in

Young Lex dan Yuli Sumpil


Caption foto: Young Lex (kiri), Yuli Sumpil (kanan). Sumber penulis

Young Lex dan Yuli Sumpil adalah dua sosok yang berbeda. Young Lex seorang rapper sedangkan Yuli Sumpil dirigen Aremania. Belakangan keduanya menjadi sorotan publik karena berwajah dan berpenampilan mirip serta dianggap sering mengeluarkan kata-kata kasar sampai umpatan dalam setiap aksinya. Namun keduanya punya alasan dibalik aksi kontroversialnya itu. Mereka juga punya cita-cita mulia terhadap dunianya masing-masing.

Samuel Alexander Pieter atau akrab disapa Young Lex adalah seorang rapper muda yang kontroversial. Ia mulai dikenal luas setelah membawakan lagu berjudul Bad berkolaborasi dengan selebgram Awkarin tahun lalu. Meskipun banyak netizen (pengguna media sosial) yang berkomentar benci setelah menyaksikan penampilan keduanya di youtube, tetapi Young Lex tidak surut, dia terus berkarya. Terakhir dia merilis lagu berjudul Ganteng-ganteng Swag (GGS) bersama kolega-koleganya di youtube.

Salah satu alasan mereka benci Young Lex karena anak muda ini dinilai angkuh dan lirik-lirik lagunya banyak bernada kasar sehingga dianggap memberikan contoh buruk bagi anak-anak muda. Misal saja sejumlah lirik lagu GGS yang begini; Di Youtube gue ngomongnya anj*ng bangs*t / Tapi di Instagram semua cewe cewe / mendekat / Sok suci? hahahaha / Gue bukan ustad / Ga punya sayap / Tapi mirip malaikat / Dulu sahabat sekarang jadi bangs*t.

Young Lex punya alasan tersendiri membuat lirik bernada kasar. Menurut dia meskipun kasar tetapi lagu itu adalah gambaran realita masyarakat. Kasar identik dengan nakal tetapi nakal tidak berarti jahat. Menjadi kontroversial juga kesengajaan baginya karena dengan semakin banyak yang membencinya akan semakin banyak pula yang ingin tahu dirinya dan hip-hop.

“Gue enggak peduli 500 ribu orang dislike video gue, tetapi intinya mereka yang belum pernah mendegar lagu rap, akhirnya mendengar. Dari  sembilan juta penonton video Bad di YouTube, pasti ada yang akhirnya mencari tahu karya gue, atau mencari tahu lagu hip-hop lain. Itu intinya, yang penting mereka mendengar hip-hop. Itu strategi gue,” kata Young Lex dikutip dari metrotvnews.com.

Baca Juga :   Tembok Digital Cina: Perpu Bukan Alternatif

Dibalik gayanya yang angkuh dan lirik kasar sebenarnya Young Lex yang belajar hip-hop sejak 2011 lalu ini punya tujuan mulia. Ia ingin menjadikan hip-hop dikenal dam berjaya di Indonesia. Salah satunya dengan mendirikan sekolah hip-hop berstandar Korea. Anak-anak yang sekolah di tempatnya tidak saja akan belajar musik tetapi juga dituntut berintektual dan berwawasan luas.


“Di sekolah itu gue buka dan gue bilang dari awal bahwa sekolah hip-hop gue itu bukan jaminan untuk sukses dan terkenal. Tetapi jika kalian mau tahu caranya nge-rap, silahkan. Ada kelas penulisan lirik, beatmaking, DJ, dance class, after that ada gigs. Mereka yang mengisi gigs itu sendiri. Gue jamin ada yang berbakat dari daerah antah-berantah. Itu tujuan gue, membuat hip-hop besar, bukan beberapa personal saja yang besar. Gue akan kasih spotlight ke orang lain, rezeki sudah ada yang mengatur. Itu yang tidak dilakukan rapper-rapper generasi sebelumnya,” tuturnya.

Young Lex lahir di Jakarta, 18 April 1992. Anak muda ini terlahir dan dibesarkan dari keluarga sederhana. Semasa SMP dia berjualan nasi uduk untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Ia anak nakal dan sering tawuran. Kepalanya pernah bocor karena terkena lemparan batu saat tawuran. Ketika SMA ia mulai tertarik dan mendalami hip-hop.

