Jumat, Februari 26, 2021

Ya, Kita Ini Pelupa

Sistem Zonasi PPDB, Cocok Gak Sih untuk Kita? (2-Selesai)

Baca juga tulisan pertama dari tulisan ini. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, bahwa Pak Muhadjir dkk di kementerian pendidikan sudah barang tentu memikirkan matang-matang...

Politik Agama Yes, Politisasi Agama No

Isu agama selalu hadir—atau dihadirkan?—dalam dinamika politik Indonesia. Contoh teranyar yang sering diangkat ke permukaan adalah preseden Pilkada DKI Jakarta 2017. Banyak pengamat beranggapan terpilihnya...

Doktor Kehormatan Politisi (2 dari 2)

(Lanjutan tulisan sebelumnya)Kontroversi penganugerahan doktor kehormatan bagi elit politik sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia saja, tapi juga di negara lain. Misalnya penganugerahan doktor...

Kader Milenial Gerakan Petani Global

Mungkin sebagian besar kaum tua dan juga anak muda berpikir bahwa saat ini akan sulit sekali menemukan anak-anak muda, khususnya para mahasiswa yang masih...
khoiril yaqub
Esais, tinggal di Pontianak

Polah lelaki paruh baya itu membuat saya ingat serta cekikikan. Saya tertawa kecil, setengah tertahan dengan komposisi yang tepat. Saya melakukannya dengan baik dan benar sehingga tidak diketahui orang-orang. Pasalnya jumat kemarin, saya salat berada persis dibaris belakang lelaki itu. Lelaki paruh baya berperawakan sintal yang tak saya kenali sebelumnya.

Saat hendak takbir pandangan saya terhenti. Saya melihat lelaki itu terus mengulang-ulang takbirnya sekitar enam atau tujuhan kali. Tak cukup dengan polah itu, ia juga mengibaskan tubuh serta tangannya, tampak seperti gelisah atau rusuh hati. Mungkin ia sedang mencari khusyuk dan belum menemukannya, ah tapi masa iya sampai segitunya mencari khusyuk. Gumam saya dengan menahan tawa.

Pasca-jumatan, ingatan saya berlanjut pada cerita lain. Ceritanya, sejak kecil saya hidup dan tumbuh di lingkungan pesantren. Jangan mengira saya ini keturunan kiai ya! Bukan, saya bukan zuriah kiai, apalagi Gus. Pokoknya tidak ada ikatan dengan keluarga pesantren. Saya hanya tinggal di dekat pesantren itu saja titik.

Karena saya tinggal di lingkungan pesantren, tentu kulturnya adalah kultul para santri. Salah satu kultur yang ingin saya sebut di sini adalah ketika melakukan salat berjamaah. Saat berjamaah imam salat tak pernah memerintahkan makmumnya untuk merapatkan baris atau saf. Jadi begitu imam datang, sang imam langsung takbir sedangkan makmum dibiarkan begitu saja, menentukan posisinya masing-masing.

Berbeda pada masa kuliah, saat saya sudah mulai salat dibeberapa masjid yang berbeda. Kultur salat jamaahnya tidak pernah saya alami sebelumnya. Biasanya saat hendak salat, sang imam suka bertindak melihat-lihat makmumnya, memastikan barisan sudah lurus dan rapat atau belum.

Setelah itu imam mengatakan; sawwu sufufakum fa inna taswiyyata assufufi min iqamat assalat. Kemudian makmum bergegas merapatkan barisannya sampai-sampai kaki saya terkadang menjadi sasaran pijakannya. Kan gimana gitu ya kalau diinjak kakinya, mending kalau yang nginjak ini neng gelis, heuheu. Saya yang jamaahnya terbiasa dibiarkan begitu saja tentunya merasa kikuk dan menjadi seperti mendapat hukuman. Akhirnya, kan saya terpaksa misuh, tapi bernada lirih; assu, wes gerang ndandak diatur barang.

Pernah loh, saya rapat-rapatkan barisan salat, mencari khusyuknya juga, mencoba melupakan selain Tuhan, eh pas pulang jumatan sandal saya malah hilang. Kan malah repot jadinya, sejak itu saya salat selow-selow aja. Bagi saya, mencari khusyuk, mencari kesempurnaan salat hingga memperapat barisan artinya memperibet diri sendiri.

