal selama 16 hari untuk diinterogasi. Sementara itu, menurut PBB, saat ini ada lebih dari 860 anak Palestina yang berada di penjara Israel di Yerusalem Timur, 136 orang di antaranya berusia antara 7-11 tahun.

Bila kita melihat catatan sejarah, Resolusi PBB 181 tahun 1947 telah membagi dua wilayah Palestina, 56% dialokasikan menjadi “negara Yahudi” dan sisanya untuk “negara Arab”. Sementara itu, pengelolaan kota Yerusalem kepada Special International Regime. Resolusi itu segera disusul dengan pengusiran besar-besaran warga Arab Palestina yang tinggal di wilayah “negara Yahudi”.

Pada tahun 1948, Israel pun dideklarasikan dan sejak itu hingga hari ini wilayah yang mereka duduki di luar batas yang ditetapkan PBB tahun 1947 terus bertambah melalui perang dan pengusiran. Sebaliknya, wilayah yang dikuasai oleh warga Palestina tinggal 50% dan terus berkurang.

Meski dikecam oleh dunia internasional, termasuk oleh negara-negara Eropa, Israel terus membuka kawasan permukiman baru dengan cara mengusir warga Palestina dari rumah dan tanah mereka di Tepi Barat. Pada paruh pertama tahun 2016 saja, ada 450 rumah warga Palestina yang dihancurkan dan lebih dari 3.000 hektare tanah milik warga Tepi Barat yang dirampas untuk dijadikan permukiman Yahudi.

Jumlah total warga Palestina saat ini sekitar 11,8 juta (data akhir 2013, menurut Palestinian Central Bureau of Statistics). Sebanyak 4,5 juta berada di Palestina, 1,4 juta di Israel, dan sisanya menjadi pengungsi di berbagai negara dunia. Mereka masih belum mendapatkan hak asasi manusia sebagaimana ditetapkan oleh PBB, yaitu hak untuk menentukan nasib sendiri tanpa intervensi asing, hak untuk meraih kemerdekaan dan kedaulatan nasional, hak untuk kembali ke rumah dan properti yang direbut paksa oleh Israel, hak untuk mendapatkan pendidikan, keamanan, dan keadilan.

Akhir-akhir ini berbagai gerakan dukungan terhadap Palestina bermunculan di negara-negara Barat, seperti aturan pelabelan produk Israel di kawasan pendudukan (sehingga konsumen dapat memilih untuk tidak membeli produk tersebut), gerakan boikot terhadap institusi Israel yang dilakukan oleh the American Anthropological Association, atau kesepakatan the British Labour Party’s National Executive Committee untuk memboikot perusahaan keamanan swasta G4S yang telibat langsung dalam kekerasan di penjara Israel.

Ironisnya, di Dunia Islam gema dukungan kepada Palestina malah semakin meredup, tergantikan oleh isu Suriah dan ISIS. Front perlawanan Israel yang dibangun oleh trio Suriah, Iran, dan Hizbullah justru ditekan habis-habisan oleh sesama negara Muslim. Suriah, yang merupakan penyuplai logistik untuk pejuang Palestina dan menampung jutaan pengungsinya, ditendang dari Liga Arab. Negara-negara Arab pula yang membiayai milisi-milisi jihad untuk menghancurkan Suriah.

Iran yang selama puluhan tahun konsisten membantu perjuangan Palestina, termasuk menyumbang jutaan dolar kepada Hamas setiap tahun agar roda pemerintahan mereka di Gaza bisa tetap berjalan, dikucilkan dan disebut sebagai negara pendukung teroris. Sementara Hizbullah yang berkali-kali bertempur head to head dengan Israel malah disebut sebagai organisasi teroris.

Di tengah keabsurdan ini, masih ada suara perlawanan yang konsisten digelorakan sejak tahun 1979, yaitu Hari Al-Quds Internasional. Mendiang Ayatullah Khomeini dari Iran yang mencanangkannya, namun gemanya menyebar ke berbagai penjuru dunia. Pada setiap Jumat terakhir di bulan Ramadhan diselenggarakan aksi-aksi demo di berbagai negara untuk menyatakan solidaritas kepada Palestina.

Demonstrasi mungkin saat ini tak mampu mengubah apa-apa. Namun penting dilakukan dalam rangka merawat ingatan bahwa masih tersisa satu bangsa di muka bumi yang masih terjajah hingga saat ini, ketika Dunia Islam semakin tak peduli.

Komentar anda
Bagikan
Dina Y. Sulaeman
Analis isu-isu sosial dan geopolitik Timur Tengah. Meraih gelar doktor Hubungan Internasional dari Universitas Padjadjaran (2016), Direktur Indonesia Center for Middle East Studies. Beberapa karyanya antara lain "Salju di Aleppo", "Pelangi di Persia", "Ahmadinejad on Palestine", "Obama Revealed", "Princess Nadeera", "Journey to Iran", "Prahara Suriah", dan "A Note from Tehran" (antologi). Saat ini tinggal di Bandung.