Minggu, Februari 28, 2021

Zonasi untuk Keadilan Pendidikan Bagi Seluruh Anak Indonesia

Mengenali Motif Pelaku Mutilasi

Masih tentang kabar mutilasi. Jari tangan kita yang terkena jarum suntik saja terasa perih, bagaimana dengan korban mutilasi? Seakan enggan memikirkan rasa perihnya, namun...

Tsamara Amany dan Polemik yang Salah Sasaran

Jagat media kembali dihebohkan gara-gara Fadli Zon yang menyatakan bahwa Vladimir Putin merupakan sosok pemimpin yang dibutuhkan bangsa Indonesia. Secara gegabah disambut oleh Tsamara...

Kampus di Tengah Pusaran Perpolitikan Negeri

Beberapa hari yang lalu, ketua Drone Emprit Indonesia, Ismail Fahmi menuliskan sebuah postingan menarik di laman facebook miliknya. Dalam ulasan postingannya tersebut, ia menjabarkan...

Sengkarut Kebijakan Impor Garam

Problematika impor garam kian mengemuka setelah pemerintah menetapkan PP No. 9 Tahun 2018 tentang Tata Cara Pengendalian Komoditas Perikanan dan Komoditas Pergaraman sebagai Bahan...
Avatar
David K Alka
Pemerhati Politik Kontemporer dan Wasekjen PP Pemuda Muhammadiyah (2018-2022)

Jaringan Intelektual Berkemajuan (JIB) mengadakan diskusi “Sistem Zonasi: Polemik dan Manfaatnya” di Gado-Gado Boplo, Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (21/06/2019). Narasumber dalam diskusi ini di antaranya Doni Koesoema A (Pengamat Pendidikan Universitas Multimedia Nusantara), Abdullah Sumrahadi (Pengamat Kebijakan Publik Universitas Krisnadwipayana), dan Kosman Komar (Orangtua Murid dari Yayasan Cahaya Guru), dan dipandu oleh Hamzah Fansuri dari JIB.

Banyak masyarakat menilai program zonasi ini sebagai wujud pemerataan pendidikan yang perlu didukung agar setiap sekolah maju dan berkembang bersama. Selain itu juga akan menjadi angin segar bagi penyandang disabilitas karena bisa menjangkau sekolah terdekat.

Kebijakan sistem zonasi pada proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) sebenarnya bukanlah hal baru. Banyak negara telah melaksanakan program serupa seperti Inggris, Amerika, Australia, Finlandia, Kanada, Jepang, dan negara maju lainnya. Akan tetapi masyarakat kita perlu untuk mengenali kebijakan ini termasuk urgensi dan kebermanfaatan bagi pendidikan nasional secara umum.

Sesuai dengan isi edaran yang dirilis Kemendikbud, pendekatan zonasi yang dimulai dari penerimaan siswa baru dimaksudkan untuk memberikan akses yang lebih setara dan berkeadilan kepada peserta didik. Tanpa melihat latar belakang kemampuan ataupun perbedaan status sosial ekonomi.

Dampak lain yang diharapkan adalah sistem ini akan memicu kesadaran SDM tempatan untuk tetap berada di wilayahnya masing-masing dan membangun wilayah tempat tinggalnya.

Tentu kita menyadari ada sejumlah kesulitan untuk menerapkan sistem ini secara nasional, akibat kondisi-kondisi kenyataan di lapangan, antara lain kualitas sekolah yang tidak merata. Namun sistem zonasi sekolah juga beriringan dengan program peningkatan kualitas guru, kelengkapan sarana prasana fisik, dan kondisi-kondisi kultural.

Mitos tentang sekolah unggulan yang selama ini telah tertanam dalam masyarakat, bagaimana pun terjadi akibat tidak berjalannya pemerataan secara serentak di dunia pendidikan. Untuk itulah sistem zonasi sekolah dirancang dan diterapkan.

Kerja ini memerlukan komitmen dan partisipasi aktif yang luas dari masyarakat dan harus menjadi momentum bagi penyelenggara pendidikan formal untuk meningkatkan kualitas dan kompentensi. Dari zonasi sekolah, sistem ini nantinya dijperkuat dengan zonasi guru berdasarkan wilayah.

JIB memandang sistem zonasi akan membuat tumbuh kembang anak menjadi lebih baik, karena tidak ada iming-iming unggulan. Dengan demikian, semua anak adalah potensi yang dapat mengembangkan dirinya menjadi unggul dengan bersekolah di lingkungan terdekatnya.

Untuk itulah sosialisasi pelaksanaan progam ini perlu makin diperkuat dan ditingkatkan intensitasnya. Di samping melakukan evaluasi untuk perbaikannya.

JIB juga merespon positif rekomandasi Ombudsman yang melihat kurangnya koordinasi antara Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementrian Dalam Negeri dalam proses penerapan sistem zonasi.

Hal itu perlu dievaluasi dan diperbaiki untuk mencegah penyimpangan yang mungkin terjadi akibat ada kebijakan pelaksanaan yang berbeda di daerah-daerah. Pihak Kemendikbud dan Kemendagri, juga dituntut untuk lebih komunikatif dengan keluhan-keluhan masyarakat demi tercapainya tujuan utama sistem zonasi untuk melakukan pemerataan kualitas.

Kebijakan zonasi juga wujud pemerataan pendidikan yang perlu didukung agar setiap sekolah maju dan berkembang bersama. Kebijakan ini sudah sesuai spirit Nawacita jilid II, maka perlu dukungan semua untuk keadilan bagi seluruh anak Indonesia.

Siaran Pers, Jakarta 21 Juni 2019

Jaringan Intelektual Berkemajuan

Avatar
David K Alka
Pemerhati Politik Kontemporer dan Wasekjen PP Pemuda Muhammadiyah (2018-2022)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Generasi Muda di Antara Agama dan Budaya

Oleh: Bernadien Pramudita Tantya K, SMA Santa Ursula Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Indonesia adalah negara yang kaya akan bahasa, budaya,...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.