Tidak dapat khusyuk juga tidak apa-apa, tidak dapat kesempurnaanya salat juga tidak apa-apa. Jadi, saya mencoba menyederhanakan, intinya berangkatnya salat tadi misalnya kita masih ingat sawah, ingat pekerjaan, atau ingat sandal, itu tidak apa-apa. Terpenting kita tidak menyembah sandal, tetap menyembah Tuhan. Bayangan saya, Tuhan akan santai-santai saja tentunya dan beranggapan; oh, tidak apa-apa masih menyembah-Ku cuma teringat yang lainnya.

Sabar! sabar dulu, saya tidak menyalahkan tindakan tersebut. Apalagi mengejek polah lelaki paruh baya yang tak saya kenali itu. Bukan, bukan itu semua yang menjadi pointnya. Saya hanya mbatin, memang sering kali kita dalam salat ingin sekali merasakan khusyuk. Usaha untuk khusyuk kadang kita lakukan dengan merem melek atau bahkan sampai berpolah seperti lelaki itu.

Ketika salat berjamaah juga, dalam merapatkan saf atau barisan, sangking rapatnya sampai-sampai kita saling injak-injakan kaki. Padahal jika sudah di luar (masjid) salat, kita seperti tidak lagi memerlukan khusyuk. Tidak ada lagi tu tindakan merapatkan barisan yang soalah-olah setan tidak bisa masuk. Malahan di luar (masjid) salat kita menjadi setan semua. Pada titik tersebutlah saya ingat, kemudian cekikikan.

Tidak hanya dalam ibadah salat saja, ibadah lainya juga demikan, puasa misalnya. Kita berpuasa hanya sampai waktu terbenamnya matahari saja. Lagi-lagi di luar itu kita tidak lagi memerlukan puasa. Betul, saya pernah mendengar dawuh yang mengatakan; puasanya orang puasa itu saat berbuka, karena semuanya boleh, kita harus menahan diri. Sedangkan khusyuknya orang salat itu mestinya di luar salat justru lebih khusyuk lagi.

Oke, bila point tersebut belum menjelaskan apa yang saya maksud. Begini, saya ingin mengatakan iman itu yang terpenting adalah prilakunya. Bahwa Allah Akbar di luar salat-pun tetap Allah Akbar, bahwa La ilaha illallah di luar salat-pun tetap La ilaha illallah, bahwa Subhanallah di luar salat-pun tetap Subhanallah, tetap begitu seterusnya.

Inilah persoalan kita dan minimal ini menjadi persoalan saya. Padahal kalau kita khusyuk di luar, merapatkan barisan tidak hanya di masjid, tentu kita akan mengingat semua. Bayangkan coba, jika para koruptor itu khusyuknya tidak hanya dalam salat, pasti mereka tidak jadi korupsi.

Kasus serupa lainnya misalnya yang baru-baru ini terjadi soal pemindahan dua makam lantaran terjadi perbedaan pandangan politik. Hanya karena politik mencederai rasa kemanusiaan. Lalu kemana khusyuk yang di dalam salat tadi. Kemana kerapatan saf dalam masjid yang dibangun tadi, kita-mu bukan kita-ku lagi. Ini problem besarnya, iman kita tidak berjalan. Harusnya jika kita bisa menjaga khusyuk meski di luar salat, tentu kita akan terus mengingat Tuhan. Bukankah Semua yang kita lakukan dalam kerangka mengingat Tuhan.

Walhasil, suatu  malam saya bersama teman-teman penyelenggara pemilu duduk di warung kopi. Teman saya bermain gadget dan saya nyeruput kopi sambil membaca puisi dalam hati. Sialnya, saya lupa nama penulis puisinya, yang jelas bunyinya seperti ini; Aku rela terbenam pelan-pelan agar kau lekat dalam ingatan.

Tiba-tiba lelaki paruh baya yang tak saya kenali itu menghampiri teman saya. Ternyata ia adalah guru madrasah teman sepekerjaannya di sekolah. Ia bercerita panjang lebar mengenai presiden pilihannya dan menjelekan pilihan lainnya. Saya tidak akan menceritakannya di sini. Pendek kata, Ya! kita ini pelupa yang paling ingat adalah Tuhan.

khoiril yaqub
Esais, tinggal di Pontianak
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.