Senin, April 12, 2021

Yogyakarta Darurat “Klitih”

Seragam Sekolah, Macam-Macam Bully, dan Kekerasan

Pada umumnya anak-anak pengguna seragam sekolah selalu identik dengan kaum yang berpendidikan dan terpelajar, mempunyai akhlak yang baik, hormat dan patuh kepada yang lebih...

Pentingnya Sistem Mitigasi Pra-Bencana di Indonesia

Dalam kurun waktu satu tahun, Indonesia mengalami ribuan kali bencana gempa bumi, baik skala besar maupun kecil. Karena Indonesia berada di jalur gempa teraktif...

Menilik Komunikasi Publik Tokoh Politik

Komunikasi merupakan sarana yang memiliki signifikansi tinggi dalam mengkonstruksikan sebuah interaksi sosial. Hal ini dikarenakan melalui jalinan komunikasi, seseorang akan mengaktualisasikan suatu konsepsi diri...

Mengintip Tingkah Generasi Milenialls di Film My Generation

Tak salah bila menyebut masa remaja menjadi saat menyenangkan dalam hidup. Bila dirunut, sejak tayang Ada Apa dengan Cinta pada 2002 film yang mengangkat...
Arga Endralesmana
Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, jurusan Ilmu Komunikasi, konsentrasi Jurnalistik.

Jogja, yang disebut–sebut sebagai daerah istimewa, seperti penggalan lirik lagu dari Jogja Hip Hop Foundation “ Jogja jogja tetap istimewa, istimewa negerinya istimewa orangnya”, seakan memperlihatkan keadaan kota dan masyarakat yang istimewa, tentram, nyaman, dan damai, pada nyatanya penggalan lirik lagu tersebut tidak menggambarkan situasi kota Jogja pada saat ini.

Masyarakat Jogja dan para wisatawan yang datang berkunjung ke kota Jogja diresahkan oleh berita-berita maupun isu kriminal yang dilakukan oleh sekelompok orang tak dikenal yang sering terjadi akhir–akhir ini.

Klitih, itulah sebutan para kelompok tak dikenal tersebut, kelompok yang menggunakan motor dan sering melakukan aksi kriminal dan tindak kekerasan.pada saat tengah malam hingga dini hari ini, dilakukan oleh segilintir oknum para pelajar SMP dan SMA kota Jogja.

Kata klitih yang mempunyai arti “tidak punya kerjaan”, kata tersebut saat ini mengalami pergeseran makna yang digunakan oleh masyarakat Jogja sebagai penanda adanya aksi kriminalitas yang dilakukan pada saat tengah malam dan dilakukan tanpa alasan.

Isu klitih yang sempat beredar pada sekitaran tahun 2014–2015, kini terulang mencuat kembali, dikarenakan banyaknya berita dan isu yang di share melalui media sosial Facebook, terutama di grup ICJ ( Info Cegatan Jogja ), yang saya juga merupakan salah satu member dari grup tersebut.

Grup ICJ yang mayoritas anggotanya terdiri dari seluruh masyarakat kota Jogja, yang merupakan penduduk dari segala penjuru kota ini banyak menginfokan mengenai aksi klitih tersebut. Saya sebagai salah satu penduduk dan masyarakat Jogja yang ikut diresahkan oleh berita dan isu tersebut, membuat saya harus lebih waspada ketika ingin berpergian hingga larut malam.

Bayangkan saja, ketika ada keperluan mendesak yang mengharuskan kita keluar larut malam dan memakai sepeda motor, tapi dibayangi dengan kekhawatiran akan rasa takut oleh kelompok klitih tersebut yang siap menerjang kita kapanpun dan dimanapun pada saat kita lengah.

Saya sebagai mahasiswa yang aktif memantau perkembangan informasi terupdate dalam grup ICJ, melihat dari sekian banyak berita yang ada, kebanyakan pelaku klitih ini tidak terungkap identitasnya dan tidak pernah jelas kelanjutan kasusnya.

Seperti contoh kasus yang sempat di share di grup ICJ, pada pertengahan tahun 2017 mengenai aksi klitih yang menimpa pemuda berusia 20 tahun di Bantul tewas, dikarenakan dilempar batako oleh orang tak dikenal yang terjadi pada dini hari itu juga tidak terungkap siapa identitas pelukanya. Itu adalah salah satu contoh kasus yang terjadi, dari sekian banyak kasus yang ada akhir–akhir ini.

Menurut saya sebagai warga kota Jogja yang merindukan “keistimewaan” kota ini kasus seperti ini harus tetap dituntaskan hingga membuat efek jera terhadap pelakunya. Jika tidak diungkap dan tidak ditindak tegas hal – hal kriminal ini akan terus berlanjut, dan membuat para pelakunya  merasa “aman” dan leluasa melakukan tindak kejahatanya.

Sudah saatnya aparat Kepolisian bertindak lebih serius dalam memberantas perilaku kriminal yang meresahkan ini. Pelaku tetap harus diberikan shock terapi bahkan bahkan jika perlu tembak ditempat karena selama ini pelaku tak jera bahkan semakin merajalela dan sudah menjadi rahasia umum bagi kita masyarakat Jogja.

Pelaku tersebut setelah ditangkap dan ditahan beberapa hari dan dilepaskan lagi dengan alasan masih di bawah umur atau kalaupun disidangkan hukuman yang diberikan juga dirasa ringan. Orang tua yang memimiliki anak usia SMP dan SMA juga sudah seharusnya mengawasi anak–anaknya dengan ketat, terkait dengan pergaulan dan kegiatanya diluar sekolah.

Karena banyak pelaku klitih ini merupakan anak baik–baik dirumah, namun pada kenyataanya beringas saat berkumpul dengan teman–teman seusianya. Masyarakat dan pemerintah Jogja pun harus ikut andil dan berperan aktif dalam mengawasi dan menjaga lingkungan, baik itu dengan kembali menggalangkan siskamling atau mengingatkan jika melihat anak tetangga yang mempunyai gelagat kurang baik di lingkunganya.

Saya sebagai masyarakat kota Jogja yang peduli, tentunya berharap kembalinya rasa nyaman, tentram, dan damai yang dirindukan oleh seluruh penduduk kota Jogja dan wisatawan. Mudah–mudahan fenomena klitih ini segera dapat diberantas dan diatasi.

Arga Endralesmana
Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, jurusan Ilmu Komunikasi, konsentrasi Jurnalistik.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.