Perjalanan hidup Young Lex ini mirip dengan Yuli Sumpil yang juga terlahir dari keluarga sederhana. Nama lengkapnya Yuli Sugianto kelahiran Malang, 14 Juli 1976. Sumpil sebagai nama belakangnya menunjukkan nama pemukiman tempatnya tinggal di Kota Malang, Jawa Timur. Setamat Madrasah Aliyah (MA) setingkat SMA Yuli bekerja sebagai tukang cuci mikrolet dengan penghasilan Rp 10-15 ribu per hari. Ia mulai suka dan meyaksikan Arema bertanding di stadion sedari sekolah dasar (SD).

Baca Juga :   Dicari: Pemimpin Kampungan

Yuli dahulu adalah anak muda yang nakal. Ia suka bermain sepakbola dan bagi dia sepakbola tanpa tawuran terasa hambar. Satu ketika Yuli muda ikut tour ke Jakarta kala Arema bertanding melawan Persebaya. Dari Malang ia sudah berbekal peralatan tawuran semacam pedang dan sebagainya. Di depan Stasiun Pasar Senen ia bersama kolega-koleganya terlibat tawuran dengan Bonekmania (suporter Persebaya).

“Buat saya dulu tawuran adalah bagian dari sepakbola. Sepakbola nggak ada tawuran seperti sepakbola banci. Yang saya ingat, keesokan harinya saya baca di koran ternyata ada tiga orang Bonek yang mati. Sementara kami semua selamat,” kata Yuli dikutip dari Kosim Junaedi (Yuli Sumpil: Sang Dirigen Aremania).

Militansinya dalam mendukung Arema di tribun stadion menjadikannya seorang dirigen sejak 1998 lalu. Sebagai dirigen Yuli kerap memimpin Aremania menyanyi dengan lirik chant bernada kasar disertai umpatan. Lirik-lirik kasar itu biasa ditujukan kepada klub atau suporter yang sedang menjadi lawan tanding Arema di stadion. Sering pula ditujukan kepada rival abadi Bonekmania meskipun Persebaya tidak sedang bertanding melawan Arema. Sebut saja chant legendaris yang digubah dari lagu Cucak Rowo menjadi begini; Arema Arema Singo Edan / Singo Edan Aremania / Sekarang Arema Menang / Bonek Janc*k Dibun*h Saja.

Chant bernada kasar semacam ini menjadi kontroversi karena banyak Aremania sendiri yang tidak menyukainya dan dianggap dapat memberikan contoh buruk. Mengingat tribun stadion tidak hanya dipenuhi Aremania dewasa saja tetapi juga anak-anak. Di samping itu juga dapat menumbuhkan bibit-bibit permusuhan antara suporter di luar stadion. Yuli dalam beberapa kesempatan beralasan chant bernada kasar itu untuk meningkatkan tensi pertandingan serta menghilangkan rasa jenuh dan capek Aremania sendiri kala mendukung Arema dari atas tribun dengan bernyanyi dan menari tanpa henti.

Baca Juga :   Nasionalisme dan Persatuan Umat Islam

“Kalau kami fokus saja pada nyanyian untuk mendukung Arema. Tapi, kalau teman-teman ingin bernyanyi yang sedikit provokatif, itu semata-mata untuk menaikkan tensi pertandingan saja,” kata Yuli dikutip dari Indosport.com.

Meski sosok kontroversial, Yuli dianggap mampu mempersatukan puluhan ribu Aremania. Beberapa kali Aremania mendapatkan penghargaan sebagai suporter sepakbola terbaik karena kekompakannya saat bernyanyi dan menari di tribun stadion. Karena alasan itu pada 2007 lalu Yuli Sumpil menjadi satu dari tiga orang conductor selain Addie MS (Twilite Orchestra), dan AG Sudibyo (Paduan Suara Mahasiswa UI) dalam film dokumenter The Conductors karya Andi Bachtiar Yusuf.

Di dalam film itu Yuli mengungkapkan cita-citanya mengenai suporter dan sepakbola Indonesia. Ia berharap kelak suporter bisa menyaksikan dan mendukung klubnya dengan nyaman. Tidak ada lagi tawuran antar suporter. Ketika menjadi suporter, tidak ada lagi perbedaan suku, agama, ras maupun jabatan, semuanya sama.

“Cita-cita saya, pagar besi pembatas tribun dengan lapangan nanti tidak perlu ada lagi. Jadi kita menonton sepakbola dengan enak, tidak ada perkelahian, tidak ada suporter yang mengganggu pemain. Saya juga ingin semua golongan bisa bersatu di sini. Kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan, Cina atau bukan Cina, pejabat atau orang biasa, Islam atau Kristen, di sini semuanya bisa sama,” ujarnya. (*)


Written by Lugas Wicaksono

Lahir di Malang 15 Maret 1990. Sarjana Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang.

Twitter: @lugaswicaksono

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR