OUR NETWORK

Zaman Penuh kecurigaan

Masalah kemudian muncul ketika kebanyakan kita lebih memilih untuk menjadi konsumen dari produk-produk media yang dimobilisasi oleh korporasi-korporasi profesional, ketimbang menjadi produsen.

Kira-kira pernah tidak terbesit di pikiran anda, merenungi bagaimana kehadiran media massa mempengaruhi mekanisme hidup manusia? Entitas yang bernama media ini seolah-olah merusak tatanan teori hierarki kebutuhan.

Kalau dulu untuk memetakan gradasi kebutuhan manusia, kita bisa meletakkan ketergantungan terhadap makan dan minum sebagai jenis requirement yang paling pertama dan wajib dipenuhi bagi keberlangsungan hidup, kira-kira bisa tidak jika keterikatan kita akan kehadiran media sebagai sarana komunikasi dimasukkan dalam klasifikasi tersebut?

Sebagian besar kita-kalau tidak ingin mengatakan semuanya-boleh jadi mungkin pernah merasakan bagaimana “sumpeknya” hari berlalu, bila anda diperhadapkan dengan situasi di mana baterai handphone habis, sedangkan anda lupa untuk membawa charger dan sedang berada di luar rumah.

Entah disadari ataupun tidak, hal ini telah menjadi bukti bahwa kebutuhan manusia akan akses informasi melalui media semisal handphone, buku, komik, majalah, koran, internet, radio, televisi, dan lain sebagainya telah mengkristal kedalam diri. Jenis-jenis media massa ini saling bersaing antara satu sama lain, memperebutkan perhatian kita, mengisi setiap momentum dinamika kehidupan manusia.

Masalah kemudian muncul ketika kebanyakan kita lebih memilih untuk menjadi konsumen dari produk-produk media yang dimobilisasi oleh korporasi-korporasi profesional, ketimbang menjadi produsen. Kecintaan kita terhadap informasi dan komunikasi menjadi lahan bisnis korporasi tadi, dan yang terburuk darinya kemudian menjadi lahan subur munculnya propaganda-propaganda yang mengacaukan atmosfer kehidupan.

Propaganda-propaganda ini bisa lahir karena para produsen yang menghasikan informasi lewat media memang memiliki kuasa untuk melakukan hal itu. Anda bisa mengingat-ingat kembali bagaimana gampangnya bangsa ini di “obok-obok” dengan kesimpangsiuran berita yang leluasa berseliweran di layarlayar gadget kita.

Dua puluh tahun jauh sebelum internet ditemukan, Marshall McLucan lewat karangan-karangannya-Understanding Media, The Medium Is The Massage-memang telah menyuarakan gagasan tentang bagaimana dasyatnya peran media membentuk worldview  masyarakat serta berimplikasi langsung dalam ranah praktis kehidupan mereka.

Kemudahan masyarakat untuk mengakses informasi ditopang canggihnya kemajuan teknologi, justru malah menjadikan orang menjadi bingung, mengalam disorientasi disebabkan peluberan informasi (information spill over) yang terjadi.

Di lain sisi kondisi serupa kemudian melahirkan generasi “orang-orang dangkal” yang terbiasa mengkonsumsi informasi apapun tanpa filter. Masyarakat kemudian jadi gampang heboh merespon isu-isu tertentu, dan juga mudah terkecoh dengan berita-berita hoax mulai dari yang picisan sampai pada yang kelihatan asli meyakinkan.

Kecenderungan konflik yang muncul baik di antara kelompok politik, etnik, agama-antar dan intraagama-dan lain sebagainya juga terasa semakin kencang berhembus dimediasi oleh kehadiran media itu sendiri.

Ruang-ruang publik media menjadi ring debat kusir masing-masing kelompok mempertahankan ideologinya. Hujat-menghujat sudah jadi makanan biasa. Walhasil di tengah-tengah arus informasi yang meluber semangat kebencian semakin vokal disuarakan.

The Broken World

Bias selanjutnya yang muncul dari rangkaian masalah disebabkan kemutakhiran media massa, menjadikan rasa percaya (trust) di antara anggota masyarakat semakin menipis bahkan bisa dikatakan hilang sama sekali.

