Selasa, Maret 2, 2021

Zen RS: Simulakra Sepakbola

Kita Sudah Seharusnya Smart Goverment

Dalam sejarah Peradaban Manusia, Alvin Toffler membagi tiga gelombang peradaban manusia. Pertama, masyarakat agraris. Kedua, masyarakat industri. Ketiga, masyarakat informasi. Dan gelombang ke tiga...

RA Kartini Menangis, Kenapa?

Euforia peringatan hari Kartini setiap tanggal 21 April selalu menggelegar di langit Indonesia. Seluruh kaum perempuan dari Sabang sampai Merauke bersuka cita merayakan spirit...

Wiliam James dan Emosi Beragama Kita

Menawarkan pemikiran agama dari masa ke masa telah diwarnai oleh beberapa pemikir dari lintas zaman. Mereka menelaah detail-detail agama yang dirawat oleh kelompok sosial...

Venezuela dan Keperkasaan The Last Man

Venezuela, sebuah negara di ujung utara Amerika Selatan dengan jumlah penduduk kurang lebih 31 juta jiwa, kini mengalami malam kelam yang panjang. Gejolak politik...

Setelah membaca buku dengan judul Simulakra Sepakbola (2016) punya seorang kawan, saya langsung mencari tahu siapa sih yang sebenarnya yang mampu dan mau-maunya menulis buku semenarik itu. Ternyata, oh ternyata saya baru mengetahui bahwa ada seorang penulis, esais, sekaligus jurnalis yang bernama Zen RS atau lebih tepatnya Zen Rachmat Sugito.

Dalam setiap kata dan kalimatnya mencerminkan bahwa sosoknya penuh dengan analisa dan pengamatan yang tajam dan menujam. Meski tak sempat membaca dengan tamat, saya melanjutkan pencarian itu melalui media lain. Ternyata lagi-lagi saya baru mengetahui bahwa ada banyak sekali setiap pengamatannya-tidak hanya soal sepakbola-yang saya baru temui berupa literasi berebentuk tulisan opini, esai juga analisisnya.

Salah satu kutipan dari buku itu membuat saya terkagum-kagum, berbunyi begini:

 “Jika pornografi mulai dianggap lebih sensual dibandingkan seks, maka bisakah tayangan sepakbola dianggap lebih sporty dari sepakbola itu sendiri?”

Maka menjadi wajar bila saat itu saya mengerutkan alis sekejap, sebab perbandingan dari satu hal ke hal lain itulah yang membuat saya sedikit terengah. Bagaimana bisa ia membandingkan antara pornografi yang kian sensual dengan sebagian kalangan yang menganggap tayangan sepakbola lebih sporty ketimbang sepakbola itu sendiri. Dan buku ini menjadi buku kedua sekaligus buku pertamanya yang saya baca.

Perlu analogi dan analisa yang pas agar antara kedua hal tersebut tepat untuk dibandingkan.

Tak cukup sampai di sana, saya terus mencari tahu. Dalam tulisan sahabatnya bernama Muhidin M. Dahlan yang terbit di mojok.co saya mengutip, “Di antara puluhan ribu kader HMI MPO di seluruh Indonesia yang berusia di antara 20 hingga 40 tahun, barangkali Zen RS adalah penulis esai terbaik. Tanpa tanding!”

Dalam tulisan tersebut memang tergambar pujian serta-mungkin tak hanya saya-yang mengangumi sosok sepertinya. Dan boleh jadi ia salah seorang esais terbaik sejauh yang saya tahu.

Dan akhirnya saya ngeuh bahwa media bernama Panditfotball.com bertajuk analisis sepakbola dari Indonesia hingga Eropa dengan mengambil sudut pandang sosio-kultur-history, yang juga saya follow di twitter beberapa tahun lalu, lebih dulu ketimbang saya mengetahui bahwa ialah sang mpunya media tersebut.

Juga belakangan saya tahu bahwa ia salah seorang yang berpengaruh di media literasi lainnya sebut saja Tirto.id dan keidealisannya tertuang dalam tulisan dan setiap gerak-geriknya di berbagai kondisi sosial Indonesia hari ini, menyoal urusan HAM, penindasan serta penggusuran lahan dan tanah rakyat kecil, dan yang terakhir yang paling hangat adalah soal hilangnya nyawa supporter sepakbola dan kecacatan petinggi kelas teri yang ada pada tubuh PSSI.

Malang-melintang sudah tulisannya di pelbagai media cetak terutama sejak ia menginjak bangku Ilmu Sejarah di Universitas Negeri Yogyakarta, masih mengutip seorang sahabatnya itu, “Dalam menjajal kenikmatan menulis itu, ia menjajal beragama tema; mulai lingkungan, film, buku, tokoh, hukum, dunia mahasiswa, hingga kondom.

Di majalah kampus LPM Ekspresi IKIP/UNY tulisan-tulisannya dominan dalam hal kuantitas dan kualitas. Maklum, ia tipe lanang-jagat dan bukan organisatoris.” Memang saya setengah setuju dengan kalimat terakhir sahabatnya itu, sebab dalam beberapa kegiatan yang tayang di layar kaca, lakunya lumayan selengean.

Wajahnya yang karismatik, rambutnya serupa sapu ijuk juga klimis dan argumennya yang penuh analisa, saya selalu menanti-nanti setiap kemunculannya di pra-kick-off saat Piala Dunia 2018 kemarin. Rasa-rasanya belum ada komentator yang membawa sudut pandang yang luas dari hulu ke hilir. Ia berbeda dengan Yusuf Kurniawan atau Bung Kusnaedi.

Berkat ilmu sejarah yang ia emban, dalam bukunya tersebut ia seolah menggambarkan kondisi Indonesia pra-merdeka. Mengutip resensi dari Hary G. Budiman yang berjudul Sebuah Catatan Kecil Tinjauan Simulakra Sepakbola (2016). “… Pada esainya, Zen memberi nafas sejarah yang lumayan panjang tentang Bahasa Indonesia sebagai bentuk nasionalisme awal dan bentuk perlawanan paling mula terhadap kolonialisme modern.”

Bab dengan judul Koloni Bola didominasi esai-esai serius yang menautkan sepakbola dengan sejarah, politik, serta kekuasaan. Esai-esai pada bab ini menurut hemat Budiman, bukan sekadar atas dasar laku menonton/memirsa, tetapi atas usaha pembacaan dan penelitian; pengumpulan sumber (heuristik), kritik sumber, sintesis data, dan interpretasi.

Paling tidak, dengan dan dari Zen kita bisa menarik pelajaran yang amat berarti. Saya sangat setuju dengan beberapa komentar orang-orang dan kawan-kawan, bahwa saya tidak menyangka ia bisa menuliskan sepakbola dengan luwes.

Bahwa paling tidak, sepakbola digambarkan tak hanya salah satu cabang olahraga. Paling tidak, sejarah yang jernih bisa dituangkan dalam sepakbola. Paling tidak, dari pelbagai sudut pandang kita bisa melihat realitas sepakbola.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.