Kecurigaan-kecurigaan terus berkembang ketika orang-orang diperhadapkan dengan berbagai macam informasi yang diterima, yang satu dan lainnya saling berkontradiksi sehingga khalayak bingung, was-was ketika memilah dan memilih berita. Pertanyaan-pertanyaan bernada skeptis biasanya menggema di kepala kita, menjadi pertanda rasa was-was terus menggelora berdialektika dengan arus informasi yang ada.

Ujung-ujungnya, klimaks dari rentetan problem ini menjadikan nilai dari setiap informasi yang diterima masyarakat melalui media dianggap sama saja, meskipun materi yang terkandung di dalamnya tentu berbeda-beda. Hal ini membentuk refleksi perspektif publik yang memposisikan setiap berita ataupun informasi, seperti biasa-biasa saja tanpa melibatkan “rasa” untuk memahaminya.

Informasi-informasi yang terkait dengan persoalan kemanusiaan pun dianggap ibarat tontonan televisi biasa, tidak jauh berbeda dengan acara-acara variety show yang lumrah tersajikan oleh media.

Orang-orang mendudukkan setiap informasi ibarat suatu problem yang coba dijawab dengan meposisikan dirinya sebagai subjek yang mendekati objek. Masyarakat cenderung berupaya menganalisa tiap-tiap berita, mengfungsikannya sebatas informasi umum untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka ataupun fungsi-fungsi lainnya yang bisa diperoleh dari informasi tersebut, meskipun ia tergolong kedalam hal-hal sensitif yang berkaitan dengan pengalaman hidup manusia. Situasi seperti ini lalu memunculkan Gejala yang diistilahkan oleh salah seorang tokoh filosof eksistensialis, Gabriel Marcel dengan sebutan “the broken world”.

The broken world, bisa dideskripsikan sebagai suatu fenomena sosial di mana manusia tergoda untuk memandang diri pribadi-maupun orang lain-sebagai kumpulan fungsi, yang secara bersamaan kemudian mereduksi kedudukan manusia sebagai individu yang memiliki karakteristik unik, khas dan bernilai.

Seseorang condong menjadikan hubungannya dengan person lain sebagai ikatan fungsi, yang hanya melihat keuntungan ataupun manfaat apa yang bisa diperoleh dari lawan komunikasinya itu. Jadinya, rasa kemanusiaan masyarakat lantas tergerus sedikit demi sedikit, tergantikan dengan mindset fungsional tadi.

Yang paling terbaru contoh kasusnya bisa kita temukan melihat bagaimana masyarakat merespon kejadian teror bom bunuh diri yang terjadi pada beberapa titik daerah di Indonesia. Tidak bermaksud untuk menghukumi benar salahnya, akan tetapi sebagian di antara kita ada yang kemudian justru lebih mengedepankan rasa curiga dan kewaspadaan atas sejuta konspirasi serta propaganda yang katanya berada di balik aksi-aksi kekerasan ini, dibandingkan untuk menunjukkan rasa belasungkawa serta keprihatinan terhadap korban yang terlibat dalam peristiwa tersebut.

Lain di antaranya justru masih sempat-sempatnya menjadikan berita tragedi kemanusiaan ini untuk menyelipkan promosi kepentingan-kepentingan mereka. Anda bisa lihat bagaimana komentar-komentar akan aksi teror bom bunuh diri itu dibumbui dengan pesan-pesan persuasif semisal tagar 2019 ganti presiden, jokowi dua periode, ataupun jargon khilafah ajaran Islam.

Seolah-olah kedua jenis kelompok masyarakat ini-yang skeptis dan yang promosi-sedang “mengfungsikan” informasi teror bom ini layaknya berita-berita biasa. Bisa tidak jika semua hal tadi kita kesampingkan sejenak, bukan apa-apa hanya sebagai bentuk penghargaan dan simpati atas tragedi kemanusiaan ini. Bukankah kita semua sama-sama manusia, iya kan?

Referensi 

Ziauddin Sardar dan Borin Van Loon, Membongkar Kuasa Media

Haidar Bagir, Islam Tuhan Islam Manusia

Manusia ji saya kodong,, ?

TINGGALKAN KOMENTAR